Dalam sekejap identitas pribadinya diganti oleh kekasih suaminya. Ia dituduh melakukan berbagai kejahatan.
Kejahatan apa yang dituduhkan oleh kekasih suaminya hingga dirinya harus menebus kejahatan itu dibalik jeruji besi? apakah Kiara mampu melepaskan jeratan permainan orang-orang hebat yang menghancurkan hidupnya dalam sekejap? apakah ada yang bisa membantunya untuk melewati semua ujian hidupnya itu? ikuti cerita gadis cantik nan jenius bernama Kiara...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Pilihan Sulit
Kiara dan bundanya harus menemui kakek Hilman yang sudah siuman. Saat ini beliau sudah dipindahkan ke ruang inap. Namun beliau tidak ingin bicara pada siapapun kecuali pada Kiara. Di depan sana sudah ada nenek Sarah yang terlihat murung. Wajah wanita senja itu makin tua diusianya hampir mencapai delapan puluh tahun. Kiara yang melihat wanita baik itu cukup menyiksa batinnya. Tidak ada sambutan ceria maupun ucapan selamat datang padanya. Tatapannya begitu dingin dan hampa.
"Nenek, maafin Kiara nek," ucap Kiara putus-putus. Tangannya terulur hendak menyalami nenek Sarah, namun nenek Sarah tidak meresponnya sama sekali.
"Aku mengira kamu gadis yang sangat baik yang dikenalkan cucuku pada kami. Ternyata kamu hanya menipu kami demi kesembuhan ibumu. Kamu gadis terpelajar tapi kamu tidak lebih dari seorang penipu yang berlindung dibalik jilbabmu itu," pekik nenek Sarah hingga membuat suaminya perlahan membuka matanya.
Tenggorokan Kiara tercekik. Ia tidak bisa membela dirinya karena apa yang dituduhkan nenek Sarah padanya benar adanya. Ia hanya berdiri dengan bahu merendah dan kepala tertunduk. Airmatanya mengalir deras menahan sakit di dadanya melebihi sakit di tubuhnya yang baru menjalani masa pemulihan yang belum tuntas.
"Kamu pikir pernikahan adalah permainan? Tidakkah kamu tahu saat cucuku mengikatmu dengan ijab-qobul itu berarti Allah sebagai saksi ibadah panjang kalian. Tapi tidak, kau tidak mengerti itu. Di otakmu hanya uang dan uang," lanjut nenek Sarah yang ingin melampiaskan semua amarahnya pada Kiara.
Entah siapa yang sudah memberitahu wanita senja ini bahwa pernikahan dirinya dan Evert hanya sebuah pernikahan kontrak. Apakah Evert sudah mengakuinya? itu yang sedang ditebak oleh Kiara.
"Sudah Sarah...! jangan marahin gadis ini. Semua ini pasti ulah cucu sialan itu yang memanfaatkan ketidak berdayaan Kiara. Dia yang telah merencanakan semua ini bukan?" tanya kakek Hilman yang berusaha melihat sudut lain dari rencana licik cucunya Evert.
Kiara hanya bisa mengangguk. Mulutnya seakan terkunci karena sangat malu pada kakek dan neneknya Evert.
"Yang kakek sayangkan, kamu tega membohongi kakek kalau kamu hamil anaknya Evert. Dengan begitu kakek menyerahkan perusahaan kakek pada bajingan itu yang ingin menghabiskan seluruh hartaku demi wanita jala**g. Jika bukan karena kamu masuk dalam fitnah yang dilakukan oleh Amanda, mungkin kalian berdua akan terus membohongi kami, bukan?" pertanyaan kakek Hilman terdengar datar namun seakan menekan ujung batin Kiara lebih dalam.
"Kakek. Aku hanya ingin melepaskan diri dari Evert agar aku bisa melanjutkan hidupku lagi karena dia sudah memiliki Amanda yang mengandung anaknya," ucap Kiara memberanikan diri.
"Jadi kamu mau bilang kalau kalian sama sekali tidak seperti suami istri sebelumnya? begitu?" timpal nenek Sarah yang merasa sangat tertipu.
"Iya nenek," jawab Kiara makin membuat kedua manusia senja itu merintih kecewa.
"Maafkan Kiara. Kiara tidak bermaksud menipu kakek dan nenek. Kiara pikir Evert tidak punya wanita lain dan Kiara akan berusaha meluluhkan hati Evert namun saat tiba di bandara sana, Kiara terkejut yang menjemput kami saat itu adalah Amanda dalam keadaan hamil. Dari situ Evert meminta kami tinggal serumah. Kiara benar-benar merasa kecewa dan tidak ingin meneruskan pernikahan ini. Itulah sebabnya Kiara mau tidak mau membohongi kakek agar Kiara bisa melepaskan diri dari Evert," jelas Kiara.
Mendengar kenyataan sebenarnya dari mulut Kiara, akhirnya kakek dan nenek baru memahami posisi Kiara.
"Dan lebih menyakitkan lagi rupanya perempuan itu diam-diam membuat paspor fiktif hanya untuk menjebakku. Ia memanfaatkan kelemahan Evert melalui kehamilannya agar bisa tinggal bersama kami. Dengan begitu dia mengambil paspor ku dan menukarnya dengan fotoku. Paspor itu dibuat asli untuk mengelabui petugas imigran," lanjut Kiara.
"Jadi, itulah sebabnya kamu ditangkap oleh FBI dan menyiksamu seperti yang kamu katakan di jumpa pers itu?" tanya kakek Hilman.
"Iya kakek. Ternyata pernikahan ini harus kubayar mahal dengan penderitaanku," Kiara tidak mampu lagi menahan tangisnya hingga ia meraung di kamar rawat itu.
"Baiklah. Belum terlambat bagi kalian untuk memperbaiki semuanya. Kakek harap kalian harus rujuk. Karena perusahaan itu tidak bisa berjalan tanpa andil kamu Kiara," pinta kakek Hilman.
Kiara terperanjat. Ia tidak menyangka kakek Hilman mendorongnya lagi ke dalam penderitaan. Kiara menggelengkan kepalanya kepalanya dengan air mata mengucur deras dengan bibir terkunci.
"Tidak...tidak kakek. Jangan memaksaku untuk kembali bersama Evert...!" pinta Kiara dalam diam karena ia kehilangan suaranya.
"Jika kamu ingin aku memaafkanmu maka rujuklah dengan Evert, Kiara...!" ulang kakek penuh penekanan.
Wajah Billy tiba-tiba memenuhi benaknya. Bayangan Billy yang begitu bahagia saat dirinya membalas cinta pria bule itu. CEO yang sangat tampan tapi tidak pernah dikelilingi wanita cantik. Seakan pria itu sedang menunggu kedatangan jodohnya yang membuat hatinya bergetar saat berjumpa pertama kali dengan Kiara.
"Bagaimana Kiara? apakah kamu mau terima lagi Evert sebagai suamimu?" tegas kakek menatap nanar wajah Kiara yang tertunduk lesu.
Kiara mengangkat kepalanya lalu mengatakan dengan tegas." Tidak kakek. Aku sudah terlanjur membatalkan pernikahan ku dengan Evert sebelum datang ke sini menjenguk kakek," ucap Kiara tegas.
"Apa....?!" kakek tersentak sambil memegang dadanya yang baru saja dioperasi. Kakek kembali terkena serangan jantung membuat Kiara dan nenek Sarah tampak panik.
"Kakek....!" Kiara menekan tombol panggilan. Nenek Sarah yang tidak suka dengan jawaban Kiara langsung menampar wajah Kiara dengan keras.
Plakkk....Tubuh Kiara terhuyung ke belakang dengan wajah syok." Ini yang kamu inginkan bukan? Kamu ingin melihat suamiku mati perlahan? hah! keluar....!" bentak nenek Sarah tanpa ampun.
Dokter dan perawat datang dan langsung bertindak cepat untuk menyelamatkan kakek Hilman. Kiara mundur perlahan dengan wajah pucat. Nyonya Rubby yang tadi menunggu di depan ikut masuk ke dalam kamar itu. Ia melihat putrinya yang gemetar ketakutan.
"Apa yang terjadi nak...?" tanya nyonya Rubby.
Perawat meminta Kiara dan ibunya untuk keluar termasuk nenek Sarah. Ketiganya keluar tanpa banyak komentar. Kiara yang takut ibunya diserang nenek Sarah segera menarik tangan bundanya untuk meninggalkan tempat itu. Namun dokter kembali keluar untuk menemui Kiara.
"Siapa diantara kalian yang bernama Kiara?" tanya dokter buru-buru.
"Saya dokter," ucap Kiara membatalkan niatnya kabur dari tempat itu.
"Aku harap anda mau bekerjasama dengan kami nona. Sepertinya tuan Hilman menginginkan sesuatu darimu. Tolong kabulkan atau kita akan kehilangan tuan Hilman...!" pinta dokter itu lalu masuk lagi ke dalam ruang rawat.
Kiara kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Jika salah memberi keputusan maka akan berakibat fatal baginya.
"Putuskan Kiara atau kau ingin membunuh suamiku, hah?!" bentak nenek Sarah.
Belum sempat Kiara menjawab, telepon berdering dan Kiara melihat layar ponsel itu dengan nama Billy. Kiara terperangah. Dalam waktu bersamaan ia seakan sedang menghadapi dua algojo yang akan mengeksekusi mati dirinya.
sampe punya anak dan cucu dan alat alat canggihnya yg bs menghilang dll.
aq penggemar author dari cerita nenek amina lupa namanya🤭