Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JIN NUR
Di bawah langit yang kian meredup, Aris melangkah sebagai seorang musafir yang menapaki jalanan sunyi, membawa ransel yang tak seberat beban di dalam dadanya.
Langkah kakinya bukan sekadar perpindahan raga dari satu kota ke kota lain, melainkan sebuah pengembaraan batin untuk menemukan kembali jati dirinya yang sempat retak oleh ambisi masa lalu.
Di setiap embusan angin dan detak jantungnya, hanya ada satu nama yang menjadi kompas tujuannya: Putri, sang kekasih hati yang keberadaannya kini bagaikan bayang-bayang di cakrawala, jauh namun tetap menjadi satu-satunya alasan baginya untuk terus berjalan menembus ketidakpastian.
Malam semakin pekat saat Aris menyusuri jalan setapak yang membelah hutan jati. Telinga batinnya tiba-tiba menangkap frekuensi suara yang sangat aneh—bukan suara manusia, melainkan lengkingan rendah yang bergetar di frekuensi yang menyakitkan telinga. Itu adalah suara Jin, makhluk yang tidak memiliki jasad fisik sepadan dengan manusia.
Aris berhenti. Dengan sisa keberanian dan indra batinnya, ia melacak sumber suara itu ke sebuah pohon beringin raksasa. Di sana, sosok bayangan hitam dengan mata yang menyala merah membara muncul, memekarkan diri hingga setinggi tiga meter. Makhluk itu bukan hanya sekadar bayangan; ia adalah perwujudan kegelapan yang selama ini memangsa ketakutan manusia.
"Kau punya bau yang berbeda, manusia," suara Jin itu bergemuruh, terdengar seperti gesekan batu tajam. "Kau tidak lagi memiliki 'benda waktu' itu, tapi jiwamu terasa sangat lezat karena kepasrahan mu."
Tanpa basa-basi, Jin itu menerjang. Pertarungan pecah di tengah kegelapan hutan. Jin itu bergerak seperti angin, menyerang dari segala arah dengan kekuatan fisik yang melampaui logika. Aris yang tidak lagi memiliki jam tangan untuk melihat pola serangan, dipaksa bertarung murni dengan insting dan fisik manusiawinya.
Aris terhempas ke batang pohon, tulang rusuknya terasa retak. Ia bangkit, namun Jin itu dengan cepat mencengkeram lehernya dan membantingnya ke tanah berbatu. Aris terpojok, napasnya tersengal, darah segar mengalir dari pelipisnya. Ia tidak memiliki senjata, tidak memiliki sihir, hanya sisa tenaga yang tipis.
Jin itu mengangkat tangan bayangannya yang tajam seperti belati, siap menembus jantung Aris. "Berakhirlah di sini, musafir lemah!"
Tepat saat cakar itu meluncur, Aris refleks memejamkan mata sambil memegang erat kalung tasbih gaharu yang diberikan Kyai sepuh. Ia tidak memohon kekuatan untuk membunuh, ia hanya memohon perlindungan bagi jiwanya.
*Sreeeeeet!*
Seketika, kalung tasbih di leher Aris meledak dalam cahaya putih yang sangat menyilaukan—cahaya yang bukan berasal dari matahari atau api, melainkan cahaya ketulusan dan doa yang telah dimurnikan. Cahaya itu memancar begitu dahsyat, menembus mata makhluk kegelapan itu hingga ia menjerit pilu.
Jin itu tersungkur, tubuh bayangannya melepuh seolah tersiram air keras. Cahaya itu tidak membakarnya menjadi debu, melainkan mengunci jiwanya dalam posisi tak berdaya. Aris berdiri perlahan, meski tubuhnya babak belur, ia berdiri dengan wibawa yang kini terpancar dari kalung tasbihnya.
"Aku tidak ingin membunuhmu," suara Aris stabil, meski tubuhnya gemetar. "Tapi aku tidak akan membiarkanmu merusak langkah orang lain."
Jin itu mengecil, kembali ke wujud yang lebih tenang namun tetap mengerikan. Ia tertunduk, kekuatannya telah lumpuh total di hadapan cahaya kalung tersebut. Ia sadar, di depan Aris kini terdapat perlindungan yang tidak bisa ia lawan dengan kekuatan fisik mana pun.
"Cahaya itu..." suara Jin itu bergetar, kini penuh ketakutan dan takzim. "Aku telah mengabdi pada ribuan penyihir dan orang sombong yang mencoba menguasai ku, tapi aku belum pernah melihat cahaya yang lahir dari kepasrahan seperti milikmu."
Sosok itu bersimpuh di depan Aris. "Aku kalah. Aku menyerahkan eksistensiku. Jadikan aku abdi mu, asal kau mengizinkanku berada di bawah naungan cahaya tasbih yang kau bawa itu."
Aris menatap makhluk di depannya. Ia tidak lagi memiliki jam perak untuk melihat masa depan, tapi sekarang ia memiliki sesuatu yang jauh lebih tak terduga: seorang pelayan dari dimensi lain yang akan menemaninya dalam perjalanan panjang mencari Putri.
Dengan seorang Jin yang kini tunduk sebagai abdinya, Aris melanjutkan perjalanan dengan kekuatan yang tidak kasat mata.
Jin itu, yang semula hanya mengenal bahasa kekerasan dan tipu daya, kini terdiam. Cahaya yang memancar dari kalung tasbih di leher Aris benar-benar telah menyucikan pandangannya. Sifat arogan dan haus darah yang selama ini melekat pada eksistensinya perlahan luruh, digantikan oleh rasa sesal yang mendalam atas segala kerusakan yang pernah ia perbuat di muka bumi.
Makhluk yang dulu bertubuh hitam legam dan menakutkan itu kini wujudnya berubah menjadi lebih transparan, hampir menyerupai kabut putih yang tenang. Ia tidak lagi menatap Aris dengan mata merah yang haus akan nyawa, melainkan dengan tatapan yang penuh ketundukan dan penyesalan.
"Tuanku," suara Jin itu kini jauh lebih lembut, tidak lagi seperti gesekan batu tajam, melainkan seperti desir angin di antara dedaunan. "Aku telah hidup selama berabad-abad dalam kegelapan, mengira bahwa kekuatan adalah satu-satunya tujuan. Namun, cahaya yang kau bawa tadi... cahaya dari doa yang tulus... telah membuka mataku yang tertutup dosa."
Jin itu bersimpuh sekali lagi, kepalanya menunduk dalam. "Jika kau mengizinkan, aku tidak hanya ingin menjadi Abdi mu. Aku ingin bertobat. Aku ingin menggunakan sisa umurku untuk menjaga langkahmu dan memperbaiki segala keburukan yang pernah ku perbuat."
Aris yang masih mengatur napas karena tubuhnya yang masih terasa nyeri akibat pertarungan tadi, tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh bahu kabut makhluk itu. Tidak ada lagi rasa takut di hati Aris. Ia tahu bahwa pertobatan adalah pintu yang terbuka untuk siapa saja, bahkan bagi entitas yang paling jahat sekalipun.
"Sebutlah dirimu dengan nama yang baru," kata Aris. "Nama yang melambangkan lembaran baru. Karena masa lalu sudah mati saat cahaya itu menyentuhmu."
Jin itu terdiam sejenak, lalu menjawab, "Panggil aku Nur, Tuanku. Karena cahaya yang kau bawa itulah yang menjadi awal dari kehidupanku yang sebenarnya."
Sejak malam itu, perjalanan Aris tidak lagi kesepian. Nur, sang Jin yang telah bertobat, selalu berada di sampingnya. Namun, ia tidak muncul dalam wujud yang menakutkan. Nur sering kali hadir dalam bentuk bisikan angin yang memberikan peringatan jika ada bahaya di depan, atau sekadar meringankan langkah Aris saat tubuh manusia pria itu mulai kelelahan.
Bagi Aris, keberadaan Nur adalah sebuah pengingat nyata bahwa setiap orang—dan setiap makhluk—memiliki kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar. Mereka berdua melintasi hutan, desa demi desa, dengan Aris yang kini lebih peka terhadap setiap suara di sekitarnya.
***
Aris dan Nur sedang berjalan santai di pinggiran hutan ketika tiba-tiba, suasana menjadi tegang. Dari balik semak-semak dan pepohonan besar, lima orang pria berwajah sangar muncul dengan senjata tajam di tangan. Mereka adalah perampok lokal yang sudah mengawasi gerak-gerik Aris sejak tadi, mengira musafir ini membawa harta berharga.
"Serahkan semua barang bawaanmu, atau nyawamu melayang!" teriak pemimpin perampok itu sambil mengacungkan golok.
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor