NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlalu awal untuk disebut cinta

Pukul tujuh malam, Kevin ke rumah sakit mengantarkan pakaian ganti untuk Jeni. Sean ikut datang menjenguk Nadia. Tapi, dia hanya mengintip dari luar ruangan itu.

"Lo yakin gak mau masuk?" tanya Kevin.

"Gak. Saat ini, cukup dengan melihatnya dari jauh. Melihat dia sudah baik-baik saja, dan tersenyum seperti itu saja sudah cukup." mata Sean berbinar saat menatap Nadia sedekat itu.

"Sore itu gue panik banget saat gue tahu kalau ternyata yang nabrak mobil gue itu Nadia. Gue, gue gak akan pernah bisa memaafkan diri gue sendiri andai terjadi apa-apa sama Nadia."

"Terus kenapa lo malah ngasih dia hutang ratusan juta? Gue masih gak ngerti."

Sean tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Kevin. "Gue gak akan ambil sepeser pun uang dari dia. Gue cuma lagi berusaha membuat dia tetap ada di sekitar gue. Gue ingin mengenal dia, tapi ya beginilah cara yang terpikirkan di otak gue."

Kevin mengangguk pelan meski pun tidak seutuhnya paham. "Ternyata seperti ini jadinya saat seorang Sean jatuh cinta."

"Gue gak tau apa ini cinta atau hanya sekedar keinginan gue buat balas kebaikan gadis kecil itu. Masih terlalu awal untuk disebut cinta."

"Oke. Gue akan siap bantu lo selama apa yang lo lakuin masih masuk akal dan gak nyakitin Nadia. Karena kalau sampai lo nyakitin Nadia, cewek gue yang akan maju duluan buat mukul lo!"

Sean tidak menanggapi, dia hanya berlalu meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang jauh lebih lega setelah mengintip Nadia melalui kaca pintu ruangannya.

Jeni dan Nadia kini sedang mengobrol heboh di ruangan itu. Untungnya Nadia di rawat di ruangan VIP yang hanya dia sendiri menjadi penghuni di kamar itu. Jadi, dia bisa dengan leluasa mengobrol tanpa khawatir pasien lain merasa terganggu.

Tok, tok!

Kevin mengetuk sebelum masuk ke ruangan itu.

"Sayang."

Jeni langsung menghampiri Kevin. "Sayang, kok lama?"

"Iya. Tadi ada urusan dikit."

"Oh gitu."

"Iya. Ini bajunya." memberikan paper bag pada Jeni.

"Hai Nadia!" sapa Kevin yang direspon dengan senyuman saja oleh Nadia.

"Semoga lekas membaik dan bisa segera pulang, ya."

"Terimakasih." sahut Nadia tanpa menoleh sama sekali pada Kevin.

Nadia tentu canggung dan juga takut membuat Jeni salah paham lagi padanya. Melihat Nadia yang merespon Kevin dengan canggung seperti itu, membuat Jeni semakin merasa tidak enak hati karena telah salah paham pada sahabatnya itu.

"Sayang, kalau gitu aku pulang dulu ya."

"Iya. Hati-hati, jangan ngebut."

"Baik calon ibu negaranya aku." jawab Kevin sambil mengelus kedua pipi Jeni dengan gemas.

"Nadia, aku pulang duluan." Pamit Kevin pada Nadia.

"Hmm, terimakasih karena mengizinkan Jeni disini malam ini."

"Tentu."

Kevin segera meninggalkan ruangan itu dan begitu tiba di luar, rupanya Sean sudah menunggu di depan pintu. Sorot matanya menatap Kevin dengan tatapan mengintimidasi.

"Kenapa?!" tanya Kevin bingung.

"Kenapa Nadia seperti gak nyaman saat lo masuk?"

"Oh itu. Adalah, nanti gue cerita."

Kevin melangkah lebih dulu disusul Sean yang masih penasaran dengan alasan yang membuat Nadia tampak tidak nyaman saat Kevin masuk ke ruangan itu.

...>~<...

Night club, malam ini sedikit lebih ramai dari biasanya, karena ada yang sedang merayakan ulang tahun. Sean, Kevin dan Rio memilih untuk mengobrol di ruang VIP, mereka tidak suka dengan suasana yang terlalu ramai dan berisik.

"Jadi, kenapa Nadia tampak gak nyaman saat ada lo?" tanya Sean mengungkit lagi pertanyaan yang belum di jawab Kevin.

Rio hanya celingukan bingung mendengar topik pembahasan yang tidak dia pahami.

"Pacar gue ngira gue tertarik sama Nadia."

"What?!" teriak Rio yang membuat Kevin dan Sean menutup kuping.

"Jadi?" tanya Sean serius.

"Ya gak mungkin lah. Gue udah cinta mati sama pacar gue. Itu hanya salah paham."

"Salah paham. Yakin?!"

"Iya, sumpah."

"Kalau hanya salah paham, kenapa cewek lo sampai punya feeling seperti itu?" selidik Sean dengan tatapan tajam seakan bisa melubangi kepala Kevin.

Sebentar Kevin menghela napas panjang, setelah itu dia pun mulai menceritakan penyebab kesalahpahaman itu berawal.

"Jadi, lo sempat mengira Nadia anak bokap lo?"

"Ya begitulah. Tapi, mungkin gue salah. Jeni bilang Nadia punya dua orang kakak kembar. Jadi, kemungkinan dia anak papa gak benar."

Giliran Sean yang terdiam saat ini. Sean tidak tahu banyak tentang Nadia. Sedikit yang dia tahu, Nadia sangat di sayangi ayahnya, tapi di benci mama dan kedua kakaknya.

"Gue akan cari tahu tentang itu." lirihnya.

"Serius?!"

"Hmm. Tapi, andai apa yang lo pikir benar, apa yang akan lo lakukan?"

Kevin menggeleng pelan. "Gue gak tau harus melakukan apa. Hanya mungkin, gue cemburu karena dia memiliki mata papa."

"Mau gue bantu cari tau?" tanya Sean.

Kevin tidak langsung merespon, dia terlihat ragu hanya untuk sekedar menyetujui bantuan Sean.

"Sebenarnya tanpa lo minta pun gue mungkin akan cari tahu hal itu. Apa pun tentang Nadia, gue ingin tau, semuanya tanpa terkecuali." lanjut Sean.

"Kok gue merinding. Lo udah kayak yang obses aja sama tu anak." celetuk Rio yang sejak tadi mendengarkan dengan baik obrolan dua sahabatnya itu.

"Gue bukan obsesi, hanya saja gue gak mau ketinggalan satu berita pun tentang dia."

"Ya sama aja, hampir ke tahap sana juga. Hati-hati, Bro. Salah-salah lo bisa bikin tu anak takut sama lo."

"Tenang aja, gue masih punya kontrol yang sangat bagus."

Rio merespon dengan hanya mengangkat kedua bahunya. Sementara Kevin masih diam, menatap air dalam gelas, jari telunjuknya memutari bibir gelas.

"Btw, gue ngajak kalian berdua nongkrong di sini karena gue butuh teman buat menemani gue yang lagi galau ini." Celetuk Rio.

"Tentang Laura." gumam Sean sambil menuang air kedalam gelasnya.

"Salah satunya iya. Gue khawatir, gue juga merasa kesempatan gue buat bisa memperbaiki semuanya bersama Laura sangat tipis."

"Kenapa lo mikir gitu?" tanya Kevin penasaran.

Rio menghela napas dalam. "Feeling gue bilang begitu."

"Terus lo mau gue bantu apa kali ini?" Sambung Sean sambil menepuk bahu Rio.

Rio menggeleng ragu. "Gue gak tau. Yang gue tau saat ini gue sangat takut Laura batalin niatnya buat kasih gue kesempatan lagi."

"Lo jangan putus asa dulu dong. Nanti deh gue minta tolong cewek gue buat cari tau tentang Laura." Ujar Kevin.

"Thanks guys. Kalian memang the best."

Tiga pria itu pun berakhir bersulang sebelum minum.

"Terus, alasan lainnya apa?" tanya Sean penasaran.

Sebentar Rio mereguk minumnya, lalu menghela napas yang terdengar berat. "Bokap mau gue jalin hubungan baik sama anak tunggal pemilik PT.Griya Mulya. Gue dijodohkan."

Mendengar pernyataan itu, Kevin dan Sean hanya saling menatap tanpa memberi respon apapun.

"Yang pernah gue dengar, putri tunggal mereka itu sangat amat liar. Pergaulannya bebas. Tapi, gosipnya sih tu cewek belum pernah pacaran. Terlalu pemilih gitu."

"Tapi cantik gak?!" tanya Kevin penasaran.

"Katanya sih cantik. But, you know me. Gue gak cari yang sekedar cantik fisik. Gue cuma butuh Laura, apa yang gue cari sudah gue temukan di Laura."

"Keren! Gue merinding sih dengar pengakuan lo yang terlalu jujur ini."

"Biasa aja kok. Ya sama aja kayak lo yang udah cinta mati sama Jeni." balas Rio.

Sean menghela napas panjang, lalu kembali mereguk minumannya.

"Mau coba cewek ini gak. Siapa tau cocok." saran Rio sengaja menggoda Sean.

Sean menggeleng cepat. "Gue sih yakin lo berdua akan terkejut saat melihat si putri tunggal pemilik PT. Griya Mulya."

"Lo ngomong gitu kayak yang udah kenal aja." ketus Rio.

"Ya memang gue kenal. Kenal dekat malahan."

"Kok?!" Rio dan Kevin semakin penasaran.

Sean tersenyum penuh arti, lalu dia kembali mereguk minumannya. Sementara dua orang lainnya saling menatap heran melihat respon Sean yang seperti itu.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!