NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Ruang Sisa

Papan silang itu akhirnya lepas dengan suara keras yang memantul di seluruh ruangan.

Ki Rangga dan Jaya mendorong pintu kayu tua itu bersama-sama, sementara Wira berdiri beberapa langkah di belakang dengan napas tertahan. Debu turun dari celah atas pintu, berjatuhan seperti abu halus. Begitu pintu terbuka cukup lebar, udara yang keluar dari baliknya langsung terasa lebih tua, lebih dingin, dan lebih kering daripada ruangan sebelumnya. Seolah tempat di balik sana sudah lama menunggu tak tersentuh siapa pun.

Di sisi pintu, Watu mengangkat lampu minyak lebih tinggi. Cahaya kuningnya menyingkap lorong pendek menuju ruang yang jauh lebih besar di dalam. Dindingnya batu, tetapi dipenuhi lapisan kayu tua di beberapa sisi, seperti ruangan itu pernah diperkuat lalu ditinggalkan. Lantai di dalam tampak rata, dengan garis lingkaran besar di tengah. Di ujung paling jauh ada tiang batu tunggal yang diikat dengan dua rantai tua. Pada rantai itu, masih tergantung sisa kain pudar yang sudah hampir menjadi debu.

Panca menatapnya dengan wajah masam. “Aku benar-benar tidak suka tempat seperti ini.”

Jaya menoleh sekilas. “Kau sudah bilang itu lima kali.”

“Karena tetap benar.”

Wira tidak ikut berceloteh. Pandangannya tertuju pada ruang itu. Ada sesuatu yang membuat tengkuknya dingin. Bukan semata karena tempatnya tua, melainkan karena ruang itu terasa seperti bekas keputusan yang dipaksa bertahan terlalu lama. Seperti tempat untuk menyimpan sesuatu yang tidak boleh mati, tetapi juga tidak boleh dikeluarkan.

Danar melangkah duluan ke ambang ruang sisa. Wajahnya tetap pucat, namun ada keteguhan yang perlahan muncul saat ia memasuki tempat itu. Arya mengikuti di belakangnya dengan waspada. Raden Seta masuk sambil tetap menggenggam lembaran kulit kayu yang memuat nama Larisa. Watu berjalan paling belakang, sedangkan Ki Rangga mengatur Wira agar tetap dekat.

Begitu Wira melangkah masuk, ia langsung melihat hal yang membuat jantungnya menegang.

Di dinding kanan ruang itu, terdapat deretan ukiran nama. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat ruangan ini berubah dari sekadar tempat tua menjadi catatan hidup yang dipaksa diam. Nama-nama itu sebagian telah pudar, sebagian lain masih jelas. Di antaranya ada satu nama yang langsung menarik perhatiannya.

Larisa.

Wira mendekat dengan langkah lambat. Nama itu terukir di batu, di bawahnya ada simbol kecil seperti garis putus yang menyatu dengan lingkaran. Ia menatap ukiran itu lama sekali, seolah kalau ia memandang cukup lama, ibunya akan muncul dari balik batu.

Danar berdiri di sampingnya. “Dia yang terakhir masuk ke sini.”

Wira menoleh. “Setelah itu?”

Danar menghela napas pelan. “Setelah itu aku dipindahkan ke ruang yang lebih dalam. Ia tinggal di sini untuk menahan penutup.”

Raden Seta menatap ukiran di dinding. “Jadi ruang ini memang semacam penyangga.”

Watu mengangguk. “Kalau pintu terakhir dibuka tanpa penahan, seluruh jalur akan terbaca.”

Panca mengernyit. “Terbaca oleh siapa?”

Danar menjawab, “Oleh orang-orang yang selama ini mencoba menutup nama kami.”

Ruangan itu hening sesaat. Wira masih menatap nama Larisa di dinding. Ibunya bukan sekadar meninggalkan pesan. Ia benar-benar pernah ada di sini, di ruang yang sama, menahan sesuatu agar Wira tetap punya jalan menuju jawaban. Perasaan itu menekan dadanya dengan keras.

Ki Rangga mengamati lingkaran batu di tengah lantai. “Ada bekas upacara.”

Watu mengangguk. “Pengucapan terakhir dilakukan di sini, lalu diputus sebelum selesai.”

Jaya memeriksa rantai di tiang batu. “Kenapa ada rantai?”

Danar menjawab tanpa menoleh, “Untuk mengikat benda penahan. Bukan manusia.”

Wira langsung menoleh. “Benda apa?”

Danar berdiri diam beberapa detik, lalu berjalan menuju tiang batu di ujung ruangan. Di bawah rantai tua itu, ada kotak batu kecil yang nyaris menyatu dengan lantai. Ia berlutut dan menyentuh sisi kotak itu. Bunyi klik kecil terdengar. Wira menahan napas.

Kotak itu terbuka.

Di dalamnya terletak sebuah batu pipih seukuran telapak tangan, dengan ukiran yang sama seperti pada cincin, liontin, dan papan kayu. Namun berbeda dari benda-benda sebelumnya, batu pipih ini tampak tidak utuh. Ada retakan kecil di bagian tengah, seolah pernah dipaksa menerima sesuatu yang terlalu besar.

Panca menatap benda itu dan langsung mundur setengah langkah. “Itu yang menahan jalur?”

Watu mengangguk. “Batu nama.”

Raden Seta mengernyit. “Batu nama?”

“Dipakai untuk mengunci pengucapan terakhir,” jawab Watu. “Selama batu ini utuh, nama yang diikat di ruang ini tidak akan habis.”

Wira menatap batu pipih itu dengan dada sesak. “Laras menjaga batu itu?”

Danar mengangguk. “Ya.”

Wira menatap ayahnya. “Kau bilang ibuku masuk ke sini bersamamu. Jadi dia juga tahu semua ini?”

Danar menjawab perlahan, “Dia tahu lebih banyak daripada yang pernah kutulis.”

Kalimat itu membuat Wira diam. Ibunya tidak sekadar mengikuti. Ia memahami. Mungkin bahkan lebih cepat daripada Danar sendiri. Wira merasakan sesuatu yang aneh—campuran kagum, sakit, dan marah karena semuanya harus dipendam selama ini.

Jaya mengangkat kepala tiba-tiba. “Ada bunyi dari atas.”

Semua langsung menegang.

Di lorong belakang ruang sisa, terdengar suara gesekan batu. Lalu bunyi benturan keras, seperti seseorang memaksa membuka jalur yang baru saja mereka lewati. Panca langsung pucat.

“Mereka datang,” katanya.

Arya menatap pintu yang masih terbuka. “Kalau mereka masuk, kita tidak punya banyak ruang untuk bertahan.”

Ki Rangga mengangkat senjata kecilnya. “Waktu kita habis.”

Watu menatap Wira. “Kalau kau ingin tahu sisa paling penting, sekarang saatnya.”

Wira menoleh ke ayahnya. “Apa lagi yang belum kutahu?”

Danar menatapnya lama. “Kenapa ibumu memilih tetap tinggal di belakang.”

Wira membeku. “Masih tinggal?”

Danar mengangguk. “Larisa tidak keluar bersama kami.”

Ruangan itu terasa makin sempit.

Raden Seta menahan napas. “Dia tinggal di ruang sisa?”

“Ya,” jawab Danar. “Saat kami menyadari pintu terakhir belum aman, dia memutuskan bertahan di sini.”

Wira menatap dinding, lalu batu nama, lalu ayahnya. “Untuk apa?”

Danar memejamkan mata singkat. “Untuk menahan pengulangan.”

Panca mengernyit bingung. “Pengulangan apa lagi?”

Watu menjawab lebih pelan, “Kalau pintu terakhir dibuka sebelum waktunya, nama-nama yang disembunyikan akan diulang kembali ke jalur yang salah. Orang-orang yang menghapus kami akan bisa membaca semua sisa.”

Jaya menatap batu nama itu. “Jadi Larisa sengaja menahan agar Wira datang pada waktunya.”

Danar mengangguk. “Ia tahu anak kami akan mencari jejak. Ia meninggalkan cukup banyak, tapi tidak semuanya.”

Wira merasakan tenggorokannya seperti diikat. Jadi ibunya bukan hanya pergi. Ia bertahan. Ia memilih tinggal di belakang, di ruang yang paling dalam, demi memastikan bahwa masa lalu mereka tidak jatuh ke tangan yang salah.

“Dia masih hidup?” suara Wira terdengar rendah, hampir tidak seperti miliknya sendiri.

Danar diam. Lama.

Itu cukup untuk membuat semua orang tegang. Wira menatapnya tanpa berkedip. Ia menunggu jawaban yang mungkin akan menghantam, entah menyakitkan atau melegakan.

Akhirnya Danar berkata, “Aku tidak tahu pasti.”

Wira menggigit bagian dalam pipinya. Jawaban itu tidak memuaskan, tapi juga tidak sepenuhnya menutup harapan.

Watu menatap mereka semua. “Ada satu jalan lagi.”

Ia berjalan ke sisi ruang dan menekan batu ukir yang agak menonjol. Dari balik dinding kanan terdengar gesekan pelan. Sebuah panel batu terbuka, menyingkap ruang kecil tersembunyi. Di dalamnya hanya ada satu papan kayu tipis dan gulungan kain yang diikat tali merah tua.

Raden Seta segera mengambil papan kayu itu. Tulisan di permukaannya masih terlihat jelas.

“Bila anak itu datang, jangan biarkan ia pergi sebelum membaca sisa nama.”

Wira menatap tulisan itu dan langsung tahu kalimat itu ditujukan padanya.

Panca mengusap wajah. “Tentu saja ada pesan lagi.”

Jaya membuka gulungan kain. Di dalamnya ada daftar nama yang panjang, sebagian dicoret, sebagian diberi tanda kecil. Di bagian bawah tertulis satu baris yang membuat semua orang membeku.

“Larisa belum keluar.”

Wira menatap tulisan itu lama. Matanya panas. Dadanya terasa sesak. Bukan karena takut semata, melainkan karena untuk pertama kalinya ia mendapat jawaban yang benar-benar mengikat semuanya: ibunya tidak menghilang begitu saja. Ia masih berada di dalam jaringan sisa ini. Mungkin hidup. Mungkin terjebak. Tapi bukan hilang tanpa jejak.

Danar menatap Wira dengan wajah yang sulit dibaca. “Aku tahu ini bukan yang ingin kau dengar.”

Wira menatap ayahnya. “Tapi ini yang benar.”

Danar mengangguk pelan. “Ya.”

Benturan keras kembali mengguncang pintu di belakang mereka.

Kini suara itu lebih dekat.

Arya segera bergerak ke pintu masuk ruang sisa. “Mereka sudah membuka jalur.”

Ki Rangga menatap Wira. “Kita harus memilih. Bertahan di sini atau keluar lewat panel tadi.”

Wira menatap daftar nama di tangan Jaya, lalu batu nama di tengah ruangan, lalu ukiran nama Larisa di dinding. Semua hal yang selama ini ia cari terasa berkumpul di satu titik yang nyaris menyala. Namun bahaya juga makin dekat.

Ia menarik napas dalam.

“Buka pintu sisa itu,” katanya.

Watu langsung mengangguk. “Kalau begitu kita cepat.”

Danar menatap Wira sekali lagi, panjang dan berat. Lalu ia berkata, “Kalau nanti kau menemukan ibumu, jangan langsung percaya pada apa yang ia katakan.”

Wira menoleh cepat. “Kenapa?”

Karena pada saat itu, dari balik batu yang retak di sisi ruang, terdengar suara perempuan yang sangat pelan, sangat lemah, namun jelas cukup untuk membuat seluruh tubuh Wira membeku.

“Wira...”

Nama itu meluncur dari gelap seperti memanggil darahnya sendiri.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!