Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
membuat usaha
Mata Malik terbelalak. Dadanya seperti disambar petir. Kenapa orang ini datang justru pada saat yang paling tidak tepat?
Seorang lelaki bertubuh kekar dengan wajah khas Indonesia Timur melotot ke arah Malik sambil membawa beberapa kardus ponsel.
“Wah, bukankah itu kardus ponsel kita, Pak?” ucap Denis.
“Kamu siapa?” akhirnya Niko bertanya kepada orang itu.
“Pak, mereka cuma orang iseng saja. Suka ngerjain saya.”
Malik buru-buru menjawab, berusaha memotong.
“Saya tidak bertanya sama kamu.”
Suara Niko datar, tetapi justru itulah yang membuat suasana terasa lebih menegangkan. Pandangannya tetap terfokus pada lelaki yang membawa kardus ponsel.
“Saya Alex. Tadi pagi teman Malik kirim barang ke saya. Katanya ponsel, tahunya isinya cuma bata saja,” terang Alex.
Tatapan Alex berpindah kepada Malik, tajam seperti mata pisau.
“Kamu menipu saya. Cepat kembalikan uang saya!”
“Anda disuruh siapa?” tanya Niko.
“Saya tidak disuruh siapa-siapa.”
“Dari toko mana?”
“Saya belum punya toko.”
“Benarkah?”
“Kenapa Anda banyak tanya?”
Wajah Alex mengeras, seperti orang yang tinggal selangkah lagi meledak.
“Jangan coba-coba bela anak buah Anda. Anda juga pasti sudah terima uang saya, kan? Cepat kembalikan uang saya!”
Tiba-tiba Niko bertepuk tangan.
Alex menatapnya geram.
“Kenapa Anda tepuk tangan? Anda menghina saya?”
“Ya. Saya tepuk tangan karena bahagia.”
“Kurang ajar!”
Alex maju hendak meninju.
Namun, beberapa orang langsung menghadang.
“Pak Polisi, tangkap dua orang ini,” ucap Niko.
Saat itu juga beberapa pria yang sejak tadi mengenakan jaket ojek online bergerak cepat. Dalam hitungan detik, Alex dan Malik sudah diringkus.
“Apaan ini, Pak?” teriak Malik.
Niko menatapnya tanpa berkedip.
“Maling teriak maling.”
Ia melangkah mendekat.
“Ponsel isi bata itu memang aku yang merencanakannya. Dan ternyata benar, kamulah yang selama ini mencuri, Malik. Selain maling, kamu juga tukang fitnah.”
Tiba-tiba Malik tertawa keras. Tawanya terdengar ganjil, seperti orang yang masih berharap semua ini hanya mimpi buruk.
Lalu ia menatap Niko.
“Kamu sudah menjebakku. Kamu akan menyesal. Teman-temanku banyak.”
Niko tetap tenang.
“Teman-teman kamu sudah ada di sel semuanya sekarang.”
Wajah Malik memucat.
“Tidak... tidak mungkin.”
“Kenapa tidak mungkin? Kali ini kamu kalah, Malik.”
Tatapan Malik beralih kepada Amira.
“Kamu...”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, polisi yang menyamar sebagai pengemudi ojek online segera menyeretnya.
Dari kejauhan, ancaman Malik masih terdengar samar.
“Kamu pasti akan mati!”
Sejak tadi suasana begitu ramai. Para pengunjung dan karyawan menyaksikan peristiwa itu dengan wajah tegang. Beberapa orang bahkan merekamnya dengan ponsel.
Setelah keramaian mereda, Niko melangkah mendekati Amira.
“Amira, terima kasih. Berkat rencanamu, aku jadi tahu siapa sebenarnya yang mencuri.”
Amira menggeleng pelan.
“Ini baru kaki tangannya, Pak. Sepertinya masih ada pelaku utama yang belum tertangkap.”
Niko menarik napas panjang.
“Aku juga merasa begitu. Selain kehilangan barang, ternyata selama ini karyawan lain juga dipengaruhi Malik. Mereka mengira aku bos yang buruk.”
“Kalau begitu, Bapak harus memperbaiki semuanya. Dan mulai sekarang, Bapak harus percaya pada istri Bapak.”
Niko tersenyum tipis.
“Baiklah, Amira. Nanti siang aku kirim makanan untuk kamu dan anak-anak.”
Setelah berbincang sebentar, Niko kembali ke rukonya.
“Pak, sebaiknya panggil kembali Udin,” ucap Denis.
“Iya, Pak. Udin itu anak baik dan jujur,” Lina menimpali.
“Ya. Nanti saya akan bawa dia ke sini.”
Niko memandang seluruh karyawannya satu per satu.
“Mulai sekarang kalian harus mengubah cara berjualan. Kalian harus ramah kepada siapa pun, mau yang beli atau hanya menawar. Kalian tetap harus melayani dengan baik.”
Semua terdiam, mendengarkan.
“Kalian boleh menurunkan harga kalau pembelian banyak. Dan mulai sekarang, kalau kalian bisa menjual dengan harga toko, keuntungan tiga puluh persen untuk kalian.”
Beberapa wajah langsung berubah muram.
Biasanya mereka mendapat bagian lima puluh persen dari selisih harga. Sekarang hanya tiga puluh persen.
“Jangan cemberut dulu,” ucap Niko sambil tersenyum. “Kalau kalian mampu menjual di atas harga toko, seluruh selisih di atas harga toko itu menjadi milik kalian.”
Kali ini semua terdiam lebih lama.
“Izin bertanya.”
Denis mengangkat tangan.
“Misalnya harga toko ponsel Rp1.200.000, lalu saya bisa jual Rp1.300.000?”
“Nah, Rp100.000 itu untuk kamu. Ditambah komisi Rp30.000 dari toko. Jadi, dari satu ponsel kamu dapat Rp130.000.”
Mata Denis membesar.
“Tapi kalau kamu hanya menjual seharga Rp1.200.000, kamu cuma dapat Rp30.000.”
Semua menunduk, sibuk menghitung kemungkinan demi kemungkinan.
“Kalau saya bisa jual sepuluh ponsel, dan masing-masing dapat selisih Rp100.000, itu buat saya semua?” tanya Lina, nyaris tak percaya.
“Tentu saja.”
Suasana mendadak hening.
Tawaran itu terdengar sangat menguntungkan. Tetapi mereka tahu, kemampuan menjual bukan hal yang mudah.
“Mulai sekarang kalian harus berimprovisasi. Kalian bisa berjualan secara online maupun offline. Semakin kalian pandai menjual, semakin besar penghasilan kalian.”
“Tapi benar, Pak? Selisih harga di atas harga toko benar-benar untuk kami?” tanya Denis sekali lagi.
“Benar. Bahkan saya sudah membuat surat perjanjiannya. Kalau saya melanggar, kalian boleh menuntut saya ke pengadilan.”
“Baik, Pak. Kami setuju,” ucap Denis.
Niko mengangguk.
“Dan satu hal lagi. Saya tidak akan menoleransi kecurangan. Siapa pun yang curang akan saya keluarkan.”
Ia berhenti sejenak.
“Kalau kalian butuh sesuatu, katakan terus terang. Kalau perlu pinjaman untuk keperluan mendesak, akan saya usahakan. Dan saya juga akan mendaftarkan kalian untuk mendapatkan asuransi kesehatan.”
Mendadak wajah-wajah para karyawan berubah cerah.
“Mulai sekarang, anggap toko ini milik kalian juga. Kita harus saling menjaga.”
“Baik, Pak!” jawab mereka serempak.
Hari itu, perubahan besar dimulai di toko Niko.
Sementara itu, Amira duduk termenung.
Ia memikirkan usaha apa yang akan dijalankan.
Tadinya dia ingin menjual makanan khas Taiwan. Namun, setelah dipikir-pikir, risikonya terlalu besar. Sebagai pemula, menciptakan pasar baru bukan perkara mudah. Modal yang dibutuhkan pun tidak sedikit.
Sebuah mobil SUV berhenti di depan ruko.
“Mamih!”
Dewi berlari ke arah Clara. Arjuna mengikuti di belakang dengan langkah tenang.
Meski hanya menginap dua hari dua malam di rumah Clara, kedekatan Dewi dan Clara tumbuh begitu cepat.
Clara merindukan celoteh Dewi yang tak ada habisnya. Sehari saja tak bertemu, rumah terasa terlalu sunyi.
“Dewi, bagaimana? Sudah makan banyak?”
Dewi tidak menjawab. Hidung mungilnya sibuk mengendus-endus paper bag di tangan Clara.
“Wah, ayam!”
“Dewi, jangan tidak sopan seperti itu,” tegur Nanda.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya memang kangen sama Dewi.”
Clara menyerahkan paper bag itu.
“Ini untuk kamu, Nak.”
“Wah! Ayo, Kak, kita makan!”
Dewi langsung menarik tangan Arjuna masuk ke ruko.
Di halaman ruko terdapat meja dan beberapa kursi.
Clara duduk perlahan.
“Mbak Clara, saya jadi enggak enak.”
Clara tersenyum.
“Kamu sudah membantu suami saya menemukan pencuri. Seharusnya saya yang berterima kasih.”
Clara mengedarkan pandangan, lalu menatap Amira.
“Amira, aku bosan.”
Amira mengerutkan dahi.
“Hidupku terlalu datar. Diam di rumah, uang tetap datang.”
“Bukankah itu cita-cita banyak orang? Tidak bekerja, tapi tetap dapat uang.”
Clara tertawa kecil.
“Mereka yang punya cita-cita seperti itu belum pernah merasakan sunyi.”
Amira mengangguk pelan.
“Maaf, Mbak. Hari ini aku enggak bisa menemani Mbak ke mal.”
Clara kembali tertawa.
Amira semakin bingung.
“Hidupku sudah membosankan. Untuk apa aku pergi ke tempat yang juga membosankan?”
“Terus?”
Clara memajukan tubuhnya, matanya berbinar seperti anak kecil yang menemukan ide baru.
“Amira, bagaimana kalau kita jualan seblak di sini?”
Amira terdiam.
“Kita berdua dagang di sini sebagai pemilik usaha.”
Clara tersenyum lebar.
“Beberapa hari ini aku membayangkan memakai celemek, melayani pembeli, mendengar suara orang memanggil pesanan.”
Ia menggenggam tangan Amira.
“Modal dari aku saja. Keuntungan kita bagi dua. Kamu menyediakan tempat.”
Clara menatap Amira penuh harap.
“Bagaimana?”
besok ibu trus simbok ato biyung🤣🤣🤣
sebagai pelampiasan dewi karena g di izinkn anjani masuk ruko jadilah preman nya yg di hajar dewi dan dililit anjani🤣🤣🤣🤔