Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
Melody sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan gerakan kasar. Dia ingin cepat-cepat pulang, rebahan di kasur empuk ala anak orang kaya, dan merenungi nasibnya yang makin lama makin di luar nalar.
"Eh, Mel! Elo nanti jadi ikut latihan cheerleaders buat acara basket besok, kan?" tanya Ghea sambil menyampirkan tasnya ke bahu.
Rere langsung menyahut dengan nada meledek, "Ya jadilah! Berarti habis ini dia latihan dong. Kan tiap tahun juga begitu, demi memberikan semangat membara buat Sang Kaisar tercinta."
Mendengar nama itu, tangan Melody yang sedang memegang pulpen mendadak kaku. Memori pemilik tubuh asli langsung berputar di otaknya. Buset dah! Si Melody ini ternyata tipe yang bakal teriak paling kencang di pinggir lapangan sampai urat lehernya keluar, cuma buat manggil nama Kaisar yang bahkan nggak meliriknya sama sekali.
"Anjirr lah, ni pemilik tubuh... malu-maluin partai aja heran!" umpat Melody pelan, hampir tidak terdengar.
"Hah? Lo ngomong apa, Mel?" tanya Rere bingung.
Melody berdiri, menggendong tasnya dengan gaya acuh tak acuh. "Kagak! Gue mau pensiun dulu jadi cheerleader. Daripada ngabisin suara gue teriak-teriak nggak jelas, mending gue duduk cantik di pinggir lapangan sambil minum es cekek," ucapnya santai.
Rere dan Ghea melongo serempak. Mata mereka mengerjap-erjap, menatap Melody seolah-olah sahabat mereka itu baru saja mengumumkan akan pindah ke Mars.
"Beneran error nih anak," gumam Ghea sambil meraba dahi Melody. "Mell, lo nggak lagi amnesia kan? Ini basket, Mel! Ada Kaisar, ada Galen! Biasanya lo udah paling semangat nyiapin pompom!"
"Heh! Kalian berdua ini bukannya dukung sahabatnya tobat, malah syok begitu!" semprot Melody sambil berkacak pinggang. "Gue capek jadi badut, capek jadi ondel-ondel, sekarang gue mau jadi penonton jalur damai aja. Paham?"
Rere menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya paham sih, cuma... aneh aja liat lo waras begini."
"Udah ah, cabut yuk! Gue laper, mau cari cimol kalau ada di depan sekolah elit ini," ajak Melody sambil melenggang keluar kelas.
Melody berjalan menuju gerbang sekolah dengan langkah ringan yang hampir berubah jadi lompatan kecil. Matanya berbinar menatap barisan mobil mewah di parkiran. Di ujung sana, seorang pria berseragam safari—supir pribadinya—sudah berdiri tegap di samping mobil mewah keluaran terbaru.
"Anjirr, beneran jadi anak sultan gue!" gumamnya sambil cekikikan sendiri seperti orang kurang waras. "Semoga gue kagak mabuk mobil mewah dah, biasanya juga naik bus yang baunya campur aduk. Emak, sabar dulu ya di sana! Anakmu mau ngerasain jadi richie rich sebentar!"
Namun, kesenangan Melody terhenti saat sebuah suara lembut nan merdu memanggil namanya.
"Melody!"
Langkah Melody tersentak, ia hampir saja tersandung kakinya sendiri. "Busettt! Siapa sih ganggu kesenangan gue aja!" semprotnya sambil menoleh.
Begitu melihat sosok yang memanggilnya, Melody terpaku. Gadis itu sangat cantik, auranya bersinar terang seolah ada lampu sorot yang mengikutinya. Bukannya ini si Zoya, sang tokoh utama pujaan semua orang? pikir Melody dalam hati.
"Melody, kamu ikut cheerleaders kan? Aku... boleh ikut latihan bareng kamu ya?" tanya Zoya dengan wajah polos yang sangat menggemaskan.
Melody menaikkan sebelah alisnya. Maceee nih anak... kagak akrab tapi sok-sok ngajak. Oh iya, namanya juga pemeran utama, semua orang harus jadi temen dia, batinnya nyinyir.
Tapi sedetik kemudian, memori spoiler novel itu muncul di otaknya. Bentar, bentar! Kalau nggak salah, di adegan latihan nanti Zoya bakal dibully sama geng kakak kelas. Terus gue yang ada di sana bakal dituduh jadi dalangnya sama Kaisar! Ujung-ujungnya gue diancem mati sama si psiko itu. Hahaha, tidak semudah itu Ferguso!
Melody memasang wajah datar, lalu menatap Zoya dengan tatapan "siapa-ya?".
"Sori ya, siapa sih? Ahh iya, Zoya. Gue kagak punya waktu buat ngelakuin hal yang tidak berfaedah itu," ucap Melody ketus namun elegan.
Zoya tampak terkejut, mulutnya sedikit terbuka. "Tapi, Mel—"
"Gak ada tapi-tapian. Bye! Jemputan gue udah nunggu, kasihan supir gue ntar lumutan nungguin majikannya yang cantik ini," potong Melody cepat sambil melambaikan tangan tanpa menoleh lagi.
Ia langsung masuk ke dalam mobil mewah itu dan menutup pintunya rapat-rapat. "Jalan, Pak! Cepat sebelum drama Korea ini dimulai!" perintahnya pada sang supir.