Mesha tidak pernah menyangka, bahwa beberapa kali menikah, berkali-kali pula ia menjadi janda, karena semua suaminya, meninggal saat malam pertama. Semua ia jalankan demi menuruti keinginan orang tuanya.
Orang tuanya tidak memikirkan bagaimana perasaan Mesha. Yang mereka inginkan, Mesha harus membuktikan bahwa ia bukan perawan tua yang tidak laku-laku.
Namun, karena beberapa pernikahannya yang gagal, secara misterius, malah membuat ia semakin dipandang bagai monster.
Apakah ini sebuah kesialan? Atau kutukan? Bagaimana kehidupan Mesha selanjutnya?
Adakah yang bisa mengubah nasibnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Al Hasany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Meyakinkan Diri.
Bagas berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Laki-laki itu berkali-kali mengerling pada arloji di tangannya. Para tamu sudah mulai berbisik-bisik. Beberapa anggota keluarga besar yang datang juga mulai gelisah.
Adik sepupu Bagas yang kebetulan juga tetangganya, berjalan mendekat.
"Mas Bagas, mereka beneran mau datang, 'kan? Ini sudah lewat waktu yang dijadwalkan," tanya pria berumur empat puluhan itu.
"Ya, tentu saja. Kita tunggu saja dulu."
Langit mulai gelap tertutup awan mendung. Angin berembus sedikit lebih kencang seperti biasanya. Hal itu juga membuat hati Mayang kebat-kebit. Namun lagi-lagi, perempuan itu menyangkal kegelisahannya. Ia meyakinkan diri, semua akan berjalan dengan baik sampai hari itu tiba.
"Nduk, Cha. Kalau kamu lapar, makan saja. Ndak perlu menunggu acara mulai. Ibu lihat dari kemarin makanmu kurang bener." Mayang berusaha mengalihkan kekhawatirannya.
Namun, Mesha hanya menggeleng, tanpa mengatakan sepatah kata pun. Gadis itu memainkan jari-jemarinya.
"Bu ... apa Echa dikutuk?"
Pertanyaan Mesha membuat Mayang tersedak, saat ia minum teh manis yang dikirimkan seseorang dari dapur.
"Mana ada? Omong kosong, Sayang. Siapa yang bilang?"
"Gak ada yang bilang, Bu. Echa hanya memikirkan ini dari kemarin."
"Ndak, ndak ada yang seperti itu! Jangan berpikir macam-macam. Semua akan baik-baik saja. Percaya sama ibu."
Mesha semakin menunduk dalam. Suara riuh di luar membuat kepalanya mendongak. Lain lagi reaksi Mayang, ia penasaran dengan apa yang terjadi di luar.
Beberapa menit kemudian, Bagas masuk ke kamar Mesha. Dengan senyum sumringah, ia mengabarkan bahwa rombongan calon besan sudah datang. Ada kelegaan luar biasa di hati Mayang. Ia makin yakin, semua akan baik-baik saja seperti apa yang ia pikirkan.
Acara lamaran berlangsung lancar. Santai tetapi khidmat. Kedua keluarga mulai merumuskan tanggal pernikahan menggunakan tradisi jawa. Hitungan pasaran, wuku dan lainnya. Setelah semua sepakat dengan tanggal yang ditentukan, kedua belah pihak merasa lega.
Para tamu pulang setelah menyantap jamuan yang sudah disediakan tuan rumah. Tempat itu mulai hening kembali, hanya ada rombongan keluarga inti Sakha yang tersisa dan beberapa orang yang membereskan sisa-sisa perjamuan.
Kedua mata Sakha tidak bisa beralih dari wajah Mesha. Kecantikan ragawi yang dipoles dengan make up natural, seperti menghipnotis laki-laki itu. Hal tersebut membuat Yumna, sang adik, tidak mau kehilangan kesempatan untuk menggodanya.
"Mas, hey! Pandangan Mas Kha tuh dah kayak orang kelaparan lihat nasi pecel di warung. Malu ih," bisik Yumna yang duduk di sebelah Sakha.
"Nggak usah usil itu mulut, bisa?" sahut Sakha dengan berbisik juga.
"Iya, iya ... Yuyum tahu, Mbak Mes cuaaantik. Tapi jangan gitu, malu-maluin!"
Dengan gemas, Sakha menjewer telinga adik satu-satunya itu.
Mendengar pekikan Yumna, sontak semua menoleh ke arah yang sama. Tahu bahwa dirinya jadi pusat perhatian sekarang, Yumna cuma cengengesan.
"Dih, malesin! Awas aja ntar, Mas!" ancam Yumna masih dengan berbisik.
Sakha menjulurkan lidah meledek gadis itu.
"Mohon dimaklumi ya, Jeng Mayang. Itu anak kalau bareng ya gitu, berantem terus," sela Ningsih.
"Namanya juga anak-anak, Jeng. Tapi malah justru itu yang seru. Kalo saya, cuma punya anak semata wayang. Jadi, ya ... ndak pernah dengar keributan seperti itu." Mayang menepuk-nepuk paha Ningsih dengan lembut, mencoba untuk lebih bersikap akrab.
Semua mengobrol dengan tawa, senyum dan segala basa-basi. Namun, tidak dengan Mesha. Cahaya wajahnya masih terlihat suram.
Sakha menggeser duduknya mendekati Mesha yang menunduk. Gadis itu tengah asik menggosok-gosok karpet berbulu dengan jarinya yang lentik.
"Kok diem aja, Dek? Biasanya juga cerewet kalo di kantor, banyak tanya ini itu." Sakha membuka pembicaraan dengan tunangannya.
"Bingung mau ngobrol apa, Mas."
"Kenapa bingung?"
"Semua kejadian terjadi sangat cepat."
Mesha berbicara dengan nada datar dan dingin.
Melihat hal tersebut, Sakha menduga bahwa Mesha keberatan dengan semuanya.
"Dek, apa kamu menyesali ini?"
"Kenapa menyesal?"
"Maafkan, aku ... hanya saja ...."
Sakha terkejut saat melihat sebuah bayangan hitam melesat tak jauh dari tempatnya duduk. Hingga memotong kalimatnya. Kemudian ia menggelengkan kepala, menepis pikiran aneh saat melihat bayangan hitam tadi. Pandangan mata pria itu kembali ke Mesha.
Mesha mendongak, lalu memandang wajah Sakha. Ia berusaha tersenyum.
"Jangan berpikir aneh-aneh, Mas. Kita sudah di tahap ini, kenapa ragu?"
"Bukan begitu ... kalau kamu nggak setuju, nggak apa-apa, bilang saja. Mumpung belum terlanjur."
Mesha tersenyum kecut. Ia kembali menggosok karpet berbulu dengan ujung jari telunjuknya.
"Ngomong-ngomong, kamu nggak perlu masuk ke kantor kelurahan lagi, 'kan, Dek?"
"Ya, Mas. Lagipula orang-orang akan bergosip saat melihatku ke kantor lagi. Malas rasanya."
"Bagus, nggak usah kerja. Biar aku saja yang memberimu nafkah."
Mesha tidak antusias mendengar hal tersebut. Ia masih menundukkan kepala.
"Kenapa sih nunduk terus? Apa aku dilarang lihat wajahmu?"
Gerakan jari Mesha terhenti.
"Ini bukan wajahku sebenarnya, Mas. Ini lapisan make up."
Sakha tertawa kecil mendengar kalimat terakhir Mesha tadi.
"Kamu pakai make up atau nggak, sama cantiknya, kok! Kan aku udah sering lihat."
"Ya, Mas."
Sakha meraih tangan Mesha yang sedari tadi memainkan karpet.
"Kamu nggak usah khawatir dengan semuanya. Kemarin, aku dapat surat keputusan pengangkatan. Memang gajiku nggak banyak. Tapi aku yakin, aku bisa membahagiakanmu. Aku akan berusaha keras untuk itu, Mesha." Sakha menggenggam erat jemari lentik di tangannya dengan tegas.
Yumna melihat pasangan tadi dengan senyum usil. Lagi-lagi ia ingin menggoda kakak dan calon kakak iparnya.
"Ecieeeee ... ikhiiiiirrr!"
Perkataan Yumna membuat yang masih hadir menoleh ke arahnya, lalu menoleh kepada pasangan yang duduk tak jauh dari gadis berkacamata itu.
Dilihat oleh seisi ruangan, Sakha dan Mesha kompak tertunduk malu. Kemudian, Sakha mengacungkan tinjunya ke Yumna yang disambut juluran lidah dari gadis tersebut.
Hari semakin sore, keluarga Sakha berpamitan untuk pulang. Keluarga Mesha mengantarkan rombongan itu sampai ke jalan depan rumah. Mesha melambaikan tangan dengan senyum paksaan di bibirnya.
Sakha tertegun saat pandangannya tak sengaja melihat ke sebuah tempat. Di sana, berdiri seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam. Sosok itu menatapnya dengan dingin.
"Le, ayo naik. Tunggu apa lagi? Semua sudah naik ke mobil." Suara Ningsih mengalihkan fokus Sakha.
"Iya, Bu."
Kemudian, Sakha cepat-cepat masuk ke dalam mobil.
"Tadi kenapa berdiri lama di sana, Le?" tanya Ningsih lagi.
"Sakha lihat ada seseorang berdiri di seberang jalan, Bu. Menatap tajam."
"Di mana?"
"Yang pakai ikat kepala dan pakaian serba hitam, Bu."
"Ibu kok nggak lihat ya, Le?"
Sakha masih penasaran dengan sosok tadi, sementara mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya.
Bersambung ....
Thanks thor 🙏😘💗