Menjadi istri kontrak Sagara bukanlah hal mudah bagi Amara. Pria itu masih mencintai kekasihnya yang menghilang seminggu sebelum pernikahan mereka, sementara pernikahan ini hanyalah kesepakatan demi kepentingan masing-masing.
Mereka berjanji untuk tidak saling jatuh cinta. Namun kebersamaan perlahan mengaburkan batas itu.
Di tengah hubungan yang semakin rumit, Denisa kembali sebagai bom waktu yang siap menghancurkan pernikahan mereka kapan saja. Belum lagi Dirga, kakak Sagara, yang misterius dan terus berusaha menjauhkan Amara dari adiknya seolah menyimpan rahasia besar tentang dirinya.
Saat cinta, pengkhianatan, dan rahasia keluarga mulai terungkap, mampukah Amara dan Sagara bertahan pada perjanjian mereka? Atau perpisahan memang sudah menunggu sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Setyowati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah Bisa Dipercaya?
"Mas, aku ngantuk," cetus Amara mengalihkan topik.
Amara buru-buru memotong pembicaraan yang mulai berjalan ke arah yang terlalu sensitif baginya. Ia tak yakin sanggup mendengar lebih banyak lagi malam ini. Hatinya sudah terlalu penuh oleh berbagai ketakutan dan kemungkinan yang terlalu sulit untuk dipercaya.
Sagara pun tersenyum tipis mendengar respon Amara. Jemarinya terangkat dan mengusap puncak kepala Amara dengan lembut seolah memahami alasan di balik pengalihan topik itu.
"Tidurlah. Besok mau aku antar? Aku sudah bisa bawa motor, kok," tawar Sagara.
"No. No. No," tolak Amara mentah-mentah.
Penolakan itu meluncur begitu cepat hingga bahkan Amara sendiri terkejut namun begitulah isi hatinya.
"Tolong jangan menambahi beban pikiranku, Mas," pinta Amara merendahkan suaranya.
Sagara terkekeh pelan. Ada rasa gemas yang sulit disembunyikannya melihat kepanikan Amara yang selalu muncul dalam bentuk penolakan-penolakan spontan seperti itu.
"Iya, Bu Amara," sahut Sagara.
"Dah lah. Selamat malam, Bapak Sagara," tutur Amara berusaha mengakhiri percakapan absurd itu.
Amara segera meraih guling yang tergeletak di atas kepalanya. Dengan gerakan tergesa, ia meletakkannya tepat di tengah kasur, membentuk garis pembatas di antara ia dan Sagara.
"Ini batas Wilayah kita," ujar Amara serius, "Awas aja kalau melanggar."
Sagara menoleh ke arah guling itu, lalu kembali menatap wajah Amara yang berusaha terlihat tegas. Senyumnya melebar.
"Iya. Kita lihat nanti siapa yang lebih dulu melanggar," sahut Sagara setengah meremehkan.
"Ish..."
Amara mendesis kesal. Ia segera membalikkan tubuh. Kemudian, ia memunggungi suaminya sebelum lelaki itu sempat melihat wajahnya yang mulai memanas. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh sebuah guling dan beberapa jengkal ruang kosong. Namun entah mengapa, kedekatan itu terasa jauh lebih menakutkan daripada apa pun yang pernah ia hadapi sebelumnya.
Mata Amara terpejam rapat—tentu sangat dipaksakan. Sebab setiap kali terbuka, ia selalu sadar bahwa Sagara berada di sana—dalam satu kamar, dalam satu kasur.
Batin Amara pun masih diselimuti kemelut. Ia berusaha menghitung napasnya sendiri. Ia terus memaksa pikirannya diam dan memaksa tubuhnya tenang. Namun makin ia mencoba mengabaikan keberadaan Sagara, kian jelas ia merasakan kehadiran lelaki itu yang begitu dekat.
Sementara itu, di sisi lain kasur, Sagara hanya berbaring menatap langit-langit. Sesekali, ia melirik ke arah punggung kecil yang membelakanginya. Ia tahu bahwa Amara belum tidur. Namun, ia tidak berniat memenangkan apa pun malam ini. Ia hanya ingin terus berada di sisi gadis itu tanpa memaksakan apa pun.
Pikiran Sagara pun tak kalah riuh. Ia bahkan tak dapat mengingat bagaimana perasaan ganjil itu dimulai. Entah mengapa, dikhianati Denisa terasa jauh lebih ringan dibanding tak diakui Amara. Ia bahkan menyangsikan alasannya menabrakkan mobil.
Apa benar aku sakit hati karena Denisa menikah dan hamil? Atau aku cemburu melihat Dirga mampu melindungi Amara di saat terpuruk itu?
Kemudian, senyum tipis terukir di bibir Sagara untuk mengusir kegundahan dalam dirinya. Lalu ia kembali menatap langit-langit, menunggu hingga napas Amara perlahan berubah teratur dan tubuh gadis itu benar-benar terlelap dalam mimpinya.
...****************...
Ada yang membuat Sagara terbangun sebelum azan Subuh berkumandang. Rasa kram di lengannya datang seperti sengatan. Separuh tubuhnya terasa mati rasa seolah tertindih beban berat. Dengan mata masih berat oleh kantuk, ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menyadari apa yang sedang terjadi.
Senyum tipis langsung terukir di wajah Sagara. Amara rupanya tertidur tengkurap di ketiaknya.
Kaki kiri Amara melintang di atas kedua paha Sagara—hanya beberapa senti dari luka jahitan yang belum benar-benar pulih. Tangan kirinya tergeletak di dada Sagara, sementara napasnya terdengar pelan dan teratur.
Sagara menatap perempuan itu cukup lama.
"Katanya bikin batas," bisik Sagara lirih, nyaris geli sendiri, "Terus, siapa yang nyebrang duluan?"
Sagara pun mengangkat sedikit kepala. Ia mencari guling pembatas yang semalam begitu dijaga Amara seperti benteng pertahanan terakhir. Dan, ia menemukannya jatuh di dekat sofa.
"Jauh banget. Ini guling nggak mungkin cuma ditendang, pasti dilempar ini, " gumam Sagara menahan tawa.
Namun senyum Sagara perlahan berubah waspada. Ia mengingat bahwa Amara punya refleks tidur yang buruk. Kalau gadis itu mendadak kaget dan menendang, habislah luka jahitannya.
Dengan hati-hati, Sagara pun mengusap rambut Amara seraya membisikkan lembut, "Ara... bangun. Subuh dulu."
Amara hanya menggeliat. Sesaat tubuhnya terlentang hingga tangan dan kakinya terangkat dari badan Sagara. Lalu tanpa sadar, ia kembali memiringkan tubuh ke arah lelaki itu. Tangannya pun tak lupa mendarat lagi di dada Sagara seolah tempat itu memang miliknya.
Sagara menghela napas pasrah sambil sedikit menggerakkan lengannya yang semalaman tertindih. Dan saat ia memiringkan badan, ia tersadar sesuatu. Kening Amara ternyata tepat berada di depan bibirnya. Jarak itu terlalu dekat. Terlalu menggoda.
Entah mendapat dorongan dari mana, tangan kanan Sagara naik memegang lembut kepala Amara. Lalu, tanpa sempat berpikir panjang, ia mengecup kening gadis itu—singkat namun hangat. Namun cukup membuat dadanya sendiri berdebar.
Setelah melepas kecupan, Sagara pun mengamati Amara yang tidak bergerak sama sekali. Ia pu tersenyum kecil, lalu menatap wajah gadis itu lebih lama.
Tiba-tiba bibir Amara bergerak pelan.
"Mas Aga..." suara Amara llirih seperti bisikan dari mimpi.
Sagara membeku sesaat, lalu berbisik penuh kemenangan kecil, "Sampai ngigau pun nyebut namaku?"
"Agaaa..." panggil Amara lebih jelas, bahkan tanpa menambah kata Mas.
Pertahanan Sagara pun runtuh seketika. Ia tertawa pelan. Lalu tanpa mampu menahan diri, bibirnya turun mengecup bibir Amara sekali dan sangat lembut. Namun kecupan itu bertahan lebih lama dari yang seharusnya.
Ketika bibir Amara sedikit terbuka dalam tidurnya, jantung Sagara langsung berpacu tak karuan. Ia kelimpungan antara menjauh untuk menghindari perang dunia atau justru memperdalam kecupan hingga gadis itu tersadar sepenuhnya.
Belum sempat memutuskan, tiba-tiba...
Cekiiit!
"Aakh!" pekik Sagara spontan menjauh sambil memegangi bibirnya.
Sagara tak habis pikir. Amara baru saja menggigitnya dalam keadaan masih tidur.
Beberapa detik kemudian, Amara menggeliat dan membuka mata perlahan. Begitu sadar kepalanya berada di atas lengan Sagara dan wajahnya nyaris menempel di dada lelaki itu, kantuknya langsung lenyap. Ia buru-buru hendak mendorong jauh lelaki itu, tetapi betisnya tak sengaja menyenggol perban Sagara. Kesadarannya langsung mengingat keadaan sang suami dan dapat refleks mengurungkan niatnya itu.
Amara langsung menegang. Ia lun berguling sekali untuk menjauhi Sagara. Lalu, ia duduk dan memeriksa keadaan Sagara dengan panik.
"Mas Aga, mana gulingnya?" protes Amara cepat untuk menutupi gugup.
"Yang buang ke sana siapa?" balas Sagara sambil menunjuk guling di dekat sofa.
"Ya terus kenapa nggak dibenerin?" protes Amara lagi.
"Gimana mau benerin kalau kamu semalaman tidur di tanganku sampai kram begini?" keluh Sagara sambil meregangkan otot-otot tangannya yang tertindih Amara.
Amara langsung menepuk jidatnya sendiri.m antara malu dan gengsi. Ia pun kesal pada diri sendiri. Namun saat kembali menatap Sagara, matanya mendadak membesar.
"Mas! Bibirmu berdarah!" teriak Amara histeris.
Amara spontan mendekat. Lalu, ia memegang dagu Sagara dan memeriksa luka kecil di bibirnya.
"Ini pasti karena bibirmu pecah-pecah. Kurang vitamin C," gumam Amara serius.
Sagara menahan senyum, "Iya. Vitamin C. Vitamin cium."
Amara langsung mendelik.
"Sini, kiss morning buat suamimu. Biar cepet sembuh," pinta Sagara menggoda istrinya.
Alih-alih tersipu, Amara justru melipat tangan di dada, "Mas, ingat ya. Kita romantis cuma di depan keluarga. Selebihnya, kita masing-masing. Jadi jangan ngelunjak."
Senyum Sagara memudar. Ia bangkit perlahan—masih menahan nyeri di tubuhnya— lalu meraih kedua pundak Amara.
"Ra, aku sudah bilang... lupakan kontrak itu. Aku mau menjalani ini sungguhan," tegas Sagara menatap lurus ke Amara.
Amara menatapnya lama, lalu menggeleng pelan, "Mas, ucapan seperti itu terlalu cepat."
"Aku serius," sahut Sagara berusaha meyakinkan.
"Setelah aku melihat sendiri bagaimana kamu mengharapkan perempuan lain, apa alasan yang bisa membuatku percaya?" tanya Amara sangsi.
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada rasa sakit di luka jahitan Sagara, "Aku dan Denisa sudah tidak ada harapan, Ra."
"Tapi, bukan berarti aku bisa jadi pelarianmu," ujar Amara cepat dengan wajah tak kalah serius.
Mata Sagara langsung membesar, "Pelarian? Siapa bilang kamu pelarian? Aku nggak sekekanakan itu, Ra!"
"Mas Aga, cukup," suara Amara tetap tenang, tetapi justru itu yang membuatnya terdengar lebih menyakitkan, "Nggak mungkin hati seseorang berubah secepat itu. Kamu hanya sedang merasa hampa... dan kebetulan ada aku di sisimu. Kamu hanya sedang beradaptasi dengan ketidakhadiran dia jadi aku hanya bayang-bayang yang mengisi kekosonganmu."
Sagara terdiam. Ia benar-benar kehabisan kata. Rasa takut mulai menyusup dalam benaknya. Yang membuatnya takut bukan tuduhan Amara, melainkan kemungkinan bahwa gadis itu sudah terlanjur yakin dirinya tidak pantas dipercaya lagi.