Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Suara mesin mobil menderu berat sebelum akhirnya mati tertiup putaran kunci.
Pintu baja yang penyok di bagian bawah itu berderak terbuka. Cahaya oranye dari ufuk barat merangsek masuk, menampar sisa-sisa debu yang menempel di kursi penumpang depan.
Ren melangkah turun dengan tenang. Sepatunya menginjak aspal pelataran gedung administrasi yang masih memancarkan sisa panas matahari.
"Sudah sore ..." gumam Ren pelan.
Matanya menyipit menahan silau sejenak. Ia merapatkan kerah hoodienya perlahan. Sebuah tablet menyala di tangan kirinya, dan drone pengawas kecil baru saja meluncur pasrah ke dalam kompartemen saku jaketnya.
Di belakangnya, kabin mobil lapis baja itu masih menyimpan hawa peperangan. Bau tembakau murahan yang dibakar paksa, bercampur keringat basah dan sisa amis darah monster.
Ren berbalik menghadap kursi pengemudi. Ia tidak berniat mengomentari kabut asap yang mengepul tipis dari celah jendela yang setengah terbuka.
"Terima kasih atas kerja samanya hari ini, Kapten," ucap Ren.
Nadanya sedingin mesin absensi lobi bawah. Hanya rentetan kata yang dihafal mati untuk basa-basi birokrasi.
Di dalam mobil, pria itu menyandarkan kepalanya ke setir. Chen menoleh perlahan. Wajah sang detektif kusut total. Kantung matanya menghitam layaknya orang yang baru saja dipukuli kenyataan selama berjam-jam tanpa jeda.
Chen mendengus aneh. Ada suara gesekan udara di tenggorokannya yang lelah.
"Urusi saja dulu laporanmu," balas Chen.
Ren terdiam sesaat. Ia memandangi wajah pria di balik kemudi itu.
'Sinis sekali.'
Tapi ada satu hal yang hilang dari sorot mata kapten itu. Kemarin, tatapan Chen mengiris bagai belati yang mencari celah pembuluh darah. Sekarang, pisau itu tumpul.
Kecurigaan itu telah sirna. Menguap ditiup kelelahan dan realitas yang terlalu membosankan untuk dijadikan teori konspirasi.
Ren tidak membalas lagi. Ia berbalik dan melangkah pergi menuju pintu kaca putar AFC. Langkah kakinya konstan. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Persis seperti eksistensinya.
Sore itu diakhiri tanpa kejadian bertukar nomor ataupun jabatan tangan.
Ren duduk di depan meja kerjanya, menyambungkan kabel datanya. Angka-angka berjejer di layar besar. Log material, status kerusakan, inventaris reruntuhan. Semua terekam sempurna. Laporannya selesai sebelum langit benar-benar gelap, sebagaimana yang selalu dilakukan seorang Administrator sepertinya.
Malam membekap kota Qilin tak lama setelahnya.
***
Suhu anjlok tanpa peringatan. Lapisan ozon di atas distrik kota seolah turun menekan, menyisakan udara padat yang dingin. Lampu-lampu neon khas jalanan mulai menyala, memantulkan warna merah dan biru muda ke kaca-kaca gedung perkantoran.
Di kantor AFC, Chen duduk di kursinya.
Ruangannya lengang. Hanya ada dengung kipas prosesor komputer yang berputar ngotot melawan suhu ruangan.
Lampu tabung di atas kepalanya mendadak berkelap-kelip. Mati sejenak, lalu menyala lagi. Kesalahan arus kecil yang menyesatkan fokus mata.
Chen memijat pangkal hidungnya keras-keras. Otot di leher belakangnya sekaku kabel baja.
Retinanya masih berdenyut nyeri. Ia masih belum terbiasa dengan evolusi mendadak yang ia terima. Terkadang ia melihat bayang-bayang samar meskipun belum mengaktifkan kemampuannya.
Kemampuan barunya ini liar. Terlalu liar untuk dipahami dalam hitungan jam. Dan ketidaktahuan itu merobek-robek harga dirinya sebagai seorang Awakened kelas S.
Ia membuang pandangannya ke arah monitor komputernya yang menyala terang.
"Hal aneh terjadi terus-menerus sejak aku menemui boc—" Chen menghentikan kalimatnya sendiri. Suaranya serak tertelan kesunyian ruangan.
Ia memandangi layar itu. "Tidak, ia tidak pantas dikatakan bocah."
Di layar monitor tersebut, sebuah profil personel terbuka.
Foto pemuda dengan jas kasual dengan tatapan sayu menatap balik ke arah Chen. Wajah itu terlalu santai, terlalu datar untuk seseorang yang hidup di garis depan bencana.
Umurnya tertera jelas: 29 tahun.
Chen sedikit mengernyit. Angka itu di luar tebakannya. Sosok itu terlihat sepuluh tahun lebih muda jika dipandang dari posturnya yang terkesan tak acuh.
Dan ada hal lain. Nama belakangnya.
Lin Ren.
Marga Lin. Nama yang tiba-tiba saja muncul setelah puluhan Bab lamanya.
Chen menggulir kursor ke bawah. Ia melewati deretan riwayat tugas administratifnya. Ia melewati kolom penanggung jawab yang tertulis rapi: Berada di bawah otoritas langsung Ketua AFC Qilin, Han Jue.
Itu posisi birokrasi yang tinggi, tapi bukan itu yang membuat Chen rela membuang waktu tidurnya malam ini. Matanya terkunci pada kolom status di bagian paling bawah dokumen digital tersebut.
[Class C - Support (Self-Preservation).]
Itu klasifikasi yang merendahkan. Kelas bawah untuk mereka yang tidak bisa memegang senjata atau menyembuhkan rekan setim.
Lalu matanya menangkap deretan huruf di kolom kekuatan.
[Power: Zero Act.]
Chen memajukan posisi tubuhnya. Kursi rodanya berderit pelan. Ia menyipitkan mata, membaca barisan teks deskripsi di bawah nama kekuatan itu dengan saksama.
[Deskripsi: User tidak memiliki kemampuan spesial apapun selain meniadakan serangan yang ada padanya.]
Kalimat pertama itu membuat Chen berhenti bernapas sedetik. 'Meniadakan. Bukan menangkis, bukan pula menghindari, bukan juga memulihkan luka. Namun, meniadakan esensi dari serangan itu sendiri.'
[Sayangnya hal itu hanya bisa diaplikasikan pada dirinya sendiri. Laporan lainnya belum mencukupi untuk melengkapi data terkait kekuatan usernya untuk lebih spesifik.]
Chen menyandarkan punggungnya perlahan ke bantalan kursi. Udara dingin dari ventilasi AC menerpa wajahnya yang kuyu.
"Zero Act," gumam Chen. Suku kata itu terasa asing di lidahnya. "Sungguh nama yang aneh."
Semuanya mulai masuk akal. Serpihan teka-teki kecil yang mengganggunya siang tadi menemukan tempatnya bernaung.
Pantas saja ia tidak bisa melihat jejak apa pun dari pemuda itu.
Kemampuan Tracing-nya yang baru berevolusi mampu melihat kekosongan dan anomali di ruang hampa. Tapi saat matanya memindai Ren, yang ia dapati hanyalah ketiadaan mutlak. Sebuah lubang hitam eksistensial.
Bahkan jejak waktunya tak bersisa. Tubuhnya menolak interaksi sekecil apa pun dari semesta, termasuk menolak direkam oleh masa lalu.
Sebuah perisai egois yang sempurna.
"Kalau begitu, kekuatan itu cukup kuat," dengus Chen memecah keheningannya sendiri.
Ia memutar lehernya hingga tulang sendinya berbunyi pelan. Sudut bibirnya tertarik sebelah, membentuk senyum ironi.
"Namun bersamaan ... cukup tragis."
Kekuatan yang meniadakan bahaya pada diri sendiri, tapi buta terhadap bahaya yang mengancam orang lain. Ia tidak bisa menyelamatkan rekan di sebelahnya. Ia hanya bisa berdiri. Menonton kehancuran.
'Kalau begitu, untuk apa dia mendapatkan kekuatan semacam itu? Hanya untuk lelucon?'
(Author: Tepat sekali)
Pikiran Chen terasa berat memikirkan paradoks semacam itu.
Ia tahu, menyelidiki data seorang Administrator tidak akan membawanya ke mana-mana. Tidak ada untungnya.
Dalang utama pembunuhan berantai di Qilin masih lepas. Si pembuat kloningan gila yang membakar emosinya hingga tumpah ruah hari ini belum tertangkap. Jejak abu karat itu masih menghantui pikirannya.
Tapi malam ini ia butuh pelarian. Rasa frustrasinya butuh disalurkan pada lembar data pasif di layar database AFC ini.
"Hah ..." desah Chen panjang. Tangannya terangkat, mengacak-acak rambutnya yang kaku karena debu jalanan.
Ia kembali menatap layar. "Ini membuatku frustrasi, namun—"
Suara nyaring memotong kalimatnya.
Sebuah getaran merambat di meja kayu kerjanya. Layar ponsel pintarnya menyala terang, menampilkan nomor panggilan masuk.
Ringtone default yang kaku bernyanyi memenuhi ruangan yang gelap. Memecah segala lamunan tentang jejak tak terlihat dan paradoks kekuatan eksistensial.
Chen menurunkan tangannya dari rambut. Tatapannya beralih dari monitor ke layar kecil yang bergetar itu. Rahangnya mengeras perlahan saat membaca nama di layar ponsel.
Ia menarik napas panjang di dalam ruangan setengah gelap itu.
"Han Jue," ucapnya pelan.