PENULIS : NESC PL
ILUSTRASI : ABU SAMUEL ETO
SINOPSIS : Aku adalah seorang wanita yang memiliki Dua Kehidupan, Dua Wajah. Suatu hari aku bertemu dengan seorang pria yang lebih muda dariku. Aku terjatuh di atas tubuhnya saat memanjat dinding sekolah. Apakah hubungan di antara kami yang bermula dari kebencian bisa berubah menjadi cinta?
Bagaimana cinta itu bisa terjadi di saat aku kehilangan cinta pertamaku karena penghianatan. Pesona cowok berondong yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NESC PL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 Jauhilah dia sebelum kamu terluka
Aku membuka pintu kamar.
"Kemari,ibu ingin berbicara denganmu".
Aku mengikuti Ibu dari belakang.
Ibu duduk di kursi ruang tamu.
Menatapku dengan wajah serius.
"Jauhi Heinry!".
Aku tersentak kaget setelah mendengarnya.
"Aku ingin tahu alasan Ibu kenapa ingin aku menjauhi Heinry".
"Kamu tidak akan bisa bersatu dengannya".
"Dari mana Ibu tahu kalau aku dan Heinry tidak bisa bersatu".
"Ibu tidak bisa menjelaskannya kepadamu.Satu hal yang pasti.Ibunya Heinry dan semua keluarganya tidak akan menyetujui hubungan kalian".
"Aku tidak paham maksud perkataan Ibu".
"Jahuilah dia sebelum kamu terluka".
"Jika Ibu tidak bisa menjelaskannya kepadaku maka aku tidak akan bisa menjauhinya".
"Heinry bukanlah satu-satunya pria yang ada di dunia ini".
"Tetapi Xian Mai hanya ingin hidup bersama dengan Heinry".
"Kamu masih muda.Banyak pria yang lebih baik darinya.Bukankah kamu dekat dengan Richard.Ibu yakin Richard adalah pemuda yang baik.Ibu yakin dia akan bisa membuatmu bahagia".
"Heinry adalah pria yang baik.Ibu baru bertemu dengannya.Mai yakin Ibu suatu saat akan menyukai Heinry".
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu.Tetapi Ibu tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian sampai kapanpun".
"Xian Mai mau masuk ke kamar".
Aku berpamitan masuk ke dalam.
Berjalan dan meneteskan air mata.
"Maafkan Ibu sudah membuatmu menderita.Semua karena kesalahan Ibu di masa lalu".
Ibu duduk lalu menggenggam kedua tangan dan meletakkannya ke kening.
Aku membuka pintu.
Masuk kedalam kamar.
Membanting tubuhku ke tempat tidur.
Meraih bantal dan meletakkan di wajahku lalu menangis dengan kencang.
Apa ini namanya hubungan yang tidak mendapat restu dari orang tua?.
Aku tidak tahu kenapa Ibu bersikeras tidak menyukai Heinry.
Heinry pria yang sempurna.
Kami memiliki kesamaan sifat.
Kami juga memiliki pekerjaan yang sama sebagai presiden direktur.
Bahkan kami bisa di katakan pasangan yang serasi.
Lalu kenapa aku harus mengakhiri hubunganku dengannya?.
Handphoneku berbunyi.
"Halo?".
"Kamu menangis?".
"Tidak".
"Aku yakin kamu sedang menangis.Kamu sekarang ada di mana?".
"Aku ada di rumah".
"Baiklah.Aku akan segera datang ke rumahmu".
"Kamu mau ke rumahku?".
"Aku ingin mengajakmu keluar".
Aku berpikir tidak baik jika Heinry main ke rumahku.
"Kita ketemuan saja.Ibuku sedang tidak ada di rumah".
"Ok.Kita ketemuan di taman biasa".
"Iya".
Aku menutup telepon.
Maafkan aku Heinry.
Aku telah berbohong kepadamu.
Ibuku pasti memperlakukanmu dengan buruk jika kamu datang ke rumahku dan itu akan membuatmu sedih.
Aku merias wajah.
"Mukaku lebam".
Wajahku yang lebam.
Aku tutup dengan bedak dan kosmetik.
Aku memakai pakaian yang nyaman.
Aku tidak boleh menyerah.
Hubungan kami akan selalu baik-baik saja.
Mungkin akan jarang jika cinta pertama bisa berakhir bahagia tetapi ada juga yang bisa berakhir bahagia.
Hubungan Evelly dan Essen juga tidak mendapat persetujuan dari orang tua Essen tetapi mereka berdua tetap berjuang dan hubungan mereka baik-baik saja sampai sekarang.
Dengan semangat di dalam hati aku keluar dari kamar.
Ibu melihatku terlihat rapi dan wajahku yang berias keluar dari kamar.
Aku melihat Ibu lalu aku membalikkan tubuhku ke samping.
Ibu ingin menyapaku tetapi tidak jadi menyapaku.
Aku keluar dari rumah dan naik bus menuju taman.
Heinry berdiri dan memandang ke atas melihat dedaunan di ranting pohon.
Aku tersenyum bahagia dan haru bisa melihat sosok Heinry.
Aku menyadari kalau aku sangat mencintainya.
Bagiku Heinry adalah cinta pertama dan cinta terakhirku.
Aku percaya kepada Heinry jika dia tidak akan pernah meninggalkanku.
"Heinry?".
Aku memanggilnya dan melambaikan tanganku serta berlari ke arahnya.
Heinry tersenyum kepadaku.
Dia merentangkan ke dua tangannya.
Kami berdua berpelukan.
Bau parfum khas Heinry membuat hatiku yang gundah menjadi tenang.
Cinta pertamaku,kekasihku,dan pangeran dalam hidupku.
"Kamu sudah lama menungguku".
Heinry mengecup keningku.
"Aku baru saja sampai di sini.Aku sangat merindukanmu".
"Aku juga sangat merindukanmu.Kamu tadi sedang apa?".
Heinry memelukku dan menatap ke arah pohon.
"Aku sedang melihat dedaunan.Daun ini seperti dirimu.Daun berwarna hijau yang melambangkan semangat hidup dan pantang menyerah".
Aku bahagia mendengar perkataan Heinry.
"Terimakasih".
"Aku akan di Cina lebih lama lagi".
"Benarkah?".
"Iya.Selama satu bulan ini kita akan sering bersama.Aku juga ingin membahas proyek kerjasama kita".
"Kita bisa membahas pekerjaan dan percintaan secara bersamaan".
"Tentu saja".
Heinry meraih tanganku.
"Hari ini kamu sangat cantik".
"Kamu berkata kalau aku sangat cantik dan itu berarti kemarin aku tidak cantik".
"Tidak sayang.Kemarin kamu cantik dan sekarang kamu lebih cantik".
"Kamu juga selalu tampan bagiku dan bahkan aku takut kehilanganmu".
"Kamu takut aku akan jatuh cinta kepada wanita lain".
"Tentu saja.Kamu pria yang tampan dan banyak wanita yang menyukaimu tidak terkecuali juga gadis yang bernama Han Naomi".
"Naomi tidak mungkin suka kepadaku".
"Menurutku dia menyukaimu".
"Tunggu sebentar sayang!.Kamu tidak mungkin sedang cemburu".
"Aku tidak cemburu".
Aku mengalihkan pandanganku.
"Essen pernah berkata kepadaku kalau wanita yang sedang cemburu itu terlihat manis dan wanita yang sedang marah itu terlihat menyeramkan".
"Kamu sekarang menjadi pria yang suka merayu".
"Aku rela jadi pria yang suka merayu demi dirimu".
Di tempat lain di kamar Apartemen.
Richard sedang menghubungi seseorang di handphone.
"Yang Mulia.Para menteri sedang mencari anda".
"Kamu tidak memberi tahu kepada mereka kalau aku sedang sekolah di New York".
"Saya sudah memberi tahu mereka tetapi para menteri selalu bertanya kenapa Yang Mulia tidak sekolah di Inggris.Para menteri juga berkata kalau Istana tidak boleh terlalu lama kosong.Rakyat Inggris sangat membutuhkan anda".
"Itu hanya alasan sebagian dari mereka yang ingin menjatuhkan posisiku".
"Tetapi Yang Mulia?".
Pengasuh Yang Mulia Raja menyeka keringat di wajahnya.
"Baiklah.Aku akan segera pulang".
Aku menutup telepon.
"Bagaimana?".
"Seperti biasa.Sekumpulan para menteri yang mendukung perdana menteri mencari alasan agar aku segera pulang ke Istana".
"Apakah mereka ingin menjebak anda?".
"Kemungkinan itu sangat besar".
"Sebaiknya anda tidak segera pulang ke Istana.Ini terlalu beresiko".
"Tidak.Kita harus segera pulang.Jika kita ingin mengalahkan mereka,kita juga harus masuk ke dalam siasat mereka".
"Itu...?".
"Apakah kamu takut Alden?".Tidak ku sangka Jendral kerajaan Inggris adalah seorang yang pengecut".
Richard minum kopi.
Lalu meletakkan cangkir kopi di meja.
"Letnan Jendral Alden Mallaby?".
"Siap".
Letnan Jendral Alden Mallaby berdiri tegak dan memberi hormat kepada Raja Richard.
"Aku perintahkan kamu untuk selalu bersamaku dan melindungi ku".
"Saya akan mempertaruhkan jiwa dan raga untuk melindungi Yang Mulia Raja".
"Aku percaya kepadamu".
"Siap!".
salam hangat dari CINTA DALAM LUKA...👍👍👍
lanjut nanti..
🌹🌹🌹
salam dari Gadis Tiga Karakter