"Bagi orang lain, pernikahan adalah ibadah. Bagi Dira dan Bagas, pernikahan adalah kompetisi bertahan hidup dari kebodohan masing-masing."
Dira tidak pernah menyangka jodohnya adalah laki-laki yang dia temui di IGD dalam kondisi kepala kejepit pagar rumah tetangga. Di sisi lain, Bagas jatuh cinta pada Dira hanya karena Dira adalah satu-satunya orang yang tidak menertawakannya saat melihatnya(padahal Dira cuma lagi sibuk nyelametin nyawa karena keselek biji kedondong).
Kini, mereka resmi menikah. Jangan harap romansa ala drakor. Panggilan sayang mereka adalah "NDORO" dan "TAPIR" .
Ikuti keseharian pasangan paling absurd abad ini yang mencoba terlihat normal di depan tetangga, meski sebenarnya otak mereka sudah pindah ke dengkul.
"Karena menikah itu berat, biar kami aja yang gila."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skandal Tarawih Kilat dan Misteri Sandal Hilang Bagas
Malam pertama Tarawih di komplek Tapir Permai selalu menjadi ajang yang lebih mirip reuni akbar daripada sekadar ibadah. Orang-orang keluar dari rumah dengan pakaian terbaik mereka—mulai dari koko putih bersih yang disetrika licin, sampai model mukena yang kalau lampunya mati mungkin bisa menyala sendiri karena terlalu banyak payet.
Bagas berjalan paling depan dengan gaya pemimpin batalyon. Mengenakan sarung macan tutul andalannya yang dipadukan dengan baju koko warna hijau neon (katanya biar gampang dicari kalau tersesat di shaf). Liam berjalan di sampingnya, mengenakan kemeja koko warna abu-abu yang pas di badannya, terlihat sangat rapi dan berkelas, kontras sekali dengan kakaknya yang sudah sibuk menyapa semua orang di jalan.
"Sabar ya, Li. Di sini Tarawih itu bukan cuma soal pahala, tapi soal ketahanan fisik dan kecepatan motorik," bisik Jaka yang sudah bergabung dengan mereka, membawa sajadah yang digulung rapi.
Liam menaikkan alisnya. "Secara teologis, Tarawih itu ibadah sunnah yang harusnya dikerjakan dengan tuma'ninah, Jak. Gue harap imam di mushola kita nggak punya rekor kecepatan balap motor."
"Wah, lo belum tau Imam kita malam ini, Li," sahut Bagas sambil nyengir. "Imam kita itu Pak Haji Udin. Beliau itu kalau baca surat Al-Ikhlas, kecepatannya setara dengan download data pake jaringan 5G. Lo kedip sekali, beliau udah rukuk. Lo kedip dua kali, beliau udah salam."
Liam cuma bisa geleng-geleng kepala. "Itu namanya Fast-Paced Spiritual Activity. Gue ragu sistem kognitif gue bisa memproses bacaannya kalau kecepatannya segitu."
Di area jamaah wanita, Dira dan Manda sudah mengambil posisi di shaf depan. Manda, seperti biasa, membawa perlengkapan tambahan: botol semprotan berisi air aromaterapi "Lavender Kedamaian".
"Dira, lo ngerasa nggak kalau energi di mushola ini agak berat? Banyak orang yang dateng bawa sisa-sisa emosi laper tadi sore," bisik Manda sambil menyemprotkan air ke udara secara sembunyi-sembunyi.
"Man, simpen dulu deh botolnya. Ini tempat ibadah, bukan spa kecantikan," sahut Dira sambil berusaha khusyuk.
Di pojok luar mushola, Supra sedang duduk manis di atas pagar beton. Memakai peci putih bayinya yang tadi pagi, memantau setiap jamaah yang masuk dengan pandangan menghakimi. Beberapa anak kecil yang mau masuk mushola sempat berhenti buat ngajak main, tapi Supra cuma membalas dengan satu kali kibasan ekor yang artinya: "Gue lagi jaga keamanan, jangan ganggu."
Shalat dimulai. Dan benar saja kata Bagas. Pak Haji Udin seolah sedang dikejar oleh jadwal penerbangan luar angkasa.
Allahu Akbar ... (setengah detik kemudian) ... Allahu Akbar!
Liam yang biasanya melakukan gerakan shalat dengan presisi dan perlahan, mendadak kaget. Dia baru saja mau memulai bacaan Al-Fatihah di dalam hati, eh, imamnya sudah rukuk. Liam terpaksa mempercepat gerakannya sampai kacamatanya hampir melorot ke ujung hidung.
"Mas ... (bisik Liam pas lagi sujud) ... ini bukan tarawih, ini olahraga kardio berbalut religi."
"Diem lo, Li! Fokus! Ikutin ritmenya!" balas Bagas yang gerakannya sangat lincah, saking lincahnya sarungnya hampir lepas kalau dia nggak cepat-cepat megangin pinggangnya.
Delapan rakaat berlalu dalam waktu kurang dari lima belas menit. Liam berdiri dengan napas sedikit terengah. "Gila ... secara fisiologis, detak jantung gue sekarang ada di angka 110 bpm. Ini setara dengan lari santai di treadmill."
Setelah selesai witir, ritual selanjutnya adalah bersalam-salaman dan—yang paling berbahaya—mencari sandal di luar mushola.
Bagas keluar dari pintu mushola dengan senyum lebar. "Aduh, seger ya! Jiwa gue ngerasa bersih, perut gue ngerasa lapang!"
"Jiwa lo bersih, tapi lo sadar nggak kalau lo tadi hampir nabrak bapak-bapak di depan lo pas rukuk?" sindir Liam sambil memakai jam tangannya kembali.
Mereka menuju ke tempat penitipan sandal yang sudah berubah jadi lautan alas kaki yang nggak beraturan. Liam dengan mudah menemukan sandal kulitnya yang ditaruh paling pojok (dia selalu naruh barang dengan koordinat yang jelas di otaknya). Tapi Bagas ... tiba-tiba mematung.
"Loh ... sandal gue mana?"
Bagas celingukan. Mencari di bawah rak, di balik pot bunga, bahkan sampai nanya ke anak kecil yang lewat. "Dek, liat sandal jepit warna biru yang ada coretan spidol 'MILIK BAGAS' nggak?"
Anak itu menggeleng. Jaka dan Liam ikut mencari, tapi hasilnya nihil. Sandal jepit legendaris Bagas yang alasnya sudah tipis sebelah itu hilang ditelan bumi.
"Mas, mungkin lo lupa naruhnya di mana," ujar Liam mencoba rasional. "Coba inget-inget lagi, lo tadi dateng pake kaki kanan dulu atau kiri dulu?"
"Gue inget banget, Li! Gue tumpuk di atas sandal swallow warna ijo tadi! Sekarang hijaunya ada, birunya nggak ada!" Bagas mulai panik. "Jangan-jangan ada yang khilaf?! Siapa yang tega nuker sandal legendaris gue sama sandal yang lebih baru?!"
Tiba-tiba, Manda dan Dira keluar dari pintu wanita. Manda melihat Bagas yang lagi nyeker di atas aspal dingin.
"Gas, lo kenapa? Lagi grounding energi bumi ya lewat telapak kaki?" tanya Manda polos.
"Sandal gue ilang, Man! Ilang di malam suci ini!" ratap Bagas.
Manda menutup matanya, melakukan gerakan tangan seolah-olah sedang mencari sinyal di udara. "Gue ngerasa ... sandal lo nggak hilang secara fisik karena dicuri. Gue ngerasa sandal lo 'berjalan' menuju tempat yang penuh dengan aroma ikan."
"Hah? Maksud lo apa, Man?" tanya Dira bingung.
Liam menyipitkan mata. Melihat ke arah pagar tempat Supra tadi duduk. Supra sudah tidak ada di sana. Tapi, ada sebuah jejak gesekan di atas tanah menuju ke arah semak-semak di belakang mushola.
Liam berjalan ke sana, diikuti oleh yang lain. Dan benar saja, di balik pohon kamboja, mereka menemukan Supra sedang asyik tidur dengan nyaman di atas ... sandal biru milik Bagas. Supra menjadikannya sebagai bantal darurat agar peci putihnya tidak kotor terkena tanah.
"SUPRAAAA! Lo ya bener-bener!" teriak Bagas sambil mengambil sandalnya pelan-pelan (takut Supra bangun dan nyakar). "Ini sandal buat jalan, bukan buat kasur kucing!"
Supra terbangun, menatap Bagas dengan tatapan malas seolah bilang, "Sandal lo itu baunya familiar, makanya gue pake buat tidur biar ngerasa di rumah. Jangan protes."
Liam tertawa pendek. "Secara psikologi hewan, Supra ngalamin Separation Anxiety ringan, Mas. Dia butuh sesuatu yang baunya kayak lo biar dia ngerasa aman pas lo tinggal shalat. Sandal lo itu 'objek transisi' dia."
"Objek transisi apaan?! Bilang aja dia emang mau ngerjain gue!" gerutu Bagas sambil memakai sandalnya yang sekarang penuh bulu kucing.
Manda menepuk pundak Liam. "Li, liat deh. Ilmu lo kepake juga kan buat urusan sandal hilang? Lo ternyata punya bakat jadi detektif kucing."
Liam menoleh ke Manda. Di bawah lampu mushola yang temaram, wajah Manda terlihat lebih tenang. "Gue cuma pake logika, Man. Nggak perlu pake frekuensi-frekuensi-an."
"Tapi logika lo itu yang bikin gue ngerasa aman, Li," bisik Manda tiba-tiba.
Liam langsung membeku. Mukanya mendadak terasa panas, lebih panas daripada pas dia lagi tarawih tadi. Liam berdehem keras, berusaha mengalihkan perhatian. "Ehem ... ya, itu ... karena logika adalah fondasi dari segala sesuatu. Udah, ayo pulang. Mama Ratna pasti udah nyiapin wedang jahe buat kita."
Bagas yang melihat momen itu langsung nyeletuk sambil menggendong Supra. "Woi! Yang lagi 'bervibrasi' asmara, ayo jalan! Keburu setannya dikurung semua, nanti nggak ada alesan kalau lo berdua mendadak khilaf!"
"MAS BAGAS!" teriak Liam dan Manda barengan.
Malam itu, mereka pulang dengan langkah ringan. Bagas dengan sandal berbulunya, Liam dengan jantung yang berdetak nggak karuan, dan Manda yang terus-menerus mencoba "menyelaraskan" energinya dengan Liam.
Ramadhan tahun ini memang baru dimulai, tapi Liam sadar, dia mungkin bakal kehilangan lebih banyak daripada sekadar logika di bulan ini. Dia mungkin bakal kehilangan hatinya juga.
Tarawih perdana selesai dengan sukses tanpa ada cedera otot, meski sandal Bagas sempat jadi korban "bantal" Supra. Besok adalah tantangan sebenarnya: Sahur kedua yang katanya bakal lebih berat karena hormon lapar mulai mencapai level puncak.
"Li, besok sahur jangan lupa ya ... gue mau denger diagnosa lo tentang 'Kenapa Es Buah Terlihat Lebih Cantik dari Pacar'!" canda Jaka sambil berbelok ke rumahnya.
Liam cuma tersenyum tipis. "Besok kita liat, Jak. Besok kita liat."