Intan harus berjuang membuktikan pada keluarga sang suami bahwa dia bukanlah pelacur walaupun dia terlahir dari rahim seorang pelacur. Namun akibat pengkhianatan sang suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan darinya dan tidak diperlakukan dengan adil oleh suaminya, akhirnya Intan terjerumus dalam sebuah dosa dengan kakak iparnya . Dan hal itu lah yang menjadi penyebab hancurnya rumah tangganya bersama dengan Aldy. Dan intan harus rela dibenci oleh anak kandungnya sendir hingga bertahun- tahun lamanya akibat sang anak dipengaruhi oleh keuarga Aldy jika sang ibu bukan orang baik. Apakah Intan bisa kuat menjalani kehidupannya yang dipenuhi dengan kebencian dari keluarga Aldy dan juga anak kandungnya...? Yuk baca cerita selengkapnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Hutang Yang Belum Lunas
A...apa...? Ja..jadi ibuku masih punya hutang...?'' Intan seolah tidak percaya jika sang ibu masih mempunyai hutang pada rentenir. Apa lagi kata penagih hutang tersebut hutang bu Yuyun masih cukup banyak, yaitu sebesar tiga puluh lima juta.
Tentu saja Intan syok mendengar hal itu. Padahal bu Yuyun sudah kehilangan rumah karena di sita oleh bank untuk membayar hutang- hutangnya. Namun ternyata hutangnya masih belum lunas juga.
"Di mana bu Yuyun...! Suruh dia keluar...!'' ucap penagih hutang dengan wajah garang.
"Bang... Ibu saya sudah meninggal seminggu yang lalu..." jawab Intan.
"Apa...? meninggal...?" kedua penagih hutang itu tertawa seolah apa yang dikatakan oleh Intan hanyalah sebuah lelucon.
"Hei...drama apa lagi ini...? Minggu lalu si Yuyun pura- pura sakit... Sekarang anaknya bilang si Yuyun meninggal...? Anak sama ibu sama- sama tukang bohong...!" sahut penagih hutang yang satunya lagi.
"Yuyun...! Yuyun...! Keluar kamu...! Jangan ngumpet kamu ya...! Pake pura- pura mati segala...! Itu karena kamu tidak mau bayar hutang kan...!'' lanjut si penagih hutang bertambah kesal karena setiap datang menagih hutang pada bu Yuyun selalu ada saja alasannya.
Kedua penagih hutang itu pun masuk ke dalam rumah kontrakan bu Yuyun karena mereka yakin jika bu Yuyun sedang bersembunyi di dalam.
"Cukup bang...! Cukup...! Apa yang kalian lakukan...! Jadi kalian menuduhku berbohong tentang kematian ibuku...! Kalian benar- benar keterlaluan...!'' Intan mencegah kedua penagih hutang yang hendak mengacak- acak rumah kontrakan bu Yuyun.
"Hei...! Kamu jangan coba- coba menghalangi kami ya...! Suruh ibumu keluar dari persembunyiannya...!'' sahut si penagih hutang.
"Hei bang...! Kalau kalian mau bertemu dengan bu Yuyun, kalian temui saja dia di kuburan...!'' ucap Tantri yang sejak tadi merasa geram pada kedua penagih hutang itu yang tetap tidak percaya bahwa bu Yuyun sudah meninggal.
Mendengar ucapan Tantri kedua penagih hutang itu terdiam. Mereka seolah baru percaya jika bu Yuyun memang sudah meninggal.
"Kalau kalian tidak percaya, lihat saja kuburannya di pemakaman kampung sebelah. .." sambung Tantri merasa kesal pada kedua penagih hutang tersebut.
Salah satu penagih hutang menghela nafas.Iya, mereka akhirnya percaya dengan ucapan Intan dan juga Tantri bahwa bu Yuyun telah meninggal dunia.
"Ya sudah kalau begitu... Kami akan memberikan waktu satu minggu sebagai rasa belasungkawa kami. Tapi kami akan datang lagi minggu depan untuk menagih hutang bu Yuyun..." ucap penagih hutang.
"Maksud kalian apa...?" tanya Intan kurang paham dengan apa yang diucapkan oleh si penagih hutang.
"Masa tidak paham sih... Tentu saja kamu sebagai anaknya Yuyun yang harus melunasi hutang- hutangnya..." sahut penagih hutang yang satunya lagi.
"A...apa...?'' tentu saja Intan terkejut.
Iya, sekarang saja keadaan Intan sedang sulit, bagaimana mungkin dia harus melunasi hutang sang ibu.
"Aku yang harus melunasi hutang ibuku...?'' tanya Intan.
"Tentu saja... Tadi kamu bilang kamu ini anaknya si Yuyun kan, ya siapa lagi kalau bukan kamu yang harus melunasi hutangnya..." jawab si penagih hutang.
"Tapi bang...aku sama sekali tidak tahu menahu soal hutang itu... Bagaimana mungkin aku yang harus membayarnya... Aku harus bayar pakai apa...? aku nggak ada uang sebanyak itu..." jawab Intan jelas tidak akan mampu jika harus membayar hutang sebanyak itu.
"Saya tidak mau tahu...! Yang jelas hutang itu harus segera dilunasi...! Kalau tidak ,bos kami akan datang menemuimu dan bisa dipastikan dia akan lebih kejam dari kami...!'' ancam si penagih hutang.
Intan menggeleng- gelengkan kepalanya sambil menangis.
"Sabar Intan..." bisik Tantri sambil mengusap lengan Intan.
"Ingat ya, minggu depan kami datang lagi ke sini. Dan uang itu sudah harus ada... !" ucap penagih hutang yang satunya lagi.
Dan mereka berdua pun pergi dari rumah kontrakan Intan. Intan kembali menangis merasa sedih karena permasalahan dalam hidupnya begitu banyak datang silih berganti.
"Sabar...Intan sabar...kamu harus kuat..." Tantri memeluk Intan.
"Bagaimana aku harus membayar hutang yang begitu banyak ,Tantri...? Harus ke mana aku mencari uang sebanyak itu...hik...hik..." Intan terus menangis.
"Kita cari jalan keluarnya sama- sama intan... Aku akan bantu kamu..." jawab Tantri walaupun dia sendiri sebenarnya tidak tahu harus membantu apa untuk Intan. Tapi setidaknya Tantri akan selalu menguatkan Intan dalam menghadapi masalahnya.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Intan duduk seorang diri di kamar rumah kontrakannya. Intan memijit keningnya yang terasa pusing memikirkan permasalahan di dalam hidupnya. Baik masalahnya sendiri ataupun masalah yang ditinggalkan oleh sang ibu yang membuat Intan semakin pusing dan bingung.
Belum juga hilang kecemasan Intan terhadap sang ibu yang meninggal dengan banyak dosa yang telah dia lakukan di masa hidupnya, sekarang kecemasan Intan bertambah lagi ketika ternyata sang ibu bukan hanya membawa dosa, tapi dia juga membawa hutang yang belum lunas.
Dan tentu saja sang ibu yang sudah berpindah alam akan semakin menderita jika hutangnya tidak dibayar lunas oleh Intan. Tapi Intan sendiri belum menemukan jalan keluar bagaimana dia bisa melunasi hutang sang ibu. Ditambah lagi tadi pagi dia mendapat telpon dari rentenir yang memperingatkan Intan bahwa dia akan datang ke kontrakan Intan tiga hari lagi, dan meminta Intan untuk menyiapkan uang.
Tentu saja Intan bertambah bingung. Sedangkan uang di ATMnya hanya cukup untuk makan sehari- sehari. Jika Intan memakai uang tersebut untuk membayar hutang sang ibu, dia tidak punya uang untuk makan dan bayar kontrakan.
"Oh ya ampun ibu... Kenapa selalu saja membuatku susah. Apa belum cukup semua yang ibu pernah lakukan padaku...? Ibu sudah terlalu banyak menyusahkanku dan membuatku sedih. Dan sekarang setelah ibu meninggal pun ibu masih saja membuatku berada dalam masalah...hik...hik..." ucap Intan sambil menangis seorang diri.
Iya, Intan ingat betul dengan apa yang pernah sang ibu lakukan padanya di masa lalu. Dari mulai mengacuhkan dan tidak memperdulikan Intan, tidak merestui pernikahan Intan dengan Ridwan dan juga sering sekali menghina Ridwan karena dia bukan menantu kaya.
Dan yang membuat Intan benar- benar hancur adalah saat bu Yuyun memberikan obat penggugur kandungan hingga Intan harus mengalami keguguran.
Tak sampai di situ, setelah Ridwan meninggal, bu Yuyun juga memaksa Intan untuk menjadi wanita malam. Dan ketika Intan sudah menikah dengan Aldy, bu Yuyun juga sering meminta uang padanya hingga akhirnya menyebabkan Intan tambah dibenci oleh ibu mertuanya. Karena menurutnya bu Yuyun telah merepotkan Aldy.
Dan sekarang setelah bu Yuyun meninggal dia justru meninggalkan banyak hutang yang mau tidak mau harus Intan yang melunasi.
Dalam kesedihannya, Intan tiba- tiba teringat pada sang putra semata wayangnya yaitu Arkan. Iya, dulu ketika Intan sedih, Arkan yang selalu ada buat Intan dan menghilangkan rasa sedihnya. Tapi sekarang Intan sudah hampir satu bulan tidak bertemu dengan Arkan. Tentu saja Intan sangat merindukan putranya itu.
"Arkan... Hik...hik... Mama kangen nak...hik..hik..." Intan menangis.
💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝
Beberapa hari kemudian Intan memberanikan diri untuk menemui Arkan di rumah umi Fatimah. Iya, kerinduan pada putra semata wayangnya sudah tidak terbendung lagi. Dan Intan yakin jika Arkan berada di rumah nenek dan kakeknya. Karena Tantri bilang padanya jika orang yang mengurus kepindahan sekolah Arkan adalah umi Fatimah dan Wulan.
Dengan langkah sedikit gamang, Intan memberanikan diri memasuki halaman rumah umi Fatimah. Intan tidak perduli apapun yang akan terjadi nanti ketika mereka melihat Intan. sudah pasti mereka berdua akan marah atas apa yang Intan lakukan bersama dengan Dirga.
Intan juga tidak yakin apakah mereka akan mengijinkan Intan bertemu Arkan atau tidak. Tapi yang terpenting bagi Intan dia harus berusaha dulu untuk menemui Arkan.
Setelah sampai di teras rumah umi Fatimah, Intan terdiam beberapa saat sambil menatap pintu rumah yang tertutup rapat. Dan suasana rumah sepi seperti tidak berpenghuni.
Dengan perasaan ragu Intan mengangkat tangan untuk mengetuk pintu. Namun sebelumnya Intan menghela nafas seolah- olah dia sudah siap siapapun nanti yang akan membuka pintu dan seperti apa sikapnya terhadap Intan. Iya, Intan jelas sudah yakin jika seluruh keluarga Aldy sangat membencinya terkait skandalnya dengan Dirga.
"Tok..tok..tok..." Intan mengetuk pintu.
Namun suasana hening. Tidak ada orang yang membuka pintu. Intan pun kembali mengetuk pintu tersebut sambil mengucap salam.
"Tok...tok...tok.."
"Assalamualaikum..." ucap Intan.
Namun lagi- lagi tidak ada jawaban dari dalam. Intan pun berpikir jika tidak ada orang di dalam rumah. Intan kembali menghela nafas. Hatinya begitu kecewa karena tidak bisa bertemu dengan mantan mertuanya sehingga dia tidak tahu apakah benar Arkan tinggal bersama mereka atau tidak.
Dengan berat hati Intan membalikkan badannya berniat untuk pergi. Namun baru beberapa langkah, tiba- tiba Intan mendengar suara dari dalam.
"Gubrak...!'' terdengar suara benda jatuh.
Tentu saja Intan terkejut. Dan karena penasaran, Intan pun mengintip ke dalam melalui kaca jendela rumah. Namun Intan tidak melihat siapapun di ruang tamu.
Karena penasaran dan khawatir terjadi sesuatu di dalam sana, Intan pun kembali mengetuk pintu.
"Tok...tok...tok..."
"Umi...abi..." panggil Intan sambil memutar gagang pintu.
Dan ternyata pintu tersebut tidak dikunci.
"Pintunya tidak dikunci..." gumam Intan sambil membuka pintu dengan perlahan.
"Umi...abi..." Intan kembali memanggil mantan mertuanya.
Intan sebenarnya ingin masuk tapi dia sepertinya ragu. Intan pun hanya berdiri depan pintu.
Dan tak lama kemudian Intan kembali mendengar suara. Namun kali ini yang terdengar oleh Intan adalah suara rintihan meminta tolong.
"Umiii...umii...tolongggg... Tolong abi miii..."
"Aa....abi... I..itu suara abi..." ucap Intan segera berlari ke ruang tengah.
"Abiii..." panggil Intan menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara.
"Umiii....tolong abi...miiiii...." suara itu kembali terdengar dari dalam kamar.
Tanpa menunggu waktu lagi, Intan segera berlari ke kamar mantan mertuanya. Dan setelah membuka pintu kamar tersebut, Intan dibuat kaget begitu melihat abi Abdul tergeletak di lantai sambil merintih kesakitan dan meminta tolong.
"Ya Alloh, Abiiii..." Intan segera menghampiri abu Abdul dan membantunya untuk bangun.
"I... Intan... Tolong a..abi..." ucap abi Abdul yang sepertinya baru saja terjatuh dari tempat tidur.
"Ya ampun abi... Kenapa abi bisa jatuh begini..." ucap Intan dengan susah payah membangunkan abi Abdul dan memapahnya untuk berdiri dan menaikkannya ke atas tempat tidur.
"Abi sakit ya...?'' tanya Intan setelah berhasil membaringkan abi Abdul ke tempat tidur.
Iya, Intan melihat wajah abi Abdul yang pucat serta badannya lemas dan lebih kurus dari terakhir Intan bertemu dengannya. Nafas abi Abdul pun nampak tersengal- sengal.
"Intaaaannn..." ucapnya lirih.
"Iya abi..." jawab Intan sambil menggenggam tangan mantan bapak mertuanya yang terasa dingin.
"Terima kasih sudah menolong abi..." jawab Abdul.
"Iya abi... " jawab Intan sambil tersenyum.
"Abi di rumah sendirian ya...? Umi di mana...?" tanya Intan.
Lalu abi Abdul memberitahu Intan bahwa umi Fatimah sedang pergi ke kajian bersama ibu- ibu yang lain.
Intan menghela nafas merasa sedih melihat keadaan mantan bapak mertuanya yang sedang sakit tapi ditinggal di rumah seorang diri. Intan jadi teringat dengan almarhum pak Wito.
Iya, sudah satu minggu ini penyakit diabetes abi Abdul kambuh. Sebenarnya dia sudah dirawat di rumah sakit tiga hari lalu. Tapi Abi Abdul minta pulang karena tidak betah berada di rumah sakit.
Abi Abdul memang sudah sering keluar masuk rumah sakit akibat penyakitnya itu. Bahkan dia sudah harus cuci darah setiap sebulan sekali. Tentu saja abi Abdul merasa bosan menginap di rumah sakit karena tidak ingin merepotkan keluarganya. Jadi dia memilih untuk istirahat di rumah saja.
"Intan..." ucap Abi Abdul.
"Iya abi..." jawab Intan.
Abi Abdul terdiam beberapa saat merasa tidak enak pada Intan.
"Ada apa abi...?'' tanya Intan.
"Abi mau minta tolong..." jawab abi Abdul.
"Minta tolong apa bi...?'' tanya Intan.
Dengan perasaan tidak enak, abi Abdul pun meminta tolong pada Intan untuk membawanya ke kamar mandi dengan kursi roda karena dia ingin mengganti popoknya yang telah penuh. Apa lagi tadi dia sempat buang air besar dan belum sempat di bersihkan.
Iya, sebenarnya tadi abi Abdul berusaha bangun dari tempat tidur dan berpindah ke kursi roda dan akan pergi ke kamar mandi untuk melepas popoknya dan membersihkan kotoran akibat buang air besar.
Biasanya umi Fatimah yang melakukan hal itu. Namun karena sang istri belum pulang juga dari tempat kajian, abi Abdul mencoba melakukannya sendiri. Namun saat dia akan berpindah dari tempat tidur ke kursi roda, dia malah terjatuh.
Untung Intan mendengar suara saat abi Abdul jatuh, jadi dia bisa menolongnya.
"Iya abi... Sini biar Intan yang mengganti popok Abi..." ucap Intan.
"Jangan...jangan nak... Itu bukan kewajiban kamu...." jawab abi Abdul yang tentu saja merasa tidak enak hati jika Intan melakukan hal tersebut.
"Abi... Jangan merasa enak pada Intan... Abi ini sudah Intan anggap seperti bapak Intan sendiri. Ijinkan Intan untuk mengganti popok ya..." sahut Intan dengan tulus.
"Tapi Intan..."
"Tidak apa- apa abi..." jawab Intan sambil tersenyum pada mantan bapak mertuanya.
Lalu dengan cekatan Intan mengganti popok yang sudah kotor dengan popok yang baru. Tak lupa Intan juga menyeka tubuh bagian bawah abi Abdul bahkan dia tidak merasa jijik sama sekali.
Melihat hal tersebut, abi Abdul meneteskan air matanya. Abi Abdul merasa terharu dan juga merasa bersalah pada Intan. Abi Abdul tidak menyangka Intan yang sekarang sudah bukan siapa- siapanya lagi karena Aldy telah menceraikannya, mau melakukan hal tersebut tanpa merasa jijik karena bau tidak sedap yang berasal dari kotorannya. Padahal umi Fatimah sebagai istri sering kali kesal bahkan muntah jika sedang mengganti popok abi Abdul. Sedangkan Intan yang hanya sebagai mantan menantu mau melakukan hal itu dengan tulus.
Bersambung...