Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngidam
Mobil Adipati melaju membelah jalanan yang mulai lengang. Getaran ponsel di dashboard membuatnya melirik sekilas layar lalu mengangkat teleponnya melakukan loudspeaker.
“Mas…” suara Selina terdengar lembut dari seberang.
“Mas,aku pengen sate. Bisa tolong beliin?”
Adipati tersenyum kecil. “Sate? Jam segini?”
“Iya,” jawab Selina manja. “Tiba-tiba pengen.”
“Oke,” kata Adipati tanpa ragu.
“Nanti mas beliin. Mau sate apa?”
“Sate ayam. Banyakin ya,” Selina terkekeh pelan.
Adipati mengangguk meski Selina tak bisa melihat. “Siap. Tunggu di rumah. Jangan kemana-mana.”
“Iya, Mas. Hati-hati di jalan.”
Telepon ditutup.
Adipati membelokkan setir ke arah warung sate langganan.
“Ngidam tengah malam,” gumamnya sambil tersenyum.
“Tapi demi istri… apa sih yang nggak.”
Mobil Adipati berhenti di pinggir jalan. Asap tipis mengepul dari gerobak sate yang masih ramai meski malam mulai larut. Ia turun, membuka dompet, lalu mendekat.
“Bang,” sapa Adipati santai.
“Sate ayam, ya. Dua puluh tusuk.”
Penjual sate menoleh. “Wah, siap, Mas. Dibungkus?”
“Iya. Sambalnya agak pedes, tapi jangan kebanyakan,” tambah Adipati.
Penjual mengangguk cekatan.
“Siap. Buat istri, ya?”
Adipati tersenyum kecil. “Iya.”
Beberapa menit kemudian, sate sudah terbungkus rapi. Adipati membayar lalu kembali ke mobil.
Tak lama, ponselnya kembali bergetar.
Nama Selina muncul lagi.
“Mas, udah dapet belum?” suara Selina terdengar ceria.
“Udah,” jawab Adipati sambil menyalakan mesin.
“Sebentar lagi Mas pulang.”
“Kok lama banget rasanya.”
Adipati terkekeh. “Sabar. Perut kamu yang laper atau kamu yang kangen mas?”
Selina terdiam sesaat, lalu tertawa kecil. “Dua-duanya.”
Mobil kembali melaju menuju rumah. Lampu-lampu jalan memantul di kaca depan. Wajah Adipati tampak lebih rileks dibanding beberapa jam lalu.
“Mas,” ucap Selina pelan dari seberang.
“Iya?”
“Makasih ya… hal kecil gini aja kamu selalu nurutin.”
Adipati menatap jalan dengan senyum tipis. “Kamu itu istri mas. Mau sate tengah malam pun, mas beliin.”
Selina terdiam, lalu berbisik, “Aku tunggu di ruang tamu.”
“Iya,” jawab Adipati lembut.
“Mas bentar lagi sampai.”
Telepon ditutup.
Adipati menghela napas puas.
“Semoga dengan ini Selina bisa lebih cepat membuka hati untuk ku,” gumamnya.
Adipati kembali mendekat ke gerobak sate karena melihat beberapa tusuk masih tertinggal di atas bara.
“Udah belum, Bang?” tanyanya sambil sedikit mencondongkan badan, matanya fokus ke panggangan.
Penjual sate mengibas-ngibaskan kipas bambu. “Bentar lagi, Mas. Ini tinggal dibolak-balik dikit. Biar matangnya rata, nggak gosong.”
Adipati mengangguk sabar. “Nggak apa-apa, Bang. Santai aja. Yang penting empuk.”
“Buat siapa, Mas?” tanya penjual sambil membalik sate.
“Buat istri,” jawab Adipati singkat tapi jelas.
Penjual langsung tersenyum lebar. “Ohh… pantesan. Kalau buat istri mah harus nomor satu. Nggak boleh setengah-setengah.”
Adipati ikut tersenyum kecil. “Iya, Bang. Takut dia kecewa.”
Penjual terkekeh. “Istrinya lagi ngidam, ya?”
Adipati mengangguk ringan. “Iya, pengen sate katanya.”
“Wah,” penjual tertawa. “Berarti Mas ini suami siaga. Mantap.” Ia lalu menambahkan sambil bercanda, “Istrinya hamil langsung dibeliin. Tapi jangan yang mentah ya, Mas. Nggak baik.”
Adipati tertawa kecil. “Belum hamil, Bang.”
“Oh?” Penjual menaikkan alis. “Kok bisa?”
Adipati menjawab santai, tanpa beban. “Malam pertama aja belum, Bang.”
Penjual sempat terdiam, lalu tertawa geli. “Waduh… sabar, Mas. Orang sabar disayang Tuhan.”
“Iya,” jawab Adipati tenang. “Nggak apa-apa. Semua ada waktunya.”
Penjual mengangkat sate dari panggangan satu per satu. “Jarang lho, Mas, laki-laki sekarang bisa nahan diri begini.”
Adipati menerima bungkusan sambil tersenyum tipis. “Tujuan menikah bukan hanya itu,Bang.Tapi ibadah Insya Allah ini yang terbaik.”
Penjual mengangguk setuju sambil memasukkan lontong dan sambal ke plastik. “Nah, ini lengkap, Mas. Sate, lontong, sambal. Sambalnya saya lebihin dikit.”
“Wah, makasih banyak, Bang,” ujar Adipati tulus.
“Sama-sama, Mas. Sehat-sehat ya. Salam buat istrinya. Semoga langgeng sampai maut memisahkan.”
“Iya, Bang. InsyaAllah.”
Adipati melangkah kembali ke mobil. Senyum kecil masih tertahan di wajahnya.
Ia duduk di balik kemudi, menaruh bungkusan sate di kursi samping.
Sambil menyalakan mesin, ia bergumam pelan, “Tunggu Mas pulang,Sayang.”