NovelToon NovelToon
Ambisi Anak Perempuan Pertama

Ambisi Anak Perempuan Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Ibu Tiri / Slice of Life / Tamat
Popularitas:908
Nilai: 5
Nama Author: Annisa Khoiriyah

Zaskia adalah anak perempuan pertama yang tumbuh dengan kenangan pahit tentang keluarganya. Ketika ia berusia tujuh tahun dan adiknya, Rania, delapan tahun, perselingkuhan orang tua mereka memicu perpecahan yang tak pernah pulih. Ibunya, Erna, pergi dan menghilang, meninggalkan luka yang membentuk cara Zaskia memandang hidup.

Tahun-tahun berlalu. Rania tumbuh menjadi seorang model dengan kehidupan yang terlihat gemerlap, sementara Zaskia memilih hidup sendiri dan memendam masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai. Pada usia dua puluh satu tahun, Zaskia berusaha mencari ibunya—sebuah pencarian yang justru mempertemukannya dengan Revan.

Bagaimana nasib kedepannya kedua saudari itu?




GO.... GO....Selamat menikmati ceritanya kakak...Jangan lupa dukung karyaku dengan like, komen and follow ya. Terima kasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Yang Sama

Zaskia tidak langsung menangis lagi setelah itu. Saat Dara membawanya keluar untuk menenangkannya, ia hanya duduk diam, menatap satu titik, sementara dunia di sekelilingnya tetap berjalan seolah tak terjadi apa-apa.

Kehilangan ternyata tidak selalu datang bersama jerit dan air mata.

Kadang, ia hadir dalam bentuk keheningan yang terlalu dalam untuk diteriakkan.

Zaskia baru menyadari tangannya dingin ketika Darrel memanggil namanya untuk ketiga kali. Jemarinya saling meremas tanpa sadar, seolah itu satu-satunya cara agar ia tetap utuh.

Tubuhnya ada di sana, tapi pikirannya masih tertinggal di ruangan itu—pada kursi roda, pada tatapan kosong yang tak mengenalnya.

Ia mengerjap.

“Iya, Kak,” jawabnya pelan, menatap Darrel dan Revan yang duduk di hadapannya. Namun sorot matanya kembali meredup, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang ingin runtuh.

“Ini pasti berat buat kamu. Untuk sementara waktu, kamu tinggal di sini dulu,” ucap Revan.

Kalimat itu sempat melegakan hati Zaskia, sebelum perih kembali menyerang tanpa aba-aba. Ia ingin menolak—tak ingin merepotkan siapa pun—namun pikirannya terlalu lelah untuk mencari alasan.

“Kak...” suaranya lirih, nyaris serak. “Apa yang sebenarnya sudah terjadi?”

Tangannya menyeka sudut mata, menahan air mata yang hampir jatuh lagi.

Darrel menatapnya dengan iba. Matanya ikut memerah. Zaskia mungkin orang lain baginya, tapi duka itu terasa begitu dekat—seolah ikut merembes ke dadanya. Bahkan saat mendengar tangisan dari kamar tadi, air matanya sempat jatuh tanpa ia sadari.

Sementara Revan, dengan wajah tetap tenang, menghela napas dalam.

“Kita jangan bahas ini dulu. Kamu butuh kepala dingin untuk mendengar semuanya.”

“Tapi...saya—”

“Emosi kamu masih mendidih sekarang,” potong Revan lembut namun tegas. “Tenangkan diri dulu. Nanti saya ceritakan semuanya.”

Setelah itu, Revan beranjak pergi, meninggalkan Zaskia yang kembali tertunduk, bahunya sedikit merosot seolah kehilangan penyangga.

Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan sebuah nampan, lalu meletakkannya di hadapan Zaskia.

“Makanlah.”

Beberapa butir kurma tersusun rapi di piring, ditemani segelas susu.

“Sesuatu yang manis bisa membantu suasana hati kamu jadi lebih tenang,” lanjutnya.

Darrel mengangkat alis, heran dengan sikap Revan. Ada sisi lain yang lama tak ia lihat—kelembutan yang dulu hanya muncul pada satu masa tertentu. Kini, entah bagaimana, terasa hadir lagi. Dan itu membuat keberadaan Darrel sendiri terasa canggung, seolah ruangan ini tak lagi membutuhkan terlalu banyak suara.

Zaskia menatap kurma di depannya lama sekali—bukan karena lapar, melainkan karena ia tak tahu harus memulai dari mana untuk kembali dengan perasaan yang sudah hancur lebur.

Malam datang pelan, tanpa mengetuk.

Zaskia terbaring di kamar asing itu dengan mata terbuka, menemani sosok yang lama tak berada di sisinya. Ia hanya bisa memeluk kehadiran itu lewat jiwa, bukan menyentuh luka-luka yang entah sudah berapa lama ibunya tanggung sendiri.

Meski dalam kondisi yang buruk, untuk pertama kalinya sejak siang tadi, dadanya tak lagi sesak—hanya kosong. Namun jauh di lubuk hati terdalam, tumbuh keyakinan kecil bahwa dunia akan tetap baik-baik saja selama tangan yang pernah memberinya kehidupan masih bisa ia genggam, meski sebentar.

Malam itu juga, di sudut kursi depan rumah, semilir angin menyelusup ke kulit siapa pun yang duduk di sana. Dua orang masih terjaga, duduk berhadapan dengan pikiran masing-masing, seperti penjaga yang setia, melindungi seseorang yang tengah rapuh di balik dinding rumah itu.

Revan dengan laptop di depannya.

Darrel sesekali memainkan ponsel, hingga hanya terdengar suara jemari yang menari cepat di antara sunyi.

“Tuan Muda,” Darrel memecah keheningan.

“Hm.”

“Ada sesuatu yang aneh.”

Revan berhenti mengetik. Tatapannya beralih, langsung mengarah pada Darrel, seolah paham siapa yang dimaksud.

“Saya?”

Darrel mengangguk pelan.

Revan mengernyit. “Kenapa dengan saya?”

“Sikap Tuan Muda,” jawab Darrel tenang. Bukan tuduhan—lebih seperti pengingat.

Revan terdiam.

“Adegan siang tadi,” lanjut Darrel, mendongak sejenak seolah memutar ulang ingatan itu, lalu kembali menatap Revan. “Perlakuan Tuan Muda pada Zaskia… mirip seperti dulu. Pada Nyonya."

"Perasaanmu saja, saya cuma membantu." tepis Revan, lalu beralih fokus kembali ke layar laptop.

“Itu perasaanmu saja. Saya cuma membantu,” tepis Revan, kembali menatap layar laptopnya.

Darrel tersenyum tipis. “Mungkin. Atau Tuan Muda hanya belum menyadarinya.”

Revan berhenti mengetik.

Sepersekian detik pikirannya melayang, pada seseorang yang dulu tak tergantikan. Pada perhatian yang tak pernah ia berikan sembarangan.

Kini, tanpa ia sadari, perhatian itu jatuh pada orang lain.

Ia menggeleng pelan, menepisnya. “Kebetulan.”

Darrel tak membalas. Hanya diam.

Dan justru keheningan itu yang membuat Revan gelisah.

Sementara di tempat lain—

Kehebohan telah terjadi. Alim dibuat panik saat melihat Rania muntah-muntah tanpa henti sejak siang tadi.

“Nak, sebenarnya kamu kenapa?” Alim mengusap rambut Rania yang basah oleh keringat, wajah anak itu tampak pucat dan lelah.

“Kamu salah makan, ya?”

Rania menggeleng pelan. Bibirnya kering, suaranya nyaris tak keluar. Alim menggandengnya kembali ke ranjang setelah ia selesai dari kamar mandi.

“Biar Ayah suruh mama kamu pulang cepat.”

“Nggak usah, Yah,” tolak Rania lemah. “Mama bentar lagi juga pulang.”

Alim menghela napas. “Kamu ini sudah muntah berkali-kali. Ayah khawatir.”

“Aku cuma kecapean, Yah. Karena ngurus persiapan nikah,” elaknya, meski tubuhnya terlihat limbung.

Alim terdiam. Ada sesuatu yang mengganjal. Tubuh Rania tidak panas, tidak demam—hanya pucat dan lemah.

“Ayah bikinin teh hangat dulu.”

Di dapur, Alim masih memikirkan wajah anaknya ketika suara Ratna terdengar dari luar.

“Mas Alim!”

Alim bergegas membuka pintu.

“Kok lama sih Mas bukain pintunya?” Ratna masuk sambil melepas tasnya. “Kamu ngapain? Jangan-jangan udah tidur ya. Kan aku sudah bilang—”

“Rania sakit,” potong Alim. “Dia muntah-muntah sejak tadi siang.”

Ratna berhenti bicara. “Hah? Kok bisa?”

“Dia nggak mau ke dokter.”

Ratna menghela napas. “Aku bersih-bersih dulu. Nanti aku cek.”

Alim mengangguk. “Saya bawain tehnya ke kamar.”

Di kamar, Rania terbaring dengan mata terpejam, napasnya belum sepenuhnya teratur.

“Nak, ini diminum dulu,” Alim membantu Rania meneguk teh hangat itu.

“Kamu kenapa?” Ratna mendekat, suaranya lebih rendah.

“Nggak apa-apa, Ma.”

“Kata ayah kamu muntah-muntah terus,” Ratna menyentuh selimut, menariknya sedikit lebih rapat. “Besok mama anterin ke dokter. Kamu nggak boleh nolak.”

Rania tidak menjawab, hanya mengangguk kecil.

Ratna berdiri di sisi ranjang lebih lama dari yang diperlukan, menatap wajah anaknya dengan sorot yang sulit dibaca—bukan marah, bukan panik, tapi seperti sedang memastikan sesuatu.

Alim berdiri di dekat kepala ranjang, pandangannya tak lepas dari wajah anaknya. “Kalau memang cuma kecapean, harusnya nggak sampai begini.”

Ratna menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. “Akhir-akhir ini terlalu banyak yang dipikirkan. Tidak hanya kecapean, pasti dia juga gugup.”

Ratna berdiri, merapikan posisi bantal, lalu melirik jam di dinding. “Mas temani Rania dulu. Aku ke bawah sebentar.”

“Kamu mau ke mana?”

“Bikin minum hangat lagi. Kalau nanti dia bangun, suruh diminum.”

Ratna melangkah keluar kamar tanpa tergesa, tapi langkahnya tetap pasti. Ia berhenti sejenak, menoleh ke arah pintu kamar yang tertutup, sebelum akhirnya melanjutkan langkah.

Ada sesuatu yang ia pikirkan. Dan tidak semuanya harus ia ucapkan.

1
Takagi Saya
Terhibur!
zeyy's: haloo, ayo saling support. tolong like + komen karya ku juga ya kak, semangat!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!