Jade baru saja kehilangan bayinya. Namun, suaminya malah tega memintanya untuk menjadi ibu susu bagi bayi Bos-nya.
Bos suaminya, merupakan seorang pria yang dingin, menjadi ayah tunggal untuk bayi laki-laki yang baru berusia tiga bulan.
Setiap tetes ASI yang mengalir dari tubuhnya, menciptakan ikatan aneh antara dirinya dengan bayi yang bukan darah dagingnya. Lebih berbahaya lagi, perhatian sang bos perlahan beralih pada dirinya.
Di tengah luka kehilangan, tekanan dari suaminya yang egois, dan tatapan intens dari pria kaya yang merupakan ayah sang bayi, Jade merasa terperangkap pada pusaran rahasia perasaan terlarang.
Mampukah Jade hanya bertahan sebagai ibu susu? Atau hatinya akan jatuh pada bayi dan ayahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PenaBintang , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HANYA PERSINGGAHAN
Adriano menutup pintu kamar dengan satu gerakan pelan namun tegas. Suara klik itu terdengar seperti penanda, bahwa apa pun yang terjadi setelah ini tak bisa ditarik kembali.
Jade berdiri kaku di tengah ruangan. Jantungnya berdegup terlalu cepat, pikirannya kacau.
"Jika kau ingin pergi, katakan sekarang," ucap Adriano lirih. Tidak ada lagi nada menggoda. Hanya kejujuran yang telanjang. "Aku tidak akan menahanmu."
Jade menatap pria itu lama. Wajah yang selama ini ia lihat sebagai majikan, kini berdiri di hadapannya sebagai seorang pria, lelah, kesepian, dan menginginkannya dengan cara yang tak bisa lagi disangkal.
"Aku sedikit takut, Tuan," bisiknya akhirnya.
"Aku juga," jawab Adriano jujur. "Tapi aku lebih takut kehilanganmu."
Kalimat itu menghancurkan pertahanan terakhir Jade. Dia melangkah maju. Bukan karena dorongan nafsu semata, tapi karena perasaan yang terlalu lama ditekan. Ketika jemarinya menggenggam kemeja Adriano, pria itu menghela napas berat, seolah menahan sesuatu yang sudah lama ingin lepas.
Ciuman itu terjadi pelan, tidak kasar, tidak terburu-buru. Seperti dua orang dewasa yang akhirnya mengakui apa yang selama ini mereka tolak.
Adriano menyentuh kening Jade, bersandar padanya. "Malam ini tidak ada Tuan. Tidak ada ibu susu," katanya rendah. "Hanya Adriano. Dan Jade. Kita bisa memulai hubungan ini. Maximo pasti akan bahagia jika kita menikah."
Jade memejamkan mata. "Bagaimana dengan istrimu? Dia mungkin tidak akan membiarkan kita."
"Kita hadapi semuanya nanti,” jawabnya. "Tapi malam ini, biarkan kita jujur. Aku mengingingkanmu malam ini."
Lampu kamar diredupkan. Tirai bergoyang pelan tertiup angin malam Naples. Dan di balik pintu yang tertutup rapat itu, dua hati yang terlalu lama kesepian akhirnya memilih untuk saling jatuh, meski tahu, pagi akan membawa konsekuensi.
**
Keesokan paginya, suasana mansion terasa berbeda.
Jade terbangun lebih siang dari biasanya. Tubuhnya masih terasa kaku, bukan karena lelah, melainkan karena kesadaran pahit akan apa yang telah terjadi semalam. Dia duduk di tepi ranjang, menatap tangannya sendiri, mencoba menenangkan detak jantung yang belum juga stabil.
"Apa yang sudah aku lakukan semalam? Dan..." Dia melirik sekilas ke arah di mana Adriano tidur sambil memeluknya semalam. "Di mana dia?"
Jade menarik napas panjang, lalu berdiri. Sebelum membuka pintu kamar, suara langkah cepat dan suara perempuan yang terlalu dikenalnya terdengar dari lantai bawah.
"Adriano! Aku harus bicara denganmu. Sekarang."
Jade membeku. Suara itu dingin, lembut dibuat-buat, tak mungkin salah. Itu adalah suaranya Catarina.
Dari atas tangga, Jade bisa melihatnya berdiri di ruang tengah. Wanita itu tampak rapuh hari ini. Gaun sederhana berwarna pucat membalut tubuhnya, wajahnya pucat seolah baru melewati malam panjang penuh derita.
Adriano berdiri di hadapannya, wajahnya dingin, rahangnya mengeras. "Aku tidak ingin berbicara denganmu," kata Adriano singkat. "Kau masih berani datang tanpa izin?"
Catarina tersenyum kecil, senyum yang terlalu lemah untuk tulus. "Aku hanya ingin melihat anakku," katanya lirih. "Dan suamiku. Aku rindu pada kalian."
Adriano mendengus pelan. "Jangan gunakan kata itu. Sejak kau memilih pergi, kita sudah berakhir. Dan Max bukan anakmu. Dia anakku dengan Jade!"
Catarina menunduk, bahunya sedikit bergetar. "Aku tahu aku banyak salah. Tapi aku tetap ibu Maximo. Dan kau..kau masih suamiku secara hukum. Jade hanya orang luar, Adriano."
Kalimat itu membuat Jade menggenggam pegangan tangga tanpa sadar.
Adriano menghela napas, jelas terlihat menahan kejengkelan. "Aku sudah bilang. Segala urusan kita akan dibicarakan lewat pengacara. Aku tidak mau drama di rumah ini. Apalagi ini masih pagi. Jangan sampai kau membangunkan Jade dan Max."
Catarina mendongak. Matanya berkaca-kaca dengan sempurna. "Jadi kau benar-benar membuangku?" tanyanya pelan. "Bahkan setelah semua yang kita lalui?"
Adriano memalingkan wajahnya. "Aku tidak membuang apa pun. Aku hanya tidak ingin kau di sini."
Namun di mata Jade, adegan itu terlihat berbeda. Cara Adriano tidak langsung pergi. Cara dia masih berdiri di sana. Cara dia masih mendengarkan Catarina.
Jade merasakan dadanya menyesak. "Dia masih memberinya ruang. Dia masih mau memberinya kesempatan."
Catarina melangkah satu langkah mendekat, suaranya makin lembut. "Aku hanya butuh waktu. Tolong, Adriano. Jangan lakukan ini di depan orang lain."
Tatapan Adriano mengeras. "Cukup. Jangan bicara di sini!"
Namun, kata itu terdengar terlambat bagi Jade. Dia mundur perlahan, kembali ke koridor atas. Dadanya terasa panas, pikirannya kacau. Semalam yang menurutnya nyata, ternyata tidak lebih dari celah kecil di antara masa lalu Adriano dan istrinya.
"Jadi aku hanya persinggahan," gumam Jade pahit. "Pengganti sementara. Ibu susu yang kebetulan terlalu dekat." Tanpa disadari, air mata jatuh satu per satu.
Di bawah sana, Catarina melirik sekilas ke arah tangga, dan senyum tipis yang nyaris tak terlihat terukir di sudut bibirnya. Dia tahu Jade sejak tadi di sana.
*
*
*
lama banget updatenya 😔😔
Thor sehat2 aja kan? semiga di berikan kesehatan dan bisa segera update lagi sampe finish ceritanya ngga gantung
gilaaaa godaan nya 🤭🤭🤭