Bertengkarnya Mama dan Papa Erin,membuat Mama Erin pergi entah kemana dan Papa Erin disibukkan oleh keluarga barunya.Sehingga Erin tinggal sendirian dirumahnya tanpa pengawasan orangtua.
Rafan,teman sekelas Erin juga orang yang selalu berdebat dengannya.Tiba-tiba datang ke rumah Erin dalam keadaan mabuk dan dibawah kendali obat perangsang.
Membuat Rafan melakukan hal yang tidak terduga,yaitu mengambil mahkota Erin.Karena tidak orang di dalam rumah itu kecuali mereka berdua,membuat kejadian itu tidak bisa dicegah.
Kejadian itu membuat Rafan harus tanggung jawab atas apa yang dilakukannya.Membuat mereka harus menikah dini.
Erin adalah gadis yang bertubuh mungil dan memiliki sifat yang jahil.Rafan,laki-laki yang memiliki wajah yang tampan,pewaris keluarga konglomerat,cuek juga emosian.
Bagaimana jika kedua orang tersebut disatukan dengan hubungan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon InaNa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
"Lo jadi kerumah lo?" tanya Rafan.
Erin menggeleng cepat,masih ada rasa takut melihat orang itu barusan.
"Kenapa?lo takut orang itu ngejar lo lagi?"tanya Rafan seakan tau maksud dari gelengan Erin.
Erin menjawabnya dengan mengangguk,Rafan tersenyum.
" Lihat kearah dia?"suruh Rafan.
Erin menurut dan menoleh ke arah orang itu,dan terkejut melihat orang itu ditarik-tarik oleh beberapa orang berbadan besar.
"Dia...dita..rik." kata Erin gugup.
"Iya,gue yang nyuruh." kata Rafan sambil memotong-motong daging dengan garfunya.
"Tapi,kenapa?"tanya Erin bingung.
" Lo nanti..."belum sempat Rafan melanjutkan perkataan nya,handphone Rafan berbunyi.
Rafan mengangkatnya dan berbicara ditelpon.
"Tempat biasa aja." kata Rafan berbicara ditelfon.
"Siapa?" tanya Erin penasaran.
"Bukan siapa-siapa." kata Rafan.
Erin hanya diam dan tidak ingin bertanya lagi.Dan melanjutkan makannya dalam diam.
*****
"Rafan, lepasin." kata Erin memohon kepada Rafan untuk melepaskannya.
"Nggak." jawab Rafan singkat dan tetap memeluk Erin.
"Aku nggak bisa nafas." kata Erin susah payah.
Rafan melihat wajah Erin yang kesulitan bernafas,Rafan melepaskan nya dan nyengir.
"Sorry." kata Rafan menggaruk kepalanya.
Erin masuk kedalam kamar mandi dengan wajah kesal,entah sudah beberapa hari ini,sifat Rafan berubah menjadi baik dan selalu ngekang Erin.
Rafan tersenyum melihat wajah kesal Erin,rasanya sangat senang melihat semua tingkah laku Erin.
"Kamu nggak sekolah?" tanya Erin ketika keluar kamar mandi yang melihat Rafan masih berbaring dikasur.
"Nggak ah,malas." kata Rafan memainkan handphone nya.
Erin senang mendengar itu,dia merasa Rafan tidak ada disekolah,ia akan bebas.Rafan yang mengekang nya terlalu kuat,membuat Erin merasa risih.
"Daripada dirumah bosan,sekolah deh." kata Rafan yang membuat raut wajah Erin berubah.
"Yahh." keluh Erin.
"Kenapa?" tanya Rafan menatap Erin.
"Nggak ada,yaudah sana mandi,nanti telat." kata Erin lalu memakai seragam sekolah.
Rafan berjalan kekamar mandi,malas menunggu Rafan yang lama,Erin duluan keluar dari kamar.
Berjalan turun dari tangga sambil memasang dasinya.
"Ck,serasa udah jadi Nyonya sekarang ya?" kata Vanya yang saat itu naik tangga.
Erin memandang Vanya sekilas,tidak memperdulikannya dan tetap memasang dasi.Vanya geram melihat reaksi Erin,dia mentakal kaki Erin.
Erin yang menuruni tangga tidak melihat-lihat langsung terjatuh terguling-terguling kebawah.Erin tidak sadarkan diri dan darah menetes banyak dari kepalanya.Vanya melihat itu,muncul rasa takutnya.
"Hei-hei bangun nggak usah pura-pura deh." teriak Vanya dari atas.
Melihat Erin tidak berkutik sedikit pun,Vanya berlari menghampirinya.
"Aduh ini anak nyusahin banget,kenapa bisa jadi gini." gerutu Vanya.
Rafan keluar dari kamar sambil bersenandung ria,saat berada ditangga,mata Rafan melotot.
"Mama,apa yang Mama lakuin?" teriak Rafan berlari menuruni tangga.
Erin tergelapar dengan bersimbah darah,Rafan langsung panik dan khawatir.Rafan menggendong Erin dengan cepat.
"Pak Anto siapin mobil." teriak Rafan.
Rafan berlari kearah mobil dan masuk dengan menggendong Erin.Dan Pak Anto melajukan dengan cepat menuju rumah sakit.
"Pak bisa cepat nggak." bentak Rafan.
"Ini sudah cepat Tuan muda." kata Pak Anto takut.
"Lebih cepat." teriak Rafan marah.
*****
Erin terbaring lemah dikasur dengan kepala diperban.Rafan senantiasa duduk disamping Erin dengan menggenggam tangannya.Menunggu Erin cepat sadar.
"Tenang Tuan,ini hanya luka kecil saja,tidak lama pasien akan sadar." kata Suster mencoba menenangkan Rafan yang gelisah.
"Kau tidak tau apa apa." kata Rafan ketus.
"Bagaimana aku tidak tahu,aku sudah ahlinya." gerutu Suster itu lalu keluar.
semangat buat novel lagi kak