Cinta? Apakah rasa itu akan hadir? Padahal posisinya hanya pengganti kakaknya sebagai pengantin pria, terlebih pernikahan itu juga karena perjodohan tidak ada istilah mengenal apalagi pacaran.
Namanya Azzam, dia sosok yang berhati lembut, tidak dingin bagaikan es dan salju.
Lalu, akankah cinta itu tumbuh bersamaan dengan interaksi yang sering ia lakukan bersama istrinya? Terlebih istrinya belum menginjak usia 20 tahun.
"Dasar pedofil" begitulah kalimat yang sering keluar dari mulut istrinya.
Kelanjutkan kisahnya? stay tuned ajaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjemput Kesempatan Kedua
Adnan POV
Flashback On👣
Ah kenapa mulut ini asal bicara tanpa pikir panjang, bisa-bisanya aku mau kabur ke London tanpa membawa paspor.
"Pak saya ga jadi ke Soetta ke HLP aja... nanti mampir sebentar ke Cipayung xxx" ralatku pada sopir taksi, lalu mematikan ponselku yang terus berbunyi.
Begitu aku turun dari taksi, aku langsung masuk ke dalam kamarku. Tak peduli dengan pertanyaan satpam dan art di rumah. Ku obrak-obrik lemari dan mencari dokumen-dokumen resmi ku serta mengambil beberapa uang tunai. Segera ku keluar dari rumah dan kembali menaiki taksi untuk kabur ke London.
"Pak cepetan yaa... nanti ongkosnya saya tambahin" bapak itupun mengangguk, lalu menambah laju kecepatannya. Secepat kilat dia membelah jalan, saling salip menyalip dengan kendaraan lainnya.
Tak butuh waktu lama taksi itu sampai di Bandara Halim Perdana Kusuma, aku segera memberinya uang serta tip. Tanpa pikir panjang lagi aku langsung membeli tiket, untunglah masih tersisa walaupun dapat kelas ekonomi dan harus transit 3 kali. Tapi masa bodohlah yang terpenting aku bisa meninggalkan Indonesia untuk sementara waktu dan bisa menemui Lyda.
Setelah 2 hari +5jam akhirnya aku tiba di London. Andai saja aku membawa pasporku sebelum kabur mungkin aku bisa naik pesawat dari Bandara Soetta dan tentunya hanya butuh waktu 1 hari untuk sampai di sini. Aku langsung membuat reservasi di Shangri-la hotel at the Shard London. Terakhir kali aku ke sini 2 bulan lalu saat ulang tahunku yang ke 32.
Aku berniat untuk memberi kejutan pada Lyda tanpa memberi tahu kedatanganku kemari. Tapi ternyata akulah yang mendapat kejutan besar darinya. Setelah beristirahat dan badanku kembali normal, aku memutuskan untuk menemui Lyda. Sebelum menuju apartment Ku sempatkan membeli kue dan bunga. Tapi ternyata hal itu sia-sia.
Sesampainya di apartementnya, aku dikejutkan dengan pemandangan tak senonoh di sana. Bisa-bisanya dia sedang bercumbu mesra tanpa mengenakan busana layaknya sepasang suami istri dengan bule. Bahkan kedua orang itu tidak menyadari kedatangan ku. Kecewa? tentu. Sakit bukan ketika mengetahui dikhianati? Kepercayaan yang ku berikan ternyata tidak dihargai.
bruuuk ku layangkan tinju ku pada wajah pria brengsek itu. Bisa-bisanya dia menyentuh wanita ku, aku sendiri tidak pernah berani untuk menyentuhnya. Hanya kecupan di kening saja sudah membuatku tak nyaman, apalagi dia beraninya dia merusak hal yang ku jaga.
Lyda kaget bukan kepalang, dia mengambil baju yang sudah berserakan di lantai. Sementara laki-laki itu masuk ke kamar Lyda tentunya. Ku alihkan pandangan ku.
"Adnan ini ga seperti yang kamu pikirkan... biarkan aku menjelaskan...." dia menghiba berlutut di kakiku. Pikiran ku keruh, rasanya ingin ku habisi saja dua manusia ini.
"Kau... berani-beraninya mengelak walau sudah tetangkap basah, penjelasan apa lagi yang akan kau berikan hhh?!" ucapku berapi-api, sementara Lyda sudah menangis sesungukan.
"Sudah berapa lama kau membohongi ku hhh??"
"...."
"Jawab!"
"Suu-dah 1 ta-hun aku berhubungan dengan Mike"
prok, prok, prok aku bertepuk tangan atas kebodohanku. Padahal aku rutin mengunjunginya ke sini tapi kenapa aku tidak tahu kebusukan dia selama ini.
"Waaah kau benar-benar hebat... ternyata selama ini aku salah menilai mu"
"Ini semua gara-gara kamu!!!" ucapnya dengan nada oktaf. Aku tercengang, bisa-bisanya dia mengkambing hitamkan aku atas kesalahannya.
"Apa maksud mu? kau yang bertingkah seperti wanita murahan tapi aku yang kau salahkan"
"Kamu ga bisa ngasih apa yang aku maau?"
"Hah.... apa kau bilang? Kau pikir apartment ini siapa yang membayarnya hah? bBaya S2 mu siapa yang membayarnya? Siapa yang memberikan mu uang setiap bulannya? Siapa yang terus menunjang fasilitas hedonisme mu itu hhhh??!"
"Yaa karena hal itu aku dianggap materialistis oleh orang tua mu"
"Kau pikir aku hanya membutuhkan itu saja? Aku juga membutuhkan hal yang lebih daripada itu! Aku wanita dewasa, aku membutuhkan suatu hubungan tapi kau selalu menolak ku"
plak ku daratkan tamparan ku pada wanita itu.
"Apa kau benar-benar bodoh hhh? Kau pikir aku bukan pria dewasa, aku menahannya karena aku menghargai mu sebagai wanita. Aku ingin melakukannya setelah kita menikah nanti. Kenapa kau malah seperti p*****r yang menjajakan kehormatanmu?" Aku benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikirannya.
"Sudahlah kita akhiri saja hubungan ini. Jangan menghubungi aku lagi dan jangan pernah kau temui aku lagi!"
"Ga bisa gitu Adnan... aku ga mau pisah sama kamu..."
"Enyah kau dari hidup Ku!!!" Ku hentakkan kaki ku untuk melepaskan rangkulannya. Aku benar-benar jijik untuk melihatnya, bahkan untuk menoleh ke hadapannya pun aku benar-benar jijik.
Ku langkahkan kakiku keluar dari apartment bagai neraka itu. Aku menahan gemuruh di dada ku, ingin rasanya untuk menangis. Tapi aku malu, malu menangisi kebodohan ku. Langkah ku sudah tidak sama seperti sebelum aku menginjakkan kaki ke apartment itu. Aku benar-benar lemah, lunglai tanpa tujuan pasti. Hanya mengikuti kata hati yang tersakiti untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.
3 jam sudah aku berjalan tanpa arah, sampai akhirnya aku menemukan sebuah masjid. Baitul Aziz Islamic Cultural Center, ternyata letak masjid itu tidak terlalu jauh dengan hotel yang ku tempati. Aku masuk ke dalam masjid, rasanya baru kali ini aku memasuki masjid dengan suasana haru. Ah ternyata selama ini aku sudah jarang untuk sekedar solat berjamaah ataupun berlama-lama mengadu pada Sang Pemilik Kekuasaan.
Akhirnya ku tunaikan solat dan mengadu segala sesuatu padaNya. Sepertinya aku harus sering mengadu padaNya tanpa menunggu aku punya masalah dulu. Lega rasanya aku bisa berlama-lama untuk menangis di hadapannya. Menangisi kefakiran dan ketidakberdayaan ku tanpanya. Setelah aku mengadukan semuanya, aku putuskan untuk kembali ke hotel. Sepertinya aku butuh waktu lama untuk sembuh dari luka ku.
...🍃🍃🍃...
Sudah hampir 2 minggu aku tetap berada di London, mengumpulkan keberanian dan menata hati ku kembali. Hati ku sudah mulai tenang dan damai, tidak seperti sebelumnya.
Sepertinya aku harus meminta maaf pada om Alam dan keluarganya, juga papa dan mama. Mungkin mereka menahan malu karena aku yang kabur tepat sebelum akad. Umur sudah tidak lagi muda, ku putuskan untuk menerima perjodohan itu dengan lapang dada, berharap aku bisa membangun rumah tangga yang aku impikan selama ini. Semoga saja aku diberikan kesempatan kedua, diberikan kesempatan untuk menebus kesalahan yang telah ku lakukan.
Baiklah besok aku akan pulang... ah iyaa aku sampai lupa, bukankah Azzam beberapa hari lalu sudah sidang? Baiklah aku akan membelikan sesuatu untuknya.
Setelah beberapa hari mengurung diri di hotel, akhirnya aku melangkahkan kaki menuju pusat perbelanjaan. Aku tidak sabar untuk segera pulang ke rumah.
Flashback Off 👣
Sekarang aku sudah berada di Jakarta dan akan segera sampai di rumah. Semoga saja papa dan mama tidak mencecarku habis-habisan, juga memberikan ku kesempatan untuk menikahi wanita pilihan mereka.
Aku sampai di rumah tepat di jam makan siang, tapi ini hari Senin. Pasti hanya ada Mama dan Azzam itupun kalau dia sudah kembali dari Malaysia. Ah, aku merasakan atmosfer yang berbeda ketika menghirup udara dari rumah ku.
"Mas Adnan udah pulang?" tanya Bi Asih yang sedang membersihkan taman. Aku mengganggukkan kepala sebagai jawaban ku. Tapi kenapa mukanya seperti ketakutan begitu ah entah mungkin aku salah menafsirkan raut mukanya.
"Bi mama ada kan di dalem...."
"Eh iya ada mas, beliau lagi makan sama mas Azzam dan ...."
"Dan siapa bi?" Aku mengernyitkan dahiku, kenapa bi Asih tidak melanjutkan kalimatnya.
"Ah dan mas Adnan silahkan masuk kalo mau makan siang bersama"
"Ah iya bi... Bibi terusin aja aktivitas Bibi... Adnan ke dalem dulu ya bii" ucapku tersenyum lalu berlalu meninggalkan bi Asih di taman itu.
Huuuffft sepertinya aku harus siap menghadapi apapun yang akan diberikan pada ku nanti, entah amukan atau apalah yang akan dilakukan kedua orang tua ku nantinya. Bismisillah Adnan... kamu bisa, kamu pasti bisa memperbaikinya.
"Assalamualaikum..." ucapku setelah masuk ke dalam rumah, aku belum berani untuk menampakkan muka di ruang makan.
"Assalamualaikum..." Ah, apa mama belum selesai dengan makannya? ah sudahlah aku tunggu di sini saja. Daripada mama kesedak jika tahu aku sudah berada di rumah.
"Waalaikumussalam... masnya nyari siapa yaaa?" tanya seorang gadis yang menyambutku, Ku pandangi gadis itu dari atas sampai bawah. Tapi sepertinya aku belum pernah melihatnya.
Kenapa wajahnya begitu teduh? Bahkan dia bak bidadari walaupun tidak terpoles oleh make up. Wajahnya begitu polos, ah pipi chubbynya dan bulu mata lentiknya...
"Mas... hallo ada yang bisa dibantu?"
.
.
.
***
Good evening guys...
Jangan hujat bang Adnan yaaa nyesel nanti kalo kalian hujat dia.
Sebelum ada yang nanya kok Maira ga tau mukanya Adnan? Kan memang dia belum liat si abang kalaupun Ada poto keluarga itu mungkin sudah beberapa tahun lalu, dan Maira tentunya non aware sama lingkungan baru itu... maklum baru ke dua kali dia nginjakin kaki di sana, yang pertama juga malem terus subuh udah minggat. Terus yang kedua malah masuk rumah pohon, lah poto yang dipajang poto waktu kakak-adik itu masih kecil.
Adnan ga tau kalo Maira nikah sama adeknya? enggalah kan author bikin dia menata hati sampe lupa belum nyalain hp dari abis dateng ke London.
Semoga suka yaaa punten nih digantungkan, authornya abis marathon drama Korea, jadi masih males ngetik deh hehehe :v
euforianya tuh beda yaampun hehe 🙊💦