Elias Alexander Rainer, menyaksikan sendiri bagaimana ibunya dibunuh di apartemen kecil mereka di Brooklyn. Tetapi, karena usianya yang masih kecil, kesaksiannya dianggap tidak benar. Kasus pembunuhan itu akhirnya ditutup sebagai perampokan biasa dan pembunuh ibunya tak pernah ditemukan.
20 tahun kemudian, Elias tumbuh menjadi pria jenius yang sangat berbakat di dunia digital. Ia bertekad untuk menemukan pelaku pembunuhan ibunya dengan menyamar menjadi seorang Programmer IT.
Namun, semakin ia mendekati sang pelaku utama, Elias justru terlibat makin dalam. Yang membuatnya terancam bahaya. Orang-orang dari Zenthera mulai mengejar dan menargetkannya.
Belum lagi, kedatangan seorang agen divisi kejahatan siber ikut memburunya dan mencurigai Elias sebagai pelaku dari skandal jatuhnya beberapa pejabat penting dan tokoh publik terkenal.
Akankah Elias berhasil menemukan pembunuh ibunya? Mampukah Elias membongkar kejahatan-kejahatan yang dilakukan Zenthera Corp?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
THC 35
"Apa? Aku bahkan tidak tahu dia siapa!" tegas Patricia, menolak permintaan pria bertopeng itu untuk menghubungi seseorang yang telah membantunya untuk menjebloskan Caldwell ke penjara.
"Tidak mau, ya?" Pria itu menyeringai di balik topengnya. Dengan pelan mengayunkan tongkatnya, mengarahkan tongkat pemukul itu ke bagian kaki Patricia.
Bug!
Satu pukulan keras menghantam keras kaki Patricia hingga perempuan itu menjerit keras. Entah berapa pukulan yang sudah ia terima, yang kelas kini semua tubuhnya terasa lemah.
"Aku benar-benar tidak tahu … auw! Aku mohon, lepaskan aku," rintih Patricia, hampir kehilangan kesadaran.
Merasa tak bisa mencari informasi dari Patricia, pria bertopeng itu pergi meninggalkannya begitu saja. Sebelum pergi, ia sempat melemparkan tongkat pemukul itu dan menyeret tubuh Ron yang bersimbah darah untuk ikut bersamanya keluar.
Samar-samar, Patricia melihat pria itu melepas topengnya sebelum benar-benar pergi. Tetapi sayang, jarak pandang dan kondisinya yang lemah membuat Patricia tak mampu mengenali pria itu.
•••
Di ruangan yang berbeda, Nicholas melepas topeng yang terasa membakar kulit wajahnya itu secara asal. "Sialan!" makinya entah pada siapa.
Sementara itu, Ron yang sedari tadi terasa kaku lantaran terus berdiam selayaknya mayat mulai bangun dan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya yang mulai kebas.
"Kau menyeretku terlalu keras," protes Ron sambil melepas pakaiannya yang sudah berlumuran darah tikus itu. Ia hampir mual saat mengenakannya.
Jika saja ia tidak dibayar mahal untuk melakukan lakon menjadi pria yang teraniaya, Ron pasti tidak akan mau melakukannya.
"Kau terlalu banyak protes, Nak. Kau sebaiknya mulai memikirkan cara bagaimana memanggil si Pria Penyelamat itu untuk keluar," kata Nicholas, masih kesal.
Setelah semua usahanya untuk menculik Patricia dan membuat perempuan itu buka suara gagal, ia benar-benar kesal sekaligus takut.
"Kenapa tidak kita periksa ponselnya saja?" usul Ron yang langsung mendapat pukulan pelan di kepalanya.
"Bodoh kau!"
"Kenapa kau memukulku, Sir? Apakah salah memeriksa ponselnya?" tanya Ron bingung.
Nicholas tak langsung menjawab, ia memilih berjalan ke sisi ruangan yang lain, mengambil sebatang rokok dan menyamakannya dengan korek api.
"Si Pria Penyelamat itu pastilah bukan orang biasa, jika dia bisa membongkar skandal memalukan Caldwell dan juga mengungkap kasus suap Mulholland, ia pasti akan dengan mudah menyelidiki kita juga," terang Nicholas.
Ron menyadari kebodohannya sendiri. "Lalu bagaimana? Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak mungkin menyekap dia terlalu lama, kan?"
Nicholas menghirup rokoknya dalam-dalam, kemudian menatap Ron dengan serius. "Kita bisa melakukan satu hal lagi," katanya.
"Apa itu?"
Namun, belum sempat Nicholas menjawab, terdengar suara langkah kaki berat dari luar ruangannya. Keduanya sontak menoleh bersamaan, memasang sikap waspada.
"Siapa itu?!" teriak Nicholas dari dalam.
Pintu ruangan itu terbuka, menampilkan sosok pria paling terhormat dengan dikawal dia orang penjaganya. Nicholas dan Ron sontak menundukkan kepala begitu melihat Raymond datang.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Raymond tanpa berbasa-basi lagi.
Baik Ron ataupun Nicholas, keduanya hanya saling melemparkan tatapan, membuat Raymond gemas.
Salah seorang penjaganya bergerak mengambilkan kursi sementara yang lainnya berjalan ke arah Nicholas dan Ron, berdiri tepat di belakang kedua pria itu.
"Kalian memang payah. Sama payahnya seperti Caldwell dan Mulholland, padahal aku sudah memberimu banyak uang, Nick." Raymond menatap tajam Ron dan Nicholas bergantian.
Nicholas terlihat gagap, "Kami sedang berusaha, Knox. Pria itu sangat sulit untuk ditemukan," alibinya agak gemetar.
"Sulit ditemukan atau kau tidak becus?" Raymond menatap Nicholas remeh, bercampur kesal. Raymond menganggapnya Nicholas itu sudah membuang-buang banyak waktunya.
entahlah, apa lagi yang harus kubilang, terkadang aku merasa, ko sengaja menulis genre ini, biar aku bisa belajar banyak hal (kepenulisan). Terimakasih, karya yang luar biasa, Thor! 🙆🏻♂️