Pergolakan bathin , antara dendam dan kebenaran seorang anak manusia di masa itu.
Dengan segala kelemahan nya yg membuat diri nya terasa begitu di rendahkan oleh orang sekelilingnya.
Bahkan tanpa kemampuan apa pun , ia amat begitu menderita.
Hingga pada waktu nya , diri nya menemukan keberuntungan yg tidak terhingga,.
Apa yg selanjut nya terjadi ,,..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakaria Faizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5 Prajurit Pilihan.
Sedangkan pada saat yg bersamaan di dukuh Kalisara, di kaki bukit Skipan.
Nampak lah seorang laki-laki paruh baya yg memiliki tatapan mata yg sangat tajam, selain itu pula ia memiliki cambang lebat pada bagian bawah dagu nya.
Di sebelah nya duduk lah dua orang yg memiliki ikat kepala berwarna putih dan tengah memberikan kabar pada lelaki paruh baya ini.
" Demikian lah Ki Lurah, kakang Mitro dan adi Sujiwo telah tertangkap dan di tawan di kotaraja Pajang !" sebut salah seorang.
" Hehmm!, ternyata kedua nya memang tidak bisa di harapkan, apa yg mereka perbuat sehingga berhasil di tangkap oleh Pajang ?" tanya lelaki bercambang lebat tersebut dengan menatap lurus ke arah puncak Skipan.
" Mereka berdua hendak merampok sepasang muda-mudi yg ternyata adalah putra dari dua orang Perwira tinggi Pajang, salah seorang prajurit nya lah yg telah berhasil menggagalkan usaha dari kakang Mitro dan Adi Sujiwo tersebut, Ki Lurah " terang orang itu kepada lelaki paruh baya tersebut.
" Adi Diro, kumpulkan orang-orang kita , dan untuk sementara kita tinggalkan Kalisara ini, kita sebaik nya menyingkir " ucap lelaki paruh baya itu lagi.
" Mengapa harus demikian kakang !, kita sebaik nya tetap bertahan di Skipan ini saja, tidak mungkin akan ada yg datang kemari, atau mereka akan mengantarkan nyawa saja " sahut lelaki yg berikat kepala berwarna putih bernama Diro tersebut.
" Ahh !, jangan terlalu gegabah Adi Diro, para prajurit pajang tentu akan segera di tangkap setelah tertangkap nya Adi Mitro dan Adi Sujiwo itu, mereka tentu nya telah mengetahui tempat ini , tidak mungkin kedua nya tutup mulut, mereka telah berkicau seperti burung prenjak , dan untuk itu lah kita memang harus mawas diri, kekuatan pajang bukan lah tandingan kita , banyak prajurit nya yg memiliki kesaktian yg sangat luar biasa " terang lelaki paruh baya ini sambil berjalan mendekati kedua orang tersebut.
" Kalau kita harus pergi ?, kemana kita akan pergi kakang, kekuasàan Pajang hingga sampai ke timur" ucap Diro.
" Seperti nya mataram adalah tempat yg sangat cocok buat kita, bukan kah kakang Surojiwo pun telah mengabdi disana " ujar lelaki paruh baya ini.
Sesaat ia pun mengenang masa-masa yg indah , dimana diri nya dan orang yg bernama Surojiwo itu menjadi seorang prajurit di kadipaten Jipang Panolan, hingga akhir nya kadipaten tersebut menjadi runtuh ketika sang pemimpin nya tewas di tangan seorang anak muda yg bernama Danang Sutowijaya.
Kakang Rangga Wanara !
Desis lelaki paruh baya ini pelan.
Jauh di lubuk hati nya, ia sangat memuji dan merasa berhutang budi terhadap orang itu, sebab ia lah yg telah menyelamatkan diri nya dari kematian yg nyaris saja menimpa nya.
" Akan tetapi kakang Lurah, tindakan kita ini adalah tindakan seorang pengecut bukan kah nama Singo Karung telah menjadi sangat di takuti di wilayah sini , utama nya di kaki bukit Skipan ini , apa jadi ñya kalau kita pergi mengungsi, semua orang akan memandang rendah kita kakang Lurah " ungkap Diro.
Sosok seorang yg hampir pada puncak usia dewasa itu terlihat kurang setuju atas usulan pemimpin nya tersebut.
"Diro!, kekuatan Pajang bukan lah tandingan kita, jumlah prajurit nya sangat banyak, belum tuntas yg satu pasukan, mereka telah mengirimkan lagi pasukan yg lain, tentu tidak sebanding dengan kita yg berjumlah puluhan orang saja, jika satu kademangan saja mengumpulkan pengawal nya , kita sudah kewalahan , apalagi ini , segelar sepapan pasukan pajang, sungguh mustahil untuk di lawan " terang lelaki paruh baya itu yg ternyata adalah Singo Karung, pemimpin gerombolan singo karung yg berada di bukit Skipan.
Memang gerombolan ini cukup terkenal di wilayah tersebut, mereka acapkali merampok desa-desa atau pun kademangan yg kurang memiliki pengawalan dan penjagaan, sehingga kegiatan mereka itu sering berhasil dan membuat takut para pemimpin desa dan kademangan wilayah itu.
Nama Singo Karung sendiri pun menjadi sangat tersohor dan memiliki banyak pengikut.
Mungkin saat ini ada puluhan bahkan ratusan orang yg menjadi anggota nya dan tersebar ke beberapa wilayah hingga sampai ke kadipaten Jipang.
" Diro !, secepat nya kau kumpulkan orang-orang kita , aku ingin mendengarkan bagaimana pendapat mereka sebab hal ini bukan lah masalah biasa, dengan tertangkap nya Mitro dan Sujiwo, keadaan kita menjadi sangat terancam sekali " ucap Singo Karung kemudian.
Ia pun lantas meninggalkan kedua orang nya itu dan pergi menuju ke suatu tempat.
Di kota Pajang sendiri, sebuah pasukan kecil tengah di persiapkan oleh Tumenggung Wira Pralaya guna menumpas gerombolan Singo Karung yg berada di bukit Skipan.
" Semua nya ku letak kan di atas pundak mu Danurwedha, pasukan kecil menjadi urusan mu , apabila ternyata diri mu gagal, berarti diri mu lah yg telah menggagalkan , akan tetapi bila berhasil, aku lah yg angkat diri mu menjadi seorang perwira " ucap Tumenggung Wira Pralaya.
Ia memberikan semangat dan juga sesorah, agar pasukan nya itu mampu mengemban tugas yg di berikan nya.
Karena menurut nya , gerombolan itu telah mencoreng muka nya , hampir saja putri nya pun ikut celaka.
Sehingga kemarahan nya pun memuncak hingga ke ubun-ubun.
Namun yg sangat di sayangkan oleh sebahagian orang, mengapa Tumenggung Wira Pralaya hanya mengirimkan prajurit yg sangat sedikit, di tambah lagi, pemimpin nya pun hanya seorang yg baru saja lulus menjadi seorang prajurit di pajang ini.
" Kanjeng Tumenggung, apakah tidak sebaik nya seorang perwira yg memimpin pasukan itu, bukan kah Singo Karung adalah bekas seorang perwira prajurit di Jipang, ia memiliki banyak kelebihan dan kesaktian " ungkap Rangga Wibisana pada suatu ketika sebelum pasukan itu di berangkat kan.
Tumenggung Wira Pralaya sempat terdiam dan memandangi bawahan nya ini dengan tatapan sorot mata yg agak aneh.
Setelah agak lama barulah Tumenggung Wira Pralaya angkat bicara.
Dengan cukup pelan ia pun berkata,
" Memang pasukan itu cukup kecil dan di pimpin oleh seoŕang yg masìh cukup kecil di keprajuritan Pajang ini, akan tetapi , kedua puluh orang prajurit pajang yg berangkat itu memiliki banyak kelebihan, alias mereka itu adalah para prajurit pilihan, dan ada pun mengapa Danurwedha lah yg memimpin nya , karena aku berharap anak muda itu dapat mengatasi kelebihan dari masing-masing anggota nya itu, walaupun mereka sangat bisa di andalkan, tetapi jika seorang anak muda yg memimpin mereka , ku harap kejumawan mereka itu tidak akan timbul , seperti kalau kalian yg memimpin nya " terang Tumenggung Wira Pralaya.
" Kanjeng Tumenggung!?, apakah itu tidak terbalik ?" tanya Panji Sabrangan yg ada di dekat Rangga Wibisana.
" Maksud mu ?" tanya Tumenggung Wira Pralaya heran.
Lalu Panji Sabrangan pun menjelaskan, jika para prajurit yg berangkat itu adalah para prajurit pilihan, tentu saja mereka akan memandang rendah terhadap lurah prajurit nya yg masih sangat muda dan belum cakap dalam memimpin sebuah pasukan, yg ada ia akan kesulitan untuk memerintah mereka , dan menjadikan pasukan itu tidak lebih hanya sebuah pasukan biasa saja atau malah lebih parah lagi , akan dengan mudah nya di tumpas oleh gerombolan Singo Karung tersebut
Akan tetapi pandangan bawahan nya ini berbanding terbalik dengan yg ada di pikiran Tumenggung Wira Pralaya sendiri, ia memang melihat bakat dan kemampuan dari seorang anak muda yg bernama Danurwedha tersebut yg dapat di jadikan panutan meskipun diri nya masih sangat belia sekali.
Dan akhir nya ia pun berkata,." Aku mempertaruhkan pangkat dan jabatan ku dengan pasukan itu !" seru nya sambil kemudian meninggalkan mereka.
Kasak-kusuk di lingkaran keprajuritan pajang akan ke berangkatan pasukan kecil menuju bukit Skipan guna menumpas gerombolan Singo Karung.
Utama nya di kalangan perwira tinggi pajang, mereka memandang keputusan yg diambil oleh Tumenggung Wira Pralaya itu tidak masuk di akal alias nyeleneh.
Akan tetapi mereka tidak berani terang-terangan mengatakan nya di hadapan panglima tertinggi Wira Tamtama Pajang ini.
Tetapi bagi Tumenggung Wira Pralaya sendiri , ia ingin mencontoh pendahulu nya , yaitu Ki Gede Pemanahan yg berani mengambil sikap menerjunkan putra nya yg masih sangat muda kala itu, Danang sutawijaya guna melawan adipati Arya Penansang dalam perang di bengawan sore tersebut.
Dan hasil nya pun sangat memuaskan sekali.
Adipati Arya Penansang pun berhasil di kalahkan dan Pajang pun menang atas Jipang.
Sehingga Kerajaan Pajang pun berdiri dengan begitu hebat nya di pulau jawa ini.
Semèntara itu derap langkah kaki kuda yg berjumlah dua puluh ekor telah jauh meninggalkan kotaraja Pajang, mereka berjalan menuju ke dukuh Kalisara yg ada di bukit Skipan.
jalan menuju menjadi prajurit...
pasti jadi prajurit mataram
walaupun autornya banyak karya yg lain minimal jangan terlalu lamalah updatenye.
selebihnya saya ucapkan semangat berkarya.