Catarina hamil.
Kenyataan itu adalah mimpi terburuk dari banyaknya mimpi buruk yang terjadi dalam hidupnya, Dan mimpi paling buruk dari yang terburuk adalah.. Ia mengandung benih majikannya sendiri! Sosok Leonard.
Leonard adalah sosok iblis yang bersembunyi dibalik kedok seorang 'pengusaha sukses' Bagaimana tidak? dibalik topeng menawannya, ia menyimpan sisi gelap yang mengerikan. Sementara Catarina terlalu polos dan naif untuk mengartikan siapa Leonard yang sesungguhnya.
Hingga satu kejadian terjadi, kejadian fatal dimana Leonard membuat Catarina menyerah dan memilih pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AIPARIDAH JAISAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
L-35 Hukuman Leonard
Huekk huekk
Catarina tak berhenti mual dan muntah, namun tak ada sesuatu yang keluar dari mulutnya selain cairan bening.
Gadis itu terduduk lemas di rumput seraya menarik nafas lemas, sementara Sheena yang berada disampingnya nampak khawatir seraya menyodorkan air minum.
"Minumlah, supaya agak mendingan." Saran Sheena yang tak tahu menahu dengan muntahnya ibu hamil.
Jelas, karena ia tak pernah mengandung ataupun melahirkan.
Sheena membantu mengusap leher Catarina menggunakan minyak aroma terapi, lalu membantu wanita berbadan dua itu untuk berdiri.
"Aku pikir kondisi tubuhmu sedang tak baik, ayo istrahat di kamarmu saja." Ajak Sheena menuntut Catarina masuk kedalam mansion.
Rencananya mereka berdua hari ini akan ikut memupuk beberapa bunga yang baru ditanam seraya menyiraminya, karena kebosanan tak melakukan apapun, Catarina mengusulkan sendiri ingin ikut. Namun yang terjadi malah seperti ini.
Sheena yang tengah menggandeng Catarina berteriak kala tidak sengaja berpapasan dengan kakaknya–Vanza, yang merupakan assistent Leonard.
"Kakak!" panggil sheena menarik Catarina menuju Vanza berada.
Dari kejauhan pria itu sempat menyipit sebelum tersenyum kecil ketika tahu yang memanggil adalah adiknya.
Catarina sampai terpesona melihat betapa manisnya wajah kakak Sheena itu, Vanza cukup tampan dan terlihat pria yang hangat.
"Tidak usah terburu-buru, temanmu kesusahan." Ucap Vanza kala Sheena sudah ada dihadapannya.
Adiknya itu menyengir, "Maaf, aku sudah lama tidak bertemu denganmu jadi aku terlalu semangat karena rindu yang menggebu."
Puitis sekali, batin Catarina.
"Oh ya, kak. Ini temanku catarina, yang biasa aku ceritakan padamu," ucap Sheena menunjuk Catarina, langsung saya gadis itu tersenyum tak enak.
Vanza tersenyum seraya mengangguk, ia mengulurkan tangannya. "Vanza, kakaknya Catarina."
Catarina sedikit ragu menerima uluran tangan itu, namun ia membalas kala Sheena menyenggolnya. "Catarina.."
Vanza mengangguk, "Aku merasa tak asing melihat wajahmu, apa sebelumnya kita pernah bertemu?"
"Em, aku tidak tahu." Jawab Catarina sekenanya.
"Kau seperti mahasiswa yang biasa memesan di toko rotiku, haha." Canggung Vanza mengusap tengkuk belakangnya.
"Ehh? kau tahu?" Catarina semasa kuliah dulu memang tak bisa melewatkan roti khas buatan disamping kampus, rotinya enak dan empuk.
"Ternyata benar? kau mahasiswa yang biasa memesan?" vanza menatapnya.
"Iya, saat aku kuliah dulu aku sering ke bakery volcado." ucap Catarina.
"Ternyata aku benar, kebetulan aku pemiliknya. Jika kau ingin berkunjung lagi, pintu toko kami terbuka lebar untukku. Bahkan jika kau ingin diskon sembilan puluh sembilan persen." Canda Vanza.
Catarina ikut tertawa garing mendengarnya, sebenarnya tak ingin tertawa namun tak enak. Sementara Sheena sudah senyum-senyum sendiri.
Tanpa ketiga orang itu sadari, sebuah mata tajam bak elang mengawasi setiap gerak gerik mereka. Lebih tepatnya, gerak gerik Catarina yang terlihat tertawa keras bersama Vanza.
Leonard mendecakkan lidah seraya menggenggam erat ponsel yang berada digenggamannya hingga sedikit retak.
"Sudah berani berbicara dengan orang asing ya? bagus princess." ucapnya pelan nan menusuk.
Bahkan dikala sedang mengandung anaknya-pun Catarina masih bisa haha hihi dengan pria lain.
"Tunggu hukumanmu, wanita nakal."
____________
"Catarina! catarina!"
Suara yang memanggil namanya itu menghentikan tawa Catarina yang tengah mengobrol dengan Vanza, Catarina berbalik dan menemukan seorang maid yang mendekat kearahnya.
"Ada apa? tidak usah lari." ucap Catarina menenangkan.
"Kau disuruh menuju ruangan tuan muda."
Leonard memanggilnya?
Cukup membingungkan namun Catarina memilih mengangguk dan berpamitan dengan Vanza, mengobrol dengan pria itu ternyata cukup menyenangkan meski menyita waktu.
Vanza cukup hangat dan menyenangkan.
Catarina melangkahkan kakinya, memasuki lift dan memencel tombol menuju ruangan pria itu.
Kala tiba diruang kerja Leonard, entah mengapa Catarina cukup berdebar. Setelah beberapa menit mengumpulkan mental, ia mengetuk pintu.
"Masuk."
Suara itu membuat bulu kuduk Catarina berdiri, entah mengapa hawa disekitar ruangan ini terasa lebih menyeramkan daripada kuburan.
Ruangan itu dipenuhi dengan berkas dan cukup gelap, semua jendela kaca yang ada sengaja ditutupi dengan gorgen berwarna hitam dan nuasannya yang begitu gelap. Hanya mengandalkan satu lampu yang menyala diatas atap, padahal ini siang hari.
"Ehm, apa ada keperluan sesuatu dengan memanggil saya?" tanya Catarina pada entensitas pria yang tengah duduk di kursi kerjanya, memandang Catarina yang tengah berdiri terhalang meja.
Dapat Catarina rasakan tatapan pria itu yang seolah menusuknya dengan belati.
"Menyenangkan sekali ya berbicara dengan bawahanku?"
Meneguk ludah, Catarina lupa jika Leonard tak pernah mengizinkannya untuk berbicara dengan pria lain selain Leonard sendiri.
Kini, tak ada yang bisa ia lakukan selain diam. Karena jika semakin menjawab maka Leonard akan semakin murka.
Leonard bangkit dari duduknya, menghampiri Catarina. Sontak saja wanita itu berkeringat dingin ditempat.
"Kau mendadak bisu ya, apa suaramu habis dipakai berbicara dengan bajingan itu?"
Catarina hanya dapat diam saja kala pipinya dielus menggunakan telapak tangan yang berurat itu.
"Hukuman apa yang harus kuberikan pada seseorang yang tak patuh?" ucap Leonard dengan suara beratnya.
Tangan pria itu turun melewati bibir Catarina yang basah akibat di gigit oleh dirinya sendiri, mengelusnya pelan. Kian membuat Catarina meneguk ludah, terintimidasi dengan aura dominan yang pria itu keluarkan.
"Kau hanya milikku," bisik Leonard. "Kau mendengarnya?"
Catarina mengangguk.
"Gunakan mulutmu, apa kau bisu?" geram Leonard.
"A-aku milikmu." Ucap Catarina tiba-tiba terbata.
"A-aku minta maaf, aku sama sekali tidak berniat berbicara dengan siapapun." Ucap Catarina memelintir tangannya.
Lalu setelah mengatakannya pandangan Catarina gelap, matanya ditutup menggunakan sebuah kain berbahan lembut dengan erat, karena kaget tangannya sedikit meraba meraba merasa tegang akan apa yang Leonard lakukan padanya.
Leonard tersenyum licik, menglepaskan gespernya sendiri kemudian menggunakannya untuk mengik4t tangan Catarina.
Tak ada yang bisa gadis itu lakukan karena gelap, ia hanya mendengar suara benda bergesekan lalu kedua tangannya diambil dan diikatkan.
"T-tuan, tangan s-saya–"
"Stt!" Leonard meletakkan jari telunjuknya tepat dibibir yang tengah bergetar itu.
"Panggil aku master." Perintahnya.
Catarina membuka mulutnya kemudian mengatakannya pelan
"M-master.."
Leonard tersenyum puas, "Bagus, sekarang diamlah hingga semuanya selesai." Ucapnya lalu mulai melakukan aksinya.
Catarina mematung dengan nafas yang tak beraturan, apalagi kala tangan pria itu sudah menggeriya tubuhnya, menyentuh sen sual namun sedikit tak sabaran.
Tubuhnya dibubuhi ke cupan panas lalu pakaian yang dikenak4nnya dilep4s satu persatu dengan di rob3k kas4r.
Tak ada yang dapat Catarina lakukan selain pasrah dan diam sampai hasr4t Leonard terpenuhi.
___________
Malam hari datang dengan semestinya, menyambut istirahat pada makhluk dibumi, namun tidak dengan kedua sejoli yang tengah sibuk bergulat diatas meja kerja itu, tengah mencari kenikmatan dunia yang tiada taranya.
Leonard hentakan didinya di dalam Catarina, tanpa ampun.
Tanpa tahu wanita itu sudah lemas dan pasrah dibawah kungkungannya, perutnya teramat ngilu, tubuhnya teramat lemas.
Dan Leonard tak akan berhenti, hingga kepuasannya tercapai. Meski entah sampai kapan.
Sudah berjam-jam ia mendalami kesempitan itu, seluk beluk gundah senang ia dapatkan, namun ia masih belum puas. Lebih tepatnya tak akan puas padahal sekarang sudah menjelang Pajar.
"Panggil aku master." Perintah Leonard seraya melesak masuk.
Catarina yang terasa sudah kehilangan nyawanya berbicara dengan sisa tenaga yang ia punya, "M-mashter.."
Leonard semakin bersemangat mendengar itu, apalagi is sudah sampai pada puncaknya.
Ia lakukan hingga tumbukannya membuat meja berdecit, setelahnya pria itu menengadah merasakan dirinya sudah tuntas.
Ia lepas diri kemudian melihat perempuan yang sama kacaunya seperti dirinya, tanpa mengatakan apapun Leonard mengangkat Catarina yang sudah tak punya tenaga sedikit-pun dan membaringkannya pada kasur king size miliknya.
Mata Catarina terasa begitu berat, tubuhnya pun sama lemasnya, ia merasakan sakit dan ngilu pada area perutnya dengan teramat.
"Sakitt.." lirihnya berpegangan pada lengan Leonard.
Lelaki itu menatap Catarina, "Mana yang sakit?" tanyanya mengusap kening sang perempuan.
"Perutku, sangat sakitt.." lirih Catarina mendesis sakit.
Leonard usap perut perempuan itu pelan berniat meredakan sakitnya.
"Aku sudah mengusapnya, tidak akan sakit lagi." Leonard kecup perut Catarina lalu bangkit menyingkirkan anak-anak rambut yang berada di pipi Catarina, rambut gadis itu sedikit basah akan keringat. Namun Leonard tak jijik mengecupi rambut hingga bahu perempuan itu.
Lelaki itu menyeka tubuh Catarina dengan tisu basah, menyeka area privasinya serta memberikannya pakaian yang hangat, memastikan wanita itu tidur dengan nyaman.
"Tidur dan bermimpi indah." Bisik Leonard mengecup pipi Catarina sebelum ikut berbaring seraya memeluk wanita itu dari belakang, ikut menjelajahi alam mimpi.
_________
Terbangun dengan kondisi tubuh yang sudah berpakaian lengkap serta nyaman, rambutnya juga wangi dan tidak selepek semalam. Catarina merasa tubuhnya segar bugar, hanya are4 int1 saja yang lumayan sakit, sisanya tubuhnya malah wangi seperti habis mandi.
Bukan hanya itu, kamar yang berantakan akibat semalam-pun kini sudah begitu rapi, seprai sudah diganti, bahkan pakaian yang berserakan-pun sudah tak ada.
Berniat bangun dari tidur, namun begitu melihat dinding yang menunjukan pukul dua lebih tiga puluh menit membuat Catarina menepuk dahi, selama apa ia tidur?
Sungguh bahkan sekarang ia masih mengantuk.
Atensinya jatuh pada nakas disamping ranjangnya, dimana terdapat nampan berisi sarapan, buah serta segelas susu ibu hamil.
Catarina ambil nampak itu kemudian mengernyit kala menemukan secarik kertas tulisan diatas buah apel yang dipotong kecil.
Aku berada diruang kerja, minum susu dan habiskan sarapanmu.
Leonard.
Catarina tersenyum kecil membacanya, entah mengapa kekesalannya pada Leonard meluap begitu saja setelah membaca secarik kertas itu, setidaknya meski jahat Leonard tidak menelantarkannya.
Dengan senyum kecil diwajahnya, ia teguk segelas susu itu setelahnya dengan khidmat memakan sarapan yang berada di nampan, sungguh Catarina sangat lapar karena tidak ada yang masuk ke perutnya sedari kemarin.
Begitu habis, dengan pelan ia turun dari ranjang disertai ringisan. Catarina berniat keluar seraya membuka pintu.
Namun saat memutar knop, pintu tak dapat dibuka, Catarina mengernyit kemudian kembali mendorong knop namun tak berhasil.
"Ck, dikunci.." monolognya.
Catarina tak punya kunci kamar Leonard, hanya pria itu yang memegang kunci kamar ini, karena Leonard tak mengizinkan sembarang orang memasuki kamarnya.
Apa yang harus Catarina lakukan? lagipula ia tak mau berlama-lama disini, duduk diam disini sama dengan Catarina nenyerahkan nyaw4nya sendiri.
"Bagaimana ini..." lirih Catarina menggedor pintu, kesal pula. Kenapa Leonard harus mengunci pintunya?
"Apa yang kau lakukan?"
Suara berar itu membuat Catarina mematung, dengan gerakan slowmotion berbalik menatap pris yang tengah memaki kacamata kerjanya, rupanya suara knop diputar terdengar hingga ruangan kerjanya.
Leonard dengan kacamatanya menaikan alis, "Ingin keluar?" tanyanya yang entah mengapa terdengar setengah mengejek.
Apa-apaan nada itu? Catarina tersenyum masam kemudian menganggukan kepala.
"Kemari," Leonard merentangkan tangannya namun membuat Catarina kebingungan, peluk atau apakah?
Dengan ragu Catarina menghampiri Leonard, langkahnya yang tertatih mengundang tawa mengejek pria itu, seolah kesenangan melihat Catarina yang menderita.
Begitu tiba dihadapannya, Catarina merasakan perutnya dilingkari erat oleh tangan yang kekar itu, menciptakan ribuan kupu-kupu bermekaraan diperutnya.
"Tidak boleh keluar sebelum aku mengizinkannya," Ucap Leonard tepat ditelinga Catarina.
"Tidak boleh keluar? aku harus disini?" Catarina mengangkat kepalanya.
Wanita itu harus mendongak jika ingin melihat paras Leonard, yang tepat menunduk memandangnya tanpa berkedip.
"Ya." Balas Leonard singkat.
"Sampai kapan?" kernyit Catarina sedikit tak terima.
"Sampai aku mengizinkanmu keluar," ucap Leonard acuh tak acuh.
"Anggap ini hukumanmu." lanjutnya.
Apa katanya, hukuman? bukannya sudah malam tadi?! batin Catarina berteriak tak terima, namun tak ada yang ia lakukan selain memberikan senyuman Pepsodent.
"Temani aku bekerja," Pinta Leonard namun terdengar seperti perintah.
Leonard meletakkan tangannya di betis gadis itu, kemudian tanpa izin menggendong gadis itu menuju ruang kerjanya, sementara Catarina memutar bola matanya diam-diam.
"Aku punya kaki." Ucapnya, seolah mengatakan 'Untuk apa aku digendong?'
"Aku tahu, aku juga punya." acuh Leonard.
Gak nanya, sarkas Catarina dalam hati. "Aku masih bisa berjalan." Ucapnya.
"Yakin?" Leonard menatap benda yang berada dipertengahan pah4nya membuat semburat merah muncul dipipi Catarina.
"Tolong lihat jalan!" pinta Catarina cepat, seraya tak mau menatap wajah Leonard.
Pria itu tertawa kecil kemudian tanpa kesusahan meletakkan Catarina dipangkuannya, sementara tangannya sibuk memegang berkas yang berada di meja.
Pikiran Catarina diam-diam Travelling ketika berada di ruangan ini, ia merasa dejavu akan peristiwa yang mereka berdua lakukan tepat disini, Leonard dan dirinya yang saling mengejar kepuasan, lalu–
Ah! tidak usah dilanjut.
Supaya tak jatuh, Catarina berpegangan pada leher Leonard sementara pinggang rampingnya dipegang oleh tangan kiri lelaki itu, sementara tangan kanan Leonard tampak sibuk memeriksa dokumen serta laptop yang berada didepannya.
Dari posisi sedekat ini, Catarina dapat mencium aroma tubuh Leonard yang begitu menyegarkan, aroma woody bercampur dengan pohon ex serta aroma mint yang bertebaran dari mulutnya, aroma yang sangat macho.
"Sudah makan sarapanmu?" tanya Leonard seraya tangan kirinya tak berhenti mengusap pinggang Catarina, perempuan itu juga merasakan bahunya yang tertutup oleh pakaian dibubuhi oleh kecupan-kecupan kecil.
Catarina mengangguk kaku sebagai balasan, merasa canggung berada diposisi ini, batinnya berteriak ingin pulang.
"Em, tubuhku–"
"Aku yang memandikan, tubuhmu basah akan keringat hingga rambutmu, aku juga membersihkan milikm–"
Dengan secepat kilat Catarina tutup mulut Leonard menggunakan tangan kecilnya, gadis itu melotot dengan pipi yang memerah layaknya tomat busuk.
"Y-ya! maksudku emm, tubuhku sekarang menjadi lumayan merespon cepat dan menjadi sehat." Ucap Catarina seraya tertawa garing.
Perempuan itu berteriak kala tangannya justru malah diji lat serta dibubuhi kecupan oleh Leonard, segera Catarina lepaskan tangannya sendiri.
"Kita harus melakukannya setiap hari agar tubuhmu menjadi lebih sehat dan merespon cepat." Ucap Leonard menggoda.
"T-tidak! haha, bukan itu maksudku. Maksudku tubuhku akhir-akhir ini menjadi baik tapi kemarin-kemarin pun memang sudah sehat." elak Catarina cepat.
"Benarkah? bukannya kau bilang barusaja tubuhmu menjadi bugar, karena kita melakukannya tadi malam?" Leonard pura-pura polos daj tidak tahu.
Catarina meneguk ludah, ia bergerak tak nyaman dalam pangkuan Leonard, sangat canggung dan malu tujuh turunan.
Namun itu disalah artikan oleh Leonard, yang berpikir Catarina sengaja menggodanya dan meminta lebih, pria itu re mas pinggang Catarina sembari mendesis.
"Semakin kau bergerak, aku tidak janji tidak akan melakukannya disini lagi." Ucap Leonard berat, kian membuat Catarina shock lalu dengan cepat duduk kaku ditempat.
Lebih baik pegal karena tak bergerak sama sekali daripada membangunkan sesuatu dan terjadi hal yang tidak diinginkan disini, pikir Catarina.
Leonard menarik nafasnya berat, membenarkan posisi duduk Catarina kemudian kembali fokus pada pekerjaannya larut.
Menciptakan keheningan dari kedua insan itu, diam-diam Catarina memperhatikan Leonard yang tengah fokus bekerja.
Jika dilihat seperti ini, Leonard tampak tampan dan tenang, tidak terlihat macam-macam dan yang pasti aura ketampanannya bertambah seratus kali lipat. Sayangnya susah untuk digapai.
Pria itu kadang mengernyit sendiri melihat berkas-berkas yang bertumpuk di mejanya, kadang terlihat kembali rileks dan kadang terlihat pusing.
Hingga lama kelamaan, kantuk menyerang Catarina, apalagi aroma menenangkan yang menguat dari tubuh Leonard yang menbuatnya tak tahan untuk tidak memejamkan mata, ia perlahan memasuki alam mimpi dengan nafas yang beraturan.
Merasakan tubuh yang tiba-tiba memberat dipelukannya, Leonard tersenyum kecil kemudian mendengus, ia eratkan belitan tangan kirinya dipinggang gadis itu kemudian kembali melanjutkan urusannya yang tak selesai.