Aksi-aksi nekad dari Alfa, putra dari Surya Wijaya Saudagar kaya di negeri Indonesia.
Bukannya menikmati kehidupan sebagai Tuan Muda, tapi malah memilih menjalani kehidupannya sebagai seorang Pasukan bayaran, yang menggadai nyawa setiap hari demi menjalankan misi.
Novel ini banyak adegan kekerasan, siapkan mental sebelum baca. Dan jangan berekspektasi terlalu tinggi karena saya seorang penulis kelas tempe,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iam Siam dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harmonis
Alfa kembali ke rumahnya bersama Renold dan Ronald yang kini telah resmi menjadi pengawalnya. Alfa kini tak melarang Renold menguntitnya kemanapun dia pergi.
Namun berbeda dengan bodyguard Alfa yang lain, 2R lebih suka mengawasi dari jauh dan bertindak setelah ada yang mencurigakan, dan itu membuat Alfa malah lebih nyaman.
Alfa sampai di rumahnya dan langsung masuk ke dalam rumah mengabaikan para pengawal yang menyapanya. Alfa terlihat lebih dingin dan tidak ramah setelah kepergian orang tuanya.
Lisa menyadari suaminya mulai berubah hanya bisa menghela nafas. Ia tak ingin melukai hati suaminya yang belum sembuh dengan berkomentar terlalu banyak.
"Pa, Papa sudah makan siang?" tanya Lisa penuh perhatian. Alfa melirik istrinya kemudian tersenyum manis. Alfa menggeleng pelan dan menggandeng lengan Lisa menuju ruang makan.
Alfa kemudian duduk berdampingan bersama istrinya, Alfa menanyakan keberadaan Adel yang ternyata sedang les.
Lisa menuangkan jus jeruk ke dalam gelas Alfa dan menaruh beberapa macam lauk pauk ke piring Alfa.
"Habis makan Papa harus ke kantor, Ma." ucap Alfa sembari memasukkan makanan ke mulutnya dengan lahap.
"Pa, Mama juga di rumah bosan, Mama ikut Papa ke kantor ya." ucap Lisa.
Lisa terdiam seketika dan terlihat berfikir keras. Akhirnya Alfa membuka mulutnya dan mengucapkan sesuatu yang membuat Lisa begitu bahagia.
"Boleh." ucap Alfa singkat. Alfa kembali melanjutkan makannya dengan lahap.
Dalam 5 menit setumpuk makanan yang tadi ada di piring Alfa kini telah habis tak bersisa. Tak lupa Alfa meminum air putih yang sudah tersedia dan jus jeruk miliknya juga.
"Papa mau siap-siap dulu, mama mau pakai baju itu aja?" tanya Alfa.
"Memang harus pakai baju casual biar kelihatan kaya sekertaris gitu?" tanya Lisa.
Alfa begitu gemas dengan istrinya dan segera menggandengnya menuju kamar.
"Hmm,, setidaknya bersolek sedikit. Papa tahu Mama sangat cantik sampai buat Papa meleleh kalau liat Mama, tapi bisa-bisa nanti Papa diledekin sama Alia." ucap Alfa gemas.
Lisa mengangguk dan berjalan menuju ruang pakaian memilih dress hitam selutut dan sepatu hak tinggi berwarna rose gold.
Alfa juga memakai stelan serba hitam dengan sepatu pantofel hitam mengkilat dan rambut yang disisir rapi dan mengkilat karena di poles dengan pomade.
Setelah keduanya bersiap Alfa menuju ke mobil sedan hitam miliknya bersama Lisa dalam gandengannya.
Pak Agus yang akan menjadi supir dan sepuluh orang pengawal yang bersiap menjaga mereka dari segala marabahaya.
Setelah masuk ke dalam mobil Alfa mulia sibuk dengan ponselnya. Mulai dari menerima pesan, Email, hingga telpon.
Lisa mulai bosan dengan keadaan tersebut kemudian menatap keluar jendela dan menatap jalanan Jakarta yang masih padat namun tergolong lancar.
Alfa melirik Lisa sekilas dan tahu kalau istrinya sudah mulai merasa bisan, namun Alfa tak meresponnya.
Perjalanan selama satu jam itu berakhir.
Alfa menuju lantai lima tempat ruangannya berada bersama Lisa.
Lisa yang jarang ke kantor menjadi pusat perhatian para karyawan yang bekerja di sana karena Lisa begitu sedap di pandang. Apalagi para karyawan pria yang mata kranjang. Bagi mereka Lisa adalah penyegar dalam kepenatan karena tugas yang menumpuk dan dikejar deadlina.
Alfa yang menyadari tatapan dari para karyawannya langsung menggandeng Lisa sebagai bentuk perlindungannya.
Lisa tersenyum karena merasa Alfa cemburu pada karyawannya.
Mereka sudah sampai di ruangan Alfa.
"Hm,, sangat menyebalkan." gerutu Alfa.
Selama ini dia sangat jarang membawa istrinya keluar selain karena alasan keamanan juga dia sering terbakar cemburu kalau ada kejadian seperti barusan.
"Papa cemburu?" ledek Lisa.
"Bagaimana tidak cemburu?" jawab Alfa dengan ketus.
Lisa meraih pinggang suaminya dan memeluknya dari belakang.
"Ya sudah, besok Mama tidak akan ikut lagi, biar Papa fokus kerja." bisik Lisa.
Alfa terkejut dengan keputusan Lisa dan menjadi tak enak hati.
"Mama marah?" tanya Alfa cemas.
"Tidak,,, tapi Mama wajib menjaga hati Papa agar tetap tenang, tidak merasa cemburu atau hal buruk lainnya." jawab Alfa.
"Terima kasih karena sudah sangat pengertian, Ma." ucap Alfa.
Lisa melepas pelukannya dan duduk di sofa sementara Alfa duduk di kursinya dan mulai menyalakan komputer.
Di tempat lain, Alia sedang begitu fokus membaca banyak sekali laporan yang masuk ke dalam emailnya. Ia yak bisa mengharapkan bantuan Santoso karena Santoso juga sibuk bukan main.
Yang Alia takutkan adalah komputernya tidak kuat menerima ratusan laporan karena kepalanya juga sudah terasa panas dan seperti berasap.
"Sabar yah komputer,,," ucap Alia yang terlihat khawatir.
Alia kemudian melihat jam nya.
"Wah pantas saja kepalaku paans, sudah lewat jam makan siang." ucap Alia yang baru menyadari bahwa tubuhnya lemas dan perlu makanan.
Alia menghubungi seseorang untuk ia ajak makan siang di luar kantor.
Beberapa menit kemudian pintu ruangan Alia di ketuk seseorang.
Pintu ruangan Alia kemudian terbuka dan muncul seseorang dari baliknya.
"Nona mencari saya?" tanya lelaki itu yang ternyata Santoso.
"Iya, aku ingin makan di luar. Kau temani aku." ucap Alia.
"Baiklah, namun saya hanya punya waktu satu jam Nona." jawab Santoso tak enak hati. Pekerjaannya sangat menumpuk dan dalam waktu satu setengah jam akan di adakan rapat dewan direksi yang akan dipimpin Alfa.
Alia bersiap secara kilat lalu meraih dompet dan ponselnya yang ia masukkan ke dalam tas slempang kecil miliknya.
Mereka menuju lobi kantor, di sana sudah ada sopir yang sedang menunggu keduanya.
"Aku ingin makan burger saja biar cepat." ucap Alia.
"Jangan junk food terus, Nona." sahut Santoso.
"Ya sudah, makan di warung Sunda saja." ucap Alia dengan wajah kesal.
Mereka melaju kendaraan menuju ke sebuah restoran yang menyediakan masakan khas Sunda.
Sesampainya di sana Santoso langsung menuju recepsionist dan menanyakan meja untuknya karena saat di mobil dia sudah memesan meja dan makanan.
Seorang pelayan menunjukkan meja kecil untuk dua orang yang berada di sudut ruangan. Di meja tersebut sudah ada bebek bakar, sambal, lalapan, dan nasi putih.
Alia tersenyum karena tak perlu menunggu lebih lama lagi. Dirinya sudah benar-benar lapar saat ini.
Keduanya mulai makan bersama.
Santoso sebenarnya sudah memakan roti sobek yang ia beli tadi pagi untuk makan siang, tapi ajakan Alia bersifat mutlak jadi Santoso tak berani menolaknya.
Mereka berdua makan dengan cepat agar tidak terlambat ke kantor.
Alia yang merasa ingin buang air kecil meminta Santoso menunggunya sebentar dan Santoso pun menyanggupi permintaan Alia.
Alia menitipkan dompet dan ponselnya kepada Santoso karena sudah begitu percaya kepada pengawalnya yang super tampan ini.
Alia lalu menuju ke kamar mandi dengan langkah cepat seperti berlari. Santoso sampai tertawa melihatnya marena pemandangan ini jarang terjadi.
Karena tidak ingin menyia-nyiakan waktu Santoso membuka ponselnya dan membaca beberapa pesan penting yang masuk dan membalasnya satu persatu. Waktu berlaalu dengan cepat.
Setelah lima belas menit Alia tak kunjung kembali dari kamar mandi membuat Santoso sedikit cemas.
Visual Santoso by Pinterest
Pengumuman ya, Novel ini tidak akan sepanjang Novelku sebelumnya namun akan ada cerita kelanjutannya.
Jadi mungkin dalam beberapa chapter lagi akan tamat.
Main juga yuk ke Novelku " trauma masa lalu "
Di tunggu yah..
Sam dari mawar berduri
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉