Jansen pemuda yang memiliki wajah tampan dan blasteran Indo-Belanda itu yang sangat menginginkan menghabisakan liburannya untuk mendaki Gunung yang belum terjamah. Dia memiliki kekasih yang begitu cantik yaitu Amanda Prisila.
Jansen sedang mencoba membujuk kekasihnya itu untuk pergi menghabiskan liburan mereka ke puncak gunung perawan. tetapi orang tua Amanda tidak mengizinkanya.
Apakah akhirnya Jansen dapat membujuk orang tua Amanda? dan apakah liburan Jansen dan Amanda akan menggembirakan atau malah berujung kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afionita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXXV
Enjoy reading !
" Tibalah hari kematian kalian semua " ucap Danang senang.
" Ayo sebentar lagi kita akan keluar dari gerbang ini " teriak Amanda.
" Eh.. eh.. kok Gerbangnya tertutup sendiri ? ada apa ini " ucap Amanda panik.
Kemudian Rama menengok ke belakang.
" Apa itu ? sosok apa itu ? " kata Rama menunjuk ke belakang.
" Sial ! mayat hidup " teriak Jansen ketakutan.
" Ayo lari " Ajak Rama kepada Jansen yang masih bersamanya di belakng.
" Hei lalu bagaimana ini ? " kata Amanda panik sekali.
" Ada apa " Teriak Rama yang masih berlari menuju ke arah Amanda yang sudah sampai ke depan gerbang.
" Gerbang ini tiba - tiba tertutup sendiri " Amanda mencoba menjelaskanya.
" Sial ! lihat mereka akan kemari " kata Jansen.
" Apa ? makluk apa itu " tanya Amanda.
" Bagaimana ini. ini tiba-tiba terkunci sendiri " kata Amanda sambil memegang gerbang itu.
" Apa tidak ada benda tajam di sini " kata Jansen yang mencari sesuatu untuk memecahkan gembok itu.
" Ini batu bae " kata Amanda sambil menyerahkan batu itu kepada Jansen.
" Aku akan mencoba membukanya dengan ini " ucap Jansen sambil memukul gembok itu dengan batu.
" Toook .. tookkk.. toookkk " suara benturan batu dan gembok tersebut.
" Jans , mana tas aku " kata Rama.
" Ada apa Ma ? ini tas kamu " sahut Amanda menyerahkan tas Rama.
" Aku tidak tau mereka siapa dan tidak tahu mereka datang dari mana. aku akan mencoba mengalihkan perhatian mereka kamu cobalah membuka gembok gerbang itu Jans " ucap Rama.
" Baiklah ma " sahut Jansen.
Kemudian Rama mengeluarkan sesuatu dari ranselnya. Rama mengeluarkan Celurit yang selama ini dia bawa kemana-mana saat pendakian.
Rama lalu maju menyerang mereka yang masih sedikit itu dengan celuritnya.
Amanda yang melihat Rama yang berjuang sendiri itu merasa kasihan, lalu dia mencoba untuk membantu Rama. akan tetapi Jansen memegang tangan kekasihnya itu untuk tidak berlari ke sanabkarena berbahaya.
" Itu berbahaya Bae. biar Rama saja. kamu bantu aku pukul ini saja " bujuk Jansen untuk keselamatan kekasihnya.
" Apa kamu baik - baik saja ma ? " teriak Jansen kepada Rama.
" Tooooook .. tokkkk " suara pukulan batu yang keras.
" Ahhh.. sial " teriak Rama.
Mendengar itu kemudian Jansen menghentikan benturan itu dan mencoba membantu Rama.
" Kamu pukul di bagian sini. ini akan terbuka. pukul dengan sangat keras, aku akan mencoba menolong Rama sebentar " kata Jansen.
" Tapi bae .. apa aku bisa " ucap Amanda pesimis.
" Kamu pasti bisa aku yakin tangan kamu pasti mempunyai kekuatan untuk meyelamatkan kita semua " ucap Jansen optimis untuk menyemangati kekasihnya itu.
Lalu Jansen mencoba menolong Rama dengan menggunakan tongkat yang ada di dalam tasnya untuk menyerang mayat hidup itu.
" Hehehe.. walaupun kalian bisa membuka gembok itu gerbang itu akan tertutup lagi dengan cepat dan akan terkunci lagi. kalau kalian tidak segera keluar " suara Danang.
" Agar kalian tidak bisa keluar dari sini aku sudah menyiapkan banyak penghuni hutan ini untuk memakan kalian " kata Danang senang melihat mereka tersiksa.
" Sial ! ini semua perbutanya " Kata Rama.
" Terima kasih Jansen sudah menolong ku . ayo kita segera menuju ke gerbang lagi " ajak Rama
" Sama - sama ma. kita lakukan ini untuk kebaikan bersama.
" Amanda ? apakah sudah terbuka ? " teriak Rama sambil berlari menuju arahnya.
" Sebentar lagi " teriak Amanda.
Syyyyyyuiiitttttt. .
" Crettttt. .. mayat sialan " umpat Rama.
" Jansen kamu cepat bantu Amanda sepertinya dia sedikit kesusahan " kata Rama.
" Tapi ma " kata Jansen.
" Ini hanya tinggal tiga aku akan menanganinya sendirindengan tanganku. cepat buka gerbang itu ! " perintah Rama.
" Baik " kata Jansen lalu bergegas berlari dan mengambil batu lagi untuk memukul.
" Duaaaaaaakkk " suara gembok terbuka.
" Jansen ! Gemboknya sudah terbuka " kata Amanda senang.
" Ayo ma cepat kesini .. Gemboknya sudah terbuka " teriak Jansen sekeras mungkin.
" Sudah terbuka ? baiklah aku segera ke sana. Sial kenapa menjadi banyak sekali mereka ini " umpat Rama kemudian berlari secepat mungkin.
" Bae gerbangnya .. ayo kita buka selebar mungkin. kalau tidak salah dengar tadi gerbangnya akan tertutup dan terkunci lagi. jadi sambil menunggu Rama kemari kita harus membuatnya terbuka selebar mungkin " jelas Jansen kepada Amanda.
" Iya bae " sahut Amanda.