Sinopsis:
Choi Daehyun—penyanyi muda terkenal Seoul yang muncul kembali setelah 5 tahun menghindari dunia hiburan.
“Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai kekasihku,” kata Choi Daehyun pada diriku yang di depannya.
Namaku Sheryn alias Lee Hae-jin—gadis blasteran Indonesia-Korea yang sudah mengenali Choi Daehyun sejak awal, namun sedikit pun aku tidak terkesan.
Aku mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu, lalu berkata, “Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat.”
Awalnya Choi Daehyun tidak curiga kenapa aku langsung menerima tawarannya. Sementara aku hanya bisa berharap aku tidak akan menyesali keputusanku terlibat dengan Choi Daehyun.
Hari-hari musim panas sebagai “kekasih” Choi Daehyun dimulai. Perubahan rasa itu pun ada. Namun aku ataupun Choi Daehyun tidak menyadari kebenaran kisah lima tahun lalu sedang mengejar kami.
🌸𝐃𝐈𝐋𝐀𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐄𝐑𝐀𝐒 𝐂𝐎𝐏𝐘
🌸𝐊𝐀𝐑𝐘𝐀 𝐀𝐒𝐋𝐈 𝐀𝐔𝐓𝐇𝐎𝐑/𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐏𝐋𝐀𝐆𝐈𝐀𝐓
🌸𝐇𝐀𝐏𝐏𝐘 𝐑𝐄𝐀𝐃𝐈𝐍𝐆
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Olivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
“Kita naik apa?”
“Tentu saja naik mobil. Eh... kau tidak takut, kan?” tanya Choi Daehyun agak ragu.
Sheryn menggeleng. “Bukan begitu maksudku. Ini bukan di Korea. Di Indonesia kemudi mobil ada di sebelah kanan. Memangnya kau bisa?”
Choi Daehyun tertawa. “Ada orang yang akan mengemudikan mobil. Aku juga sudah memperingatkannya untuk mengemudi dengan hati-hati sekali.”
“Siapa?”
“Kalau kukatakan, kau tidak akan kenal siapa dia.”
Sheryn memiringkan kepala dan tidak bertanya-tanya lagi. Bertanya juga tidak ada gunanya kalau Choi Daehyun sudah tidak mau mengatakan apa-apa.
Ternyata Sheryn memang tidak mengenal pria setengah baya yang mengemudikan mobil itu. Sheryn melihat Choi Daehyun berbicara padanya dalam bahasa Inggris, lalu pria setengah baya itu mengangguk mengerti. Mereka pun berangkat. Mereka berhenti di hotel terkenal di daerah Jakarta Selatan.
“Kita mau makan di sini?” tanya Sheryn ragu-ragu.
“Ya. Aku sudah memesan tempat. Ayo, kubantu keluar,” kata Choi Daehyun.
Sheryn cepat-cepat menahannya. “Tunggu sebentar, Choi Daehyun ssi. Aku... maksudku, aku tidak masuk ke tempat seperti itu dengan kursi roda. Maksudku—“
Kata-kata Sheryn terputus ketika Choi Daehyun memegang wajahnya dengan kedua tangan.
“Tidak apa-apa. Ada aku,” katanya sambil tersenyum menenangkan.
Sheryn tidak berkata apa-apa lagi. Ia membiarkan dirinya didudukkan di kursi roda dan didorong masuk ke lobi hotel. Seorang pegawai hotel sepertinya sudah mengenal Choi Daehyun.
Ia langsung tersenyum ramah dan langsung menunjukkan jalan menuju restoran. Sheryn merasa agak aneh ketika masuk ke restoran itu dan tidak melihat seorang pun di sana.
Hanya ada beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan, menunggu perintah. Sheryn juga memerhatikan ada beberapa pria yang memainkan alat musik di panggung kecil di tengah restoran.
Pegawai hotel yang mengantar mereka menunjukkan meja yang sudah disiapkan untuk mereka, di bagian depan, dekat panggung. Sheryn juga melihat ada grand piano hitam serta pemusik yang duduk di sana dan memainkannya.
Ketika Choi Daehyun sudah duduk berhadapan dengannya, Sheryn membuka mulut. “Kenapa aku merasa kau sudah mengatur semua ini?”
“Mengatur apa?” Choi Daehyun balas bertanya dengan raut wajah tanpa dosa.
Sheryn tersenyum. “Tidak ada orang di restoran ini, kecuali pelayan dan beberapa pemain musik. Jangan-jangan penyebabnya adalah kau.”
Choi Daehyun hanya tertawa. Tak lama kemudian makanan mereka diantarkan. Sepertinya sudah lama sekali sejak Sheryn makan bersama Choi Daehyun. Ia sangat menikmatinya. Ia selalu merasa senang berada di dekat Choi Daehyun. Bila ia bersama laki-laki itu, ia merasa lebih tenang, lebih bahagia.
Saat mereka selesai makan, Sheryn baru akan mengatakan sesuatu ketika Choi Daehyun mengangkat tangan untuk menghentikan ucapannya.
“Aku tahu apa yang kau inginkan,” kata Choi Daehyun yakin.
Alis Sheryn terangkat.
“Dari tadi kau terus melirik piano di sana itu,” kata Choi Daehyun.
“Aku sudah tahu kau akan memintaku bermain piano. Benar tidak?”
Sheryn kaget dan tertawa. “Bagaimana kau bisa tahu?” tanyanya.
“Tentu saja,” sahut Choi Daehyun.
“Karena aku mengenalmu.”
Sheryn memerhatikan Choi Daehyun saat ia bangkit dari kursi dan berjalan ke arah piano. Pria yang tadinya bermain piano berdiri dan mempersilakan Choi Daehyun duduk.
Saat itu juga lampu sorot entah di mana menyala menyinari piano itu. Choi Daehyun duduk di depan piano dan memosisikan jari-jari tangan di tuts-tutsnya.
Choi Daehyun menatap Sheryn dan bertanya, “Kau ingin aku memainkan lagu apa?”
“Apa saja,” jawab Sheryn cepat.
“Aku sudah menulis sebuah lagu,” kata Choi Daehyun sambil menekan beberapa nada di piano. “Sebenarnya lagu ini kutulis untukmu, tapi belum ada liriknya, juga belum ada judulnya. Untuk sementara ini hanya ada nadanya.”
Biarpun begitu, Sheryn tetap merasa tersanjung. Choi Daehyun mulai memainkan piano. Sheryn sangat suka mendengar Choi Daehyun bermain.
Setiap nada yang keluar dari piano itu begitu hidup, membentuk melodi indah. Walaupun masih belum ada liriknya, Sheryn sangat senang dengan kenyataan bahwa Choi Daehyun menulis lagu itu untuknya.