NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PANGERAN CUPU

KEBANGKITAN PANGERAN CUPU

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Di sebuah kerajaan yang penuh dengan intrik dan kekuatan mistis pada masa Dinasti Tang, hiduplah seorang pangeran bernama Li Wei. Sejak kecil, Li Wei selalu dianggap lemah dan tidak berbakat dalam seni bela diri, sehingga ia sering dijuluki "Pangeran Cupu" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, di balik penampilannya yang lemah, Li Wei memiliki hati yang baik dan kecerdasan yang luar biasa.


Li Wei tumbuh di istana dengan penuh cemoohan dari saudara-saudaranya dan para pejabat istana. Ayahnya, Kaisar Li, merasa malu dengan kelemahan Li Wei dan lebih mengutamakan putra-putranya yang lain. Namun, Li Wei tidak pernah menyerah dan terus berusaha untuk membuktikan dirinya.


Suatu hari, saat sedang berjalan-jalan di hutan, Li Wei bertemu dengan seorang guru bela diri misterius bernama Master Feng.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35

Bayangan hitam itu tetap berdiri di balik pilar, menyatu dengan remang-remang senja.

Di wajahnya terpasang topeng hitam polos yang menutupi sebagian besar wajah.

Tak seorang pun pengawal menyadari keberadaannya.

Perlahan, ia mengeluarkan seekor burung pipit kecil dari dalam lengan jubahnya.

Pada kaki burung itu telah terikat gulungan kertas berukuran sangat kecil.

Ia menuliskan beberapa kalimat singkat.

'Li Wei mendapat kepercayaan Kaisar.'

Mei Ling akan tampil dalam Perjamuan Musim Gugur.

Rencana pertama gagal.

Gulungan itu diikat kembali.

Burung pipit tersebut dilepaskan ke langit yang mulai berubah jingga.

Burung itu terbang melintasi tembok-tembok istana menuju sebuah kediaman mewah di bagian timur ibu kota.

---

Malam mulai turun.

Di Kediaman Putra Mahkota.

Suasana di ruang belajar tampak sunyi.

Lelaki muda berjubah hitam kebiruan tengah memainkan bidak catur seorang diri.

Di hadapannya berdiri seorang pria berpakaian gelap dengan kepala tertunduk.

"Yang Mulia."

"Pesan dari orang kita di istana."

Putra Mahkota meletakkan sebuah bidak putih.

"Katakan."

"Selir Yuhe gagal."

Tak ada perubahan sedikit pun pada wajah Putra Mahkota.

Seolah ia sudah menduga hasil itu.

"Dan?"

"Kaisar justru membela Pangeran Li Wei dan Putri Mei Ling."

Senyum tipis muncul di sudut bibir Putra Mahkota.

"Ayahanda memang seperti itu."

"Beliau selalu menghargai orang yang memegang aturan."

Utusan itu kembali berkata,

"Namun ada satu hal lagi."

"Kaisar menunjuk Pangeran Li Wei dan Putri Mei Ling untuk mewakili keluarga kekaisaran dalam Perjamuan Musim Gugur."

Untuk pertama kalinya...

Jari Putra Mahkota berhenti di atas papan catur.

Matanya menyipit.

"Menarik."

Ia mengambil bidak hitam, lalu menjatuhkannya tepat di depan bidak putih.

Klik.

Suara kecil itu menggema di ruangan.

"Ayahanda mulai mendorong Li Wei ke hadapan para pejabat dan utusan asing."

"Apakah beliau mulai mempertimbangkan...?"

Putra Mahkota tidak menyelesaikan kalimatnya.

Namun orang kepercayaannya memahami maksud itu.

Perlahan ia berlutut.

"Yang Mulia..."

"Apakah kita perlu menyingkirkan mereka?"

Putra Mahkota menatap papan catur beberapa saat.

Kemudian menggeleng.

"Tidak."

"Membunuh lawan yang belum bergerak hanyalah tindakan orang bodoh."

"Biarkan mereka naik lebih tinggi."

"Semakin tinggi seseorang berdiri..."

"...semakin sakit ketika terjatuh."

Senyumnya semakin dalam.

"Perjamuan Musim Gugur akan dihadiri utusan dari tiga kerajaan."

"Di hadapan begitu banyak mata..."

"...satu kesalahan kecil saja sudah cukup menghancurkan nama mereka."

Ia berdiri dan berjalan menuju jendela.

Tatapannya mengarah ke langit malam.

"Li Wei."

"Kau memang adikku."

"Tetapi..."

"Takhta Kekaisaran hanya memiliki satu pewaris."

---

Di sisi lain.

Kediaman Pangeran Li Wei.

Cahaya lentera menerangi paviliun utama.

Mei Ling duduk di depan meja kayu cendana.

Di hadapannya terbentang lembaran sutra putih berkualitas terbaik.

Di sampingnya terdapat berbagai kuas dan tinta.

Li Wei masuk sambil membawa sebuah kotak kayu panjang.

"Apa itu?"

tanya Mei Ling.

Li Wei meletakkan kotak itu di atas meja.

"Bukalah."

Mei Ling membuka tutupnya perlahan.

Matanya membulat.

Di dalamnya tersusun enam batang kuas dengan gagang giok putih dan bulu halus yang berkilau.

"Kuas Giok Salju..."

gumamnya pelan.

"Ayahku pernah bercerita..."

"...bahwa hanya keluarga kekaisaran yang memilikinya."

Li Wei tersenyum.

"Ini hadiah dariku."

"Untuk Perjamuan Musim Gugur."

Mei Ling mengangkat wajahnya.

"Tetapi benda ini terlalu berharga."

"Bagiku..."

Li Wei menatapnya lembut.

"...tidak ada yang lebih berharga daripada kepercayaan dirimu."

Mei Ling tersenyum hangat.

Perlahan ia menggenggam salah satu kuas itu.

"Terima kasih."

Li Wei duduk di sampingnya.

"Apa yang akan kau lukis?"

Mei Ling memandang langit malam di luar jendela.

"Aku belum memutuskannya."

"Tetapi..."

"Aku ingin melukis sesuatu yang tidak hanya indah."

"Melainkan mampu membuat utusan dari kerajaan lain memahami seperti apa hati rakyat Kekaisaran."

Li Wei mengangguk bangga.

"Itulah Mei Ling yang kukenal."

Namun, saat keduanya masih berbincang, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari luar paviliun.

Seorang pengawal berlutut di depan pintu.

"Pangeran!"

Li Wei menoleh.

"Ada apa?"

"Wakil Kepala Pengawal Bayangan memohon bertemu."

"Katanya..."

"...ada kabar penting yang tidak bisa ditunda."

Ekspresi Li Wei langsung berubah serius.

"Persilakan masuk."

Beberapa saat kemudian, seorang pria berpakaian hitam memasuki ruangan dan berlutut.

"Salam hormat kepada Pangeran, Putri."

Li Wei mengangguk.

"Lapor."

Pria itu mengangkat kepala.

"Hamba berhasil menangkap salah satu kurir rahasia yang berkeliaran di sekitar Aula Naga sore tadi."

Mei Ling saling berpandangan dengan Li Wei.

"Apakah ia mengaku?"

Pria itu menggeleng.

"Belum."

"Tetapi..."

Ia mengeluarkan sepotong gulungan kertas kecil dari dalam lengan bajunya.

"Hamba berhasil menyita surat ini sebelum sempat dikirim."

Li Wei membuka gulungan itu.

Begitu membaca isinya...

Sorot matanya berubah tajam.

Di atas kertas hanya tertulis satu kalimat pendek.

"Burung merak telah dipilih untuk menari. Patahkan sayapnya sebelum malam perjamuan."

Ruangan mendadak hening.

Li Wei mengepalkan surat itu perlahan.

Sementara Mei Ling memahami bahwa...

Ancaman yang sesungguhnya akhirnya mulai menampakkan wujudnya.

Li Wei menggenggam gulungan surat itu semakin erat.

Tatapannya berubah sedingin es.

"Burung merak..."

gumamnya pelan.

"Yang mereka maksud adalah Mei Ling."

Mei Ling tetap tenang.

Ia mengambil surat itu lalu membacanya sekali lagi.

Kalimatnya singkat.

Namun maknanya sangat jelas.

Seseorang ingin memastikan dirinya tidak akan pernah tampil dalam Perjamuan Musim Gugur.

Li Wei menatap kepala Pengawal Bayangan.

"Di mana kurir itu sekarang?"

"Sudah kami tahan di penjara rahasia kediaman, Pangeran."

"Apakah ia membuka identitas majikannya?"

"Belum."

"Hamba sudah menginterogasinya, tetapi ia memilih menggigit racun yang disembunyikan di balik gerahamnya."

Mei Ling sedikit mengernyit.

"Mati?"

Pengawal itu menggeleng.

"Belum, Putri."

"Tabib berhasil mengeluarkan sebagian racunnya."

"Namun ia masih belum sadar."

Li Wei menghela napas pelan.

"Jaga dia."

"Jangan biarkan siapa pun mendekatinya."

"Baik, Pangeran."

Pengawal itu kembali membungkukkan badan sebelum mundur meninggalkan ruangan.

---

Malam semakin larut.

Setelah memastikan seluruh pintu paviliun tertutup rapat, Li Wei memanggil seseorang.

Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh tegap memasuki ruangan.

Ia mengenakan pakaian hitam sederhana tanpa lambang kebangsawanan.

Namun setiap langkahnya mantap dan penuh wibawa.

Pria itu berlutut.

"Hamba memberi salam kepada Pangeran."

Mei Ling memandangnya sejenak.

Ia belum pernah melihat pria itu sebelumnya.

Li Wei berkata pelan,

"Bangunlah, Shen Mu."

"Terima kasih, Pangeran."

Shen Mu.

Komandan Pengawal Bayangan pribadi Li Wei.

Selama bertahun-tahun, keberadaannya nyaris tidak pernah diketahui orang luar.

Ia hanya muncul ketika menghadapi persoalan yang benar-benar berbahaya.

Li Wei menyerahkan gulungan surat kepadanya.

"Selidiki."

Shen Mu membaca isi surat itu.

Sorot matanya langsung berubah tajam.

"Hamba mengerti."

"Aku tidak ingin hanya mengetahui siapa kurirnya."

Li Wei berdiri.

"Aku ingin mengetahui siapa dalang yang berada di belakang semua ini."

"Baik."

"Bahkan jika orang itu berasal dari keluarga kekaisaran..."

"...tetap selidiki."

Shen Mu sedikit terkejut.

Namun ia segera menundukkan kepala.

"Perintah diterima."

Dalam sekejap, sosoknya menghilang ke dalam kegelapan malam.

Mei Ling memandang pintu yang telah kembali tertutup.

"Apakah kau mencurigai seseorang?"

Li Wei terdiam cukup lama.

"Aku memiliki beberapa dugaan."

"Tetapi tanpa bukti..."

"...semuanya hanyalah prasangka."

Mei Ling mengangguk pelan.

"Itu memang lebih baik."

"Kita tidak boleh terburu-buru."

Li Wei menatap istrinya.

"Apakah kau benar-benar tidak takut?"

Mei Ling tersenyum tipis.

"Aku takut."

Jawaban jujur itu membuat Li Wei sedikit terkejut.

"Tetapi..."

Ia melanjutkan dengan suara lembut.

"Aku bukan takut kepada orang-orang yang ingin mencelakaiku."

"Aku hanya takut..."

"...jika karena diriku, kau ikut terseret dalam pertarungan ini."

Li Wei perlahan menggenggam tangan Mei Ling.

"Kau adalah istriku."

"Melindungimu bukan beban."

"Itu adalah kehormatanku."

Mei Ling balas menggenggam tangan suaminya.

Untuk beberapa saat, keduanya menikmati keheningan yang menenangkan.

---

Sementara itu...

Di sebuah rumah besar di sudut timur ibu kota.

Seorang pria tua berjanggut putih duduk di ruang rahasia.

Di hadapannya, seorang pembawa pesan berlutut dengan tubuh gemetar.

"Yang Mulia..."

"Kurir kita telah ditangkap."

Pria tua itu tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun.

"Apakah suratnya sampai?"

"Tidak."

Ruangan mendadak sunyi.

Beberapa saat kemudian...

Pria tua itu tersenyum tipis.

"Li Wei..."

"Kecepatanmu ternyata melebihi perkiraanku."

Ia bangkit perlahan.

Di dinding belakangnya tergantung sebuah peta besar wilayah kekaisaran.

Tangannya menyentuh ibu kota.

"Lima hari."

"Hanya lima hari lagi."

"Lalu seluruh perhatian kerajaan akan tertuju pada Perjamuan Musim Gugur."

Ia mengambil sebuah bidak catur hitam dan meletakkannya tepat di atas lambang Istana Kekaisaran.

"Kalau rencana pertama gagal..."

"...maka kita jalankan rencana kedua."

Seorang pria bertopeng yang berdiri di sudut ruangan segera berlutut.

"Apakah hamba perlu bergerak malam ini?"

Pria tua itu menggeleng.

"Tidak."

"Biarkan mereka merasa aman."

Senyumnya perlahan melebar.

"Karena pukulan yang paling mematikan..."

"...adalah pukulan yang datang saat lawan lengah."

Di luar rumah besar itu, langit malam diselimuti awan hitam.

Tak lama kemudian, kilatan petir membelah cakrawala.

Hujan pertama musim gugur pun turun membasahi ibu kota.

Tak seorang pun menyadari...

Di balik derasnya hujan, roda konspirasi yang mengancam keluarga kekaisaran mulai berputar semakin cepat.

1
Cindy
Ayolah lanjutkan lagi ya ceritanya.
Cindy
👍👍👍👍👍
Jumadi 0707
enak juga bacanya coba lanjut
ℵ⁺⁺💚𝓐𝓾𝓻𝓸𝓻𝓪⁷⁹💚ℵ⁺⁺
Up....Up....☕
🎧✏📖
salam kenal jika berkenan mampir juga👋👍🙏
Rizky Mutha: siap kak, nanti aku mampir
total 6 replies
ShiZi_
kalimat lemah buat sesaat, tenang saja😃
Rizky Mutha: 🥰🥰🥰☺️☺️☺️
total 1 replies
Nori^
berapa kata ni, sekejap ja
Rizky Mutha: 1.250 kata
total 1 replies
Nori^
Tenang kamu lemah hanya satu bab saja, bab selanjutnya jadi kuat kok /Facepalm/
muhmamad fajar Fathurrizky
lanjut update thor ceritanya seru
MiseryInducing
Pas baca endingnya, kerasa kayak kehilangan teman baik. Pokoknya cinta banget sama cerita ini!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!