"Maaf, aku tidak bisa mengkhianati mendiang istriku. Apakah kau ridho jika menjadi istri yang tidak tersentuh? Kalau setuju, ayo kita menikah!" Dave Matthews ( Ex Mafia Black Hawk )
Sekar adalah korban pelecehan ketika gadis itu mencari kerja di kota. Ia menjadi korban penipuan sehingga tak tau kalau ternyata di jual pada seorang Casanova.
Sekar berhasil kabur dan kembali pulang ke desanya. Sayang, gadis belia itu membawa serta benih yang sama sekali tak ia harapkan hadir di dalam rahimnya.
Kenyataan hamil di luar nikah, membuat Sekar putus asa dan berakhir depresi. Sampai seorang pria mualaf yang merupakan mantan mafia bersedia menikahinya.
Sekar menjadi istri yang haram untuk di sentuh sampai ia melahirkan bayi perempuannya.
Dapatkan Sekar, menimbulkan percikan cinta di hati seorang Dave, yang mati bersama jasad mendiang Anne?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Perasaan yang teramat dalam
''Pria gila itu sama sekali tidak memiliki hak apapun terhadap Khanza. Aku pun tidak butuh tanggung jawabnya, karena aku sendiri mampu membiayai segala kebutuhan Khanza. Satu hal yang Darren harus lakukan hanya mempertanggungjawabkan perbuatannya padamu dengan menebus kesalahannya di dalam penjara. Tapi apa, si gila itu malah melakukan berbagai macam cara untuk bisa bebas. Jadi, jangan salahkan aku jika bertindak nekat nanti.''
Mendapati kalimat tegas bernada penuh kemarahan dari Dave, Sekar hanya bisa diam dengan menundukkan wajahnya. Ya, dia dapat merasakan kasih sayang pria itu yang teramat besar kini padanya dan sang putri. Dave bahkan tak ingin ada orang lain yang menyentuh putrinya itu.
Bagi Dave, Sekar dan Khanza adalah amanah dari Allah kepadanya. Karenya ia harus menjaga mereka dengan sebaik-baiknya dan sepenuh jiwa raga. Apalagi setelah tau bahwa Darren memiliki riwayat depresi dalam satu tahun belakangan ini. Bahkan pria itu sebenarnya masih harus menjalani pengobatan.
Untuk itulah, Dave menyiapkan penjagaan ekstra di lingkungan pesantren maupun di kediaman kedua mertuanya. Di tambah lagi, keadaan Gareng masih dalam masa pemulihan pasca penyerangan orang kiriman Wijaya Banaspati beberapa waktu lalu.
Dave melihat istrinya terus menunduk itu, kemudian mendekatinya. Ia mengulurkan tangan untuk menarik wajah itu agar mendongak ke arahnya. Bukan maksudnya mengintimidasi. Ia hanya tak bisa menerima keinginan Sekar. Ia lupa kalau istrinya tak tau apa-apa.
''Maaf, jika cara bicaraku terlalu keras padamu,'' ucapnya sambil menatap lekat mata yang sendu itu. Cahayanya redup semenjak penyerangan orang suruhan Wijaya. Dave tak suka itu. Susah payah ia mengembalikan sinarnya hingga wanita itu kembali bercahaya.
Mata teduh itu menampung cairan yang makin lama makin menggenang dan pada akhirnya tumpah. ''aku yang seharusnya meminta maaf padamu Mas. Karena sudah membuatmu sangat khawatir seperti ini. Hanya saja, aku berpikir begitu karena tak mau hidup dalam dendam. Maaf, jika ternyata pemikiranku salah,'' ucap Sekar pelan, dengan isak tertahan.
''Dendam itu kalau kamu ada niat membalas semua perbuatannya. Kamu gak bisa menerima penjahat sampai mereka benar-benar bertobat. Aku hanya ingin melindungi kalian berdua. Aku sangat menyayangimu Sekar, begitupun dengan Khanza. Walaupun aku ini takkan pernah bisa menjadi ayah kandungnya sampai kapanpun, walau aku tak bisa memberikan nasab di belakang namanya ketika dia menikah suatu hari nanti. Namun ijinkan aku melakukan kewajiban seorang suami dan ayah yang baik dalam islam, dalam bermasyarakat dan bernegara.''
Dave mengutarakan isi hatinya dengan perasaan yang teramat dalam. Bahkan kedua mata pria itu berkaca-kaca. Kedua wanita yang Allah hadirkan dalam hidupnya ini bagaikan separuh dari nyawanya. Ia bahkan semakin kuat dan teguh dengan keyakinannya setelah kehadiran Sekar dan bayi perempuannya yang sangat cantik.
Sekar tak sanggup berkata-kata lagi. Semua ucapan yang meluncur dari bibir suaminya sungguh indah, sehingga menyentuh ke dalam hatinya. Ia dapat merasakan cinta Dave mengalir hangat ke dalam dadanya. Sekar melengkungkan senyum di wajahnya, walaupun kenyatannya air mata yang tumpah membasahi pipi hingga dagunya semakin deras. Ia hanya ingin memeluk pria yang telah menghadirkan pelangi dalam dunia kelabunya itu dengan sangat erat.
''Aku akan menurut apapun keputusanmu, Mas.'' Hanya sebaris kalimat ini yang pada akhirnya mampu Sekar ucapkan.
''Mulai sekarang dan ke depannya, bersikaplah seperti biasa. Jangan bebani pikiranmu dengan masalah ini. Walaupun aktifitasmu akan terbatas, tapi semua demi keselamatan kalian berdua. Kalau mau ketemu ibu dan bapak, biar anak buahku yang akan menjemput mereka.'' Dave berkata dengan sangat lembut sambil mengusap pelan kepala Sekar yang masih tertutup kain mukena.
Tak lama terdengar suara tangis dari dalam box bayi. Khanza terlihat menghentak-hentakkan kakinya, pertanda popoknya penuh dengan kotoran, Sekar sontak membuka mukenanya dan meletakkannya asal. Ketika ia akan menghampiri Khanza, Dave menahannya.
''Biar aku yang mengurus Khanza, kamu tolong buatkan aku kopi saja ya,'' pinta Dave dengan sopan dan lembut.
Sekar pun mengangguk dan tersenyum. Ia keluar dari kamar dan bergegas menuju dapur. Membiarkan sang suami untuk mengurus putrinya. Ia percaya karena Dave paham agama dan sangat tulus mencintai mereka.
Dave mendekati bayi perempuan yang semakin menggemaskan dan cantik itu. Dave sangat bersyukur karena Khanza banyak menuruni genetik ibunya. Tapi entah ketika dia dewasa kelak. Dave harap tak ada genetik buruk yang menempel padanya. Ia yakin Sekar akan mampu mendidik putrinya menjadi muslimah yang sholihah.
Dave membuka pinggiran box sambil tersenyum, melihat wajah bayi itu semakin merah lantaran kesal. ''Sabar ya putrinya Ayah. Permisi ya, Ayah ijin buka diapers kamu,'' kata Dave. Pria itu memang selalu meminta ijin acapkali hendak membuka pakaian bayinya. Kemudian, Dave membersihkan kotoran ang terdapat di bokong bayi itu dengan pelan dan lembut, tanpa rasa jijik sama sekali.
Dave masih ingat ketika dulu dia melakukan ini pada Velicia. Sehingga ia terlihat lihai dalam melakukannya. Sekar yang sebenarnya ada di depan pintu sejak tadi, cukup terharu dan meleleh hatinya melihat cara Dave memperlakukan Khanza.
''Ya Allah, tolong persatukan kami lebih lama di dunia ini, dan pertemukan lagi nanti di surgamu,'' ucap Sekar dalam hati, sambil mengusap titik air di ujung matanya.
Hingga beberapa hari ke depan mereka menjalani hari-hari dengan bahagia. Sekar bisa melupakan masalahnya bersama cinta seorang duda matang seperti Dave. Walaupun usia mereka terlampau jauh namun Dave mampu mencintainya dengan lembut dan menyenangkan.
Pesantren terlihat sibuk karena dalam beberapa hari ke depan mereka akan mengadakan penyambutan bulan suci Ramadhan. Momen ini rupanya di manfaatkan oleh seseorang yang selama beberapa hari ini sukses memantau pergerakan di tempat itu dengan penyamarannya.
''Kalian pikir aku sudah kalah, setelah kalian berhasil menjebloskanku ke penjara.'' Darren memasang seringai sinisnya sambil memperhatikan pergerakan para santri yang terlihat sibuk itu.
''Oh Dave. Kau pikir dengan menempatkan penjaga segitu banyak sanggup menghentikan rencanaku? Tidak akan! Aku akan tetap memperjuangkan bayiku. Dia milikku bukan milik kalian!'' ucapnya dengan emosi tertahan.
Zayn nampak memperhatikan siluet dari sosok yang membuatnya curiga selama beberapa hari ini. Namun ia takkan melaporkannya pada sang mertua maupun ayahnya. Ia berniat menyelidikinya lebih dulu. Zayn tak mau berprasangka buruk dan mudah berpikiran negatif pada sembarang orang.
Zayn memerintahkan pada santrinya untuk mengumpulkan kaum dhuafa di sekitar pesantren. Karena pesantren Darussalam akan mengadakan santunan di acara tarhib ramadhan nanti. Acara yang mulai rutin di adakan setiap tahun semenjak tempat menimba ilmu islam ini berdiri dengan kokoh.
''Baik Pak ustadz. Ijinkan saya menggerakkan para santri yang di bina dalam organisasi kepemudaan dan sosial,'' ucap santri tersebut sebelum ia pamit undur diri.
Malam itu Dave terlihat berbicara serius dengan istrinya.
''Besok, pesantren mengadakan tarhib ramadhan dengan warga sekitar.'' Dave menjeda ucapannya dengan tatapannya yang lekat ke arah Sekar.
''Jadi, aku boleh ikut berbaur atau tidak, Mas?'
Sebelum menjawab Dave terlihat menghela napasnya.
''Boleh, tapi di dalam barisan para ustdjah dan satriwati saja. Maaf jika aku terlalu protektif. Si gila Darren bisa saja sudah kembali berada di sekitar sini.''
''Aku mengerti, Mas.'' Sekar menanggapi ucapan suaminya dengan senyum dan melendot manja. Ia suka di lindungi seperti itu.
*
*
Darren tersenyum licik ketika dirinya telah berada di kumpulan para warga yang berhak menerima santunan.
sama sini hujan trs,,,,,ni kopi buat teman nls biar cpt u🤣💞💞
males update jadinya 🥲
masih setia menunggu