Darimu aku belajar mencintai dengan ikhlas, meski tak terbalas.
(Nama yang selalu menjadi perbincangan disepertiga malamku)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Selama pengajian berlangsung Ghina hanya menempel pada Indara. Gadis kecil itu terlihat anteng di atas pangkuan Indara. Hal itu tak jarang mengundang tanya bagi mereka yang mengikuti pegajian. Tak terkecuali Vira yang berada beberapa radius dari mereka.
“Bahkan Ina begitu dekat dengannya.” Vira membatin dan memejamkan mata berat seraya menghela nafas.
Tak terasa waktu berlalu, pengajian pun berakhir. Tanpa disadari sosok mata dengan sorot yang bersahaja dan ramah sesekali menatap Indara disela pembicaraannya mengisi materi sore itu.
Wanita paruh baya itu tersenyum tipis sambil berdoa didalam hati. Entah doa apa yang di panjatkan. Hanya dia dan Pencipta yang mengetahuinya.
Setelah pengajian ditutup terlihat beberapa diantara yang hadir mulai menuju kepelataran masjid untuk kembali kerumah masing-masing, ada juga yang masih berbincang-bincang kecil, dan ada yang masih enggan untuk beranjak dari tempat duduknya, termasuk keluarga Indara. Mereka asyik berbincang dengan sesekali terdengar gelak tawa.
“Indara.” Panggil seseorang berdiri tepat didepan Indara.
Gadis yang dipanggil namanya itupun langsung mendongak dan tersenyum hangat “Iya bu Nyai.” Jawab Indara.
“Kamu apa kabar nak ?” Tanya Bu Nyai kembali yang seolah mengabaikan orang-orang yang ingin berbicara dengannya.
“Alhamdulillah baik bu nyai. Terima kasih sudah menanyakan kabar saya bu.” Ucap Indara sopan dengan senyum yang senantiasa tersemat dibibirnya. “Bu Nyai bagaimana kabarnya?”
“Alhamdulillah nak, sehat. Mungkin salah satunya karena doa dari nak Ara, Hehe.” papar bu nyai dengan diakhiri tawa kecil.
“Ara.” Kepala Indara kembali mendongak saat seseorang memanggil namanya.
“Iya bude’.” Jawabnya.
“Ayo nak, kita harus pulang sebelum masuk Magrib, kasian ntar Bu Titi buru-buru buat nyiapin makan malam.” Jelas Bude’ Aya pada keponakannya.
Sementara saat Bude’ Aya berbicara, ia melihat bahwa yang lain sudah bersiap dan berdiri dari tempat duduk. Menandakan bahwa mereka akan segera beranjak dari masjid.
“Oh iya bude’.”
“Tuan putri, sepertinya kita harus pisah hari ini. Tante sudah mau pulang.” Ucap Indara pada gadis yang masih berada dipangkuannya itu.
“Apa tante Ara nggak mau kerumah nenek nyai ?”
“Sepertinya lain kali sayang.” Jawab Indara lembut dan sopan.
“Apa Ina boleh kerumah tante Ara, besok biar dijemput Om Ibam.” Permintaan gadis kecil itu dengan polosnya.
Indara gelagapan menjawab pertanyaan tiba-tiba dari Ghina, sontak membuat ia mengangkat kepala dan menatap yang lain secara bergantian. Dalam pandangan Indara juga terlihat Vira yang masih berada disamping ibunya, sambil menatap kearah Indara dengan tatapan sayu. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis cantik itu.
“Bagaimana ini ?” Tanya Indara pada Bude’ Aya tanpa mengeluarkan suara.
Dila mamanya Ghina yang mendengar permintaan sang anak sontak saja langsung duduk tepat didepan Indara dan Ina. “Sayang, pergi kerumah tante Aranya besok saja yah. Ini sudah sore.” Jelas Dila dengan lembut pada putri semata wayangnya itu.
“Ina maunya sekarang mama, biar besok pagi om Ibam yang jemput.”
“Sayang.” Dila seperti bisa membaca pancaran mata Ghina yang mulai berkaca-kaca. Dila mengetahui maksud dari kata besok yang keluar dari mulu Ghina, itu artinya gadis itu ingin menginap dengan Indara.
Dila yang tak tega melihat putrinya memperlihatkan tatapan memelas berusaha untuk membujuknya “iya, mama ijinkan Ina kerumah tante Ara. Tapi nanti Ina pulang bareng mama yah, sebelum Magrib. Gimana ?” Nego Dila.
“Ara maunya besok pagi mama.” Dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan siap menumpahkan cairan.
“Umi ?” Dila malah bertanya pada Bu Nyai Zainab.
Orang yang ditanya sudah mengetahui arah dari panggilan anaknya, “Ina, tanya dulu sama Bu’ Haya sayang, apa boleh Ina menginap dirumahnya ?” Ucap Bu Nyai Zainab pada cucu pertamanya itu.
“Umi.” Panggil Dila yang ditandai dengan wajah yang khawatir jika Ina akan melakukan hal yang tidak-tidak jika bermalam bersama Indara.
Bu Nyai Zainab mengelus lengan Dila dan meyakinkan anaknya, bahwa Ina akan baik-baik saja bersama Indara.
Sementara itu, Ina sudah bangkit dari pangkuan Indara dan berjalan menuju arah Bude’ Aya. “Bu Haya, mau kan mengajak Ina menginap bersama tante Ara. Besok Ina pulang kok bu.” Rengek Ina dengan polosnya.
Aaah siapa yang tidak gemas melihat permintaan sederhana gadis kecil yang cantik itu. bude’ Haya tersenyum sembari berkata “Kalau tante Ara ijinin Ina buat tidur bersama, iya Bu Haya ijinkan Ina menginap.”
Kini pandangan Ina beralih pada Indara yang masih terduduk dan meraih tas disampingnya. “Tante.” Rengek gadis kecil itu kembali.
“Iya tuan putri.” Jawab Indara dengan senyum manisnya sambil mengangguk pertanda menyetujui.
“Yeeee, Alhamdulillah.” Ucap Ina dengan penuh kegirangan dan memeluk Indara kembali.
“Ya sudah kalau gitu, nenek ambilkan baju tidur Ina kerumah dulu yah.” Ucap Bu Nyai Zainab dengan membawa kakinya menuju luar masjid.
Jangan lupakan Vira yang masih berdiri melihat kejadian itu.
Sakit
Itu yang dirasa gadis itu.
Bagaimana tidak, Ghina yang bahkan jauh mengenalnya lebih dulu daripada Indara. Malah lebih dekat dengan Indara saat ini.
“Ya Allah, kenapa bisa sesakit ini rasanya. Seperti ditikam dengan benda tajam dan dihantam dengan batu besar.” Gumamnya dengan suara yang seperti tertahan ditenggorokan.
***
Semuanya sudah berada diluar masjid menunggu Bu Nyai Zainab membawa baju ganti untuk Ina, atau lebih tepatnya baju tidur yang memang tetap tersedia dirumah pemilik pesantren itu.
Tak berapa lama terlihatlah wanita paruh baya dengan guratan cantik yang masih melekat meski usianya tak muda lagi.
“Ara, ini nak bajunya.” Ucapnya sambil memberi sebuah paper bag pada Indara.
“Oh iya bu.” Jawab Indara sambil menerimanya dengan tangan kanan.
“Sudah tidak yang tertinggal lagi atau kelupaan ?” Tanya Bude’ Aya kembali memastikan.
“Sepertinya sudah ma.” Ucap Gamila yang masih terduduk di anak tangga masjid.
“Ya sudah, ayo pulang.” Ajak Bude’ Aya dan menatap kearah Bu Nyai Zainab dan Dila. Sementara Vira dan ibunya sudah lebih dulu pamit.
“Assalamualaikum Bu Nyai, mbak Dila.” Ucap mereka berbarengan, semantara Ina tersenyum manis dan berjalan sambil bergandeng tangan dengan Indara.
“Waalaikumussalam.” Jawab Bu Nyai Zainab dan Dila juga bersamaan.
Sesaat setalah sampai diparkiran, Indara bertanya pada Ina “Tuan putri mau naik motor atau mobil ?” gadis itu terlihat berjongkok untuk menyamaratakan tingginya dengan Ina dan menjalin kontak mata.
“Sama tante Ara aja.” Jawab Ina sambil melihat Indara dan tersenyum.
“Kalau gitu, kita pake motor yah putri.” Jelas Indara.
“Oke tante.” Ina menjawab dengan antusias dan segera menaiki juga duduk dibelakang Naura. Sementara Indara pun terlihat duduk menyamping. Setelah itu, motor yang mereka tumpangi kembali melewati gerbang pesantren.
“Daaaah mama, daaaah nenek nyai. Jangan lupa besok pagi jemput Ina.” Ucap gadis itu dengan sedikit berteriak pada dua wanita yang disayanginya itu sembari melambaikan tangan, pun terlihat hal yang sama dengan dua wanita yang tadi dipanggilnya.
“Umi.” Panggil Dila tanpa melihat kearah uminya karena masih fokus melihat motor yang ditumpangi Ina.
“Iya kenapa ?” Tanya Bu Nyai dan beralih menatap Dila.
“Sepertinya Ina menyukai gadis itu.” Ucap Dila dengan senyum tipis dibibirnya.
Bu nyai Zainab yang bisa menangkap arah pembicaraan Dila berucap “Jika kamu menyukainya, doakan saja, semoga saja. Tapi jangan memaksanya, biarkan dia yang menentukan pilihannya. Kita hanya bisa berharap yang terbaik bukan.” Jelas Bu nyai dengan menepuk pelan bahu Dila.
Dila hanya tersenyum dan mengangkat bahunya, kemudian keduanya berbalik dan memunggungi gerbang pesantren untuk kembali kerumah.