mohon maaf saya menganti nama dari Kaisar agung jadi sang pewaris darah naga.
tiktok: barxzzz
setiap hari update: 2/3 bab.
al kisah seorang pemuda Lin Xieng yang di anggap gagal oleh keluarga nya, tapi suatu ketika di dalam hutan Lin xieng menemukan bola misterius yang ternyata bola misterius tersebut adalah inti fondasi kultivasi kaisar xuan pada zaman dinastiqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Alfatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35: cermin kenangan
Langkah-langkah mereka menyusuri lembah sunyi masih terasa dibayangi gema kuil kenangan. Angin senja menggiring aroma tanah basah dan debu kuno yang belum sempat lepas dari jubah mereka. Namun sebelum sempat saling bicara lebih jauh, sesuatu membuat Lin Xieng menoleh cepat ke arah timur.
"Kalian dengar itu?" tanyanya.
Chu Qingli mengangguk pelan. "Suara... semacam dentingan logam."
Dari balik semak belukar dan kabut tipis, suara benturan—seperti dua pedang yang beradu—terdengar berkali-kali, teratur seperti alunan nyanyian perang. Lin Xieng memberi isyarat, dan mereka bertiga mendekat tanpa suara.
Di hadapan mereka, terbentang dataran kecil dikelilingi reruntuhan gerbang kuno. Di tengahnya, dua sosok bertarung. Yang satu bertubuh ramping, mengenakan jubah biru langit; yang satu lagi tinggi besar dengan baju tempur dari kulit naga hitam.
"Itu... latihan atau pertarungan sungguhan?" bisik Lian Bo, setengah waspada setengah terpesona.
Namun sebelum ada yang menjawab, salah satu dari dua sosok itu—yang berjubah biru—terpental, menghantam dinding reruntuhan. Kabut pun tersibak.
"Ah, tidak... itu dia!" seru Chu Qingli. "Itu kakakku!"
Lin Xieng menoleh tajam. "apa kakak mu? "
Wanita yang terpental itu bangkit perlahan, mengusap sudut bibirnya dari darah. Meski tubuhnya tampak kelelahan, matanya justru penuh nyala murka. Di hadapannya, pria berkulit legam dengan tanduk kecil di keningnya tertawa pelan.
"Kau terlalu lemah untuk menjaga kunci cermin, Xiumei," ujar pria bertanduk itu. "Biarkan aku yang menjaganya. Demi dunia."
"Dunia mana yang kau maksud?" Chu Xiumei meludah. "Yang menghapus sejarah? Yang menjadikan cinta alasan untuk pembakaran massal?"
Pria itu melangkah maju. Namun sebelum bisa menyelesaikan langkahnya, Lin Xieng melesat. Dalam sekejap, dia telah berdiri di antara Chu Xiumei dan pria bertanduk itu.
"Kalau kau benar-benar menginginkan kunci itu, maka kau harus melewatiku dulu."
Sang pria mendengus. "Dan siapa kau?"
"Orang yang belum dilupakan. Dan tidak akan."
Seketika itu pula, api berwarna biru menyala dari telapak tangan Lin Xieng. Teknik Langit Retak, Naga Mengguncang Jiwa mulai mengalir, tak sepenuhnya dilepaskan, tapi cukup untuk membuat reruntuhan di sekitarnya gemetar.
"Hmph," ujar pria itu. "Aku tak berniat membunuh kalian. Tapi ingatlah, Cermin Kenangan bukan mainan bocah. Jika kalian membukanya, maka kalian akan melihat... apa yang tak ingin kalian ketahui."
Dengan satu lompatan ringan, ia mundur dan menghilang ke balik kabut, meninggalkan aroma belerang dan rasa getir yang menggantung di udara.
Chu Xiumei tersenyum lemah. "Terima kasih... siapa pun kau."
"Lin Xieng," jawabnya pendek. "Dan itu Lian Bo. Yang satu lagi... pasti kau sudah tahu."
Chu Qingli langsung memeluk kakaknya, wajahnya tegang. "Kenapa kau tak bilang apa-apa soal ini? Soal Cermin Kenangan?"
Xiumei menarik napas panjang. "Karena tak ada yang percaya. Bahkan kepala keluarga pun ingin menghancurkannya. Tapi dia... pria tadi, dari Klan Raudra, ingin menyimpannya untuk membuka masa lalu dan mengubahnya sesuai kehendaknya."
"Mengubah masa lalu?" gumam Lian Bo. "Bukannya itu... mustahil?"
"Tidak jika kau punya darah Zaman Keempat," jawab Chu Xiumei. "Dan dia... memilikinya."
Lin Xieng terdiam sesaat. Darah Zaman Keempat adalah legenda. Mereka yang dilahirkan dengan darah itu konon bisa melintasi batas waktu—bukan sebagai tubuh, melainkan sebagai jiwa. Mengamati, mengubah, bahkan... menggantikan.
"Kita harus menemui pemilik Cermin Kenangan sebelum dia."
Chu Xiumei mengangguk. "Dan satu-satunya jalan ke sana... adalah melalui Labirin Cermin."
Perjalanan menuju Labirin Cermin tidak mudah. Mereka menunggangi hewan pelari spiritual sepanjang malam melewati hutan-hutan yang membisikkan nama-nama yang tak mereka kenali.
Di pagi harinya, mereka tiba di lembah terlupakan, tempat kabut seakan tidak pernah lenyap. Sebuah bangunan berbentuk menara spiral berdiri di tengah, terbuat dari pecahan kaca dan tulang.
"Labirin Cermin..." bisik Chu Qingli. "Kenapa terlihat seperti mimpi buruk?"
"Karena tempat ini tidak dibangun untuk manusia," jawab kakaknya.
Saat mereka mendekat, bayangan mereka sendiri mulai melengkung. Cermin-cermin di menara itu seolah memantulkan lebih dari sekadar rupa; ia memperlihatkan ketakutan, harapan, dan kadang... masa depan.
Begitu memasuki labirin, mereka segera terpisah. Ruangan demi ruangan menyambut setiap individu dengan perjalanannya sendiri.
Lin Xieng berdiri di ruang berisi seribu cermin. Dalam satu cermin, ia melihat dirinya di masa kecil, dikejar oleh makhluk hitam. Di cermin lain, ia melihat dirinya di medan perang, darah menetes dari mata.
Namun satu cermin membuatnya terpaku: dirinya yang lebih tua, duduk di singgasana raksasa, dikelilingi bayangan yang menyembah... dan Chu Qingli berdiri di sisinya, dengan mata yang kosong.
"Ini... masa depan?" gumamnya.
"Atau kemungkinan yang akan datang jika kau memilih takdir itu," ujar suara dari balik pantulan. Sosok berjubah hitam muncul dari cermin. "Maukah kau menukar segalanya demi kekuasaan?"
Lin Xieng menggenggam liontin pemberian ibunya. "Aku tak menukar apa pun. Aku memilih... dan akan terus memilih."
Ia memukul cermin itu. Kepingannya tak memecah, tapi menyerap, dan jalan ke ruang berikutnya terbuka.
Di sisi lain, Lian Bo tengah dikejar oleh... dirinya sendiri yang mengenakan pakaian sekte hitam dan tertawa seperti orang gila.
"Kalau aku jadi penjahat, setidaknya jangan sejelek ini!" serunya sambil berlari, tergelincir, dan justru menubruk cermin.
Ia terbangun di ruangan lain, di mana seekor babi bersayap mengenakan jubah kaisar duduk di atas takhta.
"Kau gagal dalam ujian cermin, Lian Bo. Sekarang... makanlah mi takdir."
"APA INI?!"
Ternyata hanya ruang ilusi. Tapi cukup membuatnya berjanji akan berhenti makan mi tengah malam.
Sementara itu, Chu Qingli bertemu dengan dirinya sendiri yang menangis. Sosok itu berlutut di depan pusara bertuliskan nama Lin Xieng.
"Ini bukan nyata..." bisiknya.
"Tapi bisa jadi nyata... jika kau tak melindunginya."
Dia mengangguk. "Kalau begitu, aku akan melindunginya. Dengan segalanya."
Cermin itu hancur. Jalan terbuka.
Akhirnya, mereka bertiga bertemu kembali di pusat labirin. Di sana berdiri sosok tua berambut putih—mata kosong, tapi di tangannya ia memegang sebuah cermin kecil bundar.
"Kalian lulus... tidak karena kuat. Tapi karena tidak menyangkal kerapuhan kalian sendiri."
Sosok itu menyerahkan cermin itu pada Lin Xieng. Cermin Kenangan.
"Dan sekarang, kalian tahu: ingatan bukan untuk dihapus... tapi untuk dijaga. Karena hanya yang mengingat, yang akan tetap ada."
Cermin itu berpendar, memantulkan cahaya... dan dalam pantulannya, Lin Xieng melihat—sekelebat wajah ayahnya.
"Kita harus kembali," ujar Lin Xieng. "Sebelum mereka yang ingin mengubah masa lalu... menghapus masa depan."
Dan di tengah cahaya cermin dan keheningan labirin, mereka bersiap melangkah lagi.
Menuju babak baru, di mana sejarah bukan hanya ditulis... tapi diperebutkan.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣