NovelToon NovelToon
Rahasia Pesugihan Pamanku

Rahasia Pesugihan Pamanku

Status: tamat
Genre:Horor / Dendam Kesumat / Tumbal / Tamat
Popularitas:199.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: ummiqu

Ruci tak percaya mendapati kenyataan paman kesayangannya menempuh jalan yang salah.

Hanya karena jenuh menjalani hidup miskin dan susah, Dirga pun memilih mengambil jalan pintas untuk meraih kekayaan. Meski jauh di lubuk hatinya Dirga sadar jalan yang dia pilih akan membawa kesengsaraan untuknya kelak, tapi nampaknya Dirga tak peduli.

Dirga hanya ingin membungkam mulut orang-orang yang selalu menghina kemiskinan dan ketidak berdayaannya. Dia ingin membuat orang-orang yang menghinanya itu bertekuk lutut dan memohon di hadapannya seperti yang pernah dia lakukan dulu.

Apakah setelah membalas dendamnya Dirga merasa cukup dan berhenti bersekutu dengan iblis ?.

Haruskah Ruci menyingkap tabir rahasia kelam sang paman untuk mengakhiri penderitaannya ?.

Jawabannya hanya ada di dalam novel ini.

Penasaran ... ?

Simak kisah selengkapnya yuuk ....

( Kisah ini hanya fiktif dan buah pemikiran Author. Mohon bijak membaca dan berkomentar. Terimakasih ... 🙏😊)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Lanjutin Pestanya ...!

Usai sholat Maghrib berjamaah, Yasin nampak masih khusu berdzikir. Murad pun ikut berdzikir di samping sang adik dan itu membuat kedua anaknya tersenyum senang. Sebab biasanya Murad tak suka berlama-lama di masjid. Bahkan sejak kepergian istrinya, Murad enggan sholat berjamaah di masjid atau musholla.

Semua anggota keluarga memutuskan menunggu Yasin dan Murad menyelesaikan dzikirnya baru kembali ke rumah Dirga bersama-sama nanti.

Sambil menunggu, mereka juga bertanya-tanya dalam hati mengapa Dirga dan keluarganya tidak ikut serta dalam ibadah sholat Maghrib kali ini.

"Kenapa om Dirga ga ikutan sholat berjamaah kaya kita ya Kak?" tanya Mieke setengah berbisik.

"Ga tau. Om Dirga kan jadi tuan rumah pesta, makanya biar praktis mungkin dia sholat di rumah sama keluarganya," sahut Majid mencoba berbaik sangka.

"Kayanya ga deh. Soalnya waktu kita keluar dari rumah om Dirga, aku kan sempet nengok ke belakang tuh. Aku liat om Dirga dan keluarganya masih duduk di tempat semula. Justru om Dirga keliatan marah banget karena kita tinggalin tadi," kata Mieke.

"Masa sih?" tanya Majid tak percaya.

"Iya Kak. Terus soal pesta itu, apa Kakak ga merasa ada yang aneh?" tanya Mieke.

"Aneh kenapa Ke?" tanya Majid tak mengerti.

"Ini mirip banget sama cerita temen aku waktu aku belajar di luar negeri dulu Kak. Kata temenku, ada sekte pemuja setan yang suka ngadain pesta dengan tema yang sedikit nyeleneh bahkan bisa dibilang ga lazim. Dan menurutku, tema pestanya om Dirga juga sedikit ga wajar. Iya ga sih?" tanya Mieke cemas.

Ucapan Mieke juga terdengar oleh Ruci dan Yudhistira yang saat itu berdiri dekat dengan Mieke. Kedua kakak beradik tersebut nampak saling menatap sambil mengangguk samar. Meski pun begitu keduanya memilih diam dan menyimak percakapan Mieke dengan kakaknya.

"Sssttt ... jangan keras-keras ngomongnya Ke. Kalo didenger orang bisa jadi fitnah nanti. Lagian kamu jangan suudzon dulu lah. Mana mungkin om Dirga ikut sekte sesat yang kamu bilang itu," kata Majid.

"Aku ga nuduh om Dirga ikut sekte sesat Kak. Aku cuma bilang pestanya om Dirga itu mencurigakan," kata Mieke tak mau kalah.

"Iya, itu sama aja kamu nuduh Ke. Terus kamu maunya gimana?" tanya Majid dengan sabar.

"Aku mau pulang!" sahut Mieke.

"Ck, jangan kaya anak kecil deh. Masa gitu aja minta pulang. Ga enak lah sama om Dirga. Kita udah sepakat ga ngikutin jejak mama yang suka seenaknya sama om Dirga dan keluarganya ya Ke. Jadi please, jangan kamu langgar dong!" kata Majid sambil menatap sang adik dengan lekat.

Mieke nampak mendengus kesal karena Majid tak mendukung keinginannya.

Tak lama kemudian Yasin dan Murad pun selesai dengan dzikir mereka. Saat melihat ketegangan di wajah Mieke, Murad pun paham jika telah terjadi sesuatu antara Mieke dan Majid.

"Ada apalagi sekarang Jid?" tanya Murad.

"Ga ada apa-apa Pa. Cuma salah paham aja sedikit. Iya kan Ke?" tanya Majid sambil melirik kearah Mieke.

"Salah paham apa sih Kak. Aku emang ngomong apa adanya kok!" sahut Mieke ketus.

"Ini ribut soal apa sih. Kalo tau kaya gini Papa ngajak Mila tadi," kata Murad.

"Kok gitu sih Pa," protes Mieke.

"Emang begitu kan?. Karena cuma Mila yang bisa mendamaikan kalian," sahut Murad kesal.

"Tapi ada bagusnya juga kak Mila ga ikut, karena anak kak Mila kan masih kecil. Ini terlalu beresiko buat dia Pa. Bahaya!" kata Mieke.

"Bahaya apa sih maksud kamu Ke?" tanya Murad tak mengerti.

Namun sebelum Mieke menjawab pertanyaan ayahnya, Majid telah lebih dulu membekap mulutnya agar Mieke tak bicara. Tentu saja Mieke marah dan menjerit.

"Lepasin Kak. Sakit tau!" kata Mieke lantang sambil mendorong tubuh Majid dengan keras hingga terhempas ke belakang.

Majid yang tak terima didorong pun nampak bersiap membalas perbuatan Mieke. Melihat keributan yang terjadi antara Mieke dan Majid membuat Yasin dan keluarganya turun tangan melerai.

Setelah Mieke dan Majid lebih tenang, Yasin pun bertanya apa penyebab keributan mereka. Majid pun menjelaskan semuanya dengan rinci dari awal hingga akhir termasuk tentang dugaan Mieke yang menuduh Dirga sebagai pengikut sekte sesat.

Yasin menghela nafas panjang usai mendengar uraian Majid tadi. Setelahnya dia justru bicara sesuatu yang mengejutkan semua orang.

"Om setuju sama Mieke. Pestanya om Dirga emang mencurigakan banget," kata Yasin sesaat kemudian.

"Eh, maksud kamu gimana Sin?" tanya Murad tak mengerti.

"Begini Bang. Dirga mengadakan pesta dengan kostum berwarna kaya gini aja udah bikin aku curiga. Soalnya ini di luar kebiasaan Dirga banget. Abang inget ga kalo Dirga ga suka warna merah, tapi kenapa dia milih warna ini untuk tema pestanya," kata Yasin.

"Mungkin permintaan anak atau istrinya," sahut Murad santai.

"Mustahil Bang. Setauku, sejak kaya raya, Dirga jadi sosok yang arogan di keluarganya. Jadi mana mungkin dia membiarkan keluarganya menentukan tema pestanya," kata Yasin.

Ucapan Yasin membuat semua orang tersentak dan saling menatap setelahnya. Ruci dan Yudhistira nampak tersenyum senang karena akhirnya sang ayah menyadari sesuatu yang tak biasa pada pesta yang digelar Dirga.

"Jadi Kita harus gimana Yah?" tanya Yudhistira kemudian.

"Sama seperti yang Mieke bilang tadi, tinggalin pesta itu dan kita pulang ke rumah masing-masing," sahut Yasin.

"Terus kendaraan kita gimana Yah?" tanya Yudhistira.

"Biarin aja. Kita jemput besok atau lusa kan bisa. Pokoknya jauhi rumah Dirga sekarang. Titik!" sahut Yasin tegas.

Jawaban Yasin membuat wajah Mieke dan Ruci dihiasi senyum lebar. Tanpa sadar kedua gadis itu bersorak gembira sambil saling adu toast. Nia yang menyaksikan aksi anak perempuan dan keponakannya itu pun ikut tertawa.

"Ya udah kalo emang begitu keputusan kamu. Jujur aku bingung dan ga mudeng sama apa yang terjadi. Daripada salah langkah, ya aku ikut apa katamu aja Sin," kata Murad.

"Iya Bang. Urusan sama Dirga biar aku yang handle nanti," sahut Yasin.

"Ok. Ayo kita pulang anak-anak," ajak Murad.

"Iya Pa," sahut Majid dan Mieke bersamaan.

Kemudian kedua keluarga itu saling bersalaman sebelum berpisah. Setelahnya mereka melangkah kearah Taxi yang kebetulan parkir di depan masjid karena supirnya juga baru saja menunaikan sholat Maghrib di masjid itu. Dan dalam hitungan detik, Yasin dan Murad beserta keluarganya masing-masing telah hengkang dari tempat itu.

Sementara itu Dirga nampak menunggu dengan cemas di rumah. Sudah empat puluh lima menit tamunya tak kembali setelah pamit pergi ke masjid tadi.

"Mereka kemana sih. Ini udah lebih dari setengah jam lho," gumam Dirga sambil menatap keluar rumah.

Tiba-tiba ponsel Dirga berdering. Dia bergegas menerima panggilan tersebut saat tahu yang menghubunginya adalah Yasin.

Ternyata Yasin memberi tahu bahwa dia dan keluarganya tak bisa kembali ke rumah Dirga karena harus mengantar Murad ke Rumah Sakit. Dirga yakin Yasin berbohong padanya. Karena itu dia bermaksud membuktikan ucapan sang kakak nanti.

Kemudian Dirga membalikkan tubuhnya lalu menghampiri keluarganya yang sedang duduk mengelilingi meja. Saat Dirga akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba sebuah suara tanpa wujud masuk ke dalam telinganya.

"Lakukan sekarang atau kamu akan kehilangan semuanya Dirga ... !"

Dirga tersentak lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia terlihat kacau. Eva yang terus mengamati suaminya sejak tadi pun memberanikan diri bertanya.

"Ada apa Pak?" tanya Eva.

"Bang Murad sakit Bu. Bang Yasin dan semuanya nganterin ke Rumah Sakit dan ga bisa balik ke sini," sahut Dirga.

"Iya, aku tau itu. Terus apa yang bikin Bapak bingung?" tanya Eva penasaran.

"Maafin aku karena ga bisa ceritain ini sama kamu. Sekarang aku minta kamu sama anak-anak tunggu di sini dan jangan kemana-mana. Aku keluar sebentar mau jemput seseorang," sahut Dirga sambil mulai melangkah.

"Jemput siapa Pak?" tanya Eva sambil mencekal lengan suaminya.

"Kamu juga tau nanti," sahut Dirga sambil bergegas pergi.

"Pak tunggu. Bapak ... !" panggil Eva.

Tapi sayang Dirga mengabaikan panggilan istrinya itu. Dia masuk ke dalam mobil lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi. Eva nampak menatap kepergian Dirga dengan cemas. Dia khawatir sesuatu yang buruk akan menimpa keluarganya.

"Bapak mau kemana Bu?" tanya Erman.

"Ibu ga tau Man. Bapak ga bilang tadi," sahut Eva.

"Kalo pestanya ga jadi, apa makanan ini boleh dimakan Bu?" tanya Diki penuh harap.

Eva mengamati makanan dan minuman yang tersaji di atas meja dengan seksama lalu mengangguk.

"Tang ini dan ini aja ya. Yang ditutup pake kelambu merah jangan disentuh sama sekali. Ibu khawatir bapak marah kalo kita sentuh itu tanpa seijinnya," kata Eva sambil menyodorkan makanan dan minuman yang dibeli Ruci tadi.

"Ok Bu!" sahut Diki antusias.

Kemudian Diki mengajak Erman menikmati makanan dan minuman pilihan Eva. Keduanya nampak tertawa bahagia tapi tidak dengan Desi. Gadis itu hanya diam sambil mengamati tingkah kedua adiknya.

"Kamu kenapa Des?" tanya Eva setelah meletakkan si bungsu di kamar.

"Ga tau Bu. Aku ngerasa ... takut," sahut Desi ragu.

"Takut sama apa ?. Bapak kan ga marah sama kita tadi," kata Eva tak mengerti.

"Justru itu Bu. Lebih baik bapak marah biar aku tau apa maunya bapak daripada diem kaya gitu. Aku takut bapak melakukan sesuatu yang ga seharusnya Bu," sahut Desi cemas.

"Jangan berbelit-belit Des, Ibu ga ngerti. Maksud kamu tuh apa sih?" tanya Eva.

Belum sempat Desi menjawab pertanyaan sang ibu, suara mobil Dirga terdengar memasuki halaman rumah. Tak lama kemudian terlihat Dirga melangkah masuk bersama seorang pria yang juga mengenakan pakaian berwarna merah dan gold.

Melihat kedatangan Dirga yang tiba-tiba membuat Erman dan Diki terkejut. Keduanya lari ke dalam kamar dan meninggalkan makanan mereka begitu saja. Dirga hanya melirik aksi kedua anaknya itu tanpa mengatakan sesuatu.

"Sekarang kita bisa lanjutin pesta kita Bu!" kata Dirga lantang.

"Bukannya Kita mau jenguk bang Murad di Rumah Sakit ya Pak?" tanya Eva tak mengerti.

"Ga perlu. Bang Murad udah diurus sama bang Yasin. Kita lanjutin pesta kita aja. Kan orang yang menjadi alasan digelarnya pesta udah ada di sini. Oh iya, kenalin ini pak Bahar. Dia akan jadi menantu kita alias suami Desi Bu," kata Dirga sambil menoleh kearah pria disampingnya.

Bahar nampak tersenyum lebar mendengar ucapan Dirga, tapi tidak dengan Eva dan Desi.

"Apa?!" jerit Eva dan Desi bersamaan.

"Ga usah kaget begitu, biasa aja lah. Sini Des, kenalan dulu sama calon Suamimu," panggil Dirga sambil melambaikan tangannya kearah Desi.

"Aku ga mau Pak ... " sahut Desi sambil sembunyi di belakang tubuh ibunya.

"Jangan membantah Des!" bentak Dirga lalu bergegas menghampiri Desi.

"Jangan kaya gini Pak. Kasian Desi," kata Eva sambil berdiri menghadang dengan kedua tangan direntangkan.

"Kasian apanya Bu. Aku mau nikahin Desi sama laki-laki yang jelas bibit bebet dan bobotnya. Bukan kaya si Aris yang cuma bisa jadi benalu aja di keluarga kita!" kata Dirga marah.

"Apa ga salah Pak. Bahkan umur pak Bahar aja lebih tua dari kamu. Dia lebih pantes jadi kakeknya Desi daripada suaminya. Masa Kamu tega nikahin anak kita sama bandot tua kaya dia!" sahut Eva tak kalah lantang.

"Pokoknya Aku bilang harus ya harus. Sini kamu Des!" bentak Dirga sambil menarik tangan Desi.

Dirga pun menyeret paksa Desi meski pun Desi terus meronta dan menangis. Kemudian Dirga mendorong Desi hingga jatuh ke pelukan Bahar. Tentu saja Desi ketakutan dan menjerit histeris. Apalagi setelahnya Bahar memeluknya dengan erat sambil tertawa-tawa.

Melihat Anaknya diperlakukan tak senon*h membuat Eva murka. Dia merangsek maju dan bermaksud mengambil Desi dari pelukan Bahar. Namun langkah Eva terhenti karena Dirga menempelkan pisau kecil di lehernya. Eva terkejut lalu menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.

"Maaf Bu. Bapak terpaksa," bisik Dirga dengan tatapan yang terluka.

Eva berdiri mematung dengan tatapan nanar karena tak menyangka akan diperlakukan seperti itu oleh suaminya.

Tak lama kemudian masuk lah beberapa orang yang dikenal Eva. Mereka adalah pengurus lingkungan tempat mereka tinggal. Ternyata mereka diundang Dirga untuk mengurus pernikahan Desi dengan Bahar.

Di bawah ancaman pisau yang menghunus kearah leher sang ibu, Desi pun menjalani proses ijab kabul dengan terpaksa.

Air mata tak hanya membasahi wajah Desi dan Eva tapi juga Erman dan Diki yang menyaksikan semuanya dari balik pintu kamar.

\=\=\=\=\=

1
guntar Nugraha
Lanjut BossQu 💪💪👍🙏🙏
guntar Nugraha
lanjut Torrr...🙏🙏🙏👍👍👍
guntar Nugraha
Lanjut BossQu 👍🙏🙏...
guntar Nugraha
Bintang Yang Bicara Ok BossQu
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʏͩᴜᷞʟͧɪᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
suaminya kok bisa tahan y
any Sulistiani: iya. lanjut lagi yuk say. mksh 🙏😘
total 1 replies
❤️⃟Wᵃf🍾⃝ʏͩᴜᷞʟͧɪᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
bagus banget ini kayaknya...
any Sulistiani: Alhamdulillah..., gpp say. Monggo dilanjut 🙏
total 3 replies
San
sangat bagus
any Sulistiani: Alhamdulillah ..., mksh supportnya kk 🙏😊
total 1 replies
Akbar Aulia
Luar biasa
any Sulistiani: Alhamdulillah ..., mksh supportnya kk 🙏😊
total 1 replies
💎hart👑
asli tegang sampe lupa nafas
niex
kok kenzi tau ruci disana ya..hmm🤔🤔🤔
YuniSetyowati 1999
Berkilah pula 😓
any Sulistiani: insyaa Allah siaappp 👌😊
total 3 replies
estycatwoman
TOP BGT LAH 💯👏👍
any Sulistiani: Alhamdulillah ..., mksh supportnya say 🙏😘
total 1 replies
Sudarni
Luar biasa
any Sulistiani: Alhamdulillah ..., mksh supportnya say. Mampir jg ke novelku yg lain yuk mksh ... 🙏😊
total 1 replies
Sri Yani
keren thor
any Sulistiani: Alhamdulillah, mksh supportnya say. mampir jg ke novelku yg lain yuk, mksh say 🙏😊
total 1 replies
paty
aneh sj kok ruci dkk malah diam klu mrk zikir terus gak mkn iblis bisa tangkap ruci
erma wahyuningsih
bagus
Omar Diba Alkatiri
oon Ruci ini ga paham dia ...dizkir dalam hati atau apa gitu masa ga tau kalo makhluk kayak gitu pasti ga suka dengar kalimat Allah
Tina Febbryanti
Luar biasa
Laila Zayn
wiiiih karya ummiqu...... mampir lagi ya, mi..... udh lama ga mampir ditempat ummi ini 😄😘
any Sulistiani: Alhamdulillah ..., pa kbr say. Met gabung yaaa .. 🙏🤗
total 1 replies
Ade Wati
di tunggu klanjutanya y ka
any Sulistiani: yup, kelanjutannya udh up say. judulnya 'Kereta Api Misterius'.
Silakan mampir, mksh 🙏😘
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!