seorang pelayan bernama Jemina Kiara yang hidup serba susah, kini malah berakhir mengenaskan di tangan majikannya sendiri yang seorang Duchess.
namun tiba-tiba ruang dan waktu berubah, Jemina terbangun dan mendapati tubuhnya berubah menjadi Duchess Casandra, wanita yang sudah membunuhnya. Sebagai pelayan Duchess dia tau betul bagaimana kehidupan pernikahan nyonya nya yang sepi dan penuh kepalsuan. Cassandra di benci suaminya sendiri, karena wanita itu telah melakukan hal kotor agar bisa menikah dengan lelaki terhormat ini.
" aku akan membalas perlakuan kalian semua, bahkan tubuh ini pun harus ikut merasakan hukumannya" desis Jemina
" dia berubah dan aku mulai menyukainya" ucap Duke Louis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lafratabassum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Curi Dengar
" semakin lebih baik Dokter, lalu Kapan aku boleh belajar berjalan dokter?" sejak kemarin dia masih dilarang banyak bergerak termasuk belajar berjalan.
Jemina tidak tau jika dia mengalami luka lain selain luka sobek. Maka dari itu Jemina merasa Louis terlalu berlebihan saat mengatakan jika dirinya tidak di izinkan berjalan karena hal ini.
" mungkin besok Duchess, saya akan memberi beberapa tonik khusus agar kaki anda semakin kuat" ucap dokter Jannete sambil tersenyum penuh arti.
" emm.. lalu ada yang ingin aku tanyakan. Tapi ini mungkin terdengar sedikit konyol dan memalukan" cicit Jemina yang terlihat ragu-ragu. Dia penasaran namun juga bingung bagaimana mengatasi kecemasan nya.
" silahkan Duchess jangan sungkan"
" semenjak kejadian waktu itu, perutku sering merasakan sakit. ini, di area bawah sini, terkadang di buat bergerak saja terasa nyeri, Dokter. apalagi entah bagaimana tiba-tiba aku dalam kondisi berdarah yang tidak wajar. Darahnya kadang banyak dan sedikit, aku jadi cemas. Apa ini juga efek luka atau mungkin perut ku mengalami benturan?" jelas Jemina panjang lebar. Dokter Jannete terdiam seperti sedang mendengarkan, padahal jantungnya berdegup kencang. Pikirnya sibuk mencari solusi bagaimana caranya dia menjawab pertanyaan ini dengan benar tanpa membuat curiga Duchess.
" emm.. mungkin saja seperti itu. Apa waktu itu Duches mengalami kekerasan di bagian perut?" tanya balik Dokter Jannete.
" memang sih, beberapa kali James memukul perutku sampai terjatuh dan menimpa meja. Rasanya sakit sekali, melebihi sakitnya luka sobek di kaki ku. Apa dokter bisa memeriksa kembali keadaan perutku?. Rasanya sedikit mengganggu, aku menjadi tidak bisa melakukan apa-apa"
" itu.. kemarin waktu itu sudah saya periksa, sepertinya tidak terjadi hal serius. Duchess tenang saja, tonik obat yang biasa anda minum juga termasuk obat untuk perut anda. Saya yakin setelah ini pasti sakitnya terus berkurang" dengan senyum kaku.
" begitu ya"
" iya, lebih baik Duchess jangan terlalu memikirkan hal ini. Saya yakin setelah ini anda pasti bisa sembuh dan kembali seperti semula"
" terimakasih dokter"
" tentu Duchess, sama-sama"
Pemeriksaan hari itu akhirnya selesai, Helena mengantar dokter Jannete setelah wanita itu memberikan beberapa resep baru kepada pelayan. Hal ini berkaitan dengan rasa sakit di perut Duchess yang wanita itu keluhkan. Mungkin lebih baik menaikkan berada dosis obat agar Duchess tidak merasa kesakitan.
" terimakasih Dokter"
" jangan sampai lupa, ada beberapa menu makanan yang harus di hindari. Katakan semuanya yang sudah aku tulis di sana pada pelayan dapur" pesan Dokter Jannete sebelum pergi.
" tentu dokter. Akan saya sampaikan semuanya" jawab Helena.
" baiklah"
Dokter Jannete pergi dari kediaman. Tak ada yang sadar jika ada seseorang sejak tadi mencuri pandang dari balkon lantai 2. Siapa lagi jika bukan Pamela. Wanita itu ingin tau bagaimana kondisi Cassandra. Mungkin saja dia menemukan celah untuk menyingkirkan wanita itu karena sakitnya ini.
" aku harus mencari tau semuanya. Siapa tau aku bisa membuatnya semakin memburuk dan pergi dengan cepat" ucap wanita itu sambil mengelus perut nya. Demi bayinya mendapatkan status, Pamela akan menghalalkan segala cara.
Hari menjelang malam tak kala kereta kuda Louis sampai di pelataran. Lelaki terlihat begitu capek dan lelah. Pekerjaan di istana tidak ada habis-habisnya. entah di sengaja atau tidak, rasanya begitu sulit untuk meminta jam pulangnya di majukan.
" Duke.. " Pamela sudah siap di pintu masuk kediaman dengan tujuan menyambut kedatangan sang pujaan hati.
" emm" balas Louis tanpa menghentikan langkahnya. Dia sama sekali tidak mau menatap wajah Barbara.
Tapi wanita itu tidak mau menyerahkan, dia berjalan mengikuti langkah Louis dari belakang. Bahkan sampai menaiki tangga lantai 2 wanita itu terus mengejar Louis.
" ada apa Pamela?" tanya Louis yang sadar jika dia sedang di ikuti.
" saya ingin membantu anda Duke. Siapa tau Duke memerlukan sesuatu" ucap Pamela yang sama sekali tidak merasa takut
" aku bisa meminta nya pada pelayan. Kau jangan khawatir" balas Louis datar. Lelaki itu kembali melanjutkan langkahnya.
Dan saat di depan pintu kamar, Pamela masih juga tidak pergi.
" apa lagi sekarang?" Dengan wajah lelahnya, Louis berusaha menahan emosi nya agar tidak meledak.
" saya sudah menyiapkan air hangat di pemandian Duke. Saya akan membantu.. "
" sudah Pamela, pergilah beristirahat. Jangan buat dirimu repot dan malah akan mengganggu kesehatan bayi mu"
" bayi kita Duke" koreksi Pamela yang semakin membuat Louis muak.
" terserah padamu, aku ingin beristirahat" balas Louis dan lelaki itu segera masuk dan menutup pintu.
Di luar Pamela yang sejak tadi di acuhkan segera mencari cara agar perhatian Louis kembali tumbuh.
" aakk.. perut ku.. Duke... " Pamela merintih kesakitan.
Didalam kamar tentu saja Louis mendengar nya. Lelaki itu menarik nafas panjang. Dia baru menyadari jika ternyata Pamela jauh lebih merepotkan daripada Cassandra. Bagaimana bisa dirinya tertarik dengan wanita ini.
" ada apa nona?" tanya pelayan yang kebetulan mendengar Pamela karena berada tak jauh dari kamar Duke Wilton.
" perut ku sakit sekali..." jawab Pamela di lebih-lebihkan.
Pelayan itu segera memeriksakan perut dan menopang tubuh Pamela agar tetap berdiri.
ceklek
" masuklah" ucap Louis tanpa banyak bertanya. Dengan cepat Louis bisa menebak tujuan dari wanita yang sejak tadi mengikuti nya. Dia hanya mencari perhatian nya.
" ashh... pelan-pelan"
Dengan di bantu pelayan Pamela berjalan pelan-pelan, pelayan menuntunnya menuju ke sofa terdekat.
" aku ingin berbaring," pinta Pamela yang semakin ngelunjak. Dia benar-benar memanfaatkan keadaan dengan baik.
Louis hanya menatap dengan tatapan datar setengah menahan emosi. Dia hanya ingin segera beristirahat kenapa susah sekali.
Kini Pamela sudah berbaring di atas ranjang, pelayan berjaga di depan pintu masuk.
" Duke.. bayi kita tak apa-apa kan? aku takut terjadi hal buruk padanya.." sambil menatap Louis dengan tatapan sedih yang berlebihan.
" jangan khawatir. semuanya akan baik- baik saja" balas Louis dengan sedikit melembutkan suaranya.
" apa tidak lebih baik kita memanggil Dokter Jannete untuk memastikan nya?"
" tidak perlu, besok pagi aku akan memanggil dokter"
" tapi Duke, ini adalah putra per.."
" Pamela dengarkan, saat ini kepala ku rasanya mau pecah saking lelahnya. Aku mohon menurut lah. Biarkan aku beristirahat sebentar, ya?" ucap Louis penuh penekanan.
Guratan kemarahan terlihat jelas di wajah Duke Wilton, membuat Pamela beringsut takut. Lebih baik dia tidak menarik kemarahan Duke Wilton terlalu jauh lagi.
" baiklah"
" pelayan bawakan dia sup hangat agar perutnya terasa lebih baik" perintah Louis.
" baik Tuan"
Setelah memberikan perintah, Louis tanpa pikir panjang segera masuk ke area pemandian. Tubuh dan pikirannya perlu untuk di segarkan kembali.
Sedangkan Pamela yang berada di atas ranjang, mulai tersenyum kesenangan. Tidak buruk menggunakan alasan kesehatan bayinya untuk menarik Duke agar berdekatan dengan dirinya. Mulai sekarang Pamela harus bisa memanfaatkan setiap kesempatan dengan baik.
setelah beberapa saat, pelayan masuk.
" nona ini sup anda"
Di letakkan nya mangkuk itu di atas meja.
" apa perlu saya suapi nona?"
" tidak perlu, pergilah" jawab Pamela setengah ketus. Dia tidak mau cara berduaan nya di ganggu.
" baik nona" jawab pelayan itu lalu pergi meninggalkan kamar.
Pamela kini duduk bersandar pada kepala ranjang, dia menunggu Duke Wilton selesai mandi.
ceklek
Setelah beberapa saat pintu pemandian terbuka. Wanita itu mulai bersemangat.
Louis pergi ke area baju, dia sama sekali tidak menganggap keberadaan Pamela di sana. kini dia sudah berpakaian lengkap namun dengan gaya santai khas akan tidur.
" Duke, mau kemana?" tanya Pamela saat melihat Duke Wilton berjalan menjauhi ranjang.
" ada apa?"
" tangan saya begitu lemas, apa boleh meminta anda menyuapi sup itu"
" aku akan meminta pelayan kemari"
" tidak.. maksud saya mungkin ini bawaan anak kita yang ingin berdekatan dengan ayahnya"
Louis tidak habis pikir, lelaki itu tidak mau banyak berselisih. Akhirnya dengan terpaksa duduk di tepi ranjang sambil memegang mangkuk sup.
Perasaan Pamela girang bukan main. Dia tidak henti tersenyum.
" buka mulutmu" ucap Louis.
Pamela mengangguk, lalu membuka mulutnya. Rasanya dia tidak mau moment ini berakhir. Dia yakin sedikit demi sedikit Louis nya akan kembali.
Di kamar lainnya, Jemina yang juga baru selesai makan malam beberapa saat yang lalu. Dan sekarang waktunya dia minum sup tonik.
" kenapa terasa sedikit lebih pahit dari biasanya?" komentar Jemina pada Helena.
" tadi Dokter Jannete memberikan resep baru nyonya. mungkin efeknya lebih baik dari sebelumnya, jadi rasa nya sedikit pahit"
" bawakan aku cemilan manis, lidahku tidak kuat "
" baik nyonya, sebentar"
Helena mengambil mangkuk Sup tonik untuk di bersihkan sekaligus mencari cemilan di dapur.
" Tuan.." sanjung Helena saat hendak kembali ke kamar Cassandra. Di tangan wanita itu sudah ada sepiring cemilan.
Ternyata Tuannya juga pergi ke dapur sambil membawa mangkuk kosong.
" untuk Cassandra?"
" iya tuan"
" Nyonya baru saja meminum obat. Sekarang minta cemilan manis agar tidak merasa pahit" jawab Helena terus terang.
" mana berikan padaku" Louis segera mengambil alih piring cemilan dan memberikan mangkuk kosongnya kepada Helena.
Tanpa menunggu lama, Louis bergegas menaiki tangga dan pergi ke kamar Cassandra.
" kenapa malah kau yang masuk?" tanya Jemina keheranan.
" memang nya kenapa? "
" kapan kau pulang?"
" baru saja" jawab Louis lalu duduk di tepi ranjang.
" ini katanya kau mengeluh pahit?"
" ah ya. Dokter Jannete merubah toniknya. Mungkin karena sakit di perut ku yang tak kunjung berhenti" jawab Jemina santai. Sedangkan Louis yang mendengar nya mendadak tegang.
" oh.. ini ambillah satu" Louis segera mengganti topik.
Jemina mengambil cemilan, lalu memakannya separuh.
" sebenarnya aku ingin memeriksakan lebih lanjut. Ini sangat aneh, takutnya ada hal yang serius"
" Dokter Jannete sangatlah berpengalaman, jika ada masalah serius dia pasti akan melaporkan nya. kau jangan terlalu khawatir ya" jawab Louis sambil mengelus kepala Jemina pelan.
" begitu? "
" sudah kau jangan banyak berbicara, hari sudah larut. Waktunya beristirahat" Louis meletakkan cemilan itu di atas meja. Lalu mematikan lampu kamar.
" aku masih ingin makan cemilan itu" rengek Jemina.
" gula tidak baik untuk kesehatan. Satu saja sudah cukup"
Louis bukannya keluar kamar malah menaiki ranjang tanpa permisi.
" tunggu, kau mau apa?" tanya Jemina mendadak cemas.
" tidur, apa lagi?"
" kau bisa pergi ke kamar mu, Louis"
" tidak, aku mau di sini" jawab Louis singkat tak mau di bantah.
" nanti kau merusak perban ku lagi. aku tidak mau terlalu berdekatan.."
" berhenti bicara. Aku benar-benar ingin tidur Cassandra" ucap Louis dengan nada penuh kelelahan. Membuat Jemina jadi tidak tega mengganggunya lagi. wanita itu terpaksa membiarkan Louis tidur di ranjang nya lagi malam ini.
Sayangnya krnapa ga di lanjutin thor ?
Pindah ke sebelah kah ??
Sabar ya jemina si louis dah mulai bucin tu..
Sayang sekali padahal tulisannya bagus
bahkan malah memafkan bapaknya
ceritanya menarik....🥰