Kisah cinta dua remaja yang membawa mereka pada impian untuk sehidup sesurga.
“Lima tahun lagi aku akan datang melamarmu, tunggu aku” kalimat itu meluncur begitu lantang dari lisan seorang pemuda berseragam putih abu, di hadapannya seorang perempuan berjilbab putih yang menjulur menutupi hampir seluruh tubuhnya tengah tertunduk malu.
“Tak perlu mengikatku dengan janji. Bila aku takdirmu, kita pasti akan bertemu. Untuk sekarang, kita kerjakan bagian kita masing-masing, aku dengan hidupku, kamu dengan hidupmu. Perihal temu, datanglah bila sudah benar-benar siap. Itu juga bila belum ada yang mendahuluimu.” Helaan nafas terdengar menjadi pamungkas dari ucapan gadis itu.
Akankah kisah cinta mereka berakhir bahagia?
Atau justru hadir orang yang mendahului?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lailatus Sakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuan Hidup Baru
Sementara di sebuah rumah yang hanya akan ramai saat libur sekolah atau momen tertentu seorang pemuda baru saja terbangun dari lelapnya tidur selepas salat subuh.
Dia baru datang semalam dan langsung menuju rumah sakit El-Malik Hospital dimana sang daddy dirawat. Kedatangannya ternyata menjadi obat untuk sang daddy dan mommy nya, pasalnya selama dua tahun dia pergi dan hanya akan memberi kabar melalui chat jika dirinya baik-baik saja.
"Mommy senang kamu ingat pulang" Tiara menyambut putra paling besarnya itu dengan keharuan. Bukan tidak ingin meminta Ariq pulang selama dua tahun ini tapi mengingat penyebab kepergian sang putra membuatnya mengalah, menahan diri untuk membiarkan sang putra melalui proses penyembuhan hatinya dari luka yang mungkin tidak akan sembuh seratus persen walau dua tahun sudah semuanya berlalu.
Tiara hanya berharap, di saat tiba waktunya sang putra pulang, dia sudah kembali menjadi putranya yang selalu murah senyum dan ramah pada siapapun yang ditemuinya.
Sayangnya malam ini ekspektasinya terbantahkan, sang putra datang dengan wajah sendu karena kesedihan yang dirasakannya melihat sang ayah terbaring lemah dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya.
"Maafkan Ariq, Mom" ucap Ariq di balik punggung sang mommy yang tengah menangis menumpahkan segala rasa di dada bidang sang putra.
Tiara tak mampu berucap, anggukan kepala dengan tangis yang semakin menjadi sebagai jawaban jika dirinya tidak baik-baik saja setelah kepergian putra kesayangannya itu.
Tidak lama, kedatangannya ternyata juga membangunkan daddy nya yang tengah tertidur.
"Dad ..." Ariq mengurai pelukannya dari sang mommy kala melihat daddy na membuka mata.
"Son ..." suara yang terdengar lemah membuat dada Ariq terasa sesak, ini kali pertama sang daddy sakit hingga harus dirawat di rumah sakit, kelelahan katanya menjadi faktor utama Arzan tumbang.
"Maafkan Ariq Dad" suara Ariq pun tak kalah parau, dia beralih menggenggam tangan kokoh yang kini terasa lemah itu, menciumnya penuh takzim tak lupa untaian do'a dipanjatkan untuk kesembuhan laki-laki yang telah menjadi pahlawan salam hidupnya itu.
Perbincangan pun terjadi, sang daddy terlihat berangsur membaik, bahkan saat dokter datang memeriksa dia mengatakan jika kondisi Arzan semakin membaik. Kehadiran putra sulungnya ternyata benar-benar menjadi obat yang sesungguhnya untuk Arzan.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Arzan sudah kembali terlelap mungkin karena efek obat yang baru di konsumsinya.
"Sayang, kamu pulanglah. Biar mommy yang akan menjaga daddy, kasihan di rumah adik-adikmu tidak ada teman" si kembar yang sekarang sudah memasuki sekolah menengah pertama tepatnya kelas delapan memilih bersekolah di ibu kota agar selalu berdekatan dengan mommy dan daddy nya. Melihat semua kakak-kakaknya berada jauh karena menuntut ilmu keduanya memutuskan untuk tidak mengikuti jejak mereka. Prestasi keduanya pun tak kalah membanggakan, secara privat Arzan dan Tiara menyiapkan guru khusus untuk memenuhi pendidikan agama kedua putra kembarnya itu.
"Sebaiknya mommy yang pulang, biar aku yang menjaga daddy" Ariq menolak, dia tidak tega harus membiarkan sang mommy sendirian menunggui daddy nya, apalagi sudah beberapa hari daddy nya dirawat di rumah sakit dan hanya sang mommy yang menungguinya.
"Kamu ini kayak yang enggak tahu daddy mu saja, kalau mommy pulang, kamu yakin bisa menenangkan daddy kalau menanyakan mommy?" Tiara tergelak saat mengatakannya, sejak dulu suaminya paling tidak bisa tidur tanpa dirinya, sejak melahirkan putra kembar dengan segala dramanya Arzan tidak ingin berjauhan dengan sang istri.
Setiap kali dia harus pergi ke luar kota atau luar negeri Tiara harus ikut karena sungguh dirinya tidak bisa tidur tanpa sang istri. Seiring waktu, kini si kembar sudah tumbuh tinggi dan menjelma menjadi pemuda-pemuda tampan yang hampir sembilan puluh persen gurat wajahnya mirip Arzan, ternyata tidak mengubah kebiasaannya untuk selalu berdekatan dengan sang istri.
"Baiklah kalau begitu aku akan membersamai mommy di sini" putus Ariq akhirnya. Dia pun merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruangan ekslusif itu, di susul sang mommy yang duduk di sampingnya, alhasil pangkuan sang mommy menjadi tempat Ariq berbaring, momen yang selalu membuatnya tenang dan nyaman.
"Putra mommy sudah besar ternyata" Tiara mengusap kepala Ariq yang ada di pangkuannya, tidak terasa putra sulungnya itu kini sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa.
"Mommy tidak memberi tahu kakak dan adik-adik kalau daddy sakit?" Ariq memulai kembali pembicaraan, dia masih cukup segar karena sempat tertidur saat di dalam pesawat.
"Kasihan kakakmu pasti akan khawatir, apalagi sekarang kandungannya sudah besar, sudah mendekati HPL katanya" jelas Tiara mengabarkan tentang Qiana putri sulungnya yang kini tinggal di Surabaya bersama suaminya.
"Alya?"
"Adikmu juga sempat menelepon, mungkin ikatan batin dengan daddy membuatnya merasakan ketidak nyamanan, dia menanyakan kabar daddy, mommy bilang baik, mommy sengaja tidak memberitahunya karena saat ini dia sedang sibuk menyusun tugas akhir kuliahnya, apalagi dia sudah mulai magang pasti tidak mudah buatnya membagi waktu" Tiara membayangkan wajah putrinya yang terakhir bervideo call, saat itu dia sedang berhadapan dengan tumpukan buku karena sedang belajar persiapan tugas akhirnya.
"Aira dan Alina juga sebentar lagi mau ujian akhir semester, mommy sudah meminta bunda Rianti untuk menjenguk mereka di pondok" Tiara tahu betul kabar setiap putra putrinya, kendati dia mengurus suaminya yang sedang sakit, tapi tak membuatnya abai untuk mengecek keadaan mereka.
"Maafkan Ariq Mom, selama ini Ariq abai dan hanya memikirkan diri sendiri" Ariq tertunduk, rasa bersalah semakin menyeruak didalam dada mengingat selama ini dia hanya fokus pada dirinya sendiri.
"Shhuutt ...kamu tidak salah, tidak ada yang salah, semuanya sudah menjadi takdir yang Allah atur untuk keluarga kita. Kita tinggal bersabar menjalaninya. Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja" ucapan bijak Tiara memberi ketenangan dalam hati Ariq, mulai sekarang dia berjanji akan bangkit.
Mendengar semua perkataan mommy nya, melihat keadaan daddy nya kini terbaring tak berdaya dia dapat memutuskan harus kemana arahnya melangkah.
Setelah sempat tertidur sekejap di penghujung malam selanjutnya Ariq memutuskan untuk pulang sesuai titah mommy nya, tepat sebelum saat azan subuh dia sampai di rumah yang sudah sangat dirindukannya itu.
Ariq mengerjapkan matanya ketika sayup-sayup mendengar dua orang yang sedang berbincang. Dia memicingkan mata agar lebih jelas melihat orang yang tengah duduk berdua di sofa yang ada di kamarnya.
"Kakak ...sudah bangun!" seru keduanya kompak, si kembar yang sudah pulang sekolah lebih awal karena ada rapat guru langsung memburu kamar sang kakak karena tadi pagi belum sempat bertemu.
"Kalian sudah pulang? Jam berapa ini?" Ariq beralih melirik dinding dimana jam menempel di sana,
"Jam sebelas siang Kak!" seru keduanya menatap sang kakak yang tampaknya belum sepenuhnya sadar,
"Astaghfirullah" pekik Ariq mengagetkan kedua adiknya,
"Kenapa kalian tidak membangunkan kakak dari tadi" Ariq buru-buru bangun, kamar mandi menjadi tujuannya. Sementara si kembar Kay dan Key hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kakaknya.
Ketiganya sudah duduk mengitari meja makan yang menyajikan menu makan siang kesukaan mereka terutama Ariq. Bi Asih sangat antusias menyambut kedatangan tuan mudanya, dua tahun bukan waktu yang sebentar tidak bersua membuatnya sangat merindukan tuan mudanya itu.
"Aden makan yang banyak ya, bibi lihat sekarang kurusan" Bi Asih mendekatkan tempe mendoan yang menjadi kesukaan Ariq sejak kecil.
"Terima kasih bibi, aku sangat kangen masakan bibi" ucap Ariq, dia kembali menyuapkan sesendok soto daging, tak lupa mencomot tempe mendoan di depannya.
"Kami juga kangen kakak" Key merajuk, momen kangen-kangenan ketiganya sembari salat dzuhur berjamaah masih dirasa belum cukup.
"Kakak juga, tenang mulai sekarang kakak akan menetap di sini. Daddy sepertinya sudah waktunya istirahat" ujar Ariq menghentikan sejenak aktifitas makanya,
"Horree ..." keduanya kompak bersorak, senang mendengar ucapan kakaknya, begitu pun bi Asih tersenyum bahagia mendengarnya.
Mirza sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu, dia tidak bergabung untuk makan siang karena sudah makan sebelum datang menjemput Ariq, Elisha rutin membawakan bekal makan siang untuknya. Beberapa bulan terakhir ini mereka terbilang cukup dekat setelah insiden yang dialami Elisha beberapa bulan yang lalu.
"Ayo!" Ariq melangkah menuju pintu utama mengabaikan Mirza yang sedang mengecek beberapa email yang masuk di ponselnya.
Agendanya hari ini adalah meninjau langsung El-Malik Plaza, pusat perbelanjaan terbesar di kota itu serta memiliki beberapa cabang di kota-kota besar lainnya.
Ariq sudah mengantongi data tentang semua permasalahan perusahaan, belajar di luar negeri tidak membuatnya lepas tangan, selama ini dia masih memantau setiap perkembangan El-Malik Grup meski tanpa sepengetahuan sang daddy, kini arah tujuan hidupnya semakin jelas, dia akan totalitas mengabdikan diri untuk kemajuan El-Malik Grup.
nyesek banget saya thorr.
dl mantan lakiku jg gt, pas bebenah nemu foto mantan cewenya. Malah di motor yg sering dinaikin bareng masih ada stiker nama mantan. Dan waktu itu aku ga ambil pusing untungnya aku jg ga baper, yg penting sikap pasangan
LUAR BIASA, DEEP banget kisahnya.
Konsepnya bagus banget.
Alur dan konfliknya fokus ga kemana2 bikin tenggelam di ceritanya.
Dijamin baper, aku ampe terngiang2 walau udh selesai baca.
Bahasanya rapi bgt lagi.
MAKASI KAK udah luangin waktu, pikiran, perasaan ke karya ini.
SEHAT SELALU, MAKIN SUKSES, BAHAGIA ❤️
Kalo boleh saran kak, misal ada spin off atau sequel gitu ditulis di deskripsi. Biar enak baca sesuai urutan walau sebenernya ga tll masalah sih tp jd nyaman.
Tp ga mengurangi rasa kagum dan terimakasihku untuk karyanya ❤️
Semoga ada cctv dan liat plat motornya