cerita yang mengisahkan tentang suami yang harus bersandiwara dan berakting demi menjalankan sebuah misi. sehingga menimbulkan kesalahpahaman, antara dirinya dan sang istri.
lalu apa yang terjadi dengan mereka?mampukah mereka mempertahankan rumah tangganya ditengah belenggu masalalunya yang datang tanpa diundang, dan tanpa bisa dihindarinya?
Bagaimana kisah mereka selanjutnya?
penasaran???
mari kita ikuti kisahnya yuk...cekidot
Tolong baca per bab ya guys,
jangan lompat bab
karena dukungan kalian sangat berarti buat author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙼𝚎𝚗𝚝𝚊𝚛𝚒𝚂𝚎𝚗𝚓𝚊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Titik Terang
Selamat membaca⬇️
***
"Ada apa...?" tanya Jena. Jiwa keponya langsung meronta. Di antara mereka berlima yang tergabung di genk Lima Sekawan, Jenayra-lah yang paling kepo dan heboh
"Lihat ini... " kata Andre yang langsung mengarahkan layar laptopnya kepada Jena.
"Astaga. Ini...?" Jena menutup mulutnya.
"Ada apa sih?" Rissa pun tak mau ketinggalan. Dia menggeser tempat duduknya dan mendekat pada Jena. Sesaat kemudian matanya melotot tak percaya.
"Nah, sepertinya loe mesti ikut dalam misi kali ini, deh Ris." Ringgo berkomentar. Rupanya dia juga penasaran dan ikut nimbrung melihat apa yang tertera di layar laptop sahabatnya.
"Diiih... Ogah gue. Tak mau lagi ikut ikutan. Lagipula belum tentu Mas Barra memberi ijin!" tolak Rissa
"Tapi, nanti gue bakal bilang sama bos, kalau loe mau ikutan dalam misi kali ini." Ringgo mencoba memprovokasi Rissa
"Heh... Jenggot. Enak saja loe, main perintah! Emang loe siapa? Dengar ya, coba saja kalau loe sampai berani bilang sama bos kalian. Di sini, loe itu kan detektifnya. Jadi jangan melibatkan gue dong," sarkas Rissa, sikap bar-bar nya langsung muncul seketika.
"Apaan sih Ris, loe mah seenaknya saja main rubah nama gue," kesal Ringgo. Mulutnya bersungut sungut.
Mereka bertiga kompak menertawakan tingkah Ringgo. Kecuali Anita yang hanya bengong, menatap mereka.
"Gue kadang heran, kenapa Barra bisa tahan ya, sama loe Ris? Bahkan sampai nangis bombay, takut ditinggal sama loe," imbuhnya sambil geleng geleng kepala.
"Ya tanya dong sama dia. Kenapa dia bisa segitunya cinta sama gue. Kalau gue sih terus terang bersyukur ya, dicintai oleh pria dengan sedemikian rupa," ujar Rissa dengan senyumnya yang menyebalkan di mata Ringgo. Sehingga membuat pria itu memutar bola matanya malas.
"Iya Mbak. Kalian adalah pasangan yang serasi. Saling menjaga satu sama lain. Nita salut banget sama Kak Barra, yang sangat setia sama mbak Rissa. Tidak goyah meski digoda sekalipun." Anita menatap Rissa dengan kagum.
"Alhamdulillah, terimakasih atas sanjungannya." Rissa tersenyum tulus.
"Yes.... Good job!" seru Andre yang heboh dengan dunianya sendiri.
"Gimana...? Sudah ketemu semuanya?" tanya Jena.
"Hemmm...gue udah kirim file ke email Barra. Dia tinggal menganalisa dan bikin profilnya." Selanjutnya Andre memperlihatkan hasil temuannya pada ketiga sahabatnya.
"Astaghfirullah...gue lupa!" pekik Rissa kemudian.
"Ada apa sih Ris...? Bikin orang spot jantung deh," seru Jena kaget.
"Iya nih. Gue kira setelah menjadi nyonya Barra, sifat bar-bar nya sudah hilang. Ternyata masih saja menempel," sindir Andre.
"Tapi loe dulu juga suka kan, sama gue?" Jawaban Risa langsung membungkam mulut Andre.
"Kena deh loe," ejek Jena dan Ringgo serentak. Keduanya tertawa bersama
"Eh, kok kalian bisa kompak, sih? Jangan-jangan jodoh. Atau... Kalian menyembunyikan sesuatu dari gue, nih?" Ucapan Rissa sontak membuat kedua sahabatnya itu gelagapan.
"Roman-romannya... Ada something nih." Rissa dengan instingnya mengamati setiap detail, bahasa tubuh keduanya.
Plok plok plok...
"Hebat hebat hebat... Selamat ya buat kalian. Sejak kapan? Kok gak bilang-bilang sih, kalian curang ya!" Rissa langsung memeluk Jena.
"Heleh... Kalian sendiri dulu bagaimana" cibir Ringgo.
"Eh, tapi kan gue tidak sembunyi-sembunyi kok, kemana-mana kita selalu berdua. kalian saja yang tidak peka dan tidak jeli," sanggah Rissa.
"Oooh... Gue ingat. Pantes saja pas kita menjodohkan Andre sama Jena, loe langsung mengalihkan pembicaraan. Rupanya diam-diam sohib gue ini menghanyutkan," ucap Rissa kemudian.
"Aaah, gimana reaksi Barra kalau tahu mereka jadian? Pasti dia bakalan gak nyangka," batin Rissa dalam hati.
"Trus, sekarang kita ini, mau lanjut bahas urusan pribadi atau pekerjaan nih? Kita harus profesional, kalau urusan pekerjaan jangan melibatkan urusan pribadi!" tegas Ringgo
"Baik, Pak Komandan." Ketiganya kompak memberi hormat pada Ringgo.
"Coba kalau Barra ada di sini, dia pasti yang akan menghandle semuanya. Dan tahu apa yang harus kita lakukan." Ringgo mengeluhkan ketidakhadiran Barra. Sebab biasanya dia lah yang memberi instruksi apa yang harus dilakukan oleh timnya.
"Kak Barra...? Maksudnya apa ya kak?" tanya Anita bingung.
"Begini Anita, Barra juga termasuk dalam tim kami." Ringgo lantas menceritakan kepada Anita, tentang pertemuan mereka waktu itu bukan unsur kebetulan, melainkan memang di sengaja. Semua dilakukan demi mendapatkan informasi dan barang bukti. Hal itu tentu saja membuat Anita terkejut.
"Lalu, kenapa kalian bisa punya ide untuk mendekati saya," tanya Anita.
Kemudian Ringgo menceritakan dari awal sampai akhir kenapa Barra mendekatinya dan sampai bisa mendapatkan berkas atau dokumen yang mereka cari selama ini sebagai barang bukti.
"Jadi, kak Barra yang telah mengambilnya?" tanya Anita.
"Iya. Barra mengambilnya saat kamu berada di rumah sakit." jawab Ringgo
"Jadi sikap Kak Barra berubah padaku, setelah mendapatkan berkas itu?" gumam Anita.
"Kamu jangan mengira, kalau Barra berubah sama kamu, karena telah mendapatkan berkas itu. Tapi karena dia tidak mau kehilangan keluarganya. Apalagi kamu yang maunya selalu nempel sama Barra. Bahkan minta supaya jadi ayah dari anak kamu. Dari situ Barra mulai jengah. Kami memang telah menyelidiki kasus ini, dari awal Barra mendekati kamu, tapi suami kamu sangat licin.... "
"Mantan kak." Anita memotong ucapan Ringgo. "Tapi kami hanya menikah siri. Jadi Bang Riko bisa dengan mudah menjatuhkan talak pada saya." Anita tersenyum getir
Lalu dia pun bertanya, "Apa Mbak Rissa, juga bagian dari misi ini?" Anita menatap Rissa dengan sendu.
"Awalnya iya. Karena aku tidak ingin Mas Barra dekat sama kamu. Tapi kemudian timbul rasa kemanusiaanku, begitu melihatmu terpuruk karena diceraikan oleh suamimu. Apalagi menurut dokter, kondisi mentalmu sedang tidak baik-baik saja waktu itu. Jadi...aku berinisiatif untuk mengajakmu tinggal bersamaku sampai kamu melahirkan. Dengan begitu, aku bisa lebih mudah untuk memantau keadaanmu. Dan Mbak Mira, dia adalah seorang bodyguard terlatih untuk mengawasi dan melindungimu. Dia melaporkan segala sesuatu tentang kamu padaku." tutur Rissa.
Anita lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Rissa. Detik berikutnya wanita itu memeluk Rissa dengan erat. Dia terisak dipelukan Rissa.
"Terimakasih Mbak. Entah terbuat dari apa hatimu, yang begitu baik pada Nita." Dia pun melerai pelukan.
"Saya janji akan memberi informasi apapun yang saya tahu. Tapi jangan minta saya untuk bersaksi," katanya dengan serius seraya melepaskan pelukan
"Baiklah. Saya harap kamu menepati janjimu. Sebab semua apa yang kamu katakan tadi, sudah terekam di sini." Ringgo menunjuk pada sebuah benda kecil yang berada dalam genggamannya.
"Oh ya, Ndre. Beberapa hari yang lalu kan gue chat loe. Gue minta loe menyelidiki plat nomor yang gue kirim. Mana, sudah ketemu belum?" tagih Rissa.
"Yaelah Ris, sudah gratis mau buru-buru bae," gerutu Andre.
"Astaga... Sama teman loe perhitungan amat sih!" kesal Rissa
"Awas saja ya, kalau loe sampai minta bantuan gue suatu saat nanti!" Ancamnya kemudian.
"Ck, iya-iya. Gitu saja marah," cibir Andre
"Buruan, gue ada janji soalnya!" titah Rissa.
"Sudah sih diam, ini juga lagi dicari." Kemudian Andre mengotak atik laptopnya sambil menggerutu, "Kenapa dulu gue bisa suka sama dia ya?" Sayangnya gerutuannya masih bisa didengar jelas oleh Rissa.
"Apa loe bilang? Gue tidak pernah menyuruh loe suka sama gue ya," ketus Rissa seraya memutar bola matanya malas
"Iya-iya, bawel iiih. Tuh, sudah ketemu penggemar rahasia loe." Andre menggeser laptopnya menghadap Rissa.
Dengan segera wanita itu pun melihat apa yang tertera di layar.
"Hahhhhh..." Rissa membekap mulutnya yang menganga, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Stay tune terus ya.....
...----------------...
Mohon di baca per bab ya guys, jangan lompat bab, jangan pula boom like.
Dukungan kalian sangat berarti buat author
Jika suka dengan ceritanya jangan lupa tinggalkan jejaknya
Like
Komentar
Vote
Terimakasih dan salam sehat selalu
🙏🙏🙏😍😍😍