Hanya seorang penjual ikan disiang hari. dan pengantar barang dimalam hari itulah pekerjaan pria yang bernama Satria.
Di caci maki sudah menjadi makanannya sehari-hari. Bahkan lebih parahnya lagi dia di khianati oleh istrinya sendiri dan hampir dibunuh oleh selingkuhan istrinya tersebut.
Tapi nasib merubah hidupnya sejak dia menolong seorang kakek tua misterius yang memberinya sebuah kalung pusaka naga.
Dan itu merubah hidupnya menjadi seorang penguasa.
Akhirnya Satria bertekad untuk membalas orang yang sudah merendahkan nya.
Penasaran dengan kisahnya? Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Mereka dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok satu mengawasi mansion, kelompok dua mengawasi rumah Lohan.
Lohan tidak menyadari kalau dirinya sedang diawasi oleh bawahan Satria. Lohan masih senang-senang saja tanpa mengetahui kalau bahaya sedang mengintainya.
"Apa ada yang mencurigakan?" tanya si A.
"Sepertinya Lohan sedang ada didalam," jawab si C. Karena dia yang mendekati rumah tersebut.
"Kita masuk saja, tangkap dan bawa ke hadapan tuan muda," ucap si B.
"Setuju," jawab si D.
Mereka berlima pun mendekati rumah tersebut. Mereka berpencar mengelilingi rumah tersebut.
Lohan yang sedang didalam kamarnya tidak menyadari kalau ada yang masuk lewat jendela. Lohan saat ini sedang tertidur.
Buugh ... Satu pukulan mendarat ditubuh Lohan membuat ia pingsan. Si B segera memanggul Lohan seperti karung beras.
Kemudian si B menghubungi yang lain bahwa Lohan sudah ia dapatkan. Si B segera membawa Lohan ke mobil.
Tidak berapa lama 4 orang temannya juga sudah ada didekat mobil. Mereka tidak menemukan siapa-siapa lagi.
"Kalian tidak menemukan anaknya?" tanya si B.
"Tidak!" jawab si A.
"Sudahlah, kita bawa ini dulu," titah si B.
Mereka pun kembali ke mansion tempat mereka tinggal. Si A menghubungi Dewi kalau Lohan sudah berhasil mereka tangkap.
Sementara yang lain yang tadi mengawasi mansion milik Lohan juga tidak menemukan apa-apa.
Bahkan Ronald yang mereka incar juga tidak mereka temukan. Mereka tidak mengetahui kalau saat ini Ronald sedang bersama Lusiana dirumahnya.
Kemudian Dewi memerintahkan 5 orang yang tadi mengawasi mansion Lohan, untuk pergi ke rumah Lusiana. Dan itu atas perintah Satria sendiri.
Setelah mendapatkan alamatnya dari Dewi, merekapun bergerak cepat menuju kesana. Mereka tidak jadi hendak kembali ke markas.
Dengan gerakan cepat, mereka berhasil menangkap keduanya, yaitu Ronald dan Lusiana.
Awalnya Ronald melakukan perlawanan sebisa mungkin, dengan ilmu beladiri yang dimilikinya. Tapi ilmu beladiri Ronald belum ada apa-apanya dibandingkan dengan bawahan Dewi.
Ronald akhirnya dibawa dalam keadaan babak belur. Lusiana juga mereka seret karena memberontak.
Akhirnya mereka kembali ke markas untuk mengurung Ronald dan Lusiana disana. Sementara Lohan sudah terikat didalam ruangan bawah tanah.
Mereka kemudian meninggalkan Lohan yang belum sadarkan diri itu.
Dewi masuk kedalam ruangan Satria dan memberitahukan bahwa Lohan sudah tertangkap dan sudah mereka sekap.
Satria yang mendengar kabar itu pun tersenyum smirk. Ia ingin menyiksa dan mengurung Lohan terlebih dahulu.
Kemudian Dewi mengabarkan lagi bahwa Ronald dan Lusiana sudah ditangkap juga. Satria meminta mereka untuk dikurung terlebih dahulu.
"Dewi!" panggil Satria.
"Saya tuan muda," jawab Dewi.
"Tidak, pergilah," usir Satria. Satria tidak jadi untuk ngomong.
Dewi pun keluar dari ruangan Satria. Dewi juga bingung dan penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh tuan mudanya itu.
"Sebenarnya aku tidak ingin ada pertumpahan darah. Tapi aku juga tidak menghindar dari mereka yang haus kekuasaan," batin Satria.
Satria pun melanjutkan pekerjaan, nanti setelah pulang kerja. Satria ingin menemui Fisya terlebih dahulu. Baru setelah itu dia akan mengurus Lohan untuk memberinya pelajaran.
Satria kembali memanggil Dewi. Dewi pun masuk setelah mengetuk pintu. Dewi membungkuk hormat kepada Satria.
"Tuan muda memanggil saya?" tanya Dewi.
"Hmmm. Duduklah aku ingin bertanya," titah Satria.
Dewi pun duduk di kursi berhadapan dengan Satria. Satria pun menceritakan tentang mimpi yang ia alami. Dewi mendengar cerita Satria dengan seksama.
"Begitulah, dan mimpi itu terasa mengganjal dipikiran ku," kata Satria setelah selesai menceritakan tentang mimpinya.
"Maaf tuan muda kalau saya lancang," ucap Dewi.
"Katakan!" pinta Satria.
"Menurut saya, mungkin itu satu pertanda kalau akan terjadi perang dimasa akan datang. Dan kita tidak tau kapan itu terjadi? Maaf tuan muda, itu hanya firasat saya," kata Dewi sambil menunduk.
Dewi takut, takut tuan mudanya marah. Justru Satria hanya tersenyum. Dengan begitu ia akan mempersiapkan diri.
"Terima kasih, dengan begitu kita bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi peperangan kalau memang itu terjadi," kata Satria.
"Iya tuan," jawab Dewi.
Dewi keluar dari ruangan Satria, Satria kembali melanjutkan pekerjaannya. Satria ingin secepatnya untuk menyelesaikan pekerjaan.
Tidak terasa hari pun sudah sore. Satria pulang lebih awal dari biasanya. Dewi dan karyawan lainnya masih belum pulang. Karena masih waktu kerja.
Satria keluar dari ruangannya menuju lift. Sebelumnya Satria sudah memberitahu Dewi bahwa ia pulang. Dewi pun mengangguk.
Satria masuk kedalam lift yang akan membawanya kelantai bawah. Saat dilantai bawah, Satria pun berjalan dengan langkah lebarnya.
"Satria!" Satria menghentikan langkahnya dan berbalik menoleh kearah suara.
"Satria!" panggil orang itu lagi. Satria malah mendengus kesal.
Shisi berjalan menghampiri Satria dengan tingkah manja yang dibuat-buat. Satria tidak peduli. Malah menyuruh pengawal untuk menangkap Shisi.
"Bawa dia ke markas!" perintah Satria.
"Satria...!" panggil Shisi.
Tapi Satria tidak peduli sama sekali. Shisi memberontak karena tidak terima diperlakukan seperti itu.
Shisi akhirnya dibawa ke markas dan akan bergabung dengan Lohan dan Ronald. Dan itu akan menjadi urusan Satria nantinya
Satria mengendarai mobilnya. Kali ini Satria akan pergi kemana-mana dengan mengendarai mobil.
Satria melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia ingin segera sampai ke rumah Fisya. Satria sudah merindukan gadis itu.
Satria memarkirkan mobilnya setelah tiba di rumah Fisya. Para penjaga pun menunduk hormat dan mempersilahkan Satria untuk masuk.
Satria pun menyuruh mereka untuk menegakkan tubuh. Dan mereka tentu saja menuruti.
Satria belum masuk, tapi Fisya sudah berada di luar. Satria sangat senang karena Fisya sudah sembuh sepenuhnya.
"Kak," Satria tersenyum. Kemudian Satria memeluk tubuh Fisya.
Fisya tersenyum manis, dan dia juga bahagia karena sudah bisa bicara lagi seperti sebelum kejadian tersebut.
Hingga saat ini Fisya belum mengetahui jika Satria orang yang sangat kaya. Kemudian Satria pun masuk kedalam rumah.
"Kamu senang karena sudah sembuh?" tanya Satria. Fisya mengangguk.
"Ya sudah, bik tolong buatkan minuman," pinta Satria.
"Baik tuan muda," jawab pelayan.
Pelayan pun bergegas menuju dapur untuk membuat minuman untuk tuannya.
Hanya dalam sekejap, pelayan datang kembali dengan membawa secangkir teh untuk Satria.
"Terima kasih Bik," ucap Satria.
"Sama-sama Tuan," jawab pelayan.
Fisya selalu saja tersenyum, Satria pun membalas senyuman tersebut. Dan memeluk Fisya.
Sementara disisi lain...
Shisi yang tidak terima dibawa ke markas pun memberontak. Ia teringat saat di bawa ke mansion milik Satria, tapi malah dijadikan pelayan.
Kini Shisi dan bawahan Satria sudah sampai di mansion sekaligus markas bagi mereka.
"Mau kalian apakan saya...!" hardik Shisi.
Tapi para bawahan Satria tidak peduli, bahkan membawa Shisi masuk. Shisi kembali terperangah saat masuk kedalam mansion atau markas mereka.