Bagaimana jika manusia diibaratkan seperti es krim? Es krim itu dingin dan manis. Akan tetapi, itu adalah es krim dan es krim jelas berbeda dengan manusia yang memiliki hati dan emosi.
Bagaimana jika dingin dan manis, hati dan emosi itu dilebur menjadi satu? Kemudian dibumbui sedikit rasa traumatis yang begitu membekas hingga membuat kisahnya menjadi dramatis.
Ini adalah Ambar dan itu adalah Damar. Ambar adalah penikmat es krim yang sangat menyukai perpaduan manis dan dingin. Sedangkan Damar yang dingin tapi diam-diam manis dan dipenuhi emosi yang dramatis.
Ketika salah satu dari mereka menyadari keberadaan yang lain, itu hanya pertemuan singkat yang melibatkan sebuah kecelakaan kecil. Iya, itu hanya kecelakaan kecil. Namun, bagaimana jika selanjutnya mereka terlibat dalam serangan panik hingga percobaan bunuh diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Istik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 5. A f t e r M e e t Y o u
Damar menghentikan laju sepedanya, kemudian menolehkan kepala ke belakang. Seperti dugannya, Ambar tidak akan sanggup mengikuti sampai ke rumah. Kemudian lelaki itu kembali melaju dengan sepedanya. Sebenarnya dia sudah sejak tadi sadar telah diikuti. Namun dia memilih untuk diam saja, mungkin karena yang mengikuti adalah Ambar.
Beberapa saat sebelum sampai ke rumahnya, Damar melihat seorang lelaki keluar dari rumahnya. Yang dipikirkan Damar bukan bagaimana orang itu masuk, atau apa yang mau di lakukan orang itu, atau apa yang telah dia ambil, tetapi kenapa orang itu masuk ke dalam tempat yang sudah cukup lama tidak dia kunjungi. Untuk apa dia kembali.
Kaki Damar seolah tidak dapat digerakkan. Dia menghentikan begitu saja sepedanya saat melihat lelaki itu. Beruntuk Damar tidak bersimpangan dengan dia. Begitu lelaki itu sudah cukup jauh, Damar segera masuk ke dalam rumah, kemudian mengunci gerbang serta pintu rumah.
Setelah sampai kamar, Damar tersadar bahwa napasnya mulai tak beraturan. Dia mulai panik. Rasa takut itu kembali lagi. Lelaki itu memegangi dengan erat apapun yang bisa dipegangi, ujung meja, bantal guling. Kemudian dia bergegas masuk ke kamar mandi, beeharap dengan kucuran air dingin akan membantunya untuk lupa akan apa yang dia lihat tadi, berharap juga dia dapat melupakan keresahannya.
Suara tetesan air yang dengan deras jatuh ke lantai, rasa rileks saat tetesan air mengenai tubuhnya, bau sabun yang dia pakai, semua itu untuk sejenak cukup menenangkannya. Kemdian Damar berjalan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan ke pinggangnya. Lalu berganti pakaian sebelum kemudian dia menuju dapur untuk makan.
Akan tetapi lampu ruang tengah tempat biasa Damar menonton tv kini tidak menyala, padahal dia ingat betul bahwa lampu di seluruh rumah sudah dia nyalakan. Lalu Damar berjalan menuju saklar yang letaknya tidak jauh dari tangga. Ceklek, lampu kembalu menyala. Kemudian saat Damar berbalik untuk menuju dapur, dia mendapati adanya orang lain di ruang tamu. Seorang tamu tak diundang yang telah lama tak berkunjung.
Spontan Damar mundur satu langkah. "A ... yah untuk apa ke sini?"
"Jangan panggil gue pake sebutan itu. Lo gak pantes pakai sebutan itu, setelah lo laporin gue ke nenek lo itu dan ngebuat gue kehilangan semua sumber duit, juga ngambil hak waris yang seharusnya punya gue." Lelaki yang dipanggil Ayah oleh Damar itu maju perlahan seolah tau bahwa Damar tidak akan bisa kabur.
Memang benar, rasa takut Damar seolah telah memblokir perintah pada otaknya untuk berlari, menghindar, atau bersembunyi dari pria yang tinggal berjarak dua langkah darinya. Menyadari mereka sangat dekat, Damar jatuh terduduk. Dia mendongakkan kepala sembari menatap dengan mata ketakutan.
"Gue mau setengah dari jatah uang bulanan lo, transfer ke rekening gue. Jangan sampe telat, karena kalau lo telat, siap-siap gue bakal berkunjung." Kemudian pria itu menendang kaki Damar yang membuat dia langsung terlonjak dengan ketakutan berkalu lipat. "Inget, jangan telat!"
Setelahnya, pria itu pergi. Dia pergi meninggalkan Damar yang terjebak dalam ketakutan. Yang dengan merangkak dan susah payah kembali ke kamar.
🍒🍒🍒
"Lo tau? Bagian tubuh yang paling gue suka dari dia?" Damar yang diikat pada tiang tidak bisa menjawab dengan segala ketakutannya. "Iya, kakinya yang indah dan jenjang."
Damar memejamkan mata erat-erat. Dia takut, dia sangat takut. Usianya baru sebelas tahun sekarang, kenapa dia harus mengalami ini? "Apa lo juga tau? Kalau lo mewarisi kaki dia. Terlalu sakit buat gue selalu inget kalau lo terlalu mirip sama dia. Karena itu lo cuma ngasih kesengsaraan buat gue!!"
Kemudian dengan membabi buat pria itu memukuli kaki damar dengan gagang sapu. Mendengar suara pukulannya saja mampu membuat orang normal ikut kesakitan. Damar berteriak-teriak kesakitan, meminta ampun, memohon, meminta tolong. Akan tetapi seperti apapun raungan Damar, tetap saja pria itu tak berhenti hingga benda itu patah menjadi dua. Lalu Damar segera membuka mata, dia baru saja terbangun dari mimpi burum yang begitu nyata.
bagus banget sumpah 😍😍
secara mereka LDR jd bisa buat pemanis cerita angga Nova n lala
Rate-5 ku juga sudah mendarat ya🛬
Jangan lupa feedback ke karyaku 🥰🥰
❤"Meisya & Randi "❤
Kisah sahabat kecil jadi cinta 💕
Terima kasih🙏🙏