NovelToon NovelToon
Apocalyps Girl

Apocalyps Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Zombie / Ruang Ajaib
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Arju na

Sinopsis

Selama delapan tahun bertahan hidup di dunia yang telah hancur akibat kiamat zombie, Lily Mahendra berjuang menghadapi kelaparan, monster, dan pengkhianatan. Namun, pada saat ia hampir mencapai harapan terakhirnya, sahabat yang paling ia percayai justru mendorongnya ke tengah gelombang zombie yang mengamuk.

Saat kematian tampak tak terhindarkan, Lily membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat satu minggu sebelum kiamat melanda.

Kali ini, ia tidak sendirian. Sebuah Sistem Bertahan Hidup misterius dan Ruang Dimensi yang penuh sumber daya hadir untuk membantunya. Dengan pengetahuan tentang masa depan dan kesempatan kedua yang tak ternilai, Lily bertekad mengubah takdirnya, membalas pengkhianatan yang pernah ia alami, serta melindungi orang-orang yang benar-benar layak dipercaya.

Akankah Lily mampu bertahan dan membangun kehidupan yang lebih baik di tengah kehancuran dunia? Atau akankah takdir kembali menyeretnya menuju akhir yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arju na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 13 – PANGKALAN B

Keesokan paginya, seluruh keluarga Lily sudah bersiap sejak pagi buta. Tas-tas besar berisi perlengkapan dan kebutuhan penting telah berada di dekat pintu rumah.

Hari ini mereka akan meninggalkan rumah dan pergi menuju Pangkalan B.

Suasana pagi terasa cukup tenang.

Meskipun begitu, semua orang tahu bahwa perjalanan kali ini tidak akan mudah.

Lily memandang satu per satu anggota keluarganya sebelum akhirnya menoleh ke arah Alex.

"Bang, lo benar-benar udah kuat?" tanyanya.

Alex yang masih terlihat sedikit pucat mengangguk santai.

"Ya. Gue udah kuat kok."

Lily menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk puas.

"Bagus."

Tak lama kemudian, mereka semua keluar dari rumah.

Saat berada di halaman depan, Mommy Grace tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Matanya yang berkaca-kaca menatap rumah besar yang telah menjadi tempat tinggal mereka selama bertahun-tahun.

Rumah itu menyimpan begitu banyak kenangan.

Dari awal pernikahannya dengan Daddy Mike, hingga kelahiran ketiga anak mereka.

"Rumah ini saksi perjuangan Mommy dan Daddy," ucap Mommy Grace lirih.

"Dari kami menikah, membangun keluarga, sampai lahir kalian bertiga."

Air matanya mulai menggenang.

"Mommy nggak pernah menyangka kalau suatu hari nanti kita harus meninggalkan rumah ini."

Ia mengusap sudut matanya.

"Mommy cuma berharap suatu saat kita bisa kembali lagi ke sini."

Semua orang terdiam.

Lily kemudian melangkah mendekat dan memegang tangan ibunya.

"Kita pasti kembali lagi, Mom."

Tatapan Lily terlihat yakin.

"Kalau waktunya sudah tiba, kita akan pulang ke rumah ini lagi."

Mendengar itu, Mommy Grace tersenyum tipis.

"Semoga saja, sayang."

Setelah berpamitan dengan rumah mereka untuk terakhir kalinya, rombongan itu pun mulai melanjutkan perjalanan menuju Pangkalan B.

---

Perjalanan kali ini jauh lebih mudah dibanding sebelumnya.

Mungkin karena daerah sekitar sudah dibersihkan beberapa kali oleh para penyintas.

Zombie yang mereka temui hanya sedikit dan tidak terlalu berbahaya.

Beberapa jam kemudian, mereka melewati sebuah dealer mobil besar.

Mata Lily langsung berbinar.

"Berhenti dulu!"

Semua orang menoleh ke arahnya.

"Kita cari kendaraan yang lebih besar."

Lily menunjuk ke arah dealer.

"Kalau mau pergi jauh, kita butuh mobil yang bisa menampung semuanya."

Semua orang setuju.

Mereka pun memasuki dealer tersebut.

Begitu masuk, Lily langsung menyebarkan energi mentalnya untuk memeriksa area sekitar.

Beberapa detik kemudian, ia menemukan beberapa titik hijau.

Itu menandakan masih ada orang yang hidup di dalam dealer.

Namun Lily tidak terlalu memedulikannya.

Selama mereka tidak mengganggu, ia juga tidak berniat mengganggu mereka.

Lily lalu mulai berjalan mengelilingi showroom.

Matanya terus mengamati berbagai kendaraan yang berjajar rapi.

Hingga akhirnya...

"Astaga!"

Mata Lily langsung berbinar terang.

"Mobil ini keren banget!"

Di hadapannya berdiri sebuah mobil off-road berukuran besar.

Bentuknya gagah dengan ban tebal dan bodi yang tampak sangat kokoh.

Tanpa berpikir panjang, Lily langsung memasukkan mobil tersebut ke dalam ruang dimensinya.

"Kalau ada keadaan darurat, mobil ini bisa dipakai nanti."

Setelah itu ia kembali berkeliling.

Tak lama kemudian, suara Lea terdengar dari sisi kanan bangunan.

"Hei! Semuanya ke sini deh!"

Teriaknya penuh semangat.

"Kayaknya ini cocok buat perjalanan kita!"

Lily segera berjalan menuju sumber suara.

Saat tiba di sana, ternyata semua anggota keluarganya sudah berkumpul.

Di hadapan mereka berdiri sebuah campervan besar.

Lily langsung membuka pintunya dan masuk ke dalam.

Begitu melihat bagian dalam kendaraan itu, ia cukup terkejut.

Campervan tersebut sangat lengkap.

Di dalamnya terdapat tiga tingkat tempat tidur, sofa panjang, karpet bulu, kompor kecil, lemari penyimpanan, bahkan kamar mandi.

"Hmm..."

Lily mengangguk puas.

"Ini memang cocok."

Ia keluar kembali dan menatap semua orang.

"Tapi siapa yang bakal nyetir?"

Beberapa detik kemudian Mang Ujang mengangkat tangan.

"Kalau Non nggak keberatan, biar Mamang aja yang nyetir."

Lily menoleh.

"Mamang bisa?"

Mang Ujang tersenyum bangga.

"Mamang udah puluhan tahun bawa mobil, Non."

Mendengar itu, Lily langsung setuju.

"Kalau begitu Mamang yang nyetir."

Ia lalu melirik Athar dan Alex.

"Nanti bisa gantian sama Athar atau Bang Alex kalau capek."

Semua orang mengangguk.

Keputusan pun dibuat.

Mereka segera bersiap untuk berangkat.

Namun tepat saat hendak menaiki campervan, suara seseorang terdengar dari belakang.

"Hei! Tunggu!"

Semua orang menoleh.

Ternyata beberapa penyintas yang bersembunyi di dealer tadi akhirnya keluar.

Di depan kelompok itu berdiri seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh tahun.

Wajahnya terlihat memelas.

"Bisakah kami ikut dengan kalian?"

Ia menatap rombongan Lily penuh harap.

"Kami mohon."

Lily menatap mereka tanpa ekspresi.

"Apa keuntungannya buat kami kalau membawa kalian?"

Pria itu terdiam sesaat.

"Kami bisa membantu melawan zombie di jalan."

Lily menggeleng.

"Maaf."

"Saya nggak tertarik."

Ia langsung menoleh ke keluarganya.

"Ayo, semuanya naik."

Mendengar penolakan tersebut, wajah beberapa orang langsung berubah tidak senang.

Pria tadi bahkan terlihat marah.

"Hei!"

Ia berteriak keras.

"Apa kalian nggak punya hati?"

"Kita sama-sama manusia!"

"Kami cuma ingin ikut supaya nggak mati di sini!"

Lily menghentikan langkahnya.

Perlahan ia membalikkan badan.

Tatapannya dingin.

"Aku nggak ingin membawa kalian."

"Itu hakku."

Ia menyilangkan tangan.

"Kenapa kalian yang marah?"

Kelompok penyintas itu langsung terdiam.

Namun salah satu wanita dalam kelompok mereka tiba-tiba maju.

Kalau begitu..."

Ia menunjuk campervan.

"Tinggalkan mobil itu dan sebagian makanan kalian di sini."

Beberapa anggota kelompok langsung mengangguk setuju.

Wajah Lily langsung menjadi semakin dingin.

"Ambil saja."

Nada suaranya terdengar datar.

"Kalau kalian berani."

Kelompok penyintas itu langsung maju beberapa langkah.

Mereka benar-benar berniat merebut kendaraan tersebut.

Namun sebelum salah satu dari mereka berhasil menyentuh Lily...

KREKKK!

BUGG!

BRAKKK!

"ARGHHHHH!"

Suara patahan tulang terdengar nyaring.

Pria yang sejak tadi paling banyak bicara langsung terlempar ke tanah sambil memegangi tangannya yang patah.

Lily baru saja mematahkan lengannya.

"Wanita jalang!"

Pria itu berteriak marah.

"Kubunuh kau!"

Ia kembali berlari menyerang.

Namun kali ini Lily tidak menahan diri.

PLAK!

BUGG!

BRAKK!

PLAK!

BUKKK!

Pria itu kembali terpental.

Belum sempat bangun, Lily sudah berada di depannya.

Tatapan gadis itu begitu dingin hingga membuat semua orang merinding.

"Masih ada yang mau coba?"

Suasana langsung sunyi.

Tak ada satu orang pun yang berani menjawab.

Mereka semua menatap Lily dengan wajah pucat.

Setelah melihat bagaimana mudahnya gadis itu menghajar pemimpin mereka, tidak ada lagi yang berani bergerak.

Lily memandang mereka beberapa saat.

Kemudian ia berbalik dan berjalan menuju campervan.

"Sudah selesai."

Ia duduk di kursinya.

Lalu menoleh ke arah sopir.

"Jalan, Mang."

Mang Ujang yang sejak tadi menyaksikan semuanya hanya tersenyum kecil.

"Siap, Non."

Mesin campervan pun menyala.

BRUMMM...

Perlahan kendaraan besar itu bergerak keluar dari dealer.

Sementara kelompok penyintas yang tadi berusaha memaksa hanya bisa menatap dengan wajah pucat dan penuh penyesalan.

Campervan itu terus melaju meninggalkan dealer, membawa keluarga Lily menuju tujuan mereka.

Menuju Pangkalan B.

Tempat yang mungkin akan menjadi rumah baru mereka di tengah dunia yang telah berubah menjadi neraka.

1
Eva Akmal
smg sehat slalu n semangat
Cristina Billi
lanjut thor /Determined//Determined//Determined//Determined/
Eva Akmal
smg ibunya lekas sembuh n kita semua sehat aamiin..🤲🏻
Eva Akmal
seru
Cristina Billi
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Anonim
selalu ditunggu up nya.... semangat/Determined/
Wapik
baca dulu ya🤭
bulan sabit: semoga suka ya maaf jelek masih pemula soalnya maklum masih anak kelas 1 SMA
total 1 replies
Cristina Billi
semangat thor/Angry//Angry//Determined//Determined//Determined/
Dania
semangat tor'di tunggu up nya
Dania
I hope your mother gets well soon
Etty Rohaeti
lekas pulih kembali untuk ibu nya
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak
bulan sabit: besok atau gak Jum'at ya kak soalnya aku lagi ujian maklum masih sekolah 🤭🤣
total 1 replies
Arju Na
😄😄😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!