Blurb
Kiran Hanna Yasmin, merasakan hidupnya hampir sempurna dan jatuh cinta pada pria terbaik. Nyatanya bukan cinta, dirinya hanya dijadikan alat untuk balas dendam cara cepat untuk menuntut hak dari seorang Indra Jaya. Kehidupan Kiran seakan jungkir balik dan berubah ketika ayahnya memutuskan menikahkan Kiran dengan orang kepercayaannya.
Bukan kisah benci jadi cinta, tapi keadaan yang semakin rumit manakala Kiran hamil dan merasa diabaikan. Pecundang datang dengan penyesalan dan berjanji akan mengembalikan semua pada tempatnya, situasi menjadi semakin sulit macam benang kusut.
Kepada siapa cinta Kiran akan berpindah hati?
***
“Ini bukan kisah drama seperti tulisan-tulisanmu, tapi kehidupan nyata yang harus kita jalani. Sama seperti dirimu, aku pun memiliki kisah cinta sendiri.” == Brama Aji Sena.
“Aku tidak butuh rasa kasihan, pergilah dengan rasamu karena cintaku akan berpindah pada hati yang tepat." == Kiran Hana Yasmin
======
Follow IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 ~ Terciduk
Brama masih menatap layar ponsel, tepatnya jadwal meet and greet & grand launching novel terbaru Kiran. Padahal ia baru saja bangun dan memeriksa jadwal hari ini, ternyata ada email masuk yang dikirim Kiran semalam. Sedangkan pelakunya masih terlelap
Untuk lokasi yang berada di Jakarta, Brama tidak terlalu khawatir. Ada timnya yang bisa mengawasi dan menemani Kiran. Namun, ada dua jadwal di luar kota dan ini membuatnya ragu. Sepertinya ide untuk segera membuat Kiran hamil dan melahirkan bayi-bayi lucu adalah salah satu alasan untuk mengurangi kesibukan Kiran.
Ada pergerakan dari Kiran yang mulai terjaga.
“Hah, ini jam berapa? Aku kesiangan lagi ya?” tanya Kiran sambil mengucek matanya.
“Matahari terbit juga belum, masih ada waktu kalau kita mau tidur lagi atau bersenang-senang,” ujar Brama lalu berbaring miring dan memeluk istrinya.
“Mas, sudah baca jadwalku?”
“Hm.”
Brama membenamkan wajahnya di bahu Kiran.
“Untuk wilayah Jakarta, ada Toni dan yang lain untuk mendampingi kamu.”
“Yang di luar kota, gimana? Aku tidak mungkin menolak, ini bagian promosi yang disepakati waktu perjanjian cetak.”
“Tidak perlu ditolak, aku ikut dampingi. Hanya ada dua jadwal dan jatuhnya di weekend. Sekalian kita liburan.”
“Serius Mas?”
“Apa aku terlihat sedang bercanda.”
Kegembiraan Kiran menjadi kesenangan Brama. Lagi dan lagi, pria itu menuntun istrinya kembali merengkuh nikmatnya pernikahan. Bukan karena hasratnya saja, tapi Brama akan merealisasikan rencananya untuk segera membuat Kiran hamil.
“Loh, nggak sarapan dulu?” tanya Kiran karena Brama menghampiri dan mendaratkan bibir di dahinya. Sudah rapi dengan setelan kerja sedangkan dirinya masih mengenakan setelan rumahan.
“Nanti saja. kabari aku kalau mau pulang,” seru Brama lalu membuka pintu kamar.
Kiran ragu untuk keluar dari kamar, apalagi bergabung di meja makan. Sekedar menjaga hati dan perasaannya dari kalimat Narita yang kadang tidak nyaman didengar. Ternyata Yudis memerintahkan salah satu asisten rumah tangga untuk mengajak Kiran turun, mau tidak mau Kiran pun patuh.
Bukan hanya Brama yang absen ikut sarapan, Kiran tidak melihat Emran. Saat Yudis menanyakan keadaan putranya, Narita membela dengan mengatakan Emran bergegas berangkat karena ada pekerjaan kemarin yang tertunda.
“Emran sangat serius dan bertanggung jawab, kamu bisa lihat sendiri. Bahkan dia memutuskan sarapan di kantor,” ungkap Narita tanpa tahu sebenarnya Emran bergegas karena menuju apartemen Vira.
Semalam Vira dan Emran berdebat di telpon karena Vira memutuskan hubungan, dengan alasan orangtua Emran tidak akan mudah memberikan restu. Padahal hanya akal Vira agar Emran menemui dan menolak hubungan mereka berakhir.
“Ayolah sayang, jangan begini. Kita bisa atasi, asal sama-sama berjuang,” rayu Emran sembari mengekor langkah Vira menuju walk in closet.
“Sudahlah Emran, kita akhiri sekarang. Semakin lama, rasa sakit dan penyesalan semakin besar ketika semua ini harus berakhir.”
“Kenapa harus diakhiri? Kamu harus percaya aku Vira.” Emran menyentuh kedua bahu Vira dan memaksa tubuh itu menghadap ke arahnya. Meskipun pandangan Vira menatap ke arah lain. “Percaya aku, ya?”
Vira saat ini hanya mengenakan bathrobe, karena baru selesai membersihkan diri ketika Emran datang. Tali bathrobe perlahan ditarik oleh Emran dan memperlihatkan tubuh polosnya. Jarak mereka perlahan terkikis karena wajah Emran yang sudah sangat dekat.
Dimulai dengan pagutan bibir, lalu keduanya larut dalam penyatuan diri. Emran terlena dan semakin jatuh dalam pesona dan jebakan cinta Vira. Dengan sedikit drama dan pengalaman dalam berhubungan dengan pria dewasa, Emran sangat mudah didapatkan.
***
“Belum datang?” tanya Yudis memastikan apa yang disampaikan oleh Iwan.
Ada yang janggal menurut Yudis saat Narita mengatakan Emran berangkat cukup pagi untuk menyelesaikan pekerjaan kemarin. Sedangkan saat ini putranya itu ditempatkan di bagian paling landai. Pekerjaan apa yang dimaksud Emran, membuat Yudis penasaran.
Saat meminta asistennya memanggil Emran, kenyataannya meja Emran masih kosong. Tentu saja Yudis bisa menduga kemana putranya pergi.
“Panggil Brama!”
Sepertinya peringatan Yudis malah diabaikan oleh Emran. Makin menjadi dengan berani membohongi orang tua. Brama sudah tiba di ruang kerja Yudis. Pemimpin perusahaan dan juga ayah mertuanya itu sedang berdiri di depan jendela tepat di belakang kursi kebesarannya. Menatap keluar, suasana langit Jakarta.
“Brama, di mana Emran sekarang?” tanya Yudis tanpa menoleh.
Brama yang sudah mendapat clue dari Iwan sudah menghubungi orang yang ditugaskan mengawasi adik iparnya. Meskipun berat menyampaikan kebenaran, karena setelah ini pasti akan ada konflik di keluarga Dhananjaya.
“Apartemen … Vira.”
“Berani juga wanita itu bermain api denganku. Selesaikan hal ini tanpa Narita tahu, Emran biar menjadi urusanku.”
Saat ini Brama sudah tiba di apartemen Vira, bersama dua orang pria yang mengawasi Emran. Berdiri di depan pintu unit apartemen. Saat ingin menekan bel, pintu perlahan terbuka. Emran merangkul bahu Vira dan keduanya tertawa karena candaan, mendadak terpaku melihat keberadaan Brama.
“Brama.”
“Mas Brama.”
Vira dan Emran berucap serempak.
“Emran, ikut mereka dan temui Ayahmu,” titah Brama dengan wajah serius.
Emran dan Vira pun saling tatap, keduanya paham kalau mereka sedang dalam masalah. Setelah Emran bertemu Yudis, pasti ada keputusan yang tidak bisa mereka abaikan.
“Aku akan antar Vira, biar aku selesaikan sendiri masalah ini,” ujar Emran.
“Vira menjadi urusanku, ikut mereka baik-baik atau ….”
“Siapa kamu berani memerintah, kamu hanya putra dari asisten Ayah dan berlagak menjadi pahlawan dengan menikahi Kak Kiran hanya untuk menutupi aibnya.”
Brama melangkah mendekat dan mendorong tubuh Emran. Vira berteriak dan menghalangi Brama. Tentu saja wanita itu tahu bagaimana tabiat dan karakter Brama ketika marah.
“Brama, hentikan!” teriak Vira.
“Pergi dengan mereka atau kamu akan menyesal,” ancam Brama pada Emran. Vira pun meminta Emran patuh.
Emran sempat menoleh saat Brama menutup pintu apartemen. Entah apa yang Brama akan lakukan pada Vira, tapi ancaman pria itu membuat nyali Emran ciut. Brama bukan hanya kompeten mengimbangi Yudis dalam mengelola perusahaan, tapi memiliki ilmu bela diri dan aura yang membuat lawannya ragu untuk berurusan dengan pria itu.
“Vira,” ucap Emran. Setelah ini, tidak akan mudah baginya menemui wanita itu. entah Yudis akan melakukan apa, membayangkannya saja membuat Emran ingin berteriak.
Sedangkan di dalam unit apartemen.
“Jangan ikut campur Brama, biar aku dengan jalanku sendiri.”
“Aku bukan ikut campur.”
“Jangan bilang kalau kamu cemburu,” ujar Vira lalu terkekeh, sedangkan Brama masih dengan wajah datarnya mendekati Vira.
“Aku bukan cemburu, tapi jijik. Hubunganmu dengan Indra belum lama berakhir, tapi bocah tadi sudah berhasil memuaskan mu atau ada rencana lain? Ini terakhir kali, kamu menemui Emran atau Tuan Yudis akan memberikan perintah yang membuatmu menyesal menjebak Emran.”
“Aku tidak menjebaknya, dia mencintaiku,” pekik Vira.
dari awal bab, dah trasa beda aja👍