NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Hari Pertama

Senin pagi.

Untuk pertama kalinya sejak lulus kuliah, Luna berdiri di depan cermin sambil mengenakan pakaian kerja.

Blazer krem dipadukan dengan kemeja putih dan rok selutut membuatnya terlihat profesional sekaligus elegan.

Luna memperhatikan dirinya sendiri beberapa detik.

Masih terasa tidak nyata.

Dua bulan lalu ia masih sibuk menyelesaikan tugas kuliah.

Lalu hidupnya berubah karena pernikahan mendadak dengan Alex.

Dan sekarang...

Ia akan memulai karier pertamanya.

Sebagai staf Public Relations di Dimitri Group.

"Deg-degan?"

Suara Alex membuat Luna menoleh.

Pria itu sudah rapi dengan setelan jas hitam khasnya.

Luna mengangguk cepat.

"Banget."

Alex tersenyum kecil.

"Normal."

"Aku takut salah."

"Kamu pasti salah."

Luna langsung melotot.

"Alex!"

Pria itu tertawa kecil.

"Maksudku semua orang pasti pernah salah saat pertama kerja."

Luna menghela napas.

Meskipun terdengar menyebalkan, ia tahu Alex benar.

---

Saat sarapan, Kakek Dimitri terlihat jauh lebih bersemangat dibanding Luna sendiri.

"Cucu menantuku akhirnya kerja."

"Kek..."

"Aku bangga."

Luna tertawa malu.

"Baru hari pertama."

"Justru itu."

Kakek tersenyum lebar.

"Kalau ada yang ganggu kamu, bilang sama Kakek."

Alex langsung menyela.

"Kakek jangan bikin cucu menantu jadi anak emas."

"Aku memang mau."

jawab Kakek santai.

Luna dan Alex langsung saling pandang lalu tertawa.

---

Perjalanan menuju kantor berlangsung lancar.

Namun sesuai kesepakatan mereka, Luna dan Alex tidak masuk bersama.

Status Luna sebagai istri direktur utama masih dirahasiakan dari sebagian besar karyawan.

Hanya direksi dan beberapa petinggi perusahaan yang mengetahuinya.

Alex ingin Luna membangun kariernya sendiri tanpa bayang-bayang status sebagai istrinya.

Dan Luna juga setuju.

"Semangat."

kata Alex saat mobil berhenti di area parkir khusus.

Luna tersenyum.

"Terima kasih."

Alex mengangguk.

Lalu turun lebih dulu.

Sedangkan Luna baru masuk ke gedung beberapa menit kemudian.

---

Hari itu lobby Dimitri Group terlihat sangat sibuk.

Beberapa karyawan lalu-lalang membawa dokumen.

Sebagian terlihat berbicara melalui headset.

Dan sebagian lagi bergegas menuju lift.

Luna menarik napas panjang.

Hari pertamanya resmi dimulai.

"Eh!"

Suara seseorang membuatnya menoleh.

Seorang wanita melambaikan tangan dari dekat lift.

Luna langsung mengenalinya.

"Sisil!"

Wanita itu tertawa.

"Kita ketemu lagi."

Ternyata Sisil, peserta yang sempat mengobrol dengannya saat wawancara, juga lolos seleksi.

Luna langsung merasa lega.

Setidaknya ia punya teman.

"Aku seneng banget ada kamu."

kata Sisil.

"Aku juga."

jawab Luna jujur.

---

Mereka naik lift bersama menuju lantai 23.

Lantai khusus Divisi Corporate Communication dan Public Relations.

Begitu pintu lift terbuka, Luna langsung terpukau.

Ruangan itu jauh berbeda dari bayangannya.

Modern.

Terbuka.

Dan penuh aktivitas.

Beberapa staf terlihat sibuk mengetik.

Ada yang sedang rapat kecil.

Ada pula yang berbicara dengan media melalui telepon.

"Wah..."

gumam Luna.

Sisil juga terlihat kagum.

"Ini keren banget."

---

Tak lama kemudian seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun menghampiri mereka.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi, Bu."

jawab Luna dan Sisil bersamaan.

"Saya Amanda."

wanita itu memperkenalkan diri.

"Supervisor Public Relations."

Mereka langsung memperhatikan dengan serius.

Amanda terlihat tegas namun ramah.

"Hari ini saya akan menjelaskan pekerjaan kalian."

Luna dan Sisil langsung mengangguk.

---

Selama hampir dua jam mereka mendapatkan orientasi.

Mulai dari struktur perusahaan.

Alur kerja divisi.

Sampai tugas-tugas yang akan mereka tangani.

Luna mendengarkan dengan penuh perhatian.

Semakin lama ia semakin yakin bahwa bidang ini memang sesuai dengan minatnya.

"Kalian akan banyak berhubungan dengan media."

jelas Amanda.

"Juga menangani acara perusahaan dan komunikasi eksternal."

Mata Luna langsung berbinar.

Ia memang menyukai pekerjaan yang melibatkan komunikasi dengan banyak orang.

---

Saat jam makan siang tiba, Sisil langsung menarik tangan Luna.

"Ayo makan."

Luna tertawa.

"Kamu lapar banget ya."

"Iya."

Mereka menuju kantin karyawan yang berada di lantai 20.

Sepanjang perjalanan, Sisil terus mengobrol tanpa henti.

Ternyata wanita itu sangat ceria.

Berbeda jauh dengan Luna yang cenderung lebih tenang.

"Aku deg-degan tadi pagi."

kata Sisil.

"Aku juga."

"Malah aku hampir salah masuk lift."

Luna langsung tertawa.

"Serius?"

"Iya."

Mereka akhirnya duduk bersama sambil menikmati makan siang.

Dan tanpa terasa mulai akrab.

---

"Tapi aku penasaran."

kata Sisil tiba-tiba.

Luna mengangkat kepala.

"Penasaran apa?"

"Kamu punya pacar nggak?"

Luna hampir tersedak minumnya.

Pacar?

Kalau Sisil tahu dirinya sudah menikah dengan direktur utama perusahaan, mungkin wanita itu akan pingsan.

"Kenapa tanya begitu?"

"Karena kamu cantik."

Luna langsung tertawa malu.

"Nggak juga."

"Ada deh pasti."

Sisil menyipitkan mata.

"Aku yakin."

Luna buru-buru mengalihkan topik.

Kalau tidak, percakapan ini bisa berbahaya.

---

Sementara itu.

Empat belas lantai di atas mereka.

Alex sedang menghadiri rapat direksi.

Lantai 40 memang dikhususkan untuk jajaran pimpinan perusahaan.

Ruangan kerjanya berada di sudut gedung dengan pemandangan seluruh Jakarta.

Namun entah kenapa.

Hari itu konsentrasinya beberapa kali terganggu.

Ryan yang duduk di sebelahnya langsung menyadarinya.

"Kamu mikirin apa?"

Alex tetap menatap layar presentasi.

"Nggak ada."

Ryan mendengus.

"Bohong."

Alex tidak menjawab.

Ryan tersenyum jahil.

"Pasti mikirin Luna."

Beberapa direktur yang duduk di dekat mereka langsung menoleh.

Alex menatap Ryan datar.

"Kamu mau keluar dari rapat?"

Ryan langsung diam.

Namun senyumnya tidak hilang.

---

Jam kerja sore berlangsung cukup padat.

Luna dan Sisil diminta membantu menyusun daftar media partner untuk acara perusahaan bulan depan.

Awalnya Luna takut tidak bisa mengikuti ritme kerja.

Namun ternyata ia mampu beradaptasi lebih cepat dari yang diperkirakan.

Bahkan Amanda sempat memujinya.

"Kerja bagus."

kata Amanda.

"Terima kasih, Bu."

Amanda tersenyum.

"Kamu cepat belajar."

Pujian sederhana itu membuat Luna semakin bersemangat.

---

Menjelang pukul lima sore.

Sebagian karyawan mulai bersiap pulang.

Namun Luna masih menyelesaikan beberapa data.

"Rajin banget."

kata Sisil.

"Aku cuma mau beresin ini."

"Besok juga bisa."

Luna tertawa kecil.

Mungkin karena ini hari pertama, ia ingin memberikan kesan yang baik.

---

Saat akhirnya keluar dari gedung, langit Jakarta sudah mulai gelap.

Luna berdiri di depan lobby menunggu mobil jemputan.

Tak lama kemudian sebuah mobil hitam berhenti.

Pintu belakang terbuka.

Dan Alex keluar.

Beberapa karyawan yang kebetulan lewat langsung memberi salam hormat.

"Selamat sore, Pak Alex."

Alex mengangguk singkat.

Luna yang melihat itu hanya tersenyum kecil.

Setelah semua orang menjauh, Alex berjalan menghampirinya.

"Gimana hari pertama?"

tanya pria itu.

Luna tersenyum lebar.

"Capek."

"Itu bukan jawaban."

"Tapi menyenangkan."

Alex terlihat lega.

"Itu baru jawaban."

Luna tertawa.

---

Di dalam mobil, Luna mulai bercerita tentang hari pertamanya.

Tentang Amanda.

Tentang pekerjaan.

Tentang Sisil yang sangat cerewet.

Alex mendengarkan dengan tenang.

Sesekali tersenyum melihat antusiasme istrinya.

Dan untuk pertama kalinya sejak Luna mulai bekerja, ia menyadari sesuatu.

Keputusannya mendukung Luna bekerja memang benar.

Karena wanita itu terlihat jauh lebih hidup saat mengejar hal yang ia sukai.

Sementara Luna yang sedang bercerita tidak menyadari tatapan hangat Alex kepadanya.

Satu hal yang pasti.

Hari pertama telah berlalu dengan baik.

Namun tanpa mereka sadari, kehidupan kantor yang baru saja dimulai akan membawa banyak kejutan baru untuk Luna.

Termasuk rahasia besar yang belum diketahui oleh seluruh karyawan di lantai 23.

Rahasia bahwa salah satu staf baru mereka adalah istri dari CEO paling disegani di Dimitri Group.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!