Giandra Wardhani, Gadis emaja berumur 18 tahun duduk di bangku Kelas 3 SMA tidak menyangka kalau suami baru mamanya, Regina__ adalah Pria yang lebih muda dari Regina dan seorang pengusaha kaya raya, bernama LEONDRA GIONATHAN.
Giandra juga tidak menyangka kalau pria yang menjadi Sugar Daddynya ternyata adalah papa tirinya sendiri.
Novel ini bukan hanya menceritakan lika liku kehidupan sulit Giandra, tapi juga kisah cinta dua pria yang mencintai gadis yang sama.
Siapa yang akan di pilih Giandra? Sang papa tiri LEONDRA GIONTHAN atau REZA PRATAMA seorang siswa sekelas dengan Giandra.
Ikuti alur kisah cinta segitiga yang rumit ketiganya. Jangan lupa dukungannya sebagai penyemangat Author untuk update.
Novel ini di buat oleh author Ana Yulia atas izin Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
Happy Reading.
Setelah perkenalan Giandra dengan Vivian dan Nathalia, Giandra di persilahkan duduk oleh Opa Dam."Duduklah Nak, sarapan akan di mulai."
Giandra mengangguk, lalu melihat tempat duduk yang masih kosong. Ternyata yang kosong berada di antara Nathan dan Oma Dian."Duduklah di dekat Oma." kata Oma Dian. Giandra merasa canggung begitu melihat Nathan. Bayangan yang terjadi di atas ranjang Hotel semalam kembali muncul di kepalanya.
"Duduklah!" suara Nathan tegas mendominasi keluar dari mulut Nathan. Dia menggeser posisi kursi sedikit kebelakang agar Gia bisa masuk untuk duduk. Giandra kaget dan segera menuruti perintah papa tirinya untuk duduk. Giandra menghindar tatapan Nathan karena canggung dan sangat malu teringat hal gila yang mereka lakukan semalam. Berbeda dengan Nathan yang memperhatikan wajahnya lekat, karena wajah itu terlihat pucat, dengan mata membengkak. Dan dia meyakini penyebab wajah pucat dengan mata membengkak itu karena ulahnya semalam.
"Tangan kamu kenapa sayang?" tanya Oma Dian terkejut melihat perban di lengan Giandra. Reflek Giandra menutupi perban tersebut dengan telapak tangannya. Sementara Opa Dam segera memutar lehernya ke samping, melihat ke arah Giandra.
"Kenapa lengannya?" tanya Opa Dam.
"Sepertinya cucu kita terluka Opa!" Dian terlihat khawatir.
"Terluka?" respon Dam kaget, raut wajah khawatir.
"Ini hanya luka goresan Opa, Oma. Sudah mulai sembuh kok." ujar Giandra gugup sambil mengulas senyum kecil melihat kepanikan kedua lansia itu.
"Fatmala, cepat kau hubungi Arish. Suruh dia ke sini sekarang juga." perintah Dam.
"Opa, lukanya sudah mendapatkan perawatan dari dokter Rish. Beliau juga sudah memberi obat dan vitamin." ujar Gian segera. Dia tidak menyangka kedua lansia itu begitu peduli dan khawatir padanya.
"Syukurlah." ucap Oma Dian.
Dam juga lega."Tapi lukanya tetap harus di periksa Arish lagi untuk memastikan kesembuhannya. Nanti suruh Arish ke sini." katanya pada Fatmala.
"Iya Tuan!" kata Fatma.
"Oma dan Opa baru meninggalkan mu kemarin. Kenapa kau bisa terluka? Kapan kejadiannya?" tanya Oma Dian.
"Oh i- itu__dua hari kemarin saat Oma dan Opa kembali ke Bandung. Aku terjatuh saat olahraga dan lenganku tidak sengaja tergores." bohong Giandra terbata, dia melirik Nathan dan Fatmala secara bergantian.
Nathan tampak acuh dengan terus menikmati makanannya, meski telinganya mendengar kebohongan Giandra. Sama halnya dengan Fatmala yang tak berkomentar karena faham dengan lirikan mata anak tiri majikannya. Keduanya tahu alasan Giandra berbohong.
Sedangkan Regina kaget mengetahui Giandra terluka karena dia tidak tahu apa yang terjadi pada Giandra. Tapi dia tidak menunjukkan reaksi apapun tentang ketidak tahuannya soal luka Giandra, nanti malah akan di salahkan Dam dan Dian karena tidak perhatian pada Giandra, anak sendiri.
"Oh kasihan sekali, semoga lukanya cepat sembuh ya ponakan ku!" Nathalia buka suara dengan Raut wajah di buat manis sekaligus prihatin.
"Lain kali kamu harus hati-hati." sahut Opa Dam kembali.
"Iya Opa." Giandra lega, tapi juga merasa bersalah karena telah berbohong. Kalau dia jawab sejujurnya pasti pertanyaan akan merambah kemana mana.
"Aku juga sudah sering memperingatkannya untuk hati hati jika melakukan sesuatu. Dia memang selalu begitu sedari kecil. Melalukan sesuatu dengan terburu buru. Jadinya begini kan?" timpal Regina.
Giandra hanya diam dengan komentar mamanya yang merupakan karangan bebas. Sok sok perhatian dan peduli. Padahal dari kecil Regina tidak peduli dan perhatian kepada dirinya dan juga Jiandra. Gia mengira wanita ini belum pulang dari Lombok dan berharap masih di Lombok. Tidak tahunya malah sudah pulang. Apa pekerjaannya telah selesai? Atau cepat pulang karena mendengar Vivian, Nathalia, Opa Dam dan Oma Dian akan datang ke sini? yang jelas kepulangan mamanya ini membuatnya batal mengunjungi adik adiknya. Padahal hari ini dia rencana akan pergi menengok Qenan dan Qinan yang akan menjalani kemoterapi pertama.
"Sekarang nikmati sarapan mu!" Sahut Oma Dian lembut membuyarkan lamunannya. Giandra mengangguk patuh. Dia segera mengambil sepotong roti tawar seperti biasanya. Dan Fatmala dengan sigap menuangkan susu dan jus jeruk untuknya.
"Terimakasih Bik." ucap Giandra dengan suara rendah.
"Ini sudah tugas saya Nona! Tidak perlu berterima kasih." kata Fatma tersenyum.
"Makan yang banyak biar lukanya cepat sembuh." kata Oma Dian.
Giandra mengangguk.
Sementara Regina tidak menyangka kalau kedua orang tua itu begitu peduli, dan memperlakukan Giandra dengan istimewa seperti cucu sendiri. Dan segala bentuk perhatian Dam, Dian, Nathan dan Fatmala pada Giandra menjadi pusat perhatian Natalia, Vivian dan Regina.
"Kamu kelas berapa Giandra?" tiba tiba pertanyaan di lontarkan oleh Nathalia.
Giandra sedikit kaget."Kelas 3 SMA Aunty." jawabnya kelabakan.
"Jadi sedikit lagi lulus SMA ya." kata Nathalia kembali sambil mengunyah.
"Iya Aunty."
"Setelah lulus nanti kamu akan melanjutkan kuliah di universitas mana?"
"Saya belum tahu Aunty, belum terpikirkan." jawab Giandra setelah berpikir beberapa saat untuk menjawab.
"Harus segera di rencanakan dari sekarang Giandra. Wanita juga harus memiliki pendidikan tinggi, harus jadi wanita karir dan mandiri. Tidak boleh kalah sama lelaki. Gimana kalau kau kuliah ke luar negeri? Kau bisa tinggal di rumah Aunty atau Oma Vian."
Giandra hendak menjawab, tapi batal dengan suara Nathan.
"Biarkan Giandra menikmati sarapannya dulu kak!" sela Nathan."Dia tidak akan sempat makan jika kau ajak ngomong terus dan bisa terlambat ke sekolah!"
"Oupss, Sorry." Nathalia mengatupkan bibirnya. Tapi jujur dia kaget karet Nathan menegurnya karena Giandra.
"Lanjutkan sarapan mu!" perintah Nathan pada Giandra, yang langsung di anggukan oleh Giandra.
"Nanti saja kalian bicara jika Giandra pulang sekolah dan tidak sibuk dengan urusan sekolahnya." kata Dam melihat sekilas pada Nathalia. Lalu memasukan makanan penutup ke mulutnya.
"Baik Opa. Sejujurnya banyak yang ingin aku bicarakan dengan Giandra." ujar Nathali tak lepas menatap Giandra.
Sama halnya dengan Vivian. Meski tangan dan mulutnya di sibukkan dengan pisau garpu dan makanan, tapi matanya berkali kali mencuri pandang pada Giandra.
Beberapa saat kemudian suasana meja makan hening. Semuanya sibuk menghabiskan makanan.
"Sudah selesai? Aku akan mengantarmu ke sekolah." kata Nathan melihat Giandra melap bibirnya dengan Tissue.
"Tidak perlu Tuan, saya pergi dengan pak Gum saja." tolak Giandra halus.
"Tuan? Kok manggilnya Tuan?" sahut Opa Dam terkejut dengan sebutan Giandra pada Nathan. Bukan hanya Dam tapi juga Dian, Vivian dan Nathalia juga terkejut dengan sebutan itu.
"Nathan itu papa tirimu, seharusnya kamu manggil Daddy sayang." sela Oma Dian.
"Maafkan Gia Oma, Opa. Dia belum terbiasa. Aku sudah mengatakan begitu, tapi sepertinya Gia belum bisa menerima dan menganggap orang lain sebagai papanya!" Regina segera menyahut.
"Kami paham dengan alasan kamu Giandra, tapi kamu harus terbiasa dengan kehidupan barumu yang sekarang. Biar bagaimanapun Nathan adalah suami mama mu, otomatis menjadi papa tirimu." jelas Opa Dam."Jadi kamu harus manggil dia Dady bukan Tuan." jelas Opa Dam tegas.
"Meski Nathan bukan papa kandungmu, tapi Oma yakin dia akan menjadi figur ayah yang baik dan bertanggung jawab! Kalian berdua harus belajar saling beradaptasi satu sama lain untuk membangun hubungan yang baik layaknya ayah kandung dan anak kandung." kata Oma mengelus lembut tangan Giandra.
...Bersambung....
DinDut Itu Pacarku ngasih iklan
Om ocong Vs Mbak Kunti Mampir
Gia dan Reza
Nathan dan Jia
Om Ocong Vs Mbak Kunti ngasih iklan
𝙟𝙚𝙙𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙡𝙖𝙢𝙖𝙖𝙣.