Entah siapa yang menjebak Bima dengan obat sampai harus memanfaatkan gadis yang tidak berdaya bernama Olivia, di malam pertunangan gadis itu
“Saya khawatir kalau nanti Olivia ….” Bima menjeda ucapannya lalu menghela nafas,“Hamil.”
“Kamu pikir aku mau mengandung anak kamu! Kalaupun aku hamil, pasti akan aku gugurkan,” pekik Olivia
Benarkah Bima dan Olivia dijebak? Mungkinkah Bima dan Olivia akhirnya menjadi pasangan dan melupakan masa lalunya?
====
Spin Off : Jerat Cinta Dibalik Dendam
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35 ~ Bima Suami Aku
Olivia masih syok dengan pengakuan Helen yang ia dengar sendiri. Bima yang pham dengan kondisinya berinisiatif pulang menggunakan taksi. Selama perjalanan, Olivia membenamkan wajahnya di dada Bima. Pria itu menenangkan dengan mengusap punggungnya.
“Sudah sayang, paling tidak sudah terjawab kalau kita berdua tidak se brengs3k yang orang pikir.”
Olivia tidak sanggup membuka suara, karena akan membuat tangisnya pecah. Ketika taksi sudah berhenti depan gerbang kediaman Emilio, Olivia bergegas keluar dan masuk ke rumah. Bima sempat menyerahkan kunci mobil pada Pak Iwan serta menjelaskan lokasi parkiran.
“Oliv,” panggil Bima yang segera menyusul ke kamar.
Tidak ada di ranjang ataupun di ruang ganti, Bima menyusul ke toilet. Ternyata dikunci dari dalam.
“Oliv, sayang. Buka pintunya,” seru Bima sambil berkali-kali mengetuk.
Tidak lama pintu terbuka, Olivia keluar hanya mengenakan handuk dengan wajah sembab membuat Bima menghela nafas. Menunggu istrinya berganti sambil duduk di tepi ranjang.
“Kemarilah!”
“Hei, kok nangis lagi.”
Bima meraih tubuh Oliv ke dalam pelukannya. Jangankan Oliv yang tidak menduga kalau sahabatnya sendiri pelaku di balik penjebakan malam itu, Bima pun tidak menduga kalau Helen akan dengan mudah mengakui semua perbuatannya.
“Sudah sayang, kasihan yang di sini,” ujar Bima sambil mengusap perut istrinya. “Tidak baik wanita hamil, menangis apalagi sedih terus.”
“Aku kesal, kenapa Helen bisa sekejam itu. Bagaimana kalau malam itu bukan kamu yang terjebak, misal pria beristri atau pria hidung belang lalu aku hamil. Bagaimana nasibku? Apa dia tidak berpikir ke sana?”
“Anggap saja ini cobaan hidup kita. Untuk saat ini kita fokus saja dengan kebahagiaan kita dan kehadirannya,” ujar Bima kembali mengusap perut Oliv.
“Kamu akan sampaikan ke Papi, masalah ini?”
“Tentu saja. Jangan dipikirkan ya, istirahatlah.”
Olivia akhirnya berbaring, benar yang dikatakan Bima kalau ia butuh istirahat. Tubuh dalam kondisi hamil muda membuatnya mudah lelah, ditambah dengan kenyataan yang begitu mencengangkan.
Bima menatap wajah Olivia yang terlelap, tapi ada yang aneh menurutnya. Wajah Oliv seperti menahan sesuatu dan tidak nyaman, bahkan ada titik-titik keringat di kening. Dengan pelan ia naik ke ranjang dan menyeka dahi yang basah karena keringat.
Tiba-tiba Oliv menggerakan kepalanya dan mendesis pelan.
“Sayang, kamu kenapa? Ada yang sakit?” tanya Bima.
Olivia mengerjap kemudian menatap Bima.
“Sakit, perut aku sakit.”
“Hah, yang mana?”
Tangan Olivia menyentuh perut bagian bawah dan kembali mendesis. Bima mengusap kasar wajahnya, khawatir dengan kondisi istrinya. Bergegas dia keluar kamar dan berteriak agar disiapkan mobil. Mengantongi ponsel serta dompetnya juga kartu identitas Olivia.
“Kita ke rumah sakit,” ujar Bima menggendong Oliv ala bridal. Olivia pasrah dan mengalungkan tangannya ke leher Bima.
Bima khawatir dengan kondisi Olivia termasuk kandungannya, meminta Pak Iwan agak bergegas menuju rumah sakit terdekat. Sampai rumah sakit, Olivia dibawa ke UGD.
“Dok, bangsal dua. Wanita hamil, sakit di bawah perut,” ujar seorang perawat. Bima berada di sisi brankar dan terus menggenggam tangan Olivia.
“Selamat sore, ada ….” Dokter jaga yang akan memeriksa kondisi Olivia tertegun menyadari kalau pasien itu ternyata masa lalunya. Dokter itu adalah Haris.
Sungguh kebetulan yang menyebalkan, karena Olivia pun tidak menginginkan bertemu Haris apalagi pria itu pernah menghinanya.
“Dok, istri saya,” pekik Bima menyadarkan lamunan Haris. Segera bersikap profesional dan menanyakan kondisi serta keluhan.
“Suster,” teriak Haris masih memeriksa Olivia.
Seorang perawat dengan sigap menyusul ke bangsal di mana Oliv berbaring dan meminta Bima untuk keluar.
“Saya harus dampingi istri saya,” ujar Bima.
“Tunggu di luar ya Pak, Istri Bapak dalam pemeriksaan.”
Bima menunggu dengan resah, bahkan berjalan mondar mandir menunggu pemeriksaan selesai dan mendengar penjelasan mengenai kondisi Olivia. Hampir lima belas menit menunggu akhirnya Bima dipanggil.
“Bagaimana istri saya dok?” tanya Bima pada Haris. Bima tidak peduli berhadapan dengan siapa yang dikhawatirkan hanya Olivia dan seharusnya Haris profesional.
“Pasien mengalami kram perut, ada pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui kondisi kandungan dan pencegahan keguguran. Nanti akan ditangani oleh dokter obgyn, silahkan setujui untuk rawat inap,” tutur Haris.
Bima tidak banyak pertimbangan, langsung membubuhkan tanda tangannya di lembar persetujuan. Tidak lama Olivia di bawa ke kamar rawat dan sudah mengenakan pakaian pasien. Bima menghubungi Alan dan orangtua Olivia untuk menyampaikan kondisi istrinya.
Olivia tertidur setelah mendapatkan terapi obat melalui suntikan, juga ada pemeriksaan oleh dokter perempuan yang mengenalkan diri sebagai dokter obgyn.
“Kenapa bisa begini?” tanya Alan yang baru datang. kedua pria itu bicara agak jauh dari ranjang pasien.
“Saya baru pulang antar Oliv ke kampus. Sampai rumah saya meminta dia istirahat, ternyata dia kesakitan dan langsung saya bawa ke sini.”
“Lo apain adek gue, tahu ‘kan dia lagi hamil?”
“Taulah Bang.”
“Jangan-jangan lo main kasar sama Oliv,” ujar Alan lirih.
“Nggak Bang, pelan-pelanlah.”
“Ck, awas aja kalau Oliv kenapa-kenapa,” ancam Alan yang menuju sofa dan duduk di sana.
...***...
Bima duduk bersandar di kursi tepat di samping ranjang pasien, sedangkan Alan sudah terlelap di sofa. Dengan posisi yang tidak nyaman, Bima bergeser dan menelungkupkan wajah di sisi ranjang tepat di samping tangan Olivia.
Ketika sudah terlelap, Olivia terjaga dan terkejut saat tangannya menyentuh sesuatu ternyata kepala Bima. Tidak ingin membangunkan Bima, Oliv hanya diam. perlahan tangannya terangkat mengusap kepala Bima. Dalam hati ia kembali bersyukur karena Bima mau bertanggung jawab, bahkan ee
“Loh, sudah bangun?”
Bima meraih tangan Oliv yang tadi mengusap kepalanya lalu diusap ke wajahnya sendiri.
“Ada yang sakit?”
Oliv menggeleng pelan.
“Mau minum atau ….”
Oliv kembali menggelengkan kepala.
“Lalu?”
“Mau pulang, pengen tidur sambil peluk kamu,” jawab Oliv lirih, Bima tersenyum.
“Sabar sayang, kita pastikan kandungan kamu aman.”
Akhirnya Bima terjaga sampai pagi, mengusap perut dan Oliv sampai tertidur dan saat subuh istrinya kembali merasakan mual bahkan sampai muntah.
“Aku mau pulang,” rengek Olivia.
“Jangan manja, dokter belum bilang kamu boleh pulang,” ujar Alan. “Mami juga dalam perjalanan, sebentar lagi datang.”
Ucapan Alan benar, tidak lama Naya dan Tristan pun tiba. Keduanya khawatir dengan kondisi putri mereka, meskipun Biam sudah mengatakan kalau keluhan-keluhan Oliv sudah mereda.
“Sayang, Mami di sini,” ujar Naya yang langsung memeluk Olivia.
“Apa kata dokter?”
“Pagi ini belum ada visit, kemarin masih ada pemeriksaan untuk tahu kondisi kandungan Oliv.”
Saat dokter datang memeriksa kondisi Olivia dan menjelaskan bahwa keluhan yang muncul karena terlalu lelah dan stress. Tidak ada tanda keguguran, Olivia diperbolehkan pulang dan bedrest di rumah.
“Ini pasti karena lo ‘kan? Olivia stress karena lo,” teriak Alan dan bahkan sudah siap melepaskan pukulan ke wajah adik iparnya tersebut.
“Kak Alan jangan,” teriak Oliv sambil menangis.
Tristan menahan tangan Alan lalu memisahkan kedua pria itu.
“Kamu jangan bela dia, ini semua karena ‘kan?” teriak Alan lagi.
“Jangan Kak, Bima suami aku. Entah bagaimana aku jadinya kalau dia nggak ada dan nggak mau tanggung jawab.” Oliv mengulurkan tangannya, Bima segera menghampiri dan memeluk istrinya.
Naya dan Tristan saling pandang, heran dengan sikap Oliv yang cepat berubah.
“Ini sebenarnya ada apa?” tanya Naya.
“Sudah jangan nangis, kamu sudah boleh pulang. Aku harus jelaskan masalah kemarin biar semua paham.” Bima mengusap kepala Olivia.
“Masalah apa?” tanya Tristan.
walaupun gak sepenuhnya salah tp keadaan yg bikin Bima bersalah..
lawannya keluarga kalangan atas pula...
kuat² yaaa Bima🤭
wkwkckk..good job,teruslah berkarya, bravo anak2 bangsa yg hebat , aku bangga padamu 🥰💪🙏