Cedric Heffernan—iblis murni yang menyamar sebagai manusia, terikat kontrak pada Gabriella Paradox—seorang wanita manja yang merupakan cucu dari teman lamanya, Theo. Saat ia mulai menyadari perasaannya pada Gabriella, bahaya mulai mengincar nyawa Gabriella. Bisakah ia menjaga nyawa Gabriella. Bisakah ia menjaga nyawa Gabriella seperti yang ia janjikan pada teman lamanya?
Terima kasih buat kalian yang sudah membaca karyaku. Jangan lupa tinggalkan komentar, like, dan share cerita ini. Tambahkan ke rak buku agar kalian tidak ketinggalan episode terbaru Contract With Devil.
Kalian juga bisa mendukungku dengan memberikan koin dan poin mereka agar cerita ini bisa terus update.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shinya Flynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Cedric berdiri menyandar di sisi kanan mobil Bugatti Veyron yang didominasi warna hitam dan putih pemberian Markus sebagai hadiah karena sudah berhasil melewati masa kritisnya dan mengalahkan Paolo. Ralat. Ini jelas-jelas bukan hadiah. Ini pasti model penyiksaan baru yang sengaja Markus siapkan untuknya. Pasti begitu. Kakaknya itu bukan tipe yang memberi sesuatu dengan murah hati.
Baru saja ia tiba di tempat ini sepuluh menit yang lalu dan sekarang ia melihat kerumunan wanita yang berkumpul di dekatnya sambil berteriak histeris (atau antusias?), mengiranya sebagai seorang idol dan memintanya untuk memandang mereka. Aneh. Padahal jelas-jelas ia berusaha untuk berpenampilan tidak mencolok. Mengenakan oversized jaket berbahan denim warna biru tua dengan kaos turtle neck berlengan panjang warna hitam dan celana hitam yang sedikit ketat, dengan sepatu ankle boot kesayangannya lengkap dengan kacamata hitam yang bertengger di antara hidungnya harusnya sudah cukup membuat penampilannya tidak mencolok. Sebagai tambahan, ia memakai topi baseball putih yang jarang ia kenakan untuk menyembunyikan wajahnya.
“Percaya, Cedric. Manusia abad ke-21 jauh lebih toleran dengan keanehan.”
Ia jadi teringat perkataan Gabriella waktu itu. Toleran, ya? Ia mengelus belakang lehernya, merasa tidak nyaman karena semakin banyak wanita yang berkumpul seakan bersiap akan menerjangnya jika ia tidak menyapa mereka. Apa ini juga bisa dikategorikan sebagai toleran?
“Cedric! Maaf lama.”
Gabriella berlari menghampirinya, lalu sibuk mengatur napasnya yang terengah-engah begitu tiba di depannya. Begitu melihat sekelompok wanita yang kini menatap tajam Gabriella, wanita ini balik mendelik tajam seraya menggandeng lengan Cedric.
“Dia punyaku! Week!”
Dasar kekanakan…
“Ih, apaan sih? Jelas-jelas nggak cantik sama sekali. Mungil gitu,” salah seorang wanita berambut panjang bergelombang dan pakaian yang menonjolkan lekuk tubuhnya itu mengomel sambil menyibakkan rambutnya. “Lebih mirip adik daripada pacar.”
“Hisshh!! Kamu itu yang jelek!” Gabriella menyisingkan lengan bajunya, bersiap untuk menghajar wanita yang baru saja terang-terangan mengatainya. Sebelum Gabriella bertindak lebih jauh, Cedric menarik tas ransel hitam yang dikenakan Gabriella, menarik wanita ini menjauh dari gerombolan wanita tadi.
“Udah, biarin aja. Masuk ke dalam sekarang, Gabbie.”
“Ta-tapiー”
Ia mendekat pada Gabriella, mencium kilat pipi wanita ini yang berhasil membuat wanita ini tidak lagi protes. Lalu tatapannya beralih pada para wanita tadi. “Dia pacarku. Ada masalah?”
Para wanita itu kini berlari meninggalkan mereka, menangis histeris.
Orang-orang yang aneh, gumamnya dalam hati. Sepertinya, sampai kapan pun ia tidak akan pernah bisa memahami manusia.
Perhatiannya kembali pada Gabriella yang masih berdiri di sampingnya, seperti patung, sambil memegang pipinya yang baru saja ia cium tadi.
“Sampai kapan kamu mau berdiri di sana? Apa kamu segitunya nggak mau kencan sama aku hari ini?”
“K-k-k-kencan!?” Gabriella kini menatapnya dengan tatapan berbinar begitu ia menyinggung kata ‘kencan’. Wanita ini langsung melompat senang, berlari masuk ke dalam mobilnya.
“Kamu ngapain di situ, Cedric? Ayo, cepat!” sahut Gabriella begitu melihatnya yang belum masuk ke dalam mobil karena masih sibuk mengamati tingkah kekanakan Gabriella. Ia tertawa, lalu masuk ke dalam mobilnya, menyalakan mesinnya dan bergerak meninggalkan gedung kampus Gabriella.
“Tahu nggak, Cedric? Aku baru tahu kalau Ari itu ternyata berasal dari keluarga pengusir arwah. Makanya dari awal dia langsung tahu kalau kamu dan Renald itu bukan manusia.”
Dari bibir mungil wanita ini, meluncur kata-kata yang meluncur cepat seperti kereta api. Cedric hanya mengangguk yang sebenarnya tidak begitu menarik minatnya sambil tetap memfokuskan perhatiannya ke jalan.
“Wah, masa? Aku kaget banget.”
“Ngomongnya yang tulus sedikit kenapa sih?” Gabriella menyandarkan tubuhnya ke kursi. Wajahnya merengut, kesal karena menyadari kalau ia sama sekali tidak tertarik dengan apa yang tadi dibicarakan Gabriella. Tapi mendengar Gabriella membicarakan teman-temannya itu membuatnya sadar kalau sepertinya ia melupakan satu hal penting. Kalau tidak salah, saat Markus memberikan mobil ini padanya, Markus sempat menyinggung sesuatu. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang dikatakan Markus sambil tetap mendengarkan celotehan Gabriella.
“Kaku sekali jadi iblis?” Gabriella mendengus kesal sebelum kembali melanjutkan ceritanya. “Terus ya, mereka desak aku buat mengakui identitasku yang sebenarnya! Terpaksa deh, aku memberitahu mereka soal jati diriku sebagai warlock dan kamu yang seorang iblis. Nah di sini letak keanehannya, Cedric. Mereka malah nggak mempermasalahkan soal identitasku yang bukan murni manusia, loh! Aneh, kan?”
“Katamu waktu itu, manusia abad ke 21 jauh lebih toleran? Kok kamu malah protes gara-gara mereka nggak mempermasalahkan identitasmu?” Cedric mengarahkan mobilnya ke jalur lain yang lebih sepi begitu menyadari jalur yang biasa mereka lalui itu akan macet.
“Itu beda, Cedric! Beda!”
“Iya deh, beda. Wah, beda banget, ya?” balasnya, datar.
“Dih, gitu amat responnya? Kamu sama sekali tidak memahami perasaan gadis anggun, lembut,dan rapuh ini, Cedric.”
Ia memandang malas. Rasanya Gabriella yang sekarang mirip sekali dengan Markus. Suka melebih-lebihkan sesuatu dengan efek dramatis akut. Apa ini efek karena Gabriella tinggal di neraka selama dua minggu?
“Nah, terus Frida…”
Frida!
Ia ingat sekarang! Markus tadi memintanya untuk menagih pembayaran Gabriella soal Frida, tapi kakaknya sama sekali tidak mengatakan secara jelas apa maksud dari pembayaran itu.
“Bentar,” sela Cedric memandang ke sekeliling jalur yang ia lewati sekarang, lalu memarkirkan mobilnya ke tepi seraya mematikan mesin mobilnya. Mengalihkan pandangannya ke arah Gabriella. “Kakakku minta aku buat nagih pembayaran ke kamu. Apa kamu sempat melakukan transaksi dengan kakakku?”
“Hm, sebentar. Aku ingat-ingat dulu,” Gabriella diam sejenak, lalu menepuk tangannya setelah berhasil mengingat-ingat. “Jangan-jangan kakakmu itu nagih aku buat ngenalin dia ke Frida? Apa boleh buat. Bilang sama kakakmu buat datang ke kampusku besok.”
Cedric menaikkan sebelah alisnya, kebingungan. “Ngenalin ke Frida? Buat apa?”
“Ck, ck! Kamu nggak peka, Cedric!” Gabriella menggeleng. Ekspresinya terlihat mirip seperti Theo sekarang. “Markus itu tertarik sama Frida. Tertarik ke arah suka sampai ingin dijadiin pacar. Kamu itu gimana sih? Gini aja nggak tahu.”
“Sejak kapan? Kok aku nggak tahu?”
“Oh, benar juga. Waktu itu kan ada iblis yang memutuskan untuk menghilang begitu saja, meninggalkan seorang wanita warlock yang baru saja bangkit kekuatannya. Jadi wajar aja kalau nggak tahu.”
Gabriella jelas-jelas tengah menyindirnya sekarang. Ia berusaha untuk mengabaikan sindiran Gabriella.
“Pas kamu menghilang, Markus datang ke kampus, minta tolong sama aku buat nyariin kamu. Ingat waktu kamu terjebak di ruang bawah tanah? Nah, waktu itu Markus memintaku untuk mengenalkannya pada Frida—nggak secara langsung sih, tapi kira-kira begitu.”
“Oh.”
“Cuma ‘oh’? Mana kalimat selanjutnya?” Gabriella menyodorkan tangan kanannya seakan menagih sesuatu yang ia lupakan.
“Emangnya aku harus ngomong apa?”
“Nyebelin! Cedric nyebelin! Hmph!” Gabriella menggembungkan pipinya, memalingkan wajahnya dari Cedric. “Masa nggak ngerti juga? Mana permintaan maafmu karena sudah ninggalin aku waktu itu?”
“Bukannya aku udah ngomong?”
“Belum.”
“Udah.”
“Be. Lum. Kubilang belum, ya belum! Gimana sih?”
Cedric menghela napas panjang. Sifat kekanakan Gabriella ini benar-benar menyebalkan. Tepaksa ia mengangkat tangan, menyerah. “Oke. Aku minta maaf sekarang. Maaf ya, Gabbie.”
“Minta maafnya nggak tulus!”
“Terus kamu maunya gimana, Gabriella Paradox?”
“Jangan panggil aku dengan nama panjangku! Aku nggak suka! Nanti kamu ninggalin aku lagi gimana?”
Cedric kembali menghela napas panjang. Kata-kata Gabriella ada benarnya. Sebagian besar memang salahnya, membuat wanita ini trauma karena tindakan cerobohnya meninggalkan Gabriella saat wanita ini tengah membutuhkannya. Ia memandang lurus Gabriella yang kelihatannya sebentar lagi akan menangis.
“Aku nggak bakal ninggalin kamu lagi, Gabbie. Aku janji.”
“Bener, ya?” Gabriella menahan diri agar tidak menangis, menyodorkan jari kelingkingnya dengan wajahnya yang imut. “Janji jari kelingking, Cedric.”
Ia tertawa pelan, mengaitkan jari kelingkingnya pada Gabriella. “Iya. Janji jari kelingking.”
...****************...
Dalam waktu dekat author sedang mempertimbangkan untuk membuat season 2 dari cerita ini. Kalau menurut kalian, siapa karakter dalam cerita ini yang kalian pengen author bahas di season selanjutnya? Kalian bisa balas dengan berkomentar di sini. 😊
Terimakasih author
lanjut
mampir lagi ya ke Reborn little army