Menjadi penyebab utama kecelakaan seorang wanita hingga berakhir buta, Yudha memutuskan untuk menikahi korbannya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Pernikahan yang dilandasi atas dasar kasihan, dengan rahasia yang ditutup rapat-rapat demi menjaga mental Kalila.
Keduanya bahagia, dan kepribadian Kalila berhasil membuatnya jatuh cinta hingga menjadikan wanita itu sebagai dunianya. Namun, sebaik apapun bangkai disimpan pada akhirnya akan tercium juga. Saat Yudha setengah mati mencintai istrinya, Kalila mengetahui bahwa Yudha adalah penyebab kehancuran dunia dan mimpinya.
Lantas, bagaimanakah pernikahan mereka? Mampukah Kalila menerima pria yang telah menghancurkan dunianya? Atau justru memilih pergi dan turut menghancurkan dunia Yudha?
......
Follow ig : desh_puspita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 - Janji Kelingking
"Jal-jallang? Siapa yang kamu maksud, Jal-lang?"
Yudha lupa jika dia tidak sedang sendiri. Kalila yang sedang tadi bicara dengannya jelas saja salah paham. Walau tahu mungkin yang Yudha maksud bukan dirinya, tapi tetap saja dia tak suka.
"Soraya."
"Soraya? Ada apa dia menghubungimu?"
Seketika Kalila mengerutkan dahi, hatinya sedikit terhenyak kala nama itu lolos dari bibir Yudha. Entah apa yang dibicarakan Soraya, tapi yang jelas di mata Kalila wanita itu termasuk dalam masa lalu sang suami yang merasa tersakiti karena kehadirannya.
Walau dia sudah meyakinkan diri jika Yudha memang memilihnya sebagaimana pengakuan Yudha, tapi sebagai istri ketakutan jika suaminya goyah kala masa lalu mulai menghantui agaknya wajar-wajar saja.
"Entahlah, tidak penting sama sekali."
Yudha tidak ingin memperpanjang masalah. Ketika tahu nomor baru yang menghubunginya adalah Soraya, tanpa pikir panjang pria itu kembali memblokir nomor ponsel Soraya.
Wanita itu seolah tidak menyerah, sudah berkali-kali Yudha memblokir nomornya tapi tetap saja kembali menghubungi dan mencoba menggertak Yudha. Sayang, tindakan semacam itu hanya membuat Yudha semakin benci dan tidak menyesal sedikitpun meninggalkan Soraya.
"Benar tidak penting?"
"Sayang mana yang sakit? Ini ya?" Enggan menjawab, Yudha mengalihkan pembicaraan dan meraih pergelangan tangan Kalila yang sempat dia sakiti secara tak sengaja.
Pandai sekali dia berkilah, dan lucunya Kalila semudah itu terkecoh dan lupa akan rasa penasarannya. Mungkin karena usapan lembut Yudha mengalihkan dunia Kalila, tanpa sadar dia berceloteh dan mengeluhkan setiap rasa sakit akibat tindakan Yudha beberapa saat lalu.
"Kamu tahu? Papaku kalau berani tarik mama seperti tadi, opa bakal marah dan blacklist papa dari daftar ahli waris." Bibirnya mengerucut hingga Yudha gemas sendiri. Padahal, yang mereka bahas sangatlah serius, tapi anehnya kenapa jadi selucu ini.
"Maaf, harusnya yang kutarik tangan Nora saja ... iya, 'kan, Sayang?"
"Bukan begitu juga maksudnya!"
Kalila yang sejak tadi kesal semakin kesal saja, ditambah lagi Yudha yang tertawa pelan dan menggaggap hal itu lucu padahal tidak sama sekali.
Begitulah cara Yudha meluluhkan hati wanita, tanpa merayu dengan janji manis memang luluh pada akhirnya. Dia bukan seorang cassanova, Yudha tidak pandai merayu sebagaimana pencari wanita di luar sana. Namun, sikap lembut dan hangatnya membuat wanita luluh tanpa harus banyak bicara.
Terbukti hari ini, Kalila yang sempat marah karena Yudha tidak sengaja bersikap kasar hingga membuatnya takut kini tersenyum hangat seolah tidak ada masalah. Tidak hanya sekadar berhenti marah, Kalila meloloskan kata maaf karena telah membuat sang suami khawatir akibat ulahnya.
"Yang tadi terakhir, setelah ini aku tidak akan pergi keluar rumah selangkah pun jika bukan bersamamu," tutur Kalila yang membuat Yudha terpaku, seketika pikirannya melayang begitu jauh dan berharap lebih dari janji seorang Kalila.
"Janji?"
"Hm, janji," jawab Kalila mantap, tidak hanya sekadar persetujuan dari lisan, Kalila juga mengajak sang suami untuk mengikat sebuah janji yang dia selalu yakini sejak kecil.
"Ini apa?" Yudha tersenyum, tapi dia tetap mengikuti kemauan sang istri untuk mengaitkan jemarinya.
"Janji kelingking," jawabnya tersenyum simpul, sepolos itu dia menjawab walau yakin bahwa Yudha hanya berbasa-basi padanya.
Bagi Kalila hal itu mungkin sekadar janji biasa, tapi bagi Yudha tidak. Lebih dari sebuah ikrar, dengan janji itu dia akan mengikat Kalila dan menjebaknya untuk terus menjadi miliknya. Ya, anggap saja Yudha jahat, sedikit egois tapi untuk saat ini dia memang harus seperti itu.
Tidak hanya pada Kalila dia bersikap egois, tapi pada Nora juga demikian. Pasca mendapat pesan singkat dari Soraya, tanpa pikir panjang dia mengurungkan niat untuk memberikan kesempatan kedua.
Hanya berselang beberapa waktu, tidak sampai satu jam Yudha memecatnya tanpa hormat. Tidak peduli walau istrinya meminta untuk dipertimbangkan kembali lantaran memang tidak ada bukti jika Nora adalah orang suruhan Soraya, pria itu tetap pada keputusannya.
Semua bukan tanpa alasan, kehidupan Yudha tidak semulus Kalila dan dia cukup mengerti bahwa orang-orang terdekat sangat mungkin sekali menjelma sebagai pengkhianat.
.
.
Hampir saja, Yudha terlalu lengah dan terkecoh dengan ketulusan Nora di awal. Setelah drama pemecatan tadi siang, Yudha kini menghabiskan waktu di ruang kerja sendirian.
Siapa sangka, dia yang terlihat menyeramkan bahkan membuat pelayan lain ketakutan, dalam kesendirian dia tetap gusar dan dibelenggu ketakutan. Fakta bahwa Soraya hampir saja menemui Kalila saat tengah bersama Nora masih terus mengusik ketenangannya.
Padahal, sama sekali tidak ada yang terjadi. Semua juga sudah baik-baik saja, tapi detak jantung Yudha tidak pernah ada tenangnya sejak awal menikah.
"Jujur saja, Yud, bukankah kau pernah bilang jika istrimu pemaaf?"
Terlalu sakit kepala Yudha, dia menyampaikan keluh kesah pada Bima. Sekian lama menahan, malam ini tercurah juga dan dia mengatakan dengan sejelas-jelasnya apa yang dia rasakan.
"Tapi untuk soal ini aku khawatir, Bima ... bagaimana aku bisa jujur padanya?" Sudah Yudha duga jika bicara pada Bima maka reaksinya akan sama, sudah pasti diminta untuk jujur.
"Kau ingat Lengkara dulu bagaimana? Serapi apapun kita berbohong, dia akan tahu."
"Aku tahu, tapi ...." Yudha kacau sebenarnya, pikiran pria itu kusut bahkan terkadang terasa sakit.
"Yudha dengarkan aku baik-baik. Aku tahu perasaanmu, setiap hari kau dihantui ketakutan bagaimana jika dia tahu? Apa yang akan dia lakukan? Akan sehancur apa dirinya? Ya, aku tahu apa yang kau pikirkan sampai Kalila diperlakukan persis tawanan begitu."
Bima bicara panjang lebar, dan Yudha hanya mampu menghela napas pelan setelahnya. Seolah lupa akan sejarah, dahulu dia sempat menempatkan Bima di posisi ini hingga dia merasakan sendiri penderitaan Bima.
"Tapi kau tentu tidak lupa bagaimana akhir pernikahanku bersama Lengkara bukan? Setiap hari aku merasakan takut sampai akhirnya semua kacau karena dia tahu sendiri, bukan kejujuranku!!"
Sebenarnya memang sempat terpikir untuk jujur, akan tetapi Yudha yang mendapat dukungan papa mertuanya mencoba untuk menepis rasa bersalah dalam dirinya. Hingga, setelah Soraya berani mengusiknya, ketakutan bahwa Kalila akan tahu dari pihak lain kembali menjadi.
"Bim, kasus kita berbeda ... Lengkara pada akhirnya memaafkanmu karena memang kau tidak salah. Sementara aku? Aku menghancurkan dunia dan masa depan yang telah dia tata, Kalila hampir kehilangan nyawa dan berakhir buta karena kecerobohanku!! Kau kira hal semacam ini sederhana?"
"Lalu kau mau bagaimana? Sampai kapan kau akan terus begini? Ingat, kecelakaan itu tidak hanya disaksikan satu atau dua orang, tapi banyak. Walau pihak keluarga sudah membungkam media, bukan berarti jejak digitalmu hilang dan kau aman-aman saja, Yudha."
"Entahlah, aku tidak tahu harus bagaiman_"
Prank
Begitu jelas Yudha mendengar suara benda pecah di luar. Dia melangkah cepat dan membuka pintu dengan perasaan yang tak karu-karuan. Baru saja pintu terbuka, tatapan Yudha sudah terfokus pada pecahan vas bunga bertebaran di lantai dengan seorang wanita yang tampak bergetar di hadapannya.
.
.
- To Be Continued -
sukur🤣🤣🤣