Disaat teman-teman merancang hendak kemana melanjutkan pendidikan atau bekerja setelah lulus SMA. Alya terpaksa menikah karena keinginan ayahnya yang lagi kritis di rumah sakit. Sayangnya pernikahannya hanya mampu bertahan tidak sampai 2 tahun, karena suaminya menikah lagi dengan mantan kekasihnya.
Setelah 12 tahun perceraian mereka ahkirnya mereka dipertemukan kembali. Dengan status yang sama-sama Single.
Alya Si single mom, harus menghadapi 3 duren yang berusaha untuk mendapatkan hatinya. Sang atasan yang baru mendapatkan status duda, serta mantan suami dan mantan adik iparnya. Siapa yang akan mendapatkan hati Alya mantan suami, atau mantan adik iparnya, atau bukan salah satu dari mantan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Camping
"Lya,bisa bicara berdua." Ucap Bisma saat masuk ke dalam tenda, sedangkan Juna sudah tidur sehabis makan dan sholat asar.
"Bicara apa mas? Bicara saja Juna tidurnya nyenyak,sepertinya Juna kecapean habis perjalanan jauh dan langsung main ke air terjun."
"Tadi aku ketemu dengan Haidar bersama sepupunya, dan anak mereka. Harusnya sekarang mereka langsung pulang untuk menjemput istri sepupunya. Tapi karena anak dari sepupunya minta menginap dan membuat tenda di sini, kemungkinan nanti kita akan bertemu mereka. Apa kamu tidak apa-apa ?" Tanya Bisma hati-hati setelah menjelaskan dengan sangat jelas dan hati-hati.
"Siap gak siap harus siap mas, mungkin juga sudah takdir."
Apa Haidar akan curiga? Apa Haidar juga memperhatikan Juna? Sadar Lya, Haidar aja tidak mengetahui keberadaan Juna. Jangan mengharapkan dia sadar dan mengenali Juna. Kamu aneh Lya, kamu yang menutupi keberadaan Juna, seharusnya kamu senang kalau Haidar tidak mengenal Juna.
Pikiranku kemana-mana setelah Bisma keluar, meninggalkan aku dan Juna di dalam tenda. Hingga aku merasakan ada yang menggenggam tanganku,"Ada Juna di samping bunda. Juna akan menjadi pahlawan bunda,segagah pangeran Arjuna."
"Juna mendengarkannya ucapan papa Bisma ?"
"Iya!"
"Maafkan bunda ya nak !"
"Ini sudah takdir Juna bunda dan Juna harus ikhlas."
"Terima kasih sayang."
Sepertinya putraku dewasa sebelum waktunya, lihat cara pemikirannya tidak seperti anak 11 tahun.
"Lebih baik kita tidak usah keluar tenda Bun, aku juga malas kalau harus bertemu dengan Laras."
"Kalau kita tidak keluar, mereka bisa tambah curiga. Apa lagi Laras sudah sempat menyapa bunda tadi. Jadi kita hadapi bersama, seolah tidak terjadi apa-apa oke!"
"Oke bunda !"
Setelah sholat magrib kami makan bersama di dalam tenda, karena cuaca yang tiba-tiba gerimis. Apa aku harus senang karena gerimis membuat kami bertahan di dalam tenda, atau sedih karena gerimis menggagalkan rencana kami menikmati api unggun dengan di iringi gitar.
"Kira-kira hujannya bakal lebat ga ya pa?"
"Memang kenapa kalau hujan lebat ?"
"Tar tidur kita bagaimana ?"
"Tenda punya papa tidak seperti tenda biasanya. Ini tenda khusus tahan air, kecuali ada banjir bandang. Tenda pop-up Amaya selain muat empat hingga enam orang. Tenda ini juga dirancang untuk penghuni tenda tetap hangat karena tahan empat musim."
"Wow keren dong pa, aku mau juga Bun. Aku mau nabung buat beli tenda kaya punya papa."
Kami mengobrol sampai terdengar adzan isya, baru kami sudahi untuk sholat isya.
"Maaf ya acara Camping kita jadi kurang seru, kita tidak jadi bat api unggun."
"Kenapa harus minta maaf, memang papa tahu bakalan hujan ? Tidak kan berarti memang belum rejekinya Juna, untuk menikmati api unggun."
"Senangnya punya putra yang berpikir dewasa !" Ucap Bisma membuatku dan Juna langsung pura-pura jijik dengannya. Entah apa lagi yang mereka obrolkan, mendengar suara mereka sudah membuatku mengantuk dan tertidur duluan. Sampai aku terbangun karena merasa hening.
Apa baru pukul 10 malam lama banget, perasaan sudah dari tadi aku tidur.
Setelah memastikan tidak ada orang yang berada di tenda selain aku, aku memantapkan hati untuk melihat dan mencari mereka ke luar. Dengan resiko yang mungkin akan bertemu dengan Haidar.
Aku membuka tenda dan berniat untuk keluar, tapi saat baru membuka tenda. Aku sudah melihat pemandangan dimana Juna duduk bersama Bisma, sedang bermain gitar di depan api unggun. Nampak juga di depannya ada Haidar duduk bersebelahan dengan Sherly, dan Laras dengan lelaki yang aku tebak adalah ayah Laras. Tak ingin ada kecanggungan jika aku bergabung, aku memutuskan menutup kembali tenda dan masuk ke dalam tenda.
Tapi semua rencanaku gagal saat Laras melihatku dan memanggilku untuk bergabung dengan mereka.
"Ayo bunda,ada aku." Ucap Juna sambil menarikku untuk berjalan bergabung dengan mereka.
"Sini Lya,!" ucap Bisma sambil menepuk sebelahnya yang kosong.
"Tidak! Papa geser aku yang tengah !" Ucap Juna membuat Bisma hanya mendengus, tanpa bersuara.
"Ternyata anakmu lebih pintar menjaga perempuan ya Bis." Ucap papa Laras sambil tertawa kecil, nampak Haidar hanya memandang tajam kearah ku.
"Kalian Camping bertiga,?" tanya Haidar.
"Iya kenapa? Ada masalah ?"
"Bukan begitu Bisma, maksudnya aku itu."
"Tendaku luas muat buat 4 sampai 6 orang, sedangkan kami hanya bertiga. Aku sama Lya sama-sama Single, ga masalah dong." Ucap Bisma sambil tersenyum tipis.
"Bener itu, lebih bagus lagi kalau segera di halal kan anaknya juga sudah nempel begitu !" Ucap ayah Laras, membuat Haidar langsung tersedak air minumnya.
"Pelan santai saja, jangan ngiri kalau jodohku datang duluan." Ucap Bisma sambil melihat kearah Haidar ,"Doanya ya mas, semoga di restui oleh semuanya." Ucap Bisma lagi yang kali ini melihat kearah papa Laras.
"Tu dengar, kamu gak mau tidur ada yang menemani, betah banget menduda."
"Kamu tidak tahu saja mas, tiap malam dia selalu membawa teman tidur ke apartemennya."
"Sialan Lo bis, kalau ngomong."
"Bener ya?"
"Bukan gitu, kalian memang sengaja bully aku."
"Sherly, Laras dan siapa kamu boy namanya ?"
"Juna om!"
Lihat Lya akibat ulah mu Haidar tidak tahu nama anak kandungnya sendiri.
" Iya Juna, jangan di dengarkan omongan mereka yang tidak berfaedah itu."
"Kami juga tidak paham dengan omongan mereka ko Om,"jawab Laras.
"Lya kenalan ini Mas Rio sepupu Haidar," ucap Bisma.
"Lya ,mas."
"Rio."
"Mas pernah bertemu dengan mantan istrinya Haidar pertama ga ?" Tanya Bisma tiba-tiba, membuat jantungku berdetak kencang karena ada Juna yang akan mendengarnya. Bisma tidak tahu kalau Juna sudah tahu siapa ayah kandungnya.
"Tidak pernah pas dia nikah aku satgas ke perbatasan setahun, selesai satgas aku mempersiapkan nikah. Di saat situasi sudah kondusif, dia berulah." Ucap Rio sambil bercanda, yang di sambut tawa oleh Bisma dan dengusan Haidar.
"Tapi pernah lihat foto-fotonya ?"
Ya ampun Bisma apa sih ni maunya orang, mengungkit masa lalu terus. Aku tahu meski Juna terkesan cuek dan sibuk dengan ponselnya, pasti dia juga mencuri dengar obrolan mereka.
" Kalau foto ga lihat, karena gada foto di rumahnya. Tapi sepupu yang lain bilang, sih Haidar bodoh." Ucap Rio di ahkiri dengan tawa kecil, sambil melirik kearah anak-anak yang sibuk dengan ponselnya.
"Kalian ya ada anak kecil ngatain aku. Anak-anak ayo kita bernyanyi Om yang main gitar,ayo Sherly mau nyanyi apa sayang?" Ucap Haidar mengalihkan pembicaraan, nampak Juna juga tidak terlalu menanggapinya.
Aku bisa melihat kedekatan Haidar dengan anak Cindy, yang bukan darah dagingnya merasa sakit, apalagi Juna putraku.
ada kisah lain donk,Juna atau Naya yg diposesif ma ayah dan kakaknya mungkin
up
up maning.....
btw 60 meter persegi itu seukuran rumah aku