Mohon anak-anak di bawah usia tidak membaca cerita ini, terima kasih :)
Calissa mencoba melarikan diri, setelah dirinya di paksa oleh menikah dengan seorang lelaki bernama Brian. Calissa tahu, jika Brian adalah sosok lelaki kasar dan sangat suka main tangan.
Untuk menghindari pernikahan paksa, Calissa nekad melarikan diri dari rumah. Gadis muda berusia 21 tahun, yang begitu polos dan bahkan tidak mengenali dunia luar.
Hingga dia bertemu dengan sang mantan kekasihnya, Arsen. Dan menerima tawaran untuk tinggal bersamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnes Fetrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Thirty - Five : Makan malam
Malam hari...
Arsen, Calissa, Arsen, Melanie dan Nathan kemudian pergi ke restoran yang sudah di pesan oleh Arsen sebelumnya. Sebuah restoran besar dan mewah, yang memberikan beberapa makanan internasional dari berbagai dunia, ada juga makanan seafood khas China yang ada di sana, atau makanan yang memiliki banyak rempah-rempah seperti rendang dari Indonesia. Makanan di restoran itu benar-benar lengkap, dan begitu enak.
Tidak heran, banyak orang dari kalangan atas datang untuk menikmati makanan, di tambah restoran itu menyediakan alunan musik yang indah, dengan memanggil pemain musik seperti biola yang mampu menghipnotis para konsumen. Dalam restoran itu, para pembeli dimanjakan dengan banyak hal, pelayanan yang ramah, permainan musik yang merdu serta makanan yang begitu enak dan desain dengan indah, belum setiap dinding restoran di penuhi oleh hiasan dinding yang cantik.
Begitu indah dan sangat cantik, jika saja mata mereka tidak melihat sosok itu di antara para pengunjung. Maka malam itu akan menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan, dan mampu di nikmati dengan indah. Tapi mata mereka menangkap sosok lelaki itu di antara para pengunjung, dan sosok itu sedang merangkul seorang perempuan. Sebenarnya Calissa, dan Melanie bodoh amat dengan kehadiran sosok itu, tapi mereka harus menahan diri saat sosok itu dengan sengaja melewati meja mereka.
Memang sih, dia tidak mampir dan berbicara dengan mereka karena perempuan gandengannya tidak mengenali Calissa dan Melanie, hanya saja dalam diri kedua perempuan itu merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran sosok yang kebetulan duduk di meja tidak jauh dari mereka.
“Kenapa si brengsek itu harus kemari ??” Celetuk Arsel dengan perlahan tapi penuh penekanan, membuatnya menarik perhatian Calissa, Arsen, Melanie dan Nathan dengan tatapan penuh tanda tanya dalam diri mereka.
“Ada apa ??” Ujar Arsel yang menjadi bahan tontonan di sana.
“Bagaimana kau mengenali si brengsek Brian ??” Bisik Arsen dengan penuh tanda tanya, apalagi pertama kali mereka bertemu, bukanlah Arsel melainkan Arish. Tapi bagaimana dia bisa mengetahui mengenai sosok yang ternyata adalah Brian ??
“Arish.”
“Tapi kau saat itu tidur.”
“Memang, tapi ingatanku bukanlah memori handphone yang bisa di hapus dengan mudah.” Celetuk Arsel, dengan mata melirik ke arah Brian yang menggandeng sosok perempuan yang tidak pernah dikenali.
“Kau terlihat sangat kesal dengannya ??” Celetuk Nathan melihat tatapan dan nada bicara dari Arsel.
“... Dia sempat hampir memukul tubuhku.. Err memukulku.” Celetuk Arsel yang memang mengetahui jika Brian sempat hampir memukul Arish yang menggunakan tubuhnya, brengsek memang, jika tubuh Arsel terluka, maka lelaki itu akan membalas Brian, dan Arish yang membiarkan tubuhnya terluka.
Nathan hanya mengangguk, dia tidak menyangka jika Brian sempat mencari masalah dengan Arsel, tapi kemungkinan Brian salah paham. Karena Arsel dan Arsen sekilas hampir mirip wajah dan rambut mereka.
Disisi lain, Arsen memegang tangan dari Calissa seakan menenangkan gadis itu, jikalau Calissa ketakutan atau merasa khawatir karena kedatangan dari Brian.
“Jangan takut, aku disini.”
Calissa mengangguk, “Terima kasih.”
Beberapa menit berada di sana, Calissa mencoba bersifat normal, bahkan saat makanan datang dan menikmati makanan itu, dia mencoba bersikeras untuk bertingkah normal dan menikmati hidangan lezat di depannya. Apalagi daging sapi yang terpanggang itu mengeluarkan aroma begitu enak, dan lezat. Tapi sayang, tatapan dari Brian ke arahnya, membuat Calissa merasa sangat tidak nyaman.
Brian memang tidak fokus terus menatap ke arah Calissa, tapi tetap saja saat dirinya menatap ke arah gadis itu, tatapan Brian sangatlah menganggu suasana.
Kenapa kau tidak menatap gadis cantik di depanmu saja ?! Batin Calissa dengan gelisah.
Tapi kalau Calissa lihat lagi, gadis yang duduk di depan Brian tidak terlihat senang atau bahagia, entah mungkin karena dirinya sering datang ke restoran hingga merasa bosan atau apa, tapi ekspresi wajahnya benar-benar tidak terlihat begitu bahagia. Tapi Calissa tidak mau mencampuri urusan perempuan itu dan Brian, sama sekali tidak. Apalagi jika itu hanyalah pikiran negatifnya dan berfikir jika wanita itu tersiksa sama seperti Melanie dulu. Bagaimana jika nyatanya, gadis itu mencintai Brian dan Brian mencintainya ?? Bisa-bisa, mereka berfikiran negatif mengenai Calissa. Tapi kenapa tatapan Brian kepadanya begitu tajam ??
“Calissa ?? Kau baik-baik saja ??”
Calissa sempat terkejut sejenak dengan pertanyaan dari Melanie, lalu tersenyum dan mengangguk, “Ya.. Aku baik-baik saja, jangan khawatir.. Aku hanya sangat menyukai makanan ini.”
Calissa sedikit menyelipkan rambut di belakang telinganya, agar tidak mengganggunya, lalu kembali menikmati makanan di depannya meskipun dia masih merasakan Brian meliriknya beberapa kali. Arsen yang melihat itu, memiliki ide licik. Dia melihat beberapa bumbu itu menempel di bagian bibir Calissa, dengan mengambil tissue sengaja mengelap bibir Calissa dengan lembut.
“Sayang, makan secara perlahan.” Ujar Arsen berharap jika Brian meliriknya di saat seperti itu, dan benar saja. Arsen bisa melihat sedikit ketidaksukaan dari Brian kepadanya, sementara Arsen sempat menyeringai licik secara sekilas tanpa ada yang mengetahui seringai itu, kecuali Brian sendiri, well Arsen sengaja memang untuk mengejek Brian.
“Te.. Terima kasih..” Ujar Calissa dengan gugup dan malu-malu, benar-benar terlihat cantik dan imut wajahnya. Pantas saja, semua lelaki menyukainya.
“Hmm..." Ujar Arsen dengan senang, senang melihat wajah imut kekasihnya, sekaligus senang bisa membuat Brian cemburu dan marah kepadanya.