Aiden yang mengenal cinta dari sang Bunda, Ibu sambungnya juga bocah bernama Cantika. Siapa sangka, pesona Cantika membuat Aiden terpana bahkan sampai dia beranjak remaja dan kecewa ditinggalkan oleh cinta monyetnya.
Saat dewasa, Aiden berjuang menunggu cintanya dengan usaha Papa nya yang terus memperkenalkan wanita sebagai jodoh Aiden.
Bagaimana usaha Aiden menghindar dari perjodohan dan mendapatkan kembali cinta dari Cantika.
====
Spin Off : Pesona Cinta Majikan
IG : dtyas_dtyas
Fb : dtyas auliah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Aiden - Part 34
“Jadi, kamu akan resign?” tanya Edwin.
“I-iya Pak, sepertinya Pak Aiden tidak akan mengizinkan saya bekerja.”
“Hm. Tidak masalah, segera sampaikan ke HRD agar dicarikan pengganti kamu, Aiden juga sudah dapat sekretaris baru semoga saja dia tidak berulah dan minta ganti lagi.”
Edwin dan Ayu membahas jadwal pria itu hari ini dan beberapa hari kedepan, pernikahan Cantika dan Aiden semakin dekat dan pasangan itu semakin disibukkan dengan persiapan. Walaupun Cantika masih galau mengingat sifat ibunya, khawatir jika rumah tangganya bersama Aiden akan berimbas karena wanita itu.
Sedangkan di ruang kerjanya, Aiden terkejut karena sekretarisnya merangsek masuk bersama dengan seseorang.
“Maaf Pak, Mbak ini maksa ingin bertemu bahkan ….”
“Tidak apa, tinggalkan kami,” ujar Aiden yang kemudian berdiri dan menuju sofa. “Duduklah, jangan sampai aku dianggap tidak menghargai tamu,” ujar Aiden pada Mai yang masih berdiri dengan posisi melipat kedua tangan di dada.
“Kamu akan menikah, benar begitu?”
“Hm. Semua ingin menikah termasuk aku,” jawab Aiden.
Mai duduk di sofa berhadapan dengan Aiden.
“Aku pikir kedekatan kita ….”
“Teman, hanya sebagai teman.” Aiden menyela ucapan Mai. Sudah menduga untuk apa wanita itu datang.
“Kamu menolak wanita yang dikenalkan oleh orang tuamu dan kita selalu pergi bersama, waktu Rosa ternyata kamu tinggalkan aku pikir kita … Aiden, apa tidak ada rasa apapun diantara kita?”
“Dari awal memang kita hanya bersahabat, bersama Pram. Tidak pernah ada pertemuan yang dihadiri hanya berdua denganmu,” ungkap Aiden.
“Dan benar wanita itu adalah masa lalumu?”
“Tidak juga, tapi dia memang cinta pertamaku. Kalau masa lalu mungkin tidak hanya tentang Cantika."
“Ternyata aku salah, aku pikir diantara kita ada sesuatu. Kalian jahat, kamu kembali dengan … wanitamu dan Pram sekarang ….” Mai menghentikan ucapannya dan mengusap air mata yang menetes.
“Ada apa dengan Pram?”
“Kalian sudah sibuk dengan wanita masing-masing dan aku ditinggalkan. Aku pikir saat kamu menolak Rosa karena aku pemenang, ternyata zonk.”
“Pram sibuk dengan wanita mana? dia terus menanyakan Melody, apa ….”
“Bukan, tidak mungkin dia berani mendekati adikmu.”
“Lalu?” tanya Aiden lagi.
Mai menghela nafasnya kemudian menatap Aiden.
“Kenapa harus di depan mataku? Sebelumnya kamu jalan dengan Rosa, itu sungguh mengganggu dan sekarang Pram terus menempel pada Rosa. Arghh,” tutur Mai.
Aiden terkekeh, tidak menduga kalau Rosa akan takluk dengan Pram. Merasa bersalah karena akhirnya memilih Cantika, tapi jika benar gadis itu menerima cinta Pram sepertinya Aiden tidak perlu terlalu risau hanya memastikan Pram tidak akan main-main dengan Rosa.
Terdengar ketukan pintu dan Cantika masuk setelah mendapatkan izin dari Aiden.
“Maaf, saya akan kembali nanti. Khawatir mengganggu,” ujar Cantika setelah menatap bergantian Aiden dan tamunya.
“Tidak perlu, kami sudah selesai. Bukan begitu Mai?”
“Yah, kita sudah selesai.”
Mai pun berdiri begitu pula Aiden. Wanita itu mengulurkan tangannya dan Aiden pun menjabat tangan tersebut tanpa ada curiga.
Namun, tanpa diduga Mai malah mendaratkan bibirnya pada salah satu pipi Aiden.
Aiden tidak dapat mengelak karena gerakan tersebut begitu cepat dan terjadi di bawah tatapan Cantika.
“Aku permisi, selamat sore.”
Cantika sempat membelalakan matanya bahkan saat Mai melewatinya dengan angkuh, wanita itu hanya bisa menahan kesal dengan mengepalkan kedua tangan.
Aiden mengusap pipinya lalu menatap Cantika.
“Aku tidak tau kalau dia akan menciumku.”
“Bagaimana rasanya?”
Aiden mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Cantika. Tentu saja perasaannya takut kalau Cantika salah sangka dan cemburu. Tidak ada sedikitpun dia menikmati apa yang Mai lakukan, sudah pasti dilakukan dengan sengaja.
“Tidak ada rasa, entah kalau kamu yang melakukan.”
“Dasar laki-laki, kalau aku tidak di sini bisa jadi bukan pipi. Mungkin saja bibir atau ….”
“Tidak, tidak akan ada yang terjadi,” ujar Aiden.
“Sudah siap? Kita mau berangkat sekarang ‘kan?” tanya Aiden yang sudah berada di meja kerjanya. Memastikan komputernya sudah off dan membereskan berkas yang sedang terbuka.
“Tidak jadi, aku sedang tidak mood. Hubungi jadi fotografernya kalau kita tidak jadi foto prewed hari ini,” ungkap Cantika.
“Cantika, untuk foto hari ini tidak bisa kita cancel begitu saja. Karena sudah diagendakan sejak kemarin-kemarin, kalaupun tidak bisa sekarang belum tentu dalam waktu dekat kita bisa dapat tempat dan … ayolah, paling hanya dua sampai tiga jam. Yang penting ada foto untuk dipajang serta dokumentasi pribadi.”
“Tapi mood aku sudah menguap.”
“Kamu cemburu?” tanya Aiden yang sudah berhadapan dengan Cantika. Gadis itu membuang pandangannya tidak ingin menatap Aiden.
“Siapa yang cemburu, biasa aja.”
“Cemburu boleh, tapi jangan begini. Karena kita mempersulit pekerjaan orang lain kalau kita batalkan dengan tidak jelas hanya karena perasaan pribadi.”
Cantika bergeming dengan penuturan Aiden.
“Aku sudah menunggu bertahun-tahun, tidak mungkin goyah hanya karena ciuman dari wanita tadi,” ungkap Aiden membuat hati Cantika seakan berbunga-bunga karena bangga dengan penuturan Aiden. Karena dialah pemenangnya, pemenang dari hati dan Cinta Aiden.
skrg baca Aiden dewasa
enaknya nt judul apa ya kak
wah mak e cantika parah nih
semoga dpt baik
macem mak babe
dl papa duda dpt ayu
sabarrrr
ampes lo nanti..
salah pilihan