NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Sampah

Bukan Menantu Sampah

Status: tamat
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:413k
Nilai: 4.6
Nama Author: tompealla kriweall

Dianggap sebagai seorang sampah karena tidak memiliki pekerjaan dan bodoh, membuat Abiyasa harus berpikir ulang.

Abiyasa—selepas dari kecelakaan akibat orang lain mengincar nyawanya, siapa sangka dia mendapatkan sebuah kemampuan. Semacam kekuatan Forecast yang berguna untuk memperkirakan informasi yang bersifat prediktif dalam menentukan arah di masa depan.

Dengan kemampuannya itu, Abiyasa membuktikan diri bahwa dia tidak bisa dikatakan sebagai seorang sampah lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta Merubah Takdir

Pagi harinya, Abiyasa yang baru saja terbangun dari tidurnya merasa sangat bahagia karena semalam sudah berhasil dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang suami yang sebenarnya pada Ajeng setelah lebih dari tujuh bulan lamanya, dan malam tadi adalah malam pertama mereka yang tertunda sekian lamanya. Dia melihat keadaan Ajeng yang masih tertidur pulas diperlukannya. Dia mengecup kening Ajeng sebagai tanda terima kasih. Tapi tindakannya itu justru membuat Ajeng terbangun dari tidurnya dan melihatnya dengan malu-malu.

Abiyasa merasa sangat bahagia pagi ini karena berhasil memulai kehidupan pernikahannya dengan Ajeng dengan baik, setelah beberapa waktu tertunda. Dia merasa sangat dekat dengan Ajeng setelah malam tadi dan merasa lebih mencintainya dari sebelumnya. Namun, saat Abiyasa mencium kening Ajeng, tindakannya justru membuat Ajeng terbangun dari tidurnya dan menatapnya dengan dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

"Emhhh..."

"A-ku..."

Abiyasa merasakan adanya kecanggungan dalam situasi seperti ini dan mencoba mencari cara untuk membuat Ajeng merasa lebih nyaman. Dia mencoba mengajak Ajeng berbicara dan memberikan rasa aman dan kenyamanan. Abiyasa berusaha untuk memahami perasaan Ajeng dan memberikan dukungan pada saat yang sama.

"Maafkan aku, sayang. Aku hanya ingin menunjukkan rasa terima kasihku karena kamu sudah membuatku merasa sangat bahagia malam tadi," ujar Abiyasa dengan lembut.

Ajeng menatap Abiyasa dengan tatapan yang penuh kekhawatiran dan kecemasan. Dia merasa sedikit gugup dengan situasi ini dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, Abiyasa membuka pelukan dan mengajak Ajeng untuk bergabung dengannya di tempat tidur.

"Jangan khawatir, sayang. Aku di sini untukmu dan aku selalu akan ada untukmu," ucap Abiyasa lagi.

Ajeng akhirnya merasa sedikit lebih tenang dan merangkul Abiyasa. Dia merasa bahagia karena Abiyasa selalu ada untuknya dan menghargai perasaannya. Namun, dia juga merasa malu dan canggung karena kejadian semalam yang merupakan malam bersejarah baginya. Dia telah menjadi istri yang sebenarnya bagi Abiyasa.

"Ummm..."

Abiyasa merasa bahwa dia harus membuat Ajeng merasa lebih nyaman dan relaks. Dia mengambil handuk hangat dan menggosokkan ke wajah Ajeng dengan lembut. Abiyasa juga memberikan pijatan ringan pada pundak Ajeng dan mencium bibirnya dengan lembut.

Ajeng merasa sedikit lebih rileks dan menatap Abiyasa dengan mata yang penuh kasih sayang. Dia merasa sangat beruntung memiliki Abiyasa di sisinya dan tidak bisa membayangkan hidup tanpa dia.

"Makasih, Mas Abi. Aku merasa sangat bahagia bersamamu," ucap Ajeng dengan tersenyum lembut.

Abiyasa tersenyum dan mencium kening Ajeng lagi. Dia merasa sangat mencintai Ajeng dan merasa bersyukur karena telah memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.

"Aku juga sangat mencintaimu, sayang. Dan aku selalu akan ada untukmu," ucap Abiyasa lagi, menyakinkan istrinya.

Ajeng merasa sangat tersentuh dan bakas mencium Abiyasa dengan penuh kasih sayang. Dia merasa sangat beruntung karena memiliki Abiyasa di sisinya dan tahu bahwa dia selalu akan ada untuknya. Mereka saling berpelukan, merangkul satu sama lain dengan erat, menikmati momen indah pagi yang cerah.

Secerah perasaan mereka berdua.

Tapi sayangnya gerakan-gerakan lembut dari keduanya kembali membakar sesuatu yang sama-sama mereka sadari. Kejadian semalam akhirnya kembali terulang lagi, bahkan sebelum mereka pergi ke kamar mandi pagi ini setelah bangun tidur.

Bahkan setelah mereka selesai sarapan pagi, mereka juga melakukan apa-apa lagi, yang bisa membuat mereka berdua lebih dekat satu sama lain dan mencecap rasa bahagia yang seharusnya menjadi lebih baik setelah semuanya berlalu.

Tadi, setelah sarapan, Abiyasa dan Ajeng duduk di teras rumah sambil menikmati segelas jus jeruk. Suasana sudah tidak secanggung tadi pagi pada saat bangun tidur, setelah kejadian semalam. Abiyasa ingin memperbaiki suasana hati Ajeng yang masih terlihat sedikit malu-malu.

"Maafkan aku, sayang. Aku tahu aku biasa terlalu fokus dengan pekerjaanku dan kadang-kadang melupakanmu," ujar Abiyasa dengan suara lembut.

Ajeng mengangguk pelan, "Aku tahu, tapi kadang-kadang aku jadi merasa terabaikan." Ajeng mengakuinya.

Abiyasa tersenyum dan meraih tangan Ajeng, kemudian menggenggamnya erat-erat. "Aku berjanji akan lebih memperhatikanmu, sayang. Aku mencintaimu dan tidak ingin kehilangan dirimu."

Ajeng tersenyum lebar mendengar ucapan Abiyasa. "Aku juga mencintaimu, Mas Abi. Ta-pi a-ku, aku masih merasa canggung tentang semalam. Ja-di aku tidak tahu apa yang harus kukatakan." Ajeng gugup.

Abiyasa mengusap lembut punggung tangan Ajeng. "Jangan khawatir tentang itu, sayang. Aku suka kok, dan kita hanya membutuhkan waktu untuk saling mengenal dan memahami satu sama lain. Aku bersedia jika kamu mau, sampai kapanpun." Abiyasa justru menggoda Ajeng dengan sengaja.

Ajeng tersenyum-senyum dengan menundukkan wajahnya, tapi dia merasa lega. "Terima kasih, Mas Abi. Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu."

Abiyasa tersenyum penuh cinta. "Aku juga merasa beruntung memiliki istri sebaik kamu, sayang."

Mereka melanjutkan obrolan mereka dengan penuh keakraban dan tawa, seakan-akan semua kecanggungan di antara mereka sudah hilang. Abiyasa mencoba untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat Ajeng lebih dekat dengannya, seperti mengajaknya untuk pergi jalan-jalan bersama, menonton film, atau sekedar mengobrol.

"Apakah kamu mau?" tanya Abiyasa meminta persetujuan Ajeng.

"Ummm."

Ajeng mengangguk mengiyakan pertanyaan Abiyasa, karena dia juga ingin menghirup udara segar setelah semua kejadian yang terjadi pada mereka kemarin-kemarin.

"Aku siap-siap dulu ya, Mas Abi."

Setelah beberapa saat kemudian, Abiyasa mengajak Ajeng pergi ke pantai untuk menikmati pemandangan indah dan bermain air. Mereka berdua berlari ke pantai sambil saling melempar air satu sama lain. Ajeng tertawa terbahak-bahak melihat Abiyasa yang basah kuyup dan berlari ke arahnya.

"Hey, jangan lari, Mas Abi! Ayo main air lagi," Ajeng memanggil.

Abiyasa menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku sudah kedinginan. Ayo kita berhenti sejenak dan menikmati pemandangan ini."

Ajeng mengangguk dan mereka berdua duduk di pasir sambil menikmati suara ombak dan angin laut yang menyejukkan. Mereka saling memandang dengan penuh kebahagiaan di hati.

"Apa masih sakit?" tanya Abiyasa perhatian.

Abiyasa bertanya demikian karena kondisi Ajeng yang memang belum sepenuhnya pulih, ditambah dengan apa yang mereka lakukan semalam dan tadi pagi. Dia khawatir jika Ajeng hanya menahannya seorang diri.

"Tidak, Mas Abi." Ajeng menjawab pertanyaan tersebut dengan wajah tersipu malu-malu l, kemudian kembali berkata untuk mengucapkan terima kasih.

"Terima kasih sudah membawa aku ke sini, Mas Abi. Aku merasa sangat bahagia," ujar Ajeng sambil memeluk Abiyasa.

Abiyasa membalas pelukan itu dengan erat. "Aku juga merasa bahagia, sayang. Aku senang bisa melihat senyummu setiap hari."

Mereka berdua saling pandang kemudian sama-sama tersenyum, mengingat bahwa mereka bisa melalui semuanya ini bersama-sama. Dalam hati Abiyasa berjanji untuk menjaga dan merubah takdir Ajeng sebisa mungkin. Dia tidak akan pernah membiarkan terjadi sesuatu pada istrinya.

'Aku akan mengubahnya, Ajeng.'

Kira-kira bagaimana dengan Aji dan yang lainnya, jika mereka melihat perubahan pasangan suami istri yang tidak pernah mereka sangka-sangka???

1
Mazree Gati
untung baca endingnya dulu,,endingnya ga asik
Omah Tien
cewe nya jg lembek g bisa jg diri
Omah Tien
malas nya ko g tegas ya biar kaka kalu jahat gapain mau lembek gitu
Omah Tien
ko tulisan nya ulang2 sih
roy
Luar biasa
Manusia Biasa: hai kak Jangan lupa mampir di novel
s2 dari Rahmat

sistem analisis nilai bangkitnya sang penguasa bisnis
total 1 replies
Jakaria Hidayat
Lumayan
Edy Sulaiman
no coment, ...!"
Edy Sulaiman
Mc Bloon.
Edy Sulaiman
Abyyasa sebagai Mc nmpknya tetap dungu dan oon sdh dikasih kelebihan dlm melihat masadepan dan sebelumnya masih tidak nengetahui siapa musuhnya saat ini.
Edy Sulaiman
sebenarnya AuThor ingin menggambarkan sedikit situasi Hukum di Negara Konoha
Edy Sulaiman
memang dalam Novel Durasi permainan wkl...wik..wik...sgt panjang, berbanding terbalik di alam nyata...hhh..semangat thor jgn kasih kendor wik...wik... nya..
Edy Sulaiman
mantap dua jam apa gak lecet tuh Goa kenikmatan Ajeng....hhhh
Edy Sulaiman
kok dihilangkan mayatnya, Seharusnya Abi tak langsung membunuh Yayan,Yayan dilumpuhkan dan telepon Polisi.
Edy Sulaiman
Idiot bin Tolol Mcnya.
Deki Marsoni
waduh nih orang gak niat buat cerita ya
Deki Marsoni
lebayyy lu buat nih orang
Deki Marsoni
gak ngeh liat yg kayak gini,
Deki Marsoni
lah dalah tadi bisa diliat dgn CCTV on bukan di dapur, kok masih cari k dapur, aaannneh
Deki Marsoni
eleeeh kamu gak sadis om
Hadimulya Mulya
klo ini crita emang org idiot,bukan nyamar,nyatanya pintu. aja gk di kunci katanya takut ketahuan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!