Belum hadirnya seorang buah cinta di tengah-tengah keluarga kecilnya di usia pernikahannya hampir sepuluh tahun itu membuatnya bersedih.
Segala upaya dan usaha sudah mereka tempuh dan lakukan, tapi hasilnya tetap nihil hingga mereka memutuskan untuk bekerjasama dengan seorang ibu hamil yang ditinggal oleh suaminya itu yang sudah memiliki tiga orang anak untuk bekerjasama dengannya.
Akankah kehidupan rumah tangganya akan bahagia dengan kehadiran seorang bayi laki-laki yang dipersembahkan oleh mamanya dengan sukarela?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 34
Kedua temannya yang melakukan kejahatan yaitu Adli dan Adelia sudah mendekam di dalam tahanan. Keduanya terus berontak dan berusaha untuk meloloskan diri,tapi pihak kepolisian pun tidak kalah tegasnya sehingga kedua nyalinya menciut melihat beberapa tahanan yang berada di sel itu mendekati mereka.
"Kalau kalian tidak salah polisi akan membebaskan diri kalian tidak perlu berteriak-teriak menganggu kenyamanan tahanan disini," ketusnya salah seorang pria yang bertubuh gempal dan tinggi besar itu.
"Silahkan masuk Nak, maaf karena kami sibuk jadi tidak mengetahui kedatangan Nak Afnan, duduk dulu yah Ibu akan melakukan buatkan minum untuk kamu," pintanya ibu angkatnya Andien.
"Tidak perlu repot-repot Bu, saya kesini hanya ingin menyampaikan niat baikku yaitu ingin melamar Andien putri sulungnya Ibu," ungkapnya Afnan Qeis Ibra Asy'ari.
"Melamar," beo kedua ibu dan anak itu.
Adnan tersenyum," benar sekali saya ingin menikah dengan putrinya ibu Andien dan rencananya saya akan membawa Andien bertemu dengan kedua orang tuaku hari ini juga jika Ibu dan Andien menerima lamaran ku ini,"
Bu Suci tersenyum penuh kebahagiaan karena akhirnya ada pria yang benar serius pada Andien untuk menikahinya.
"Alhamdulillah saya sangat gembira mendengarnya tapi, alangkah baiknya bertanya kepada Andien apakah dia setuju atau tidak dengan niat baiknya Nak Afnan kalau ibu sudah setuju dan merestui kalian," ucapnya Bu Suci Ibu angkatnya Andien di panti asuhan yang lebih mirip rumah pribadi.
"Bagaimana Andien apa kau setuju untuk menjadi istriku sekaligus Ibu dari anak-anakku dan menjadi rekan dan teman hidupku?" Tanyanya Adnan Qeis Ibrahim As'ari sambil menyodorkan sebuah kotak buludru berwarna merah dengan berisi dua buah cincin nikah untuk mereka berdua.
Andien tersenyum tipis sambil menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya dengan cukup pelan," bismillahirrahmanirrahim saya bersedia menikah dengan Pak Afnan," ucapnya Andien.
"Alhamdulillah Andien makasih banyak sudah sudi menikah denganku, kalau begitu kita berangkat ke rumahku untuk bertemu dengan Mama Ayunda dan papa Ibra mereka pasti bahagia mendengar berita ini," ajaknya Afnan.
Keduanya pun berangkat setelah mendapatkan ijin dari Ibu angkatnya Andien dan ketujuh adik angkatnya bersuka cita dan betapa bahagianya mereka sampai mereka bersorak gembira kegirangan fi dalam rumah sederhana itu.
Sedangkan di tempat lain tepatnya di dalam mobil Arinda dan Akmal menemui kedua orang tuanya Akmal untuk berbicara jujur tentang penolakan perjodohan diantara mereka. Dimana Akmal menyamar menjadi Afnan demi mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh Arinda.
Dua mobil hampir bersamaan masuk ke dalam garasi rumah mewah tersebut dengan tipe dan model yang berbeda. Mobil yang ditumpangi oleh Akmal tipe Jeep sedangkan yang dipakai Afnan dan kekasihnya Andien Paramitha tipe mobil balap sport berwarna merah metalik.
Akmal berjalan ke arah kakaknya dengan senyuman lebarnya..apa yang dilakukan oleh keduanya cukup membuat Andien terkejut begitu pula halnya dengan Arinda ketika Akmal menyebut dan saling menyapa dengan nama asli mereka yang sebenarnya.
"Abang Afnan," sapanya Akmal sambil memeluk tubuh kakaknya itu.
"Akmal apa urusannya sudah beres?" Tanyanya Afnan.
Arinda terkejut bukan main," jadi kamu bukan Mas Afnan tetapi Abang Akmal yang berpura-pura menggantikan posisinya Mas Afnan!?" Arinda melototkan matanya saking terkejutnya dengan kenyataan itu.
"Benar sekali dia adalah pria yang sejak kecil kamu sayangi kamu cintai sehingga tidak mau menikah denganku dan juga saya sudah punya calon istri yang di sangat cantik dan imut ini dia namanya Andien Paramitha," ucap Afnan sambil memeluk posesif pinggangnya Andien yang hanya terdiam dan menurut dengan apa yang dilakukan oleh calon suaminya itu.
"Jadi kalian itu kembar pantesan yang kemarin aku lihat dua orang yang berbeda," imbuhnya Andien yang masih keheranan melihat sikap kedua pria kembar itu.
"Kamu bahagia kan stelah tahu kalau aku adalah pria yang kamu cintai, kalau gitu kita masuk ke dalam untuk meminta doa restu Papa dan Mama langsung," ajaknya Akmal Abbad As'ari.
Bu Ayunda Oktarani dan suaminya pak Ibrahim sangat bahagia melihat keempat pasangan tersebut. Mereka tanpa ragu dan banyak pikir langsung merestui keduanya itu.
Keempat pasangan muda mudi itu pun bahagia karena akhirnya mendapat lampu hijau rencana baiknya. Semua bersyukur atas rencana baik mereka yang akan menikah setelah lebaran idul Adha nanti.
"Papa merestui hubungan kalian berempat tapi,ada satu rahasia yang perlu kalian ketahui dan kami tidak akan mungkin membawa rahasia ini hingga kami mati," ujarnya Pak Ibrahim Hasyim Asy'ari.
"Maksudnya papa rahasia apa itu?" Tanyanya Afnan.
Ketiga saudaranya Afnan pun sudah hadir di tempat tersebut bersama dengan istri dan suami mereka serta dua orang pengacara keluarga besarnya.
Anak-anaknya almarhumah Bu Anna Jamilah yaitu Hana, Aeri dan Gunawan pun sudah duduk manis di tempat masing-masing dengan raut wajah yang sulit diartikan itu.
"Sebenarnya kalian berlima adalah saudara kandung kalian berlima bersaudara kandung termasuk Afnan dan Akmal anak bungsunya Mbak Anna Jamilah yang dilahirkan sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, karena saya tidak bisa hamil sehingga kalian saya angkat menjadi anak, tapi bagiku dengan papa Ibra kalian adalah anak kandung kami untuk selamanya tidak akan pernah berubah sedikitpun." Ungkap Bu Ayunda.
"Inilah rahasia terbesar dalam hidup kami, semoga kalian mengerti dan memakluminya karena kami pasangan suami istri yang tidak beruntung karena tidak dikaruniai anak sendiri tapi kalian berlima adalah buah cinta kami dari dulu hingga selamanya tidak akan pernah berubah, jadi mulai detik ini papa sudah menghibahkan harta papa untuk kalian berlima dan sebagian untuk adik tirinya papa yaitu Andara Stania karena mama sudah meninggal dunia sehingga saya menyerahkan harta hibah saya untukmu Andara Stania yang perlu kamu ketahui ini belas kasih kami karena kamu tidak ada hubungan darah sedikitpun denganku jadi sebagai bentuk hibah sama halnya dengan kelima anak angkat ku mendapatkan bagian yang sama, sebagian akan aku sumbangkan kepada beberapa panti asuhan yang dikelola oleh mama kalian dan semoga pengaturan Papa ini kalian bisa menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada," jelas panjang lebar Pak Ibra.
"Alhamdulillah makasih banyak Abang atas pemberianmu saya bisa membiayai sekolah ketiga anakku karena papa mereka sudah meninggal dunia," Tuturnya Mbak Andara Stania dengan penuh rasa syukur dan bahagia atas pemberian dari kakak tirinya itu.
"Mama, papa sejak dulu sampai kapanpun kalian tetap orang tua kami semua karena tanpa kalian mungkin kami jadi gelandangan atau bahkan kami sudah lama meninggal dunia," imbuhnya Hana.
Mereka semua menangis haru dan tersedu-sedu akhirnya semuanya terbuka dan tidak ada lagi yang ditutupi sedikitpun. Mereka sama-sama meneteskan air matanya dan saling berpelukan satu sama lainnya.
"Papa kamu adalah pahlawan kami,mama kamu adalah pelita dalam hidup kami yang dulu gelap karena kebaikan dan kemurahan hati kalian kami bisa berpijak di bumi dengan baik," ucap Gunawan Gun.
Afnan dan Akmal memeluk terus menerus tubuh kedua orang tuanya itu hingga hanya air matanya yang mampu mewakili perasaannya saat itu.
Semua sudah membubuhkan tanda tangannya di atas surat wasiat terakhir dari Pak Ibra dan Bu Ayun.
Tidak ada lagi rahasia, amarah ataupun dendam yang terselip di dalam hati mereka semua. Mereka berpelukan saling mencurahkan isi hati mereka semua.
Tiada yang mampu mereka ucapkan selain kata bahagia atas kebersamaan dan saling menyayangi diantara mereka satu persatu dengan yang lainnya.
...--------TAMAT--------...
sungguh mulia hati pak ibra