Karena cinta bertepuk sebelah tangan, Aldin sulit untuk menerima cinta yang baru.
Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang wanita sampai keduanya melakukan hubungan terlarang dan menyebabkan gadis itu hamil.
"Kau harus menikahiku! Aku tidak ingin anak ini lahir tanpa seorang Ayah!" Renata Aprilia.
"Aku akan menikahi mu, tapi hubungan kita hanya sampai anak itu lahir." Aldin Maldives.
Lantas, akankah cinta hadir di antara keduanya? Lalu bagaimana kisah rumah tangga mereka?
*****
Lanjutan dari novel I'm Fine
JANGAN LUPA TEKAN LIKE, KOMEN DAN FAVORITNYA YA GUYS!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilecehkan.
Rere mempersiapkan malam itu dengan penuh semangat, ia memasakan banyak masakan kesukaan Aldin dan juga memakai baju dinas sesuai keinginan pria itu. Rere tersenyum geli melihat dirinya sendiri di depan cermin meja rias. Ia seperti bukan dirinya sendiri, dengan rambut tergerai indah dan baju seksi itu membuat siapapun tidak akan menolak dirinya.
"Udah jam 7, sebentar lagi Aldin pasti pulang. Aku akan menunggunya di depan saja," ucap Rere meraih kimono miliknya untuk menutupi tubuh seksinya.
Ia tidak mungkin langsung memamerkannya pada Aldin, bisa-bisa mereka tidak jadi makan malam, karena Rere yakin Aldin akan menyergapnya di detik pertama mereka bertemu.
Rere menunggu Aldin pulang seraya menonton televisi, tapi sampai ia terkantuk-kantuk Aldin sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya.
"Kemana Aldin? Apa dia lupa ingin pulang cepat?" Gumam Rere menghela nafas panjang, ia beberapa kali sudah menguap menandakan dirinya benar-benar mengantuk, ditambah dengan pekerjaan yang hari ini menumpuk membuat Rere merasa kelelahan dan tertidur di sofa ruang tengah.
Sementara Aldin masih sibuk di kantornya karena Zachary sialan itu benar-benar mengerjainya. Matanya sudah cukup sepet karena sejak tadi membaca tulisan kecil-kecil dengan sangat teliti. Padahal sebenarnya berkas itu sudah dicek oleh Zachary sebelumnya. Pria itu sengaja menyibukkan Aldin agar ia bisa melancarkan aksinya untuk mendekati Rere.
"Aku bisa gila kalau setiap hari bekerja seperti ini terus," gumam Aldin menghempaskan bekas itu ke meja dengan kasar.
Aldin melihat jam ditangannya yang menunjukkan pukul 10 malam. Sudah cukup larut membuat ia memutuskan untuk langsung pulang. Saat Aldin mengambil ponselnya, ia baru ingat kalau sejak tadi tidak menghubungi istrinya.
"Astaga, Rere pasti sudah menungguku sejak tadi, bagaimana aku bisa melupakannya?" Aldin men desah pelan, ia benar-benar lupa segalanya karena terlalu sibuk mengecek berkas.
Aldin bergegas pulang ke rumah, ia benar-benar lupa jika sudah membuat janji pada istrinya untuk pulang cepat.
******
Rere masih tertidur pulas disofa ruang tengah, wanita itu benar-benar kelelahan sampai tidak sadar jika ada orang yang masuk ke Apartemen. Ia hanya merasa kini ada seseorang yang menatapnya lekat-lekat lalu meraihnya kedalam gendongan
Kali ini Rere sedikit terbangun, ia menatap sosok pria yang mengangkatnya, tapi ia tidak bisa melihat dengan jelas karena kondisi ruangan itu sangat gelap gulita.
"Al?" Rere mengernyitkan dahinya heran, seingatnya tadi ia tidak mematikan lampu.
Pria itu tidak menjawab, ia membawa Rere masuk kedalam kamar yang sama gelapnya. Pria itu merebahkan Rere keranjang lalu merangkak diatasnya dan menindih tubuh Rere.
"Al? Kau baru pulang jam segini?" Rere kembali bertanya meski dirinya setengah mengantuk.
Lagi-lagi pria itu tidak menjawab, ia malah langsung mencium bibir Rere dengan panas. Ia juga menarik kedua tangan Rere hingga berada diatas kepala dan memegangnya sangat erat.
"Al, kau menginginkannya?" Rere mencoba menahan Aldin sebelum pria itu bertindak lebih jauh, Rere heran kenapa Aldin pulang-pulang langsung menyergapnya seperti ini.
Tidak ada jawaban, malah mulut Rere langsung dibungkam dengan ciuman penuh hasrat. Rere yang berpikir jika itu Aldin, juga langsung membalasnya tak kalah panas. Ia bahkan pasrah saat pria itu menurunkan kimono miliknya hingga hanya tersisa kain tipis berenda yang menonjolkan bentuk tubuhnya.
"Seragam dinas putih, sesuai keinginanmu," bisik Rere dengan nafasnya yang terengah-engah.
Zachary menyeringai tipis, dia seperti mendapatkan Jackpot karena bisa melihat tubuh menggoda yang selama ini hanya bisa ia bayangkan. Tidak membutuhkan waktu lama, ia langsung menyergap gundukan lembut itu dengan penuh hasrat. Tidak sia-sia ia menyuruh Aldin untuk bekerja lembur malam ini.
Malam ini istrimu adalah milikku, jangan salahkan aku yang tergoda olehnya. Karena dia yang lebih dulu menggodaku.
Zachary semakin menggila saat merasakan tubuh Rere yang lembut dan ranum, ia tidak segan memberikan sentuhan pada wanita itu hingga mulutnya tidak henti men de sah.
Rere benar-benar tidak tahu jika pria yang menjamahnya bukanlah suaminya. Kini bahkan baju keduanya sudah hilang entah kemana. Namun, sebelum Zachary melakukan penyatuan, Rere merasakan ponselnya bergetar. Ia mengambilnya dan melihat siapa yang sedang meneleponnya.
Seketika mata Rere membulat sempurna saat melihat nomor suaminya yang tertera disana.
Jika Aldin meneleponku, lalu siapa yang berada disini?
Rere begitu kaget setelah menyadari jika pria yang bersamanya ini bukanlah Aldin. Seketika ia langsung mendorong pria itu menjauh sebelum pria itu bertindak lebih jauh.
"Arghhhhhhhh! Siapa kau!" Teriak Rere meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Ketakutan langsung melanda dirinya membuat ia memeluk dirinya dengan erat.
Zachary malah menyeringai keji, ia kembali mendekati Rere membuat wanita itu menjerit ketakutan.
"Jangan mendekat, jangan mendekat! Pergi darisini kau!" Rere mencoba berlari dengan terus memegang selimutnya.
Namun, ia kalah cepat karena kakinya sudah ditarik kasar oleh Zachary lalu pria itu kembali mendidihnya.
"Arghhhhhhhh, lepaskan aku ba ji ngan!" Teriak Rere sekeras-kerasnya.
"Diam! Bukankah ini yang kau mau Nona? Aku hanya ingin menagih janjimu waktu itu," Bentak Zachary.
Rere kembali terkejut saat mendengar suara yang pernah ia dengar itu. Belum sadar dari keterkejutannya, ia malah kembali terkejut karena Zachary kembali mencium bibirnya.
"Ehmppttttttt-" Rere mengerlingkan kepalanya berkali-kali untuk mengindari ciuman itu.
Tapi Zachary tidak hilang akal, ia memegang kedua pipi Rere hingga wanita itu diam. Tubuhnya yang tinggi tegap dengan mudah membuat Rere tidak bisa berkutik. Rere hanya bisa menangis seraya menggenggam sprei dibawahnya dengan erat saat ba ji ngan itu menodainya dengan begitu liar.
Al, kau dimana ... tolong aku Al.
*****
Aldin baru kembali setelah jam menunjukkan pukul 1 malam. Ia baru saja terjebak kemacetan karena ada kecelakaan truk besar dijalan tol. Sejak tadi perasannya tidak enak dan terus memikirkan istrinya, apalagi Rere yang tidak mengangkat panggilan darinya membuat hati Aldin semakin ketar-ketir.
Aldin mengerutkan dahinya saat melihat pintu Apartemen tidak terkunci. Ia langsung berlari kedalam karena firasatnya sangat tidak enak. Sesampainya di kamar, Aldin tertegun saat melihat kondisi kamar yang sangat kacau. Bantal dan guling terlempar entah kemana, juga terlihat baju yang robek berserakan dilantai.
Yang membuat Aldin kaget adalah, ia melihat istrinya meringkuk dengan keadaan yang sangat kacau. Seketika setitik air mata langsung lolos membasahi pipinya.
"Rere?" Panggil Aldin dengan suara lembutnya.
Rere menoleh dengan wajahnya yang sangat kacau, matanya sembab dan terlihat pipinya memar. Bibirnya juga membengkak dan berdarah di sudutnya, matanya yang sejak tadi sudah basah semakin basah melihat sosok suaminya.
"Al ..." Rere mencoba berbicara dengan suaranya yang masih tersisa.
Aldin langsung berlari dan meraih wanita itu kedalam pelukannya. Rere menangis sekencang-kencangnya melupakan rasa sakit dan pedihnya.
"Al, aku .... "
"Jangan katakan apapun." Aldin langsung menyela sebelum Rere menyelesaikan ucapannya. Ia memeluk Rere semakin erat dengan tangan mengepal. Tanpa bertanya pun ia sudah tahu apa yang terjadi, mata sayu Rere sudah menjelaskan segalanya.
Rere kian menangis, bayangan saat pria tadi menyentuhnya dengan brutal dan penuh paksaan membuat dada Rere kian sesak. Bagaimana ia menjerit dan berontak sekuat tenaga, tapi sama sekali tidak mampu menghentikan perlakuan be jat pria itu.
Kini, ia hanya seorang wanita yang ternoda dan menjijikan.
"Al aku-"
"Kamu tenang ya, aku ambilkan minum dulu." Aldin tidak mau mendengar apapun yang Rere katakan, ia langsung meraih wanita itu kedalam gendongnya lalu meletakkannya di kasur. Ia juga membenarkan selimut wanita itu hingga sebatas leher.
"Al ... " Rere meraih tangan Aldin agar pria itu tidak pergi.
"Aku hanya ke dapur mengambil minum," kata Aldin melepaskan tangan Rere perlahan.
Rere mengigit bibirnya, ia merasa Aldin menghindarinya dan jijik bersentuhan dengannya. Lagipula apa yang diharapkan lagi dari wanita menjijikan seperti dirinya.
Tidak beberapa lama, Aldin kembali ke kamarnya dengan membawa air putih untuk Rere. Wajah pria itu begitu dingin dan tidak tertebak sama sekali.
"Minum dulu," kata Aldin menyodorkan air putih itu untuk Rere.
Rere menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak mau apapun, ia merasa ingin mengakhiri hidupnya saat itu juga.
"Maafkan aku," ucap Rere.
Aldin menghela nafas panjang, ia meletakkan air itu ke nakas lalu memandang Rere dengan tatapan sendunya.
"Kau tidak salah, aku juga tidak marah padamu. Aku yang salah karena tidak hisa menjagamu, tolong jangan katakan apapun lagi. Biarkan aku berpura-pura seolah tidak tahu apapun," ucap Aldin dengan suara beratnya, ia beberapa kali menarik nafasnya dalam-dalam untuk menurunkan emosi yang sebenarnya sudah berada diubun-ubun.
"Al ... " Bukannya senang, Rere malah semakin merasa bersalah, ia tidak tahu harus mengatakan apalagi pada pria ini.
Aldin menarik nafas panjang, ia kembali memeluk Rere dengan sangat erat seolah tidak mau terlepas.
*****
"Arghhhhhhhh!!!! Ba ji ngan!"
Aldin mengamuk didalam kamarnya, ia sudah tidak bisa menahan dirinya untuk meluapkan emosinya. Aldin marah, sangat-sangat marah, tapi ia tidak bisa meluapkannya kepada Rere, ia bertekad untuk mencari siapa ba ji ngan ke pa rat yang sudah berani menodai istrinya.
"Aku tidak pernah mencari masalah dengan siapapun, tapi jika ada yang memulai, jangan salahkan aku jika aku bisa bertindak diluar batasku." Aldin menghantam kaca rias di depannya hingga hancur berkeping-keping. Sorot matanya tampak begitu keji dan mengerikan. Ia bersumpah akan mencari ba ji ngan itu dan membunuhnya dengan kedua tangannya sendiri.
Happy Reading.
TBC.
Rere keras kepala 👎😡
buta itu gelaff
gelap itu banyak nyamuknya 😂😂😂🤣🤣🤣