“Sayang, tunggu aku!" teriak seorang gadis cantik berusia 17 tahun bernama Fayra Lavina Richardzon, gadis itu berlari menghampiri moge kesayangan Ace. Pria muda yang merupakan suami Fayra. Gadis itu tampak naik ke atas motor sembari berpegang pada pinggang Ace.
“Ckk... Udah berapa kali gua bilangin jangan pernah sentuh gua pakai tangan kotor lu itu! Cepat lepaskan! Atau lu turun sekarang juga. Ingat! Status kita suami istri hanya berlaku di dalam rumah. Bukan di luar rumah, paham!”
Bentak Ace Geraldo Rodriguez, pria muda yang masih berusia18 tahun mampu membuat hati Fayra hancur. Pasangan muda-mudi itu terpaksa menjalani pernikahan rahasia karena sebuah perjanjian yang memaksa mereka harus menikah.
Lantas, sanggupkah mereka menghadapi pernikahan yang tidak mereka inginkan?
Akankah tumbuh benih-benih cinta diantara mereka?
Yuk, saksikan terus kisah mereka jangan sampai tertinggal ya ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mphoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Aku-Kamu
Sedangkan Ace yang mendengar itu malah bikin dia terkejut sambil terkekeh ketika ucapan yang begitu keras dan juga lantang tidak di dengar. Namun ketika gumaman kecil malah membuat Fayra tersadar dengan wajah memerah.
"Jadi rupanya kamu sudah siap, hem.." ucap Ace menaik-naikkan alisnya menggoda Fayra.
"Si-siap? Si-siap a-apaan maksudnya?" tanya Fayra, bibirnya mulai bergetar menatap wajah Ace yang terus saja membuatnya salah tingkah.
Ace mencondongkan tubuhnya lalu dia berbicara sangat lembut, yang lagi-lagi berhasil membuat tubuh Fayra menegang serta kaku.
"Siap buat dede kecil" ucap Ace spontan.
"Yaaaaak.. Dasar laki me*sum!! U-udahlah cepetan pakai bajunya, gu-gua mau ke kelas!"
Fayra bangkit dari tempat duduknya, berdiri. Di saat mau berbalik Fayra malah mendengar suara Ace begitu berbeda dari biasanya.
Fayra mengurungkan niatnya dan kembali menatap Ace dengan tatapan bingung, bahkan tubuhnya pun mulai merinding.
"A-aku laper, su-suapin.." ucap Ace, matanya berbinar persis seperti bayi yang sedang memohon meminta sesuatu kepada Ibunya.
Fayra terkejut dan benar-benar terkejut melihat wajah Ace, begitu pun matanya yang berkaca-kaca sangat indah.
Fayra terdiam di depan Ace, membuat Ace terus menatapnya. Tanpa di buat-buat, Ace memegang tangan kiri Fayra lalu berkata. "Ma-mau ya, suapin aku. Please.. Aku mohon.."
Rengekan suara Ace berhasil bikin Fayra tidak bisa berkutik lagi, mau tidak mau Fayra cuman bisa menganggukan kepalanya perlahan.
"Yesss!! Makasih Sayang, sayang Fayra banyak-banyak hehe.." ucap Ace, wajahnya terlihat sangat senang ketika tangan Fayra terarah untuk menyuap sesendok nasi goreng ke dalam mulut Ace.
Sedangkan Fayra dia masih terdiam, dia masih belum tersadar akibat perlakuan Ace membuat Fayra tidak pernah menyangka bahwa suaminya yang super duper dingin bisa berubah menjadi big baby menggemaskan.
"Aaam.. Nyam.. Nyam.. Enak hihi.." Ace begitu menikmati suapan dari tangan Fayra, bahkan tawa Ace menular ke Fayra hingga dia ikut terkekeh.
"Astaga, rasanya aku seperti memiliki bayi besar hihi.. *Semoga saja Kak Ace bisa seperti ini terus deh, dan sifat menyebalkannya bisa hilang"
"*Sehat-sehat suamiku, aku sangat menanti saat-saat dimana kamu akan menyatakan cinta itu untukku. Pasti rasanya akan sangat bahagia, jadi enggak sabar buat*-..."
"Yaakkk.. E-enggak, engak, engak! Kenapa aku malah mikir ke sana sih, lagian juga ada apa denganmu Fayra!"
"Ingat! Kalian itu masih sekolah, bagaimana nanti kalau perutmu blendung terus cita-cita sebagai model terkenal akan kandas? Huaa.. Tidak, tidak, tidak! Pokonya aku mau jadi model, titik!"
Fayra bergumam di dalam hatinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya terus menyuapi Ace. Namun, Ace yang melihat itu pun mengerutkan kening, menyipitkan matanya dengan mulut yang terus mengunyah.
"Ada apa denganmu? Kenapa kamu geleng-geleng seperti itu? Apa ada yang kamu pikirkan?" tanya Ace sambil menerima suapan dari tangan Fayra.
"Oh itu, soal anak" jawab Fayra spontan tanpa di sadari.
Ace yang mendengarnya menjadi semakin bingung. Kemudian dia kembali melontarkan pertanyaan. "Anak siapa?"
"Anak kit-.. Ehh..." Fayra menghentikan ucapannya bersamaan menarik kembali sendok yang akan memasuki mulut Ace.
"Astaga, apa yang aku lakukan! Dasar Fayra bod*doh! Untung aja enggak sampai keceplosan! Huhh.. Tenang Fayra tenang! Jangan panik, pasti sebentar lagi suamimu akan kembali bertanya. Jadi cepatlah cari jawaban yang akan membuatnya percaya!" gumam Fayra di dalam hatinya.
"An..." ucapan Ace terhenti saat Fayra kembali menyuapi nasi goreng ke dalam mulutnya dengan penuh.
"Hemm.. Hemm... A- hem.. Nak siapa?" sambung Ace berusaha berbicara di sela mulutnya yang sangat penuh.
"Anak kucing, ahya.. Anak kucing. Sudahlah jangan banyak bertanya, cepat makan ini terus kita kembali ke kelas sebelum pelajaran terakhir"
Fayra yang terus menyuapini Ace sampai mulutnya tidak bisa lagi berbicara akibat nasi goreng yang Fayra sumpel secara terus menerus.
Ace hanya menganggukan kepalanya dan memikirkan cara bagaimana agar dia tetap berada di sini bersama Fayra sampai jam pelajaran berakhir.
Setelah selesai makan Fayra langsung memberikan paper bag dari supir yang mengantarkannya, Ace segera menerima dan mengambil seragam tersebut lalu memakainya secara perlahan karena punggungnya masih sedikit terasa perih.
"Udah kan, ya sudah gua balik dulu. Bye!!"
Fayra berdiri menatap Ace, kemudian saat Fayra mau berbalik dan melangkahkan kakinya tiba-tiba dia mendengar Ace meringis kesakitan.
"Aduhhhh.. Pe-perutku..." Ace memegang perutnya dalam keadaan masih terduduk di atas bangkar. Fayra berbalik menunjukkan wajah paniknya.
"A-ada apa dengan perutmu, Kak? Perasaan tadi baik-baik aja, kenapa sekarang jadi sakit begini?"
"Kalau lapar tidak mungkin, karena baru saja tadi selesai makan. Lalu ini sakit kenapa lagi?"
Fayra bingung melihat Ace yang terus menerus mengeluh sakit sambil tertidur di bangkar dalam posisi miring menghadapnya.
"Mu-mungkin magh-ku kambuh. Ya sudah kamu ke kelas aja, biar aku di sini sendiri" ucap Ace memegang perutnya sedikit memejamkan matanya sambil mengintip wajah Fayra yang terlihat benar-benar khawatir.
Satu sisi Fayra sudah ketinggalan 2 mata pelajaran dan ini adalah mata pelajara terakhir. Masa iya dia harus tertinggal 3 mata pelajaran sekaligus? Tapi, kalau dia kembali. Lantas bagaimana dengan kondisi Ace yang kesakitan seperti itu.
Entahlah! Fayra benar-benar bingung membuatnya gusar mondar-mandir menggigit jarinya sesekali melirik ke arah Ace yang terus mengeluh.
"Sudah kembali saja ke kelas, enggak usah pikirkan aku. Pelajaran lebih penting dari pada diriku" ucap Ace sedikit penuh penekanan, tetapi terdengar sangat lirih.
Fayra tetap diam terus memikirkan mana yang lebih penting, pelajaran ataukah keadaan suaminya. Apa lagi di pelajaran terakhir akan di adakan ulangan, bahkan Fayra pun semalaman berusaha keras belajar agar bisa mengerjakan penuh ketenangan.
Namun, sekarang malah menjadi bimbang akibat kejadian yang menimpanya tadi. Kalau Fayra meninggalkan Ace sama halnya seperti Fayra tidak menghargai perjuangan Ace yang sudah menyelamatkan tubuhnya dari siraman kuah baso.
Ace tersenyum kecil sesekali terus mengintip dan berpura-pura kesakitan agar bisa menarik perhatian Fayra.
Ace tahu kalau saat ini Fayra berusaha keras untuk bersikap cuek padanya, tetapi Ace tahu kalau hatinya tidak akan tega melihat suaminya menderita seorang diri.
"Satuu..."
"Duaa..."
"Ti-....."
Ace bergumam di dalam hatinya sambil berhitung, hanya saja saat mau hitungan ke-3 langsung terhenti ketika mendengar Fayra mengatakan sesuatu yang berhasil membuat Ace merasa menang.
"O-oke.. Gua enggak jadi ke kelas, gua akan di sini nemenin lu!" ucap Fayra yang tidak tega melihat suaminya terus mengeluh kesakitan.
"Yes!! Akhirnya rencana gua berhasil hihi.. Apa gua bilang, Fayra enggak bakalan tega liat gua kesakitan. Meskipun di luar dia berusaha bersikap cuek, cuman di dalam hatinya selalu mengutamakan gua, suaminya!" gumam Ace di dalam hatinya.
"Bentar gua cari obat dulu!" ucap Fayra sambil berjalan ke arah kotak obat, tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara kesal yang berasal dari suaminya.
"Gua-lu, gua-lu, gua-lu, gua-lu aja terus!! Bukannya tadi udah aku bilang jangan pernah pakai panggilan itu, kenapa masih di pakai terus, hahh!" gerutu Ace.
"Memangnya kenapa? Orang Kak Ace aja suka berbicara gua-lu, kenapa sekarang Fayra enggak boleh? Fayra juga udab biasa sama Sheila, Nata dan juga Arsyi ngomongnya gua-lu. Lantas kenapa sama Kak Ace enggak boleh?"
Fayra berbicara sambil mencari obat, lalu mengambil 1 butir untuk diberikan kepada Ace agar segera di minum supaya bisa meredakan sakit perut yang dirasanya.
"Sekarang aku tanya, kamu berbicara sama ke-3 sahabatmu menggunakan kata gua dan lu. Lalu, kenapa ketika berbicara dengan Tian dan juga Andrew jauh berbeda? Haruskah pakai kata aku-kamu?"
Pertanyaan Ace mampu membuat Fayra terdiam saat sedang menuangkan air ke dalam gelas. Kemudian Fayra melanjutkannya sambil tersenyum dan berjalan mendekati Ace.
"Ini minum dulu obatnya biar rasa sakitnya reda" Fayra memberikan 1 obat magh kepada Ace beserta gelas yang berisikan air minum.
"Mati gua, beneran di suruh minum dong! Astaga.. Perut gua kan enggak sakit, terus kalau gua minum ini yang ada jadi sakit beneran dong?"
"Huaaa.. Mommy tolongin Ace! Aduh.. gimana ini, kalau gua tolak yang ada Fayra curiga!"
"Ahaaa.. Gua ada ide! Untung aja otak gua encer hihi.."
Ace bergumam di dalam hatinya sambil menerima obat tersebut, kemudian Ace meminumnya perlahan. Setelah selesai itu Ace pergi ke toilet untuk membuang obat yang di umpeti di bawah lidahnya.
"Uweeekkk.. Gila! Obat apaan sih yang Fayra kasih, kenapa rasanya aneh banget, kek ada rasa mint-mintnya tapi kek ada rasa pasir gitu. Dahlah, tahu amat! Yang penting gua selamat!"
Ace mencuci mulutnya saat obat tersebut telah di lepeh olehnya di lubang wastapel, kemudian memecet tombol air agar obat musnas memasuki lobang tersebut.
Ace segera berkumur beberapa kali, lalu mencuci mulutnya. Setelah selesai Ace kembali duduk di atas bangkar sambil menatap Fayra yang sedang asyik membalas pesan dari sahabatnya yang berada di kelas.
"Siapa?" tanya Ace sambil minum.
"Arsyi, dia nanyain gua balik ke kelas apa enggak" sahut Fayra.
"Gua lagi gua lagi, gua aja terus sampai menara eiffel pindah ke Korea!" celetuk Ace penuh perasaa kesal.
"Hihi.. Ma-maaf, maksudnya aku gitu. Terus gimana perutnya udah enakan?" tanya Fayra.
"Udah kok, ohya.. Entar kalau pulang enggak usah nunggu di tempat biasa. Kamu langsung tunggu aku ngambil Killer di depan gerbang aja, biar bisa segera kembali ke rumah jadi enggak memakan banyak waktu" ujar Ace berhasil membuat Fayra membolakan matanya.
"Ka-kakak serius? Tap-..."
"Enggak ada tapi-tapinya! Pokonya mulai sekarang pulang tunggu aku di depan gerbang. Paham!" titah Ace langsung diangguki kecil oleh Fayra.
Tak lama bel pulang sekolah pun berbunyi. Ke-3 sahabat Fayra bergegas menyusul Fayra di ruang UKS, selang beberapa menit disusul oleh ke-3 sahabat Ace pun datang mereka menanyakan bagaimana keadaan Ace saat ini.
Di saat semua lagi berbicara mata Sheila tak sengaja melirik ke arah Nicho yang terus setia menatapnya sambil tersenyum sesekali mengedipkan matanya.
Dengan perasaan canggung Sheila langsung membujuk sahabatnya untuk kembali ke rumah, serta menarik tangan Fayra hingga membuat mereka segera meninggalkan cowok-cowok.
Nicho hanya bisa terkekeh kecil, lalu kembali berjalan bersama yang lain menuju parkiran. Selesai mengambil kendaraan masing-masing mereka saling berpamitan satu sama lain.
Dimana Nicho menatap Sheila yang akan masuk ke dalam mobil pribadinya sambil terus mengedipkan mata, bikin Sheila langsung memasuki mobil dan menutupnya sedikit keras.
sedangkan Fayra menaiki Killer dan kembali pulang membuat banyak ciwik-ciwik bersorak bahagia.
Enggak tahu kenapa ketika melihat Fayra bersama Ace mereka seakan-akan seperti mendukungnya, berbeda jika Ace bersama dengan Alena yang seakan-akan membuat mereka ingin sekali membuang Alena ke dasar laut.
Dan utk loe Ace, Berbahagialah kamu dalam penjara dgn penuh penyesalan mu..Gak sangka aku Siswa teladan dan Most Wanted waktu SMA bisa hidupnya hancur kek gini karena akibat KEBODOHAN nya sendiri..Miris banget..