NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: KURSI KOSONG DI TENGAH PESTA

Di aula besar Villa d’Este yang ikonik, aroma mesiu yang tajam merayap di antara wangi parfum mahal dan lilin yang padam.

Lampu darurat yang berkedip merah redup memberikan kesan mengerikan pada dinding-dinding berfresco kuno, seolah-olah sejarah kekerasan Roma sedang terulang kembali di depan mata Alesha.

Alesha berdiri mematung.

Matanya tidak beralih dari satu titik, kursi roda perak milik Matteo yang kini berdiri tanpa penghuni.

Tamu-tamu berpesta yang tadinya anggun kini menyerupai kawanan ternak yang ketakutan, berlarian menuju pintu keluar, saling sikut tanpa memedulikan status sosial mereka.

Topeng-topeng mereka yang jatuh di lantai terinjak-injak, hancur berkeping-keping.

"Matteo?" panggil Alesha sekali lagi, suaranya kini hampir menyerupai bisikan yang hilang ditelan hiruk-pikuk.

Ia melangkah mendekat dengan kaki yang terasa berat. Saat jemarinya menyentuh sandaran tangan kursi roda yang dingin itu, ia menyadari sesuatu yang ganjil.

Di atas bantalan dudukan tempat Matteo seharusnya bersandar, tidak ada tanda-tanda gesekan atau perjuangan.

Namun, di sana tergeletak sebuah benda yang sengaja diletakkan dengan presisi.

Setangkai mawar hitam.

Kelopak-kelopaknya yang gelap tampak kontras dengan kain dudukan kursi roda.

Mawar itu segar, namun seolah-olah telah dicelupkan ke dalam tinta kematian.

Alesha meraih mawar itu.

Di tangkainya, terdapat sebuah gulungan kertas kecil yang diikat dengan pita sutra merah, warna yang sama dengan gaun Phoenix yang ia kenakan.

“Burung api tidak bisa terbang tanpa sayapnya. Serahkan mahkotamu, atau kau akan menerima sisa dari darahnya.”

Alesha meremas kertas itu hingga hancur dalam genggamannya.

Ia tahu siapa yang mengirim ini. Ini bukan sekadar penculikan, ini adalah pernyataan perang yang ditujukan langsung kepadanya.

Paman Lorenzo dan Kiara telah mengambil langkah terakhir mereka.

Satu jam kemudian, Villa d’Este berubah menjadi sarang lebah.

Sirene polisi Carabinieri melolong di sepanjang jalanan Tivoli.

Garis polisi berwarna kuning dipasang di mana-mana, menciptakan batas antara dunia nyata dan TKP yang mengerikan.

Alesha sedang berdiri di pinggir aula saat seorang komisaris polisi bertubuh gempal mendekatinya, mencoba menghalangi langkahnya kembali ke area kursi roda.

"Nyonya Al-Ricci, area ini steril. Anda harus menunggu di luar bersama saksi lainnya," ucap komisaris itu dengan nada meremehkan, seolah-olah Alesha hanyalah seorang istri yang sedang histeris.

Alesha menatap pria itu dengan mata yang berkilat tajam. Sifat bar-barnya yang selama ini ia coba jinakkan di balik gaun-gaun sutra, kini meluap tanpa bisa dibendung.

"Steril?" desis Alesha.

"Suamiku hilang dari kursi roda itu di depan matamu, dan kau bicara soal sterilitas?"

"Kami sedang menjalankan prosedur—"

"Persetan dengan prosedurmu!" teriak Alesha.

Tanpa ragu, Alesha mengangkat kaki kanannya. Dengan satu gerakan cepat dan bertenaga, ia menghujamkan hak sepatu stilettonya yang runcing dan terbuat dari baja ke arah garis polisi yang melintang, merobeknya hingga putus dalam satu sentakan.

Suara robekan plastik itu terdengar nyaring, mengejutkan para petugas di sekitarnya.

"Dengarkan aku baik-baik, Tuan," Alesha melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah pria itu.

"Nama Al-Ricci bukan hanya sekadar nama di atas kertas bank. Jika dalam sepuluh menit kau tidak mulai mencari mobil yang keluar dari gerbang selatan sebelum ledakan terjadi, aku akan memastikan pengacara keluarga kami menghancurkan kariermu sebelum matahari terbit."

Komisaris Polisi itu tertegun, melihat api yang membara di mata wanita di depannya.

Gaun merah Alesha yang sobek di bagian bawah karena ia baru saja berlari, serta noda debu di pipinya, tidak membuatnya terlihat lemah.

Sebaliknya, ia terlihat seperti dewi perang yang sedang menuntut tumbal.

"Aku tahu siapa yang melakukannya, dan aku tahu kalian mungkin sudah dibayar untuk lambat dalam bertindak," lanjut Alesha, suaranya rendah namun mengancam.

"Tapi ingat, jika Matteo tidak kembali hidup-hidup, tidak akan ada uang suap yang cukup besar untuk melindungimu dari kemarahanku."

Petugas itu mundur selangkah, akhirnya memberi perintah melalui radionya dengan suara yang sedikit bergetar.

Alesha berjalan keluar menuju taman villa, tempat bayangan pohon-pohon cemara tampak seperti raksasa yang mengancam.

Ia mencoba menghubungi Vincenzo dan Marcello, namun hanya ada nada sibuk yang menyambutnya.

Di dekat air mancur Fontana dell’Ovato, ia menemukan Marcello tersungkur di tanah.

Darah mengalir dari kepalanya, membasahi jas hitamnya yang rapi.

"Marcello!" Alesha berlutut di samping pengawal setia itu.

"Nyonya..." rintih Marcello, berusaha membuka matanya.

"Mereka... mereka menggunakan gas saraf melalui sistem ventilasi sesaat sebelum ledakan. Kami tidak bisa melawan..."

"Di mana yang lain?"

"Vincenzo... mencoba mengejar mobil mereka, tapi mereka menyabotase ban kami..." suara Marcello melemah sebelum ia kembali tak sadarkan diri.

Alesha berdiri perlahan.

Angin malam Roma yang dingin menusuk hingga ke tulang, namun ia tidak merasakannya.

Ia melihat ke sekeliling halaman yang luas. Para tamu telah pergi, polisi sibuk dengan kertas kerja mereka, dan pengawal yang seharusnya melindunginya telah dilumpuhkan.

Ia benar-benar sendirian.

Ponsel di tangannya bergetar.

Sebuah nomor tidak dikenal masuk. Alesha mengangkatnya tanpa ragu.

"Kau melihat mawar itu, Adikku sayang?" Suara Kiara terdengar sangat manis, penuh dengan racun yang memuakkan.

"Matteo tampak sangat tidak berdaya saat ia ditarik keluar dari kursinya. Ternyata pahlawanmu tidak bisa berdiri saat ia sedang tidur nyenyak, bukan?"

"Di mana dia?" tanya Alesha, suaranya tenang, ketenangan yang mematikan.

"Datanglah ke gudang dermaga lama di Ostia. Sendirian. Jika aku melihat ada satu saja seragam polisi atau pengawal berototmu di sana, aku akan memastikan Matteo tidak akan pernah bisa melukis lagi. Karena aku akan memotong tangannya satu per satu."

Panggilan itu terputus.

Alesha menatap langit malam Roma yang kelam. Di kejauhan, ia bisa melihat siluet kota yang angkuh.

Mereka meremehkannya. Kiara meremehkannya. Lorenzo meremehkannya. Mereka pikir dia hanyalah gadis bar bar yang beruntung bisa menikah dengan pria kaya.

Mereka lupa satu hal. Seorang Alesha bukanlah gadis lemah yang pasrah akan keadaan.

Alesha melepaskan kedua sepatunya, membuang stiletto mahalnya.

Ia merobek sisa gaun panjangnya hingga menjadi sebatas paha agar memudahkan nya berlari lebih cepat.

Dengan kaki telanjang di atas batu-batu dingin Villa d’Este, Alesha berjalan menuju mobil cadangan yang kuncinya ia ambil dari saku Marcello yang pingsan.

Ia tidak akan menunggu polisi. Ia tidak akan menunggu bantuan.

Malam ini, Alesha akan menunjukkan pada keluarga Al-Ricci mengapa mereka seharusnya tidak pernah mengusik seseorang yang tidak punya apa pun untuk dilepaskan kecuali nyawanya sendiri.

1
Ani Basiati
lanjut thor💪💪💪
Yoyoh Rokayah
lanjut thor
Ani Basiati
lanjut thor 💪💪💪
Yoyoh Rokayah
double up dong thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!