NovelToon NovelToon
TERSESAT DI DESA MISTERIUS

TERSESAT DI DESA MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Mata Batin / Tumbal
Popularitas:248.6k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.

Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.

Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.

Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketagihan daging Rusa : 07

“Bisa tunggu sebentar, Pak? Saya mau ke kamar mandi,” pinta Kanti, merasa tidak nyaman karena belum gosok gigi.

Aji juga setuju, tidak sopan rasanya ngobrol dengan orang tua dalam keadaan napas bau.

Tejo mengiyakan, menunggu di teras panjang deretan kamar tamunya.

Keempat orang mengenakan pakaian serba putih juga pamit ke kamar mandi.

Mayang sedikit kesusahan ketika melangkah, kakinya masih nyeri, belum diobati secara maksimal, cuma semalam diberi parutan kencur yang membuat perutnya mual karena bau menyengat.

Setengah jam kemudian, Kanti berdiri paling belakang – sejak bermimpi mengerikan, dia berusaha tidak mencolok agar lebih leluasa mengamati sekitar.

“Bu, mereka yang semalam saya bawa pulang,” beritahu Tejo.

“Oh, jadi ini para tamunya?” tanya sebuah suara lembut, terdengar ramah.

Sambara tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya – wanita yang duduk disebelah Lilis, masih terlihat muda.

Candra Kanti merapat ke depan supaya bisa melihat jelas. ‘Apa dia yang dimaksud ibu mertuanya Tejo?’

“Kemari, Nak. Silahkan duduk, anggap saja rumah sendiri.” Ia menunjuk kursi panjang terbuat dari kayu dan sudah di pernis mengkilap.

Para laki-laki duduk dalam satu bangku muat untuk empat orang. Sementara Candra Kanti dan kedua temannya menduduki kursi serupa pada bagian kiri.

“Nyonya _”

“Walah, jangan sebut macam itu. Panggil bu Sasmi saja,” pintanya dengan senyum khas, ramah.

Aji pun mengangguk, dia tidak benar-benar menatap bu Sasmi yang seperti berumur akhir 30 tahunan. “Terima kasih, sudah memberi kami tempat berteduh.”

“Jangan merasa sungkan. Kami malah senang kedatangan tamu, rumah ini jadi ramai, gak seperti hunian kosong,” sorot matanya tiba-tiba sendu.

“Sambil menunggu pembantu rumah tangga nyiapin sarapan, sebaiknya saya mulai bercerita, biar rasa penasaran kalian segera sirna.” Bu Sasmi membenahi selendang bordir warna putih yang merosot ke leher.

“Kalian pasti bingung, mengapa bisa sampai di tempat aneh, kalau sore hari menjelang malam langit mulai berubah merah. Sebenarnya, selama bulan suro – hal ini lumrah terjadi. Jam berhenti berputar, seolah berada di dunia lain. Semua itu disebabkan sebuah kutukan tetua desa Latu abang,” suaranya mengecil, tatapan seakan menerawang jauh.

Sesaat degup jantung Kanti berhenti, lalu dia menatap lekat air mata membasahi pipi bu Sasmi. ‘Latu abang .... artinya api merah. Baru pertama kali aku mendengar nama desa ini,’

“Dulu, warga desa wilayah Latu abang, hidup rukun berdampingan dengan dunia astral, sampai kejadian tidak terduga akibat dua sosok beda dunia melanggar hukum alam. Mereka bersenggama, membuat para tetua murka, berusaha memisahkan sang gadis dari alam lain dengan pria asli manusia.” Dia menarik napas panjang.

“Kedamaian pun lenyap tergantikan huru hara, saling serang, sebab si pria seorang pemimpin desa. Tidak terima dipisahkan. Pertumpahan darah tak terelakkan, hingga kematian si wanita menjadi bencana mengerikan. Tetua makhluk astral mengutuk desa Latu abang – setiap bulan suro, langit berubah warna seperti nyala api, menandakan duka mendalam layaknya darah putri yang terbunuh.” Kedua tangannya meremas rok panjang.

“Imbasnya, kami yang sedari lahir sudah ada disini, tidak tahu menahu tapi ikut menanggung kutukan itu, terperangkap selama satu bulan penuh. Tidak dapat keluar dari desa sampai melewati bulan suro,” lanjutnya.

“Kalau mencoba melanggar apa resikonya, Bu?” Abeer sangat penasaran, belum sepenuhnya percaya kisah yang menurutnya tidak masuk akal.

“Mati!”

Hah!

Keempat mahasiswa yang mengenakan pakaian serba putih terlonjak, kata mati yang keluar dari mulut bu Sasmita terdengar sangat mengerikan.

“Apa tidak ada jalan lain, Bu?” akhirnya Candra Kanti bertanya.

Bu Sasmi bertemu tatap dengan gadis pembawaan diri tenang, sorot mata seperti telaga tanpa riak. “Kalau mau selamat, tetap hidup, ya nunggu sampai habis bulan suro. Kecuali sebaliknya.”

“Terus, bagaimana kehidupan warga disini kalau terisolir selama sebulan penuh?” Aji masih bingung.

“Kami sudah biasa, sebelum menjalani kehidupan menyepi, terjebak dan tidak bisa keluar ke mana-mana, sudah melakukan persiapan sebaik mungkin. Lagian cuma satu bulan lamanya,” jawabnya santai.

“Warga disini kegiatan apa, Bu?” kali ini Sambara ikut bertanya.

“Bertani. Pergi ke sawah, ladang, banyak juga jadi pekerja diperkebunan suami saya,” ucapnya dengan nada biasa, tidak menyombongkan diri.

“Apa kami boleh keliling desa, atau harus berdiam diri di sini, Bu?” entah mengapa rasa penasaran Ahwaya tergugah.

“Kalian bebas menjelajahi desa. Asal jangan ke tempat yang semalam. Disana angker dan berbahaya,” ia mewanti-wanti.

“Bu, sarapannya sudah selesai,” beritahu seorang pelayan laki-laki paruh baya, penampilannya sangatlah sederhana – kaos longgar, celana selutut.

“Ayo ke belakang. Anggap saja rumah sendiri. Tadi suami saya mau kenalan, tapi terburu-buru harus sampai kebun teh. Katanya nanti siang saja.” Bu Sasmi beranjak, tangannya digandeng Lilis.

Sarapan kali ini ditemani pemilik rumah. Menunya rebusan singkong, ubi rambat, jagung, dan dendeng daging.

Mayang, Ahwaya, Sambara dan Abeer, tidak menyentuh menu rebusan, mereka sangat menikmati memakan daging yang katanya Rusa.

“Kamu gak mau nyicipi, Kanti? Lihat mereka, sangat lahap,” bisik Aji.

“Nanti ku jelaskan, gak bisa ngomong disini. Tolong ekspresi mu biasa saja setelah ini,” ujar Kanti, lalu mengupas kulit ubi jalar.

“Kalian berdua benar-benar seorang vegetarian? Sedikitpun gak bisa makan yang mengandung hewani?” bu Sasmi penasaran.

“Benar, Bu. Orang tua saya juga vegetarian,” ucap Kanti, mimik wajahnya sungguh meyakinkan.

Keempat teman Kanti tentu tidak tahu, dan jarang sekali berinteraksi bersama. Cuma Aji yang mengenal gadis itu sedari remaja, aslinya penyuka menu seafood.

Kanti dan Aji makan secukupnya, beda dengan teman mereka – seolah hidangan tiga piring dendeng, tidak cukup.

‘Ada yang aneh,’ batinnya mulai menerka. Selama perjalanan kemarin, saat di dalam mobil, Mayang dan Ahwaya sangat menjaga pola makan, takut gemuk katanya.

‘Kenapa sekarang mereka begitu lahap, malah mirip orang rakus. Apa daging rusa memang seenak itu?’

“Bu, ini Rusa ternak atau buruan? Rasanya lezat banget. Gurih, sedikit manis, seperti daging Sapi, tapi lebih padat dan kenyal,” Abeer memberikan nilai, dia pecinta masakan daging.

“Hasil tangkap di hutan belantara. Tejo dan suami saya suka berburu bila malam hari sebelum bulan suro. Gak semuanya dalam keadaan tewas, jadi bisa dipelihara sampai waktunya disembelih.” Bu Sasmi mengelap mulutnya menggunakan serbet.

‘Di mana pada zaman modern ini yang masih banyak hewan Rusa berkeliaran di hutan liar selain suaka margasatwa?’

.

.

Bersambung.

1
R.@RDioN@
ini yang di tunggu2 lawan seimbang rajendra,, anak dari dwi pangga lawan aksata😁
ʟᴜᴠɪ💕
gimana nggak terhipnotis ORAng bapaknya macan ibunya tulang wangi🤣😍
ʟᴜᴠɪ💕
Bisa jadi lawan seimbang aksata sesama klan harimau ya keluarga Rajendra 🤔🤔
ʟᴜᴠɪ💕
Rajendran anaknya Ainur sama Raden Dwipangga 😍
Sumìni Manju Maja
wah kok berhubungan ama keluarga alas putwo y, makin seru nih
Cublik: Melalang buana ini, Kak 😁
total 1 replies
Engkar Sukarsih
ternyata...oh... ternyata kamu orang jahat Aksata🤬🤬🤬🤬
Andriani
Rajendra, siapa nih ya.. apa dokter di cerita bayi pujon ya kk??
Andriani: iya. . lupa.. anaknya Ainur rupanya.... mantap kk.. jodoh kanti Rajendra rupanya
total 2 replies
Yuliana Tunru
smoga rajendra yg bisa bantu kanti lepas dari aksata
Cublik: Aamiin ❤️
total 1 replies
Monica Lora
kanti aku nungguin cpt sadar tau..
Siti Mamahe Kaila Izana
siapkan dirimu hei aksataa jangan sombong dulu kau akan bertemu dgn lawan yg sepadan.. 🙂‍↔️🙂‍↔️🙂‍↔️
Cublik: Biar perang mereka 😁
total 1 replies
lyani
nyai iniii... pelindung Kanti..biar kolab sama suruhan Aksa tadi dah
Cublik: Biar tahu rasa si belang 😁
total 1 replies
lyani
waduhhh siapa lagi
lyani
ngincar Kanti jg nih si pangeran...... aduhhhh kl ujungnya kumpul suami n anak2 gpp ky inur...nahhh kl lebih rumit....nyesek dahhhh
lyani
nah kan... supresssss...ada anak mas Dwi
Kaka Shanum
terimakasih kak author akhirnya setelah hampir nyaris purnama engkau kirimkan rajendra untuk candra kanti....aq udah mumet beneran ngadepin astaka😄
Kaka Shanum: jadi inget anggora kak tapi sayangnya astaka pengecut dan keras kepalanya itu ngalahin batu gunung🤣
total 2 replies
Secret Admire
Alhamdulillah ada dokter Rajendra 🥹❤️ terimakasih dokter... seperti ada harapan baru untuk Candra Kanti❤️
Secret Admire: Aamiin...❤️ apakah Rajendra yang akan menjadi jodoh Kanti?🤭 kasian Aji pasti sedih nanti 🥹
total 2 replies
Secret Admire
🥹ini bukan cinta Aksata 😭kamu malah melukai Kanti😭
myPuspa
tambah up nya donk kk Cublik.../Sob//Sob//Sob/
myPuspa
ayo nyai tunjukkan kekuatanmu, buktikan kalau dirimu pantas menjadi pelindung candra kanti...
myPuspa: 🤣🤣🤣
Santet muntah Bedug ya thor...🤣🤣🤣
total 2 replies
myPuspa
siap2 ketemu lawan yg sepadan aksataaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!