Jual-beli harusnya barang, bukan manusia.
Dimalam Fasya menolak untuk berhubungan badan dengan kekasihnya.
Dia dijual.
Dilempar ke ranjang yang besar, pria tampan berbadan tinggi yang cukup berkharisma datang.
"Jika kau bisa menjadi pengasuh putra ku, maka aku akan membayar mu cukup tinggi."
- Shin
Bukan memuaskan hawa nafsu yang pria itu inginkan, tapi menjadi pengasuh anaknya? Kenapa harus Fasya?
Tapi ketika Fasya masuk ke rumah itu, dia menemukan banyak hal baru, fakta tentang siapa dirinya sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ini Aku
.....................
"Dia bajingan, akan ku pastikan dia mempertanggungjawabkan perbuatannya." Ujar seseorang, yang kemudian memakaikan jas hitamnya di punggung Fasya.
Suara yang familiar, suara dingin yang sialnya terdengar nyaman di telinga Fasya, karna suara itu berasal dari Shin.
Entah bagaimana Shin ada di dalam kamar Fasya, Fasya tidak ingin memikirkannya.
Fasya melirik Shin sebentar, setelah dia yakin itu Shin, Fasya menenggelamkan wajahnya diantara lipatan tangannya.
"Diantara semua orang yang ku kenal, kenapa malah ilusi anda yang datang. Ah ya, saya lupa, saya sendirian di dunia ini, tidak ada satu pun yang bisa saya panggil keluarga. Karna itu kan semua orang memperlakukan saya sesuka mereka, karna kalau saya terluka tidak akan ada yang marah, karna saya tidak memiliki keluarga."
Fasya merasa bodoh sendiri, dia marah, dia benci, dia berkeluh kesah pada ilusinya sendiri.
Sebegitu kesepiannya kah aku?
"Walau gak punya keluarga, tapi saya berhak bahagia kan?"
"Semua orang berhak bahagia." Shin memeluk Fasya, menenangkan gadis muda yang sedang kacau itu.
Fasya merasa kasihan pada dirinya sendiri, bisa-bisanya dia dipeluk dengan imajinasinya sendiri.
Tapi saat tangan Shin mengusap lembut rambutnya. Saat itu juga Fasya sadar, bahwa Shin yang ada di depannya bukanlah Shin ilusinya, melainkan benar-benar Shin.
Meski begitu, Fasya tidak ingin menjauh, dia butuh pelukan, dia butuh dukungan.
"Kau ingin dia dijatuhi hukuman apa? Bahkan jika aku menendangnya dari rumah ini itu masih belum cukup, mau aku penjarakan?" Ulang Shin, pria itu kembali ingat saat pertama kali dia mengenal Fasya, dan cerita dari Kenan. Bahwa Kenan membeli Fasya dari mantan kekasihnya yang nyaris menodai dirinya.
Trauma itu datang, dan pasti terus memburuk, ingatan itu mungkin kembali bangkit saat Jason mencoba menyentuhnya.
"Bibi? Bibi menangis?" Asta mengucek matanya saat dia merasa mendengar suara rintihan tangis yang menyakitkan, padahal Fasya sudah berusaha menahan air matanya, tapi sialnya air mata itu terus mengalir begitu saja, tenggorokannya seperti tercekat, memaksanya mengeluarkan suara menyedihkan.
"Saya baik-baik aja tuan muda." Fasya menatap Asta, dengan senyuman tipis yang dia paksakan. Memangnya siapa yang bisa tersenyum tulus baik-baik saja saat dia nyaris dilecehkan?
"Bibi jangan nangis, jangan sedih, jangan patah semangat, ada Asta! Asta yang bakal hukum dia!" Asta mengusap air mata Fasya yang tidak ingin berhenti, kemarahannya semakin memuncak, siapapun yang berani membuat sang bibi menangis begini harus bertanggung jawab!
"Lihat apa yang adik Papa itu lakukan! Beraninya dia membuat bibi ku menangis! Papa harus menghukumnya!!" Asta meminta pertanggungjawaban Shin.
"Aku tau, sudah aku pilih hukuman yang paling cocok untuk bajingan sepertinya." Shin menjawab dengan serius.
"Bibi dengar kan? dia akan dihukum, jadi bibi jangan sedih lagi yaaa? Bi ... "
Seperti perasaan menggelitik di tengah dada yang sesak, seperti diberi seteguk air di gurun pasir yang panas, perasaan menggelitik yang terasa asing namun menghangatkan.
inikah kasih sayang?
Apa ini yang namanya kasih sayang secara tulus itu? Tapi Fasya tidak bisa tau, yang jelas pelukan Asta terasa hangat, tangan mungilnya yang mengusap wajah Fasya terasa begitu menenangkan.
Fasya tidak bisa berkata apa-apa, suaranya tidak mau keluar.
Wajah kecil Asta yang tampak khawatir sungguh sangat menghangatkan, rasanya senang saat Fasya tau bahwa setidaknya ada satu orang di dunia ini yang akan menangis untuk dirinya.
...***************...
Saat ini di ruang tamu rumah Cadivan, Shin duduk dengan tegas, dengan Asta dan Fasya yang juga duduk tak jauh darinya.
Shin menatap tajam, benci kepada Jason yang sudah habis babak belur, melihat bentuk tangannya yang aneh, jelas tangan itu sudah patah, dan tebak siapa pelakunya?
Benar, itu ulah Shin sendiri.
Setelah Shin menenangkan Fasya, dia sendiri yang menghajar Jason sampai mampus, lebamnya terlalu banyak di wajahnya.
Bukan hanya ada mereka berempat, ada banyak orang termasuk ibu dan adik tiri Shin. Juga disaksikan banyak pelayan di rumah ini, Jason tertunduk berlutut di depan Shin.
Jangan tanya, Wajah Shin yang biasanya dingin dan datar, kali ini terlihat jelas sedang marah. Dia sangat marah, bahkan setelah melihat Jason babak belur begini dia masih belum puas juga.
"Maafkan aku Kak! Aku khilaf! Sungguh itu perbuatan tanpa sengaja, aku tidak berniat menodai Fasya!" Rengek Jason, dia menangis tersedu-sedu, entah kemana orang sok gagah dan jantan kemarin malam, yang merasa kuat hingga berani menindih seorang gadis yang lemah.
Kemana perginya bajingan yang merasa paling kuat dan keren kemarin? Kali ini dia menangis dengan menyedihkan.
"Itu benar Shin! Dia hanya khilaf! Mana mungkin adik mu melakukan hal itu terhadap pengasuh itu, tidak mungkin Shin! Masih banyak gadis yang lebih cantik, masih banyak yang lebih baik dan lebih setara mengantre untuk menjadi istrinya Jason, kenapa Jason harus mencoba melecehkan gadis seperti itu?!" Naina tidak terima, dia berteriak sekuat mungkin, dia tidak rela jika putranya harus mendekam di penjara karna hal itu.
"Itu benar Kak! Selera Kak Jason itu tinggi! Mana mungkin seleranya hanya seorang pelayan! Ada kesalahan disini! Ah atau mungkin dia yang sengaja menggoda Kak Jason! Itu benar kan? Wanita licik seperti mu memang biasa menggoda majikannya, dan karna usaha mu gagal kau mencoba menuduh kakak ku melecehkan mu, licik sekali Ka--"
Byurr!!!
Nathalia belum selesai berbicara membela sang kakak, dia belum selesai mengeluarkan seluruh argumennya agar Jason bisa selamat, tapi wajahnya sudah tersiram jus.
Siapa pelakunya?
Asta!
Asta yang menyiramkan jus itu tepat di wajah Nathalia. Wajah Asta murka, badannya bahkan sampai bergetar pertanda bahwa dia benar-benar sedang marah saat ini.
"Apa yang kau lakukan Asta?! Beraninya kau menyiram bibi mu seperti itu hanya untuk seorang pengasuh tidak tau diri sepertinya! Mungkin saja apa yang Nathalia katakan itu benar! Bahwa perempuan rendah--"
"Tutup mulut mu, hentikan sampai disitu. Kalian sudah bersalah dan berani berkilah?" Pandangan Shin tajam, dia memotong ucapan Naina--ibu tirinya yang mencoba menguatkan argumen Nathalia.
Siapapun yang berdiri di satu ruangan yang sama dengan Shin tau, bahwa sang bos besar itu sudah benar-benar marah.
Karna ini kali pertama Shin, berbicara setajam itu pada seseorang. Tatapannya seolah bisa membunuh siapapun hidup-hidup.
"Tutup mulut kotor kalian itu, harusnya anak mu bersimbah berlutut di kaki Fasya meminta pengampunannya."
......................
Maaf ya aku lama banget up nya, aku beneran minta maaf udah buat kalian semua kecewa.
Ada 2 episode yang aku revisi, kalian boleh cek lagi bab yang ada tulisan revisinya, makasih sebelumnya yang udah mau baca sampai sekarang.
Love you sekebon guysss
makasih Thor
sehat slalu lah byar up sampai tamat.
aku suka ❤️👍
padahal suka banget ceritanya
dapat notif tak kira up
ternyata 😌